
Justru Dia berkata,
"Selamat, mungkin ini keberuntungan Anda Pak Chandra, karena Anda tak mengajak Asisten anda, Saya yakin kalau Asisten anda ikut tadi, Retro tidak akan menang tender"
ucapan Pak Faris pun membuat Chandra geram, rasanya Chandra ingin sekali menonjok wajahnya dengan tangannya itu, tapi Chandra masih menahan emosinya, Dia masih menghargai Tuan rumah.
"Justru karena Asri lah Retro bisa menang, karena ini semua ide Asisten Saya konsep buatan Asisten Saya, Anda kalau sudah kalah ya mengaku saja kalah, jangan cuma bisa membuat keadaan semakin panas, Saya malah bersyukur Retro tidak jadi bekerjasama dengan perusahaan Anda, sebab orang seperti Anda tidak pantas menjadi pemimpin" ucap dengan ketus Chandra berbicara kepada Pak Faris
Kemudian Pak Faris langsung pergi meninggalkan ruang meeting dengan wajah penuh kekecewaan karena sudah kalah tender, Dia berjalan keluar lalu melewati Asri, dengan menatap tajam wajah Asri, Asri hanya terdiam tak ingin bicara apapun, sebab dalam pikirannya jika di ladeni pasti akan melebar kemana-mana masalahnya.
Lalu Chandra dan Rio pun keluar dari ruang meeting, Chandra berjalan menghampiri Asri dengan wajah kesal akibat tadi bertengkar dengan Pak Faris, Asri pun penasaran dengan hasil presentasi.
"Chan... bagaimana, Kita menang atau kalah" tanya Asri dengan antusias
Namun Chandra memberikan wajah sedih seakan-akan telah kalah, sebenarnya itu hanya pura-pura Chandra ingin mengerjai Asri
"Chan.. bagaimana, kok diam" Asri pun melihat wajah sedih itu, Dia pun kini ikut melemah merasa sepertinya Retro telah kalah
"Kita kalah..." Rio pun menunjukan wajah bingungnya dengan sikap Chandra, lalu Chandra melanjutkan ucapannya
"Kita... " bicara dengan suara lemas
"Kita... Kita memang tender Asri" setelah berkata itu Chandra pun tertawa puasa sekali, lalu wajah Asri pun mulai senang yang tadinya diam lemas kini terlihat senyuman yang begitu manis
"Apa... serius Chan.. Kita menang" tanya Asri dengan wajah bahagia, lalu Rio menyahuti dan berkata,
"Ya Asri Kita menang, menang tender" ucap Rio dengan begitu semangat, kini Asri tertawa senang, saking senangnya Dia reflek memeluk Chandra
"Aku senang banget Chan.. Kita menang, Kita terbebas dari masalah" ucap Asri dengan sangat bahagia
"Iya.. Aku juga bahagia" sambil mengelus pundak Asri, tak lama Asri tersadar Ia pun langsung melepaskan pelukannya dan menjauh sedikit dari Chandra
"Maafkan Aku, Aku cuma senang sekali, Maaf ya" ucap Asri dengan wajah malu
"Ya.. gak apa-apa, Aku mengerti.. ya sudah Kita makan siang yuk, Aku lapar banget habis muter otak" ucap Chandra dengan tertawa kecil dan Mereka pun tertawa bersama.
Makmun pun bersiap untuk berangkat ke kantor Lia, Dia sudah menata rapih bekal makan siang untuk Lia lalu Makmun pamit dengan Ibunya
"Mah... Aku berangkat ya, doain semoga Lia suka sama masakan ini, dan Kita jadi akur lagi"
"Ya.. ya sudah hati-hati ya" Jawaban yang singkat dari Bu Alya, lalu Makmun pun menyalakan mesin mobil dan berangakat.
Setalah sampai di Retro Dia agak gugup dan berkata pada dirinya sendiri
"Semoga Lia gak marah lagi, Aku rindu sama Lia yang ceria"
Setalah masuk kantor Makmun pun di sapa oleh banyak karyawan termasuk Mira resepsionis di Retro
__ADS_1
"Selamat siang Pak Makmun, mau lihat Istri ya Pak..?" tanya Mira dengan menyeringai
"Ya nih.. Aku bawa makan siang untuk Lia, ayo Mir duluan ya" Mira menjawab "Ya Pak" sambil tersenyum.
kemudian Juvi mendatangi Lia untuk mengajak makan siang bersama, Lia pun sudah menyelesaikan pekerjaannya, lalu ketika hendak bangun kepala Lia agak pusing sempoyongan, hal itu membuat Lia hampir terjatuh, dengan sigap Juvi menopang Lia supaya berdiri tegap
"Lo kenapa Li..." tanya Juvi merasa khawatir
"Gue gak tahu, tadi sih biasa saja kenapa sekarang jadi agak pusing ya" Lia juga merasa aneh dengan kondisi tubuhnya.
Tak sengaja momen itu dilihat oleh Makmun, Dia pun tak percaya dengan apa yang dilihatnya, saat Lia menoleh Lia pun melihat Makmun berada di depan pintu ruangannya, Lia terkejut lalu Lia melepaskan tangan Juvi dengan tiba-tiba.
Juvi pun kebingungan dengan sikap Lia, namun ketika melihat Lia menatap ke arah pintu Juvi pun melihat ke arah sana, dan ternyata Makmun berada disitu, Juvi kini merasa tak enak dengan Makmun takut di pikirannya malah yang tidak-tidak
"Mun... Lo di sini..?"
"Ya.. Gue disini.. cukup lama melihat Kalian berpegangan tangan" Lia pun langsung berkata dan menjelaskan apa yang baru saja dilihatnya tadi
"Mun.. Kamu jangan salah paham, tadi Juvi hanya berusaha menolong Aku, kepala Aku pusing tadi" mendegar Lia sakit kepala, Makmun pun mendekati Istrinya
"Kamu sakit kepala Sayang, Kamu pasti kecapean deh, lebih baik sekarang Kamu duduk, Juv.. Lo boleh keluar sekarang, Gue sudah ada untuk jaga Lia" ucap Makmun seolah-olah mengusir Juvi secara halus
Juvi pun tak dapat berkata apa-apa karena Dia berpikir, siapa dirinya bagi Lia
"Ok.. Lia Gue duluan ya, Mun.. Gue harap apa yang tadi Lo lihat, tidak pernah mengurangi rasa cinta Lo untuk Lia, karena tadi Gue hanya ingin membantu Lia itu saja" Juvi sedang menjelaskan kejadian tadi, lalu Juvi keluar dari ruangan Lia, dan Lia hanya dapat memandangi Juvi dari jauh tak bisa berkata apa-apa.
"Sayang... Kamu itu kecapean, makanya Kamu pusing seperti ini" Lia hanya tersenyum mendegar perhatian dari suaminya
"Kamu gak mikir aneh-aneh kan tadi, sumpah tadi Juvi hanya bantu Aku, Kamu jangan berfikir negatif tentang Dia ya" ucap Lia menjelaskan lagi soal tadi
Makmun hanya diam lalu Dia menghela nafas, kemudian Dia berkata,
"Lia kenapa sih Kamu malah memikirkan tentang Juvi, seharusnya Kamu pikirin diri Kamu, Aku tahu Dia sahabat Kamu, tapi tolong... Aku dan keluarga Aku yang harus Kamu prioritaskan" ucap Makmun dengan suara pelan
"Kamu kesini hanya untuk bicara soal ini, Mun.. tanpa Kamu suruh Aku pasti prioritaskan Kamu dan keluarga Kita, menurut Aku ini tak ada hubungannya sama sekali dengan Juvi" ucap Lia dengan nada sedikit meninggi
Makmun merasa jika di teruskan pertengkaran ini tidak akan ada habisnya, kini Makmun pun mengalah Dia berkata,
"Ok.. Ok.. Aku kesini itu bukan mau bertengkar dengan Kamu, tapi Aku kesini bawa ini" Makmun bicara sambil memperlihatkan kotak makan yang sudah Ia masak di rumah
"Kotak makan, Kamu bawakan Aku makan siang.. untuk Aku..." tanya Lia dengan wajah bahagia
"Iya... ini Aku yang masak loh.. Aku sengaja kesini, untuk berdamai sama Kamu, karena Aku gak bisa sayang terus marah-marahan sama Kamu, diam-diaman sama Kamu, Aku ingin Kamu yang dulu yang ceria, bahagia, energik" ucap Makmun dengan wajah bersedih
Lia pun tak tega mendengar dan melihat wajah sedih suaminya, lalu Lia mengatakan,
"Aku juga sebenarnya gak ingin bertengkar seperti ini, Aku minta maaf ya, mungkin Aku yang belum bisa jadi Istri yang baik untuk Kamu" Lia kini meminta maaf duluan kepada Makmun, Makmun pun tersenyum bahagia
__ADS_1
"Aku yang minta maaf, belum bisa memahami Kamu, Aku ingin Kita berdamai janji ya, jangan ada lagi pertengkaran" Lia pun tersentuh dengan permintaan maaf suaminya
"Janji.. Aku janji akan bersikap lebih baik lagi, tapi Kamu juga janji tolong jangan lagi bahas soal teman-teman Aku ya"
Makmun tak ingin ada pertengkaran lagi, jadi mau tak mau Ia mengiakan permintaan Istrinya itu, setelah itu Mereka pun berpelukan dengan bahagia.
Saat tengah ingin makan siang bersama Chandra juga Rio, ponsel Chandra mendapatkan panggilan dari Sam, langsung saja Chandra memberikan ponselnya kepada Asri
"Ini Sam telepon Aku" ucap Chandra memperlihatkan ponselnya Asri pun terlihat senang lalu segeralah Asri menjawab panggilan tersebut
"Halo Sam, ini Aku Asri" Sam pun tersenyum bahagia telah mendengar suara kekasihnya
"Ya sayang... Asri.. bagaimana kabar Kamu?" tanya Sam dengan wajah senang
"Aku baik.. kaki Aku sudah mendingan Aku berjalan sudah gak pakai tongkat lagi, tinggal luka di tangan ku saja yang masih harus pakai perban" ucap Asri menjelaskan kabar dirinya
"Aku rindu sekali sama Kamu" lalu Asri menundukkan kepalanya dengan raut wajah bersedih
"Aku juga Sama, seandainya Mamah gak mencoba pisahkan Kita, Aku pasti bisa temani Kamu dan di sisi Kamu sekarang"
namun semua sudah terlanjur dan Mereka pun hanya bisa pasrah dan sabar dengan keadaan.
"Tadinya Ibu mau ngobrol sama Kamu, tapi malah orangnya tidur, mungkin nanti lagi ya Aku telepon Kamu, oh ya Kamu sedang apa sekarang?"
"Aku sedang makan siang, Sam... Kamu tahu hari ini tim Kita marketing menang tender, Aku senang banget loh, soalnya tadi pagi kita sempat gagal dapat Proyek" Sam menyimak semua cerita Asri dari soal Tini yang menganggu di kantor lalu kesempatan kedua dari Pak herman, sampai soal Pak Faris,Sam cukup terkejut kenapa Pak Faris bisa sampai begitu
"Kamu yang sabar ya, Minggu depan Aku akan ke Jakarta karena sidang pertama Aku sama Tini"
"Oh ya, kalau sidang pertama lancar terus apa lagi?" tanya Asri sedikit penasaran mengenai proses perceraian, lalu Sam menjelaskan
"Ya biasanya hakim minta Kita untuk mediasi dulu selama 1 Minggu, setelah itu baru deh sidang yang kedua, kalau sama-sama sudah siap ya sudah ketuk palu" Asri menyimak semua penjelasan Sam
"Lama juga ya prosesnya" tanya Asri dengan wajah memelas, Sam pun tertawa kecil lalu menjawab,
"Kenapa ... Kamu sudah gak sabar ya, mau jadi Istri Aku" mendengar hal itu Asri pun jadi tersenyum malu
"Sam... ya siapa coba yang gak ingin cepat di halalkan, Aku sabar tunggu Kamu Aku ikuti semua keadaan sekarang, itu karena cuma Satu, Aku ingin segera bersama sama selalu dengan Kamu" Sam jadi tersentuh dengan ucapan Asri, betapa Dia sangat mencintai Asri
"Iya sayang, saat ini Aku cuma bisa bilang, Kita harus sabar" ucap Sam meyakinkan Asri
"Ya sudah, Aku mau makan lapar banget" Asri bicara sambil menyeringai
"Ya Sayang, I love You"
"Love You Too" dan panggilan pun di putus.
Lalu Asri menyerahkan ponsel milik Chandra sambil berkata,
__ADS_1
"Chan... Aku minta maaf ya, jadi menganggu Kamu deh, Aku boleh gak minta Nomor Sam biar nanti Kita teleponan gak ganggu Kamu" Chandra menolak, Ia merasa sudah berjanji kepada Bu Anita untuk mengawasi Sam juga Asri.