
Tak terasa waktu cepat sekali berputar hampir enam tahun Aska berada di Singapura. Penambahan waktu dia tahun tidak cukup untuk menstabilkan perusahaan. Maka dari itu sang ayah memutuskan untuk menambah kembali waktu untuk Aska berada di Singapura.
Aska tidak bisa menolak. Bagaimanapun ini sudah menjadi tanggung jawabnya dia pun merasa bersalah kepada anak-anak dan juga istrinya. Mereka semua sudah mengemasi barang karena mereka yakin semuanya sudah berjalan dengan semestinya. Pada nyatanya malah sebaliknya. Ketika mereka akan bertolak ke Jakarta perusahaan kembali goyang. Perusahaan itu belum 100% tegak berdiri ada rasa kecewa di hati anak-anak dan juga istri dari askara, tapi mereka mencoba untuk menutupi. Mencoba ikhlas menerima semuanya
"Ternyata belum waktunya," gumam Ahlam. Anak itu masih bisa tersenyum. Meskipun hanya senyum palsu belaka yang Ahlam berikan selama ini.
"Kapan aku terbang bebas ke angkasa?" Lagu yang dia ubah liriknya dan dia nyanyikan. Siapa lagi jika bukan Arfan. Lagu soundtrack Doraemon seperti menjadi soundtrack hidupnya. Dia ingin bebas tidak terkurung seperti ini. Dia adalah manusia ekspresif bukan manusia pasif.
Balqis dia sudah memeluk tubuh Abdalla. Sang kakak hanya bisa mengusap lembut rambut adik bungsunya.
"Sabar ya, Dek. Nanti kita pasti kembali. Percayalah." Balqis hanya mengangguk. Tangan sang Abang seperti memiliki sihir yang luar biasa. Mampu menghilangkan tangisnya juga menghilangkan sedihnya.
Menginjak tahun ke-7 di Singapura, mereka sudah mulai terbiasa. Aska yang sering ingkar janji pun sudah biasa. Kecewa sudah pasti, tapi mereka juga tidak bisa menuntut lebih. Ingkar Janji sang ayah bukan karena disengaja. Melainkan karena pekerjaan yang membutuhkan ayah mereka.
Aska tengah berkutat dengan lembaran-lembaran berharga di meja kerjanya. Sudah beberapa bulan ini dia terus bekerja bagai kuda. Berangkat pagi bisa dibilang pulang juga pagi sekitar jam dua sampai jam tiga pagi dia baru sampai rumah. Aska seperti itu karena ada sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh sang Abang kepadanya.
"Cepet pulang! Cepet beresin perusahaan! Lu itu pinter, jangan jadi orang Be go."
__ADS_1
Kata sarkas padahal, tapi memiliki makna yang berbeda untuk Aska. Itu seperti motivasi untuknya. Aska ingin membuktikan kepada abangnya bahwa dia bisa cepat pulang dan dia tidak bodoh. Dia pintar sama seperti abangnya. Dia juga bisa setara dengan sang Abang.
Suara ketukan pintu terdengar, Aska menjawabnya dari dalam. Ketika dia menatap ke arah orang yang baru saja masuk, matanya melebar. Dahinya mengkerut dan kedua alisnya menukik dengan begitu tajam. Senyum hangat dari pria paruh baya masih tampan diperlihatkan.
"Daddy." panggilnya.
Ya, dia adalah Gio. Ayah dari Askara. Dia duduk tepat di depan Sang putra. Gio tersenyum dan dia berkata, "sudah waktunya kamu kembali ke Jakarta. Tugasmu sudah selesai di sini. Cukup kamu pantau sebulan sekali."
Aska masih bergeming dia tidak langsung percaya akan ucapan sang ayah. Bukan karena ayahnya sering berdusta, tidak. Dia sering mendapatkan kabar seperti ini, tapi pada nyatanya dia harus kembali lagi bekerja di kursi ini. Menjadi tahanan di perusahaan ini.
"Cek kembali bagaimana perusahaan ini sekarang, Dad," sahut Aska. Dia kembali menatap lembaran yang harus dia kerjakan. "Adek senang mendengar kabar ini, tapi seringnya kabar ini hanya untuk melambungkan Adek. Keesokan harinya ada dibanting kembali dengan rasa kecewa." Aska masih melanjutkan perkataannya dengan tangan yang membubuhkan tanda tangan di atas kertas demi kertas yang ada di meja.
Hembusan nafas kasar yang menjadi jawaban dari askara. Dia mulai menatap kembalil. wajah ayahnya yang masih berkarisma dan berwibawa.
"Dulu ketika awal-awal Adek memimpin perusahaan ini, mendengar kabar bahwa Adek harus pulang dan harus meninggalkan negara ini Adek sangat senang, tapi sekarang Adek tidak ingin dibohongi oleh keadaan. Jika, memang keadaan belum memungkinkan, tidak usah memberikan harapan. Adik tidak ingin kecewa. Tidak apa jika adik sendiri yang kecewa, tapi anak-anak dan istri Adek mereka lebih kecewa. Mereka ingin kembali ke Jakarta. Mereka merindukan saudara-saudara mereka, tapi Adek bisa apa mereka tidak ingin pergi ke Jakarta tanpa Adek. Padahal Adek mengizinkan, tapi mereka yang menolak. Mereka ingin terus bersama-sama dalam suka maupun duka." Aska menjelaskan semuanya. dia mengutarakan apa isi hatinya yang sesungguhnya.
Sang ayah tersenyum. Dia menepuk pundak putranya yang semakin hari semakin bertambah dewasa. Cara berpikirnya hampir sama seperti Aksa.
__ADS_1
"Bukalah ponselmun! Lihatlah pesan yang dikirimkan oleh Abang," kata sang ayah
Aska pun lalu membuka ponselnya yanh ternyata benar abangnya mengirimkan sebuah pesan kepadanya. Mengirimkan grafik perusahaan yang signifikan yang di luar dari ekspektasinya. Dia tercengang, dia tidak bisa berkata. Mulutnya keluh dan dia tidak menyangka.
"I-ini--" Aska tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"itu semua hasil kerja keras kamu. Wiguna grup Singapore lebih pesat dibandingkan Wiguna grup Aussie dan juga Indonesia. Kamu sudah berhasil sudah waktunya kamu kembali."
Ingin rasanya Aska berteriak tapi dia harus menahannya. Dia tidak ingin terlalu bahagia karena dia takut kecewa untuk kesekian kalinya. Sudah beberapa kali dia dikecewakan oleh keadaan.
"Besok pagi kamu dan keluarga akan dijemput di bandara. Daddy tunggu kamu di Jakarta."
Senyum masih merekah di wajah Giondra. Dia pun meninggalkan Sang putra yang sebelumnya dia peluk dengan begitu erat dan penuh bangga.
"Kamu memang hebat. Tidak salah Daddyi mempercayakan kamu. Kamu memiliki kemampuan. Kamu memiliki ilmu yang sudah kakek turunkan"
Mata Aska berkaca-kaca. Baru kali ini dia mendengar ucapan yang begitu tulus dari ayahnya untuknya. Biasanya kalimat itu hanya diutarakan untuk sang putra pertama. Aska tidak cemburu, Aska tidak iri Dia tahu di mana batas kemampuannya. Namun digembleng oleh sang kakek ternyata membawa Aska menjadi manusia yang bisa membanggakan keluarga terutama ayahnya.
__ADS_1
****