Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
265. Memanggil Dokter


__ADS_3

Dada Aska berdegup cepat ketika mendengar istrinya muntah-muntah. Dia sudah berpikiran jelek.


"Apa jangan-jangan Jingga hamil?" Kali ini dia bukannya bahagia melainkan sebaliknya. Takut bercampur cemas. Bukan tanpa sebab, keempat anak-anaknya masih sangat kecil. Dua Minggu lagi baru genap satu tahun.


"ASKARA!!"


Aska menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sudah pasti ibunya bagai ibu tiri yang tak memiliki hari jika sudah marah. Kejadian Riana hamil kedua pun ibunya sedikit murka. Bukan tidak suka, tapi kasihan kepada menantunya.


Sekarang yang harus dia lakukan adalah menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang. Dia juga harus memastikan apakah istrinya hamil atau tidak dengan mampir terlebih dahulu ke apotek.


Semua pekerjaan sudah selesai tepat di jam lima sore. Aska bergegas pulang dan melajukan mobil ke arah rumahnya. Dia menghentikan mobil ketika melihat apotek. Aska membeli semua merk testpack dari yang murah hingga yang mahal. Dia ingin memastikan.


Hatinya berdegup tak karuhan ketika mendekati kediaman orang tuanya. Aska sudah membayangkan kemarahan ibunya. Hembusan napas kasar untuk kesekian kalinya keluar dari mulutnya..


Mobil pun berbelok memasuki halaman rumah. Aska bagai anak kecil yang takut dimarahi karena sudah berbuat salah. Dia segera masuk ke dalam rumah dan untungnya rumah terlihat sepi.


Langkahnya tergesa menuju kamar. Ketika pintu kamar dibuka, mata sang ibu sudah tajam bagai elang dan sang istri sudah pucat di atas tempat tidur.


"Mati gua!"


Bersikap biasa saja, itulah yang tengah Aska lakukan. Dia pura-pura tidak tahu.


"Anak-anak ke mana, Mom?" tanya Aska dengan wajah dibuat setenang mungkin.


"Mommy kasih ke orang," ketus Ayanda. "Punya ayah bisanya cuma bikin anak doang."


Glek!


Aska menelan ludah. Perkataan sang ibu kali ini seakan sangat sadis dan menusuk ke ulu hatinya.


"Anak-anak kalian aja belum genap satu tahun. Luka operasi masih basah. Sekarang, kalian udah otw punya lagi. Ck, ck, ck," omel Ayanda dengan diakhiri decakan kesal.


Aska dan Jingga hanya terdiam. Mulut mereka terbungkam ketika sang ibu menjelma singa liar seperti ini. Menyeramkan dan penuh kegarangan.


"Urus anak-anak dulu yang benar. Mereka masih butuh kasih sayang kalian. Beri jarak antara anak pertama dan anak selanjutnya. Udah ketahuan punya anak kembar banyak, malah gak dijaga. Gimana sih?"


Bentuk kasih sayang seorang mertua kepada menantunya. Ayanda tidak ingin tubuh Jingga rusak hanya karena anaknya yang kelewat batas.


"Askara," tegas sang ibu. "Kamu itu laki-laki, tak akan memiliki bekas kalaupun kamu nikah lagi, beda halnya dengan Jingga. Ada bekas yang tidak akan pernah bisa kembali seperti semula."

__ADS_1


Yang dikatakan oleh ibu mertuanya itu memang benar. Harusnya Jingga bisa jaga diri. Jaga tubuh agar suaminya tak berpaling ke wanita lain.


"Kamu boleh saja melayani suami kamu, tapi kamu juga punya hak untuk nolak jika sekiranya itu membahayakan kondisi tubuh kamu."


#Flashback on.


Ayanda mengetuk pintu kamar Jingga ketika dia hendak membawa empat cucunya ke luar. Tidak ada jawaban dari dalam membuat Ayanda masuk ke kamar sang menantu. Tidak ada Jingga di tempat tidur. Ayanda pun melihat ke arah kamar mandi. Terdengar suara orang muntah. Dia bergegas dan benar saja sang menantu tengah mencoba mengeluarkan isi perutnya di dalam kamar mandi.


"Kamu kenapa, Nak?" Ayanda membantu Jingga memijat tengkuk leher sang menantu dengan begitu lembut.


"Sudah?" Jingga mengangguk. Ayanda membawa tubuh sang menantu ke tempat tidur. Dia ikut duduk di bibir ranjang.


"Katakan pada Mommy, apa kamu melakukan KB?" Jingga pun mengangguk. "KB apa?" tanya Ayanda lagi.


"Pil."


Ayanda terkejut. Bisa-bisanya menantunya ini meminum pil. Sehari saja tidak diminum bisa langsung jadi.


"Apa ada yang pernah kelewat?" Jingga berpikir sejenak. Dia membuka laci yang ada di samping tempat tidur. Matanya pun membalalak ketika ada satu pil yang kelewat.


Melihat menantunya yang terdiam membuat Ayanda penasaran. Dia mengambil pil tersebut dan jantungnya hampir saja copot.


"Jangan, Mom," cegah Jingga. Dia juga sebenarnya takut. Apalagi melihat wajah mertuanya yang sudah berubah.


"Mommy hanya ingin memastikan." Jingga menggeleng pelan.


"Tunggu Bang As ya, Mom." Jingga pun menunjukkan wajah penuh harap. Ayanda menghela napas kasar. Mau tidak mau dia pun mengangguk.


Suasana mendadak hening. Jingga bergelut dengan pikirannya sendiri juga Jingga yang tengah memikirkan bagaimana jika dia hamil. Bagaimana nasib keempat anak-anaknya?


"Kapan terakhir kalian melakukan hubungan suami-istri?" tanya sang mertua. "Apa yang sampe bagian bawah kamu lecet itu?"


Dari kejadian itu hingga pada saat ini sudah dua Minggu lamanya. Sudah pasti Aska tidak tahan dan segera menjamahnya.


"Jawab Mommy, Nak. Mommy tidak akan marah." Begitulah janjinya.


"Seminggu setelah Bang As terkena hukuman, hampir setiap malam kami melakukannya."


"ASKARA!!"

__ADS_1


Sungguh Ayanda tidak menyangka putra bungsunya semaniak itu. Dia pun menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Baiklah, ketika suami kamu pulang kita cek semuanya." Jingga pun mengangguk.


#off.


Aska menatap Jingga yang terlihat sama takutnya seperti dirinya. Sorot mata mereka bertemu dan Aska mengangguk pelan. Mencoba menenangkan sang istri.


"Yang kamu bawa apa itu?" sergah sang ibu.


"Testpack, Mom."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Ayanda. Dia menatap tajam ke arah Askara. Juga melirik tajam ke arah Jingga.


"Kenapa sih kalian ceroboh?" Ucapan itu begitu lemah sekarang. "Anak-anak kalian belum genap satu tahun. Mereka masih butuh kasih sayang kalian. Mereka masih ingin dimanja sama kalian. Jangan mentang-mentang kita keluarga punya, merasa tidak masalah hamil lagi dan lagi. Jangan seperti itu, kasihan anak-anak kalian."


Pintu kamar Jingga terbuka, kali ini sang ayah mertua yang datang. Dia menatap teduh kepada Aska dan Jingga.


"Anak adalah rejeki. Jika, diberi kepercayaan lagi kita harus menerimanya," tutur Gio.


"Maaf," ucap Aska dengan suara lemah.


"Kalau udah begini emang bisa ditolak?" Sang ibu masih saja sinis. Ternyata begini sikap asli ibu kandung Askara. Dulu, Aksaralah yang sering dimarahi. Kini, gantian Askara.


"Daddy sudah menghubungi Gwen dan dokter keluarga. Mungkin satu jam-an lagi mereka sampai."


Aska pun mendekat ke arah sang istri. Memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Menciumujung kepala istrinya dengan begitu lembut.


"Maaf." Aska menggeleng.


"Kamu gak salah. Kalau emang kita dititiipkan lagi, kita harus terima dengan hati yang bahagia."


Melihat anaknya sangat bertanggung jawab membuat Ayanda tersenyum bahagia. Gio merangkul pundak sang istri dengan begitu erat.


"Assalamualaikum ... keluarga gorengan datang. Ada gehu, cireng, cimol, dan Bala-bala, digorengnya dadakan. Lima ratusan."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2