
Boleh minta komennya gak? Gratis kok.
...****************...
Jingga merasa sangat bahagia masuk ke dalam keluarga penuh kehangatan juga keceriaan. Tak terasa usia kandungannya sudah memasuki tujuh bulan. Sang ibu mertua sudah sibuk menyiapkan apa yang dibutuhkan untuk keempat cucunya yang selalu mengumpat ketika semua orang ingin melihat mereka.
"Gak usah repot-repot, Mom." Jingga merasa tidak enak hati karena mertua perempuannya selalu tidak mau tinggal diam.
"Gak ada kata repot, Nak. Mommy akan menyiapkan segala keperluan semua cucu-cucu Mommy. Tidak ada yang Mommy bedakan."
Kalimat itu yang selalu Ayanda katakan dan semakin membuat Jingga merasa tidak enak. Hati mertuanya sangat baik sekali. Dia juga tidak diperbolehkan untuk melakukan apapun. Cukup memperhatikan mertuanya yang tengah mendekor kamar untuk keempat anaknya nanti.
"Nak, lihatlah nenek kalian," ucap Jingga seraya mengusap lembut perutnya.
"Mimo sangat sibuk menyiapkan kamar kalian." Bibir Jingga pun melengkung dengan sempurna. "Harus nurut dan sayang Mimo ya, Nak."
Mata Jingga masih tertuju pada sosok ibu mertuanya yang masih gesit dan terlihat nampak awet muda. Dia merasa bukan seorang menantu berada di dalam rumah ini, melainkan seperti anak kandung Ayanda dan juga Giondra. Perlakuan ibu dan ayah mertuanya sama seperti kepada anak-anak mereka.
"Bunda, aku sangat bahagia berada di rumah ini. Tuhan sangat baik, memberikan aku mertua yang terasa ibu kandung."
Jingga tengah mencoba mencurahkan isi hatinya kepada sang ibu yang telah tiada. Intinya dia sangat bersyukur karena diberikan ibu mertua yang sangat luar biasa baiknya. Kesusahannya di masa remaja membawa kebahagiaan di usianya yang dewasa.
__ADS_1
.
"Bagaimana anak-anak kita?" tanya Aska yang sudah mencium perut Jingga yang lebih besar dari usia kandungan tujuh bulan pada umumnya.
"Nakal gak?" tanya Aska dengan mendongakkan kepalanya ke arah Jingga.
"Enggak Ayah," jawab Jingga dengan seulas senyum. "Sekarang Ayah mandi dulu, ya," titah Jingga. Aska tersenyum dan mengangguk pelan.
Jingga sudah duduk di sofa yang dibuat khusus untuk Jingga beristirahat. Semakin besar usia kandungannya semakin susah untuk tidur. Maka dari itu ayah mertuanya memesankan sofa khusus untuk menantunya agar mempermudah menantunya beristirahat. Aska pun ikut tidur di bawah sofa menemani istrinya yang hanya beralaskan karpet tebal. Dia tidak ingin jauh dari istri dan anak-anaknya.
Selesai membersihkan tubuh, Aska akan meminta istrinya untuk mengeringkan rambutnya dan dengan senang hati Jingga melakukannya.
"Bunda ingin makan gurita bakar," jawabnya. "Tapi, udah malam. Berat juga bawa perut," lanjutnya seraya terkekeh.
Aska membalikkan tubuhnya menatap ke arah sang istri dengan raut sedih.
"Apa sememberatkan itu?" tanya Aska serius.
Jingga tersenyum dan menangkup wajah suaminya. Dia menatap hangat ke arah Askara yang terlihat sendu.
"Tidak ada yang berat untuk anak-anak kita, Ayah," ujar Jingga. "Bunda akan berkorban apapun demi anak-anak kita."
__ADS_1
Wajah Aska terlihat sangat melow sekarang. Semakin tua usia kandungan Jingga, Aska yang semakin sensitif. Apalagi jika melihat Jingga merintih ataupun mengeluh. Pasti Aska akan menyalahkan dirinya sendiri. Di kehamilan Jingga yang pertama tidak seperti ini.
Kedua kakaknya memang memiliki anak kembar, tetapi paling banyak kembar tiga. Beda dengan Jingga yang hamil anak kembar empat. Kakaknya bilang hamil kembar tiga saja sudah sangat kewalahan. Bagiamana dengan istrinya.
Namun, istrinya selalu terlihat kuat di depan Aska. Tidak pernah mengeluh sedikit pun. Malah wajahnya nampak terus berseri. Ibunya pun selalu mengatakan jikalau Jingga sangat menikmati kehamilannya ini.
"Ayah jangan berpikiran macam-macam," pinta Jingga. "Cukup temani Bunda, dan jadi suami serta ayah yang baik untuk Bunda dan juga anak-anak kita kelak."
Aska mengecup kening Jingga dengan begitu dalam. Dia merasa sangat bersyukur memiliki istri seperti Jingga ini. Dia terharu dengan ucapan sang istri.
"Tanpa Bunda minta, Ayah pasti akan selalu berada di samping Bunda."
Disela keharuan di antara mereka berdua, ponsel Aska berdering. "Aku ambil ponsel dulu, ya." Jika, ada telepon masuk ketika di rumah, Aska akan meminta ijin kepada sang istri. Hal kecil, tapi mampu membuat Jingga merasa dihargai.
Dahi Aska mengkerut ketika melihat nama si pemanggil. Hatinya berkata ada apa. Tidak biasanya orang ini menghubunginya ketika Aska sudah berada di rumah.
"Ke Bandung sekarang. Dia kritis."
...****************...
Komen dong ....
__ADS_1