
Tini pun mendatangi Sam yang masih diam di depan pintu kamarnya
"Hai Sam.. apa kabar.." Tini berbicara basa-basi terhadap Sam dengan wajah tersenyum senyum
"Kamu ingin apa kesini?"
"Santai dong.. Sam... Kamu harus tahu, Saya tidak pernah menerima semua ini, sampai kapanpun Saya akan berusaha untuk menjauhkan Kamu dengan Asri" Tini sedang berusaha mengancam Sam secara perlahan
"Jadi ini semua rencana Kamu" lalu Tini tertawa sinis dan berkata,
"Ya.. memangnya siapa lagi yang berani melakukan ini"
"Kamu tidak ada puasnya Tini...Kamu sudah membuat Asri di pecat dan sekarang Kamu membuat Asri di benci oleh Ibunya sendiri" Sam merasa geram dengan kelakuan Tini
"Itu semua karena Asri sudah merebut Kamu dari Aku Sam" Tini kini berbicara dengan suara meninggi
"Kamu memang gila.. sekarang lebih baik Kamu pergi, kita akan bertemu di pengadilan siang nanti" setelah itu Sam masuk Apartemen dan menutup pintu dengan rapat.
Sementara Tini masih terdiam dengan wajah marahnya.
Sesampainya Asri di rumah Bu Anita memarahi Asri habis-habisan
"Asri.. Kamu mau apa ke Apartemen Sam"
"Aku hanya ingin bertemu Sam Mah.."
"Kamu tahu gak sih.. yang sedang Kamu lakukan ini salah ...!!" Bu Anita kini berbicara dengan emosi
"Mah.. tapi Mamah gak bisa egois seperti ini"
"Egois... Kamu bilang... Kamu yang membohongi Mamah dan Kamu juga yang bilang Mamah egois.. Asri.. Kamu tega-teganya membohongi Mamah seperti ini..!!" Bu Anita bersedih matanya kini berkaca-kaca seperti ingin menangis, sedangkan Asri hanya terdiam tak berbicara apapun
"Sekarang mana ponsel Kamu"
"Mamah mau apa.. dengan ponsel Aku" Bu Anita tak menjawab Dia langsung mengambil paksa ponsel Asri, lalu menghapus kontak Sam di ponselnya.
Asri pun marah kepada Bu Anita
"Mah.. gak bisa begitu dong.. Mah.. tolong jangan seperti ini"
"Asri kamu ingat.. sampai kapanpun Mamah tidak akan pernah mengizinkan Kamu untuk bertemu Sam, sampai Dia Benar-benar berstatus duda" Asri terdiam lemah mendegar kata-kata dari Ibunya, Dia tak tahu harus berapa lama Ia menunggu waktu itu.
Tiba-tiba ponsel Asri berdering panggilan masuk dari Sam, langsung saja Bu Anita pun mengangkatnya
"Halo.. Asri.. Kamu gak apa-apa" Sam berbicara dengan rasa khawatir, lalu Bu Anita pun bicara
"Mau apa Kamu menelepon Anak Saya!!" sepertinya Bu Anita semaki emosi
"Tante tolong jangan marahi Asri, Aku yang salah.. Aku yang mengajak Asri bertemu diam-diam, Aku minta maaf Tante"
"Ya... Kamu memang salah, salah karena Kamu sudah hadir dalam kehidupan Anak Saya, Kamu dengar baik-baik Sam.. sampai kapanpun Saya tidak akan pernah mengizinkan Kalian untuk bertemu sampai Kamu benar-benar berstatus duda.. baru setelah itu mungkin Saya akan membolehkan Kamu menemui Anak Saya.. itupun dengan syarat setelah masa Iddah Kamu selesai" Sam terdiam mendengar syarat dari Bu Anita yang begitu sulit baginya, lalu Bu Anita melanjutkan lagi ucapannya
"Baru setelah itu jika Kamu benar-benar mencintai Arsi, silahkan Kamu lamar Anak Saya secepatnya" Bu Anita berbicara dengan jelas dan tegas.
Bu Anita pun segera menutup panggilan tersebut, lalu menghapus semua histori dalam ponsel Asri, Asri pun marah pada Bu Anita dan Dia langsung masuk ke kamarnya berjalan sambil menagis kecil.
Setelah itu Bu Anita menghubungi Chandra, untuk meminta penjelasan mengapa Asri bisa sampai bertemu sam.
Chandra yang sedang bekerja melihat ada panggilan dari Bu Anita langsung mengangkatnya
__ADS_1
"Halo Tante ... ada apa Tante menelepon Saya"
Bu Anita langsung berbicara mengenai Asri
"Chandra.. Saya kan sudah berpesan kepada Kamu.. tolong awasi Asri, tapi kenapa Asri bisa bertemu Sam diam-diam di belakang Saya, Kamu pasti sudah memberikan kontak Sam iya kan Chan...??" Bu Anita berkata penuh dengan emosi
Chandra terdiam menyimak ucapan Bu Anita dalam hatinya berkata,
"Ya ampun Asri.. kenapa bisa ketahuan" Chandra merasa saat ini pasti Asri di marahi habis-habisan oleh Bu Anita, bahkan mungkin tidak akan bisa Chandra menolongnya lagi
"Maaf Tante.. Ya.. memang Saya yang memberikan kontak Sam kepada Asri, Saya mengaku salah"
"Sudahlah Saya juga sebenarnya tidak ingin marah-marah seperti ini, Sekarang Saya sudah menghapus kontak Sam di ponsel Asri, Saya minta tolong.. jangan Kamu berikan lagi ya Chan... Saya saat ini sedang menjaga Anak Saya dari hujatan banyak orang, tolong Kamu mengerti"
Chandra merasa sangat bersalah, Dia pun meminta maaf lagi pada Bu Anita dengan hati yang tulus, setelah itu panggilan pun akhiri.
Asri berusaha mengingat kontak Sam, tapi tidak berhasil juga, Asri pun marah-marah sendiri sambil menangis tanpa suara
"Mamah tega sama Aku.. " Asri bersedih menangis duduk bersandar di pintu sambil menunduk.
Saat ini jam menunjukkan tepat jam 1 siang, Sam saat ini berada di pengadilan agama menunggu giliran kasusnya di panggil.
Tini pun datang menghampiri Sam lalu berkata,
"Sam...apa Kamu yakin ingin menceraikan Aku.. Sam...Kita bisa mulai semua ini dari nol Sam" Sam hanya diam tak menjawab ucapan Tini
"Sam... Aku mohon, tolong beri Aku kesempatan, Chandra saja bisa memberi kesempatan untuk Rahma menjadi Istrinya, kenapa Kamu tidak bisa Sam" Sam mulai mantap Tini dengan tajam, lalu Sam berkata,
"Tidak ada lagi yang harus di benahi, dan jangan samakan Aku dengan Chandra, begitu pun Rahma dengan Kamu"
"Aku tahu...." Tini belum selesai bicara kini Mereka pun harus masuk ke dalam untuk melakukan sidang perceraian.
Setelah itu Hakim mulai bicara
"Saya yakin 100% Pak Hakim" jawab Sam dengan tegas
lalu Pak hakim kini menanyakan Tini dengan pertanyaan yang sama, namun Tini menjawab tidak seperti apa yang Sam jawab
"Saya masih mencintai Suami Saya Pak Hakim...bisakah Saya mendapatkan kesempatan sekali saja, tolong Pak Hakim" Tini berkata sambil memohon kepada Hakim
lalu hakim memutuskan
"Saya meminta Kalian berdua untuk mediasi terlebih dahulu, mediasi Saya berikan waktu 1 Minggu, setelah itu Kita bertemu di sidang berikutnya.. sidang akhir" Pak hakim menjelaskan prosedur perceraian dengan jelas dan tegas.
Sam sebenarnya tak ingin ada mediasi, namun Sam harus mengikuti prosedur pengadilan, setelah selesai Sam pun keluar dari ruangan lalu Tini mengejar Sam berusaha ingin berbicara pada Sam supaya Sam memberinya kesempatan
"Sam... tunggu... "
"Apalagi sih Tini.. " Sam kini mulai kesal dengan Tini yang terus mengejarnya
"Sam.. Kamu tidak dengar apa yang Hakim katakan, Kita butuh mediasi Sam... tolong Sam Kita masih bisa perbaiki ini semua" Tini berbicara dengan terus memohon pada Sam
"Aku hanya mengikuti prosedur pengadilan, kalau bukan karena prosedur itu, Aku malah cepat ingin Pak Hakim ketuk palu, dan mengesahkan perceraian Kita" Sam langsung meninggalkan Tini setelah mengatakan hal itu.
Tini pun bersedih dan terdiam, merasa dirinya tak diinginkan lagi, Tini berteriak berkata,
"Aku pastikan Sam Kita akan bersama lagi, Aku akan buat Asri menjauh selamnya dari Kamu, Kamu lihat....!!!" Tini berteriak tak karuan sambil menghentakkan kaki di aspal jalan berkali-kali saking merasa kesalnya.
Namun Sam terus berjalan tak menghiraukan Tini sedikitpun, Dia pun naik ke dalam mobilnya, Dia duduk menghela nafas dengan memejamkan matanya.
__ADS_1
"Tante Anita Aku akan buktikan janji Aku, Asri... Kamu tunggu Aku ya sayang, Kita akan bersatu secepatnya" Sam berbicara dengan nada sedih pada dirinya sendiri.
Tini yang masih marah, kesal dan memendam kebencian terhadap Asri, Dia kini merencanakan untuk menyingkirkan Asri dari hidup Sam secepatnya, Tini pun menelpon orang suruhan untuk melaksanakan tugasnya malam ini
"Halo... saya ada tugas untuk Kalian"
"Tugas apa Bos.."
"Kalian harus bunuh wanita bernama Asri, bunuh dengan tragis, bahkan bila perlu Kalian bisa nikmati tubuhnya setelah itu Kalian bunuh" Tini bicara dengan sangat misterius
"Baik Bos.. Kita akan jalani perintah Bos"
"Ingat lakukan dengan rapih, selesai misi Kalian buang jauh-jauh jasadnya, Saya tidak mau mendengar kegagalan, satu lagi... Kalian atur terserah bagaimana Kalian harus buat laki-laki bernama Sam habis babak belur tapi jangan Kalian bunuh, hanya wanitanya saja" Tini bicara penuh dengan tekanan terhadap para penjahat itu.
Setelah menerima perintah dari Tini, para penjahat itu mulai menyusun rencana membagi dua kelompok yang satu fokus untuk melenyapkan Asri, dan yang satu menahan Sam dan membuat Sam babak belur.
Tini pun tertawa seperti orang gila lalu Ia berkata,
"jika Aku tidak bisa kembali bersama Kamu Sam, Maka Asri juga tidak akan bisa bersama Mu..!!" Tini tertawa lagi lalu mengatakan,
"Sekarang Aku tidak perduli lagi dengan status Aku" kini Tini bersedih menangis tak jelas sambil tertawa.
Andi kini mendatangi Chandra untuk meminta kontak Asri, Dia ingin menghampiri Asri untuk meminta maaf atas kesalahpahaman ini, namun Chandra berkata,
"Sepertinya Aku tidak bisa memberikan kontak Asri kepada Kamu Andi"
"Kenapa..?" Andi bertanya dengan keheranan
"Asri saat ini pasti sedang di kurung oleh Bu Anita, karena Asri bertemu dengan Sam diam-diam"
"Maksud Kamu Bu Anita melihat video itu"
"Sepertinya begitu, Aku kasihan dengan Asri, sebenarnya Dia hanya ingin bertemu Sam, tapi Aku juga mengerti bagaimana rasanya menjadi Bu Anita"
Andi diam memikirkan bagaimana caranya Bu Anita tahu, video itu kan hanya ada di grup Dia pun yakin ini pasti ulah dari Tini.
Karena Chandra tak memberi kontak Asri, Dia pun pergi ke HRD untuk melihat data Asri, pasti disitu data Asri tertulis jelas kontak hingga alamat rumahnya.
"Maaf Pak Romi, Saya boleh lihat data Asri karyawan yang baru saja di pecat karena video skandal itu"
"Tapi untuk apa Pak meminta data Asri" Pak Romi bertanya dengan penasaran
"Saya hanya ingin menghubunginya Karena masih ada urusan yang belum selesai Pak"
"oh.. sebentar ya" jawab Pak Romi sambil mencari data Asri melalui komputer, namun ketika ketemu nama Asri, Andi melihat tanda hitam di profil Asri, Andi yang penasaran bertanya,
"Pak.. maaf ini apa ya Pak.. kenapa ada tanda hitam di bagian profilnya..?"
"Oh.. ini sesuai perintah Pak Sam, jadi saat Asri sudah di pecat, Asri di masukan di dokumentasi daftar karyawan dengan kelakuan tidak baik, dan ini Kita sebar ke seluruh perusahaan di Jakarta dan perusahaan klien-klien Retro" Andi diam tercengang tak percaya, Pak Herman setega itu dengan Asri
"Pak.. itu artinya Asri mungkin akan sulit untuk bekerja di perusahaan yang ada Jakarta"
"Ya... itu benar Pak Andi" kali ini Andi sangat terkejut mendengar pernyataan itu
"Apa semua Karyawan yang di pecat dari Retro mendapatkan daftar hitam" Andi bertanya lagi, karena Ia masih penasaran
"Tidak Pak.. hanya orang-orang tertentu saja yang masuk daftar hitam, seperti pelaku korupsi, atau penjual informasi perusahaan hanya itu sepertinya" Andi pun merasa heran, Asri bukan pelaku korupsi bahkan penjual informasi tapi kenapa Dia masuk daftar hitam perusahaan
"Pak.. tapi Asri bukan pelaku yang seperti Bapak ceritakan tadi"
__ADS_1
"Iya Pak.. Saya juga tahu itu, tapi ini perintah dari Pak Herman, bagaimana mungkin Saya menolaknya" jawab Pak Romi dengan wajah melas
setalah mendapatkan alamat serta nomor kontak Asri Andi pun permisi untuk melanjutkan pekerjaannya.