
Pagi hari tiba, Sam bersiap Mambawa Bu Fatma pulang setelah itu berangkat bekerja
"Bu.. Sudah siap.. Kita berangkat ya"
"Iya Sam.. ".
Tini bangun dari tidurnya, Ia memasak sarapan untuk dirinya sendiri, tiba-tiba Bu Heni menelepon menanyakan kabar sang Putri
"Halo Tini.. apa kabar Nak..?"
"Halo Mamah.. Aku baik kok Mah.." Tini begitu senang Ibunya menghubungi menanyakan kabarnya
"Kamu betah kan tinggal di rumah Sam, lalu Sam bagaimana apa Dia tidak marah dengan Kamu, dan perhatian dengan Kamu?"
"Sam masih sama seperti dulu Mah.. tidak ada perubahan" Bu Heni merasa sedih ketika Tini bicara seperti itu
"Tini.. Kamu yakin ingin terus berusaha hidup bersama Sam" sepertinya Bu Heni ragu jika Sam akan memperlakukan Tini dengan baik
"Mah.. Aku mencintai Sam, Mamah tak usah khawatir"
"Ya sudah.. Mamah hanya berharap semoga Sam bisa berubah, dan lebih perhatian sama Kamu, nanti Mamah telepon Kamu lagi, Mamah sedang membuat kue saat ini, Om Heri mau merayakan ulang tahun Andi di rumah"
"Oh ya.. acara besar-besaran Mah..?"
"Tidak.. hanya acara keluarga, nanti juga Papah pasti telepon Kamu dan Sam untuk datang ke acaranya nanti, ya sudah ya.. Mamah lagi repot nih"
"Ok deh... bye Mamah".
Kemudian Sam datang bersama Bu Fatma
"Assalamualaikum..." mendengar suara salam Tini bergegas pergi ke depan
"Loh.. Ibu sudah pulang, Aku bantu Bu.. ke kamar" Bu Fatma menerima bantuan Tini
"Makasih ya Tini.. Kamu sedang apa tadi?"
"Sedang membuat sarapan Bu.. Ibu mau Aku buatkan sarapan"
"Boleh.."
Dalam hati Bu Fatma sebenarnya Tini ini anak yang baik, hanya saja Dia bukan orang yang dicintai Anaknya, Tini pun dengan segera membuat sarapan bubur untuk Bu Fatma
"Sam.. Kamu mau sarapan juga"
"Tidak.. Aku mau berangkat bekerja, Aku titip Ibu..jika terjadi sesuatu sama Ibu, Kamu yang akan Aku salahkan" Tini menatap Sam dengan tatapan sinis
"Ya.. Aku mengerti"
Dan segera Sam berangkat bekerja.
Di meja makan Pak Heri dan Pak Herman sedang membicarakan tentang acara ulang tahun Andi, kemudian Andi datang dan bertanya dengan apa yang sedang di bicarakan oleh Papahnya dan Om nya
"Sedang membicarakan apa sih.. serius sekali"
"Eh Andi.. Kamu sudah siap.. begini Kamu besok kan ulang tahun, Papah niatnya ingin merayakan dengan acara yang sederhana saja di rumah ini, hanya doa bersama dan mengundang teman terdekat saja"
"Serius Pah.. boleh mengundang teman terdekat"
"Ya.. memang Kamu ingin mengundang siapa..?"
Andi pun tersenyum Dia berniat untuk mengundang Kasih sekaligus memberitahu tentang keseriusannya untuk menikah kembali dengan Kasih
"Nanti juga Papah tahu" lalu Pak Herman menyahuti
"Ya.. asal jangan Asri saja yang Kamu undang"
"Bukan...Om gak usah khawatir tentang itu, Aku juga mengerti kok, Papah dan Om pasti akan mengundang Tini dan Sam untuk kesini kan?"
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana?"
"Ya tahu lah Om.. Tini itu kan Anak Kesayangan Om.. gak mungkin di lupakan"
"Kamu benar" Herman tertawa kecil, lalu Andi pamit untuk berangkat ke kantor duluan
"Aku berangkat ke kantor duluan ya, Pah.. Om.."
"Ya.. hati-hati Andi" padahal Andi berangkat duluan karena ingin memberitahu Kasih soal ulang tahunnya.
Asri masih tak menyangka jika dirinya sendang hamil saat ini, Dia pun bercermin menatap wajahnya dan berkata dalam hati
"Kenapa disaat Aku hamil, Sam meninggalkan Aku, Dia pergi dan tak akan kembali, Sam.. Aku hamil anak Kamu.. jika Kamu tahu Aku hamil, apakah Kamu akan kembali pada Aku"
Tak terasa air mata Asri menetes dengan deras, Dia pun memandangi perutnya lalu mengusap-usap perutnya sambil menangis kecil, lalu Bu Anita datang membawakan sarapan untuk Putrinya.
"Asri.." Bu Anita masuk ke kamar Asri, lalu Ia melihat Putrinya menagis sambil memandangi perutnya
"Kamu kenapa Nak...?" Asri segera menghapus Air mata di pipinya
"Gak Mah.. Aku gak apa-apa, Mah.. Aku ini hanya jadi beban untuk Mamah, dan Aib untuk Mamah"
"Kamu kenapa bicara seperti itu"
Asri pun menjelaskan jika dirinya saat ini sudah lumpuh, lalu menebar Aib, dan menjadi beban karena tak bisa membantu Ibunya mencari uang bersama-sama
"Cukup Asri.. berhenti bicara seperti itu, Mamah memang marah, kecewa sama Kamu, tapi Mamah tetap menyayangi Kamu, bagaimanapun Kamu, tetap Nak.. hanya Mamah yang yang akan perduli, membela, dan menyelamatkan Kamu dari apapun" Asri menatap wajah Ibunya dengan terenyuh
"Jadi Mamah mohon, kali ini tolong turuti ucapan Mamah, lupakan Sam.. jangan Kamu ingat lagi, sudah cukup Kamu tersakiti karena Dia"
Bu Anita langsung memeluk Putrinya sambil menangis.
Saat keluar kamar mandi, Makmun melihat baju yang sudah siap di atas kasur
"Ini siapa yang menyiapkan"
"Mah.. tadi Mamah yang siapkan baju kerja Aku, warnanya pas loh Mah... dasinya juga.." Bu Alya tak mengerti dengan ucapan Makmun
"Apa Mun.. siapkan baju, sepertinya Mamah belum ke kamar Kamu" Makmun kini terheran lalu Ia menanyakan jika bukan Mamah lalu siapa?. Kasih pun muncul dan langsung menyahuti
"Aku Mas.. yang siapkan.."
"Oh.. Kamu, Aku pikir Mamah, terimakasih ya atas perhatiannya"
"Ya Mas...Aku hanya kasihan sama Mas, selama Mbak Lia koma, Mas tidak ada yang menyiapkan pakaian ganti lalu sarapan, tapi Maaf ya Mas..kalau Mas tidak suka Mas bisa bilang, biar Aku juga tidak lagi melakukan itu"
"Oh gak kok.. tenang Kasih.. Aku gak masalah"
"Ya sudah.. Kita sarapan dulu ya" ucap Bu Alya terhadap semua orang
tiba-tiba terdengar suara tamu mengetuk pintu
"Kasih.. tolong Kamu buka ya pintunya" dengan segera Kasih berjalan ke pintu depan, setelah di buka Kasih terkejut pagi-pagi sekali Andi bertamu di rumah ini.
"Andi.. ada apa?" Kasih bicara dengan suara pelan, Ia merasa tak enak di datangi seorang pacar di rumah majikannya
"Aku ingin memberitahu kabar baik untuk Kamu, Kamu kenapa, seperti tidak nyaman Aku berada disini" lalu Kasih menarik tangan Andi dan membawa Andi sedikit menjauh dari pintu rumah
"Aku gak enak Andi dengan Bu Alya dan Pak Helmi, takut Mereka pikir Aku berpacaran di rumah Majikan" Andi pun tertawa kecil lalu berkata,
"Ya ampun.. Aku pikir kenapa, baiklah Aku tidak akan lama, Aku hanya ingin beritahu Kamu jika besok ulang tahun Aku, Aku berniat untuk membawa Kamu ke hadapan Papah Aku, lalu Kita bicarakan soal keseriusan Kita, bagaimana Kamu mau...?" Kasih tersenyum senang dengan kabar itu
"Serius.. Kamu mau membawa Aku ke hadapan Om Heri"
"Ya sayang.. Kita akan katakan keinginan Kita jawaban apapun dari Papah, Kita akan tanggung bersama"
Andi berbicara sambil menggenggam tangan Kasih, hal itu pun dilihat oleh Makmun yang sudah keluar rumah untuk bersiap berangkat kerja, lalu Makmun menghampiri dan menyapa Andi.
__ADS_1
"Andi.. Kamu kesini..?"
"Ya Mun.. ada hal yang harus Aku beritahu pada Kasih, Kamu tidak marah kan Aku mengunjungi Kasih pada saat jam kerjanya" Makmun tertawa kecil merasa lucu dengan ucapan Andi
"Ya silahkan saja, siapa yang melarang, Mamah juga tak masalah kok"
"Baguslah jika Kamu tak marah, Kasih.. sudah yah, Aku berangkat kerja dulu, Mun.. Aku sudah selesai Aku duluan"
Andi pun pergi lalu Makmun memandang Kasih kemudian bertanya maksud kedatangannya kesini ingin memberitahu apa, lalu di ceritakan lah semua yang Andi ucapkan tadi barusan.
"Oh.. jadi Dia akan ulang tahun besok"
"Ya Mas.. Kalau ada waktu, Mas mau tidak temani Aku mencari kado untuk Andi" Makmun terdiam memikirkan apakah hari ini lembur atau tidak
"Aku akan beri keputusan siang nanti ya, Aku lupa jadwal takut lembur hari ini"
"Baik Mas.. terimakasih ya"
Kasih tersenyum lalu masuk ke rumah, Makmun pun ikut tersenyum dan diam sejenak, Dia merasakan rasa yang nyaman berada dekat dengan Kasih, tak lama Makmun juga berangkat setelah senyum senyum sendiri.
Tak terasa waktu sudah siang dan saatnya semua Karyawan makan siang dan beristirahat sejenak, Makmun kini bertanya pada rekan kerjanya apakah barang hari ini datang banyak atau tidak, karena jika tidak Makmun ingin pulang lebih cepat.
"Sepertinya hari ini santai Mun, mau pulang cepat juga tak masalah" Makmun tersenyum senang, dalam hatinya mengatakan,
"Berarti Aku bisa menemani Kasih mencarikan kado untuk Andi"
"Ya sudah.. Aku makan siang dulu ya"
Tiba-tiba Kasih datang menemui Makmun, hal itu membuat Makmun sungguh terkejut
"Kasih.. Kamu kesini ingin apa?"
Makmun sudah gugup saja dipikirkannya jika Kasih datang kesini karena untuk menemuinya, pasti seisi kantor akan heboh, namun ternyata pikiran Makmun salah Dia datang kesini membawakan makan siang untuk Andi.
"Oh.. untuk Andi, ruangan Andi di sebelah sana, Kamu tanya saja dengan karyawan lain, jika bingung"
"Iya Mas.. Aku sudah tahu, tapi Aku juga bawa 2 kotak makan, satu untuk Mas... dan satu lagi untuk Andi"
"Untuk Aku juga ada.. ya ampun.. terimakasih ya Kasih"
Makmun sepertinya senang sekali ada yang memperhatikan dirinya, hal itu pun dilihat oleh Juvi, Dia mencermati wajah makmun dengan senyum yang agak berbeda
"Tumben sekali Kasih ke kantor ini, dan membawakan Makmun makan siang" ucap Juvi dalam benaknya.
Lalu setelah itu Kasih berpamitan untuk langsung menuju ruangan Andi.
Tak lama datanglah Chandra yang sedang lewat dan melihat Juvi yang sedang terdiam memperhatikan Makmun dari kejauhan
"Hey.. Lo sedang apa Juv..?" tepuk pundak Juvi sambil menyapa
"Itu.. Gue habis lihat Kasih membawakan makan siang untuk Makmun"
"Terus... masalahnya?" Chandra tak mengerti jika hanya itu apa yang salah menurutnya
"Gak ada yang salah, tapi kenapa ya Gue kok jadi gak enak perasaan tentang Lia"
"Apasih.. Gue gak paham Juv"
Juvi pun menceritakan kejanggalan dihatinya yang mengira makmun kini terlihat lebih dekat dengan Kasih sejak Lia koma, Ia menjadi khawatir jika nanti Dia melupakan Lia begitu saja.
"Ah.. itu perasaan Lo saja Juv, makan siang yuk"
Juvi dan Chandra pun makan siang bersama, lalu Juvi menceritakan jika semalam Sam menelepon dirinya ingin menanyakan kabar Asri
"Apa...Dia menanyakan kabar Asri, untuk apa Juv"
"Itu Dia.. Gue gak paham sama pikiran Dia, Dia hanya menjawab, tidak ingin berhubungan lagi bukan berarti tak ingin tahu keadaannya"
__ADS_1
Chandra pun memikirkan dengan apa yang di ucapkan Sam, Chandra berpikir lagi jika bukan karena permintaan Bu Anita yang harus menutupi soal kehamilan Asri, Dia pasti akan meminta kontak Sam dan langsung menemuinya di Cirebon untuk meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah Sam lakukan pada Asri.