Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
236. Paket Komplit


__ADS_3

Suasana pun mendadak haru. Air mata dokter Eki terus mengalir. Dia tidak menyangka jika anaknya mampu memaafkannya. Padahal dia sudah sangat kejam kepada Jingga dan Aska.


"A-yah sung-guh min-ta ma-"


"Jangan katakan itu lagi, Ayah. Aku sudah ikhlas," potong Jingga.


Sebuah keikhlasan membawa Jingga pada sebuah kebahagiaan. Ikhlas yang datang hati tidak akan mudah untuk pergi. Malah akan bertambah kebahagiaannya setiap hari.


Berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan itu tidak mudah. Namun, tidak ada salahnya. Jingga ingin hidup bahagia esok dan terusnya. Tidak melulu melihat ke belakang yang penuh aral melintang.


Aska tersenyum bahagia ketika melihat istrinya mengurus mertuanya dengan begitu telaten. Walaupun hamil tua, Jingga berusaha untuk melayani ayahnya.


"N-nak, ja-ngan ca-pek ca-pek." Peringatan sang ayah membuat Jingga merasa diperhatikan oleh ayahnya sendiri.


"Enggak capek, Ayah. Hanya ambilkan minum untuk Ayah.".


Mata Aska terfokus pada ponsel, tapi telinganya mampu mendengar dengan sangat jelas apa yang dikatakan oleh istrinya. Hati Jingga sebenarnya tidak keras, hanya rasa kecewa yang membuatnya enggan membuka hati. Sesungguhnya dia masih mengharapkan kasih sayang lebih dari ayahnya.


Sudah waktunya tubuh dokter Eki dibersihkan. Jingga tetap bersikukuh ingin mengelap tubuh ayahnya. Dokter Eki sudah menolak, dia ingin dibersihkan tubuhnya oleh perawat laki-laki saja. Akan tetapi, Jingga melarangnya dengan tegas.


"Anggaplah aku sebagai anakmu, Yah," ucap lirih Jingga. Dokter Eki pun terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa.


"Ijinkan kali ini aku merawatmu, Ayah," lanjutnya lagi dengan nada yang masih sama. Hati dokter Eki terenyuh mendengarnya.


Tidak tega melihat putrinya, dokter Eki akhirnya mengalah. Sebenarnya dia malu dirawat seperti ini oleh anak yang belum pernah dia rawat sedari dia lahir. Melihat ketulusan Jingga membuat dokter Eki ikut terdiam dan berujung mengangguk setuju. Dalam hati dia terus mengucapkan kata maaf yang sudah jutaan kali hatinya ungkapkan untuk Jingga.


Aska hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya tersebut. Pekerjaannya sedang menumpuk membuatnya harus menyelesaikan tugas-tugasnya yang menggunung.


Jingga membuka kancing piyama rumah sakit yang ayahnya gunakan. Tangannya dengan telaten membersihkan tubuh dokter Eki. Ada desiran hebat yang dokter Eki rasakan ketika telapak tangan Jingga menyentuh kulitnya.


"Anakku."


Mata dokter Eki mulai berair. Dia tidak menyangka jikalau anaknya mau mengurus dirinya, si tua Bangka yang tidak bisa apa-apa. Hanya bisa duduk di kursi roda dan menyusahkan. Tidak juga dia berharap sedikitpun kepada Jingga. Dalam pikirnya mana mungkin Jingga mau merawatnya. Terlebih Jingga sendiri yang sudah mengusirnya dengan tegas ketika dia mengiba. Namun, semuanya tidak sesuai dengan yang dia pikirkan.


Sekarang tinggal bagian kaki sang ayah. Jingga menyingkap selimut bagian bawah, tubuhnya bergetar. Matanya nanar. Hatinya teramat sakit. Kaki sang ayah sudah diamputasi dan itu membuat hatinya amat teriris. Hatinya menjerit dan menangis. Teringat akan anak-anaknya..

__ADS_1


"Ayna, Dea."


Dua nama itu yang memutari kepalanya sekarang. Anak yang tidak meminta dilahirkan dengan keterbatasan, harusnya disayang bukan malah dibenci dan dicemooh. Apalagi sampai disumpahi dengan hal-hal yang kejam. Menanam sebuah kejahatan, akan menuai penderitaan. Itulah Karma yang harus dibayar lunas oleh sang ayah. Nasib tragis menimpa ayahnya sekarang. Kehilangan dua kaki karena proses amputasi.


Melihat kondisi kaki sang ayah, tangan Jingga refleks mengusap perutnya yang membukit. Masih ada rasa penasaran luar biasa di dalam hatinya. Juga rasa cemas yang semakin hari semakin meningkat. Akankah dia dititipkan anak spesial lagi? Ada secuil rasa takut yang bersarang di hatinya. Setiap USG anak-anaknya sepertti bersembunyi dan tidak ingin menampakkan diri.


"Tuhan, aku pasrahkan juga serahkan keadaan fisik calon anak-anakku kepada-Mu. Berikanlah aku hati yang lapang untuk menerima semua kententuan-Mu."


"N-nak."


Suara lemah sang ayah menyudahi lamunannya. Jingga pun menoleh dan memberikan senyum kepada ayahnya. Senyum yang sulit untuk diartikan. Jingga terus melakukan tugasnya. Setelah selesai dan hendak menaruh handuk basah, suara sang ayah menghentikan langkahnya.


"Ma-ka-sih."


Jingga membalikkan tubuhnya dan tersenyum ke arah sang ayah. "Sama-sama, Ayah."


Air muka Jingga yang berbeda membuat Aska menghentikan kerjanya. Dia mengikuti ke mana langkah istrinya pergi. Tak Jingga duga suaminya kini memeluknya dari belakang.


"What do you mind?"


"Bunda," panggil Aska dengan suara penuh permohonan. Jingga diharuskan menjawab jika sudah seperti ini.


"Ayah, bagaimana jika nanti anak-anak kita terlahir-"


Ting!


Ponsel Aska bergetar dan banyak sekali pesan masuk. Dahinya mengkerut ketika sang kakaklah yang mengirimkan pesan suara. Tidak biasanya Echa seperti ini.


"Tes."


Suara Gavin yang terdengar. Mereka berdua saling pandang. Jingga pun sudah ikut melihat ke arah ponsel Aska. Pesan kedua Aska buka.


"Uncle, kenapa tinggalin Mas?"


Aska dan Jingga pun tertawa mendengarnya. Pesan ketiga Aska buka lagi.

__ADS_1


"Kalau mau tinggalin Mas, tinggalin uang buat beli es klim. Baba payah, Baba gak punya dolal."


Suara Gavin mampu membuat dua orang dewasa itu terhibur. Apa yang tengah mereka pikirkan buyar seketika.


"Uncle gak punya uang dolaran. Ada juga uang dua ribuan." Aska membalas pesan anak itu. Jingga malah tertawa karena suaminya senang sekali menggoda Gavin.


Ting!


"Uang dua libuan mah tukang paklil aja gak mau "


Jingga dan Aska tergelak cukup keras di dalam kamar mandi dan mampu membuat dokter Eki berspekulasi. Tak lama berselang, Aska keluar dengan meletakkan ponselnya di depan wajahnya.


"Uncle, Mas mau bicala sama kakek itu, boleh?"


Doker Eki mengerutkan dahi. Suara anak itu sangat asing di telinganya. Jingga membawa ponsel suaminya mendekat ke arah dokter Eki.


"Si-a-pa?"


"Keponakan Bang As, Yah. Anaknya Mbak Riana dan Bang Aksa," jelas Jingga.


Gavin say hi dengan ayah dari Jingga tersebut. Anak itupun sangat ramah juga sopan.


"Kakek, udahan ya jadi olang jahatnya. Nanti dilaknat sama Allah loh."


Aska yang tengah menyesap kopi terbatuk mendengar ucapan sang keponakan. Dia menatap ke arah Jingga yang juga menatapnya. Dokter Eki pun terdiam. Ucapan anak kecil itu merupakan sindiran yang keras untuknya.


"Ingat ya, Kek. Adzab Allah itu sangatlah pedih."


Aska menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Keponakannya yang satu itu adalah paket komplit. Sekarang dia menjelma menjadi penceramah cilik.


"Empin, udah ya. Kakek gak boleh video call lama-lama," teriak Askara.


"Mas belum selesai celamah, Uncle."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2