
Boleh minta komennya gak? Gratis kok.
...****************...
"Engkong Pelit!"
Kalimat Gavin mampu membuat semua orang tertawa disela keharuan yang ada. Jingga kini malah tertawa seraya mengusap bulir bening di ujung matanya.
"Apa kamu bahagia masuk ke dalam keluarga ini?" tanya Askara yang tengah menatap hangat ke arah istrinya.
"Tentu," jawabnya yang membalas tatapan hangat itu. "Keluarga kamu terlihat serius, tetapi mereka memiliki selera humoris yang berbeda dari yang lain," paparnya.
Aska pun tersenyum. Apa yang dikatakan oleh Jingga memang benar. Keluarganya memiliki cara bercanda yang berbeda, tetapi mereka tidak pernah saling sakit hati.
"Ini untuk Anteu." Jingga terkejut melihat keponakan tampannya memberikan buket bunga berisi cokelat bang-bang kesukaan sang Tante.
Jingga merasa tidak percaya dan dia terdiam untuk sesaat. Sedangkan anak itu sedari tadi menunggu Jingga mengambil buket bunga darinya.
"Anteu, tangan aku pegal," keluh sang keponakan.
Jingga pun tersadar dan matanya sudah berkaca-kaca. Anak kecil ini ternyata sangat perhatian kepadanya. Walaupun dia sering membuat kesal bocah itu, tapi bocah itu tetap baik dan memberikan perhatian yang lebih.
"Makasih, tampan." Jingga meraih buket bunga yang Gavin berikan dan bocah itupun tersenyum ke arah sang Tante yang terlihat sangat bahagia.
"Ya Tuhan, baru kali ini aku mendapat hadiah dari yang namanya keluarga."
Hatinya berbicara dengan sangat lirih. Ingin rasanya dia menangis sedih. Apalagi semua orang kini menatapnya dan mengatakan, "we love you, Anteu Jing-jing."
Jingga segera memeluk tubuh sang suami dan menangis haru di dalam pelukan Aska. Dia benar-benar tidak menyangka jikalau semua orang akan menyayanginya dan menerima dia apa adanya. Padahal dia bukan menantu seperti Riana dan juga Raditya Addhitama yang dari keluarga berada. Namun, keluarga kaya raya ini malah mau menerima dia dengan tangan terbuka tanpa melihat kasta yang ada. Beda halnya dengan ayah kandungnya sendiri.
.
Jingga terus memeluk buket bunga yang Gavin berikan. Dia merasa teramat senang dan itu mampu Aska lihat. Padahal sekarang ini dia sudah berada di atas tempat tidur dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Gak dimakan cokelatnya?" Jingga pun menggeleng menjawab pertanyaan Askara.
"Gak akan aku makan dan akan aku simpan," jawabnya.
Suaminya pun berdecak. Aska mencoba mengambil cokelat yang ada di dalam buket tersebut. Namun, sang istri malah memukul lengannya.
"Jangan diambil!"
Aska hanya melirik kesal ke arah sang istri yang terkadang menggemaskan dan juga menyebalkan. Tatapan tajam Aska pun tak Jingga gubris. Dia malah semakin memeluk erat buket bunga tersebut dengan wajah berseri.
"Nanti cokelatnya meleleh, Sayang."
"Biarin!" jawabnya dengan penuh penekanan.
"Aku minta satu, ya," rayu Askara.
"Gak boleh!" Jingga masih tidak mengijinkan. Dia tidak ingin buket pemberian keponakan tersayangnya dimakan siapapun. Biarlah cokelat itu tetap dalam buket bunga.
__ADS_1
Ini kali pertama Jingga menerima hadiah di hari yang spesial. Tidak mahal, tetapi mampu memiliki makna yang luar biasa.
Aska harus banyak bersabar menghadapi ibu hamil ini. Benar kata seniornya kadang kala ibu hamil akan menguji kesabaran suami. Terbukti sekarang ini.
Pria yang awalnya ingin bermanja dengan sang istri tercinta malah kesal sendiri dan memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur. Baru saja hendak memejamkan mata, tubuhnya malah diguncang cukup keras oleh sang istri.
"Ih, kenapa tidur duluan?"
Pertanyaan yang membuat Aska berdecak kesal. Istrinya sendiri yang lebih mementingkan buket bunga itu dibandingkan dia. Kini, malah istrinya yang merasa diabaikan.
"Kenapa lagi sih?" tanya Aska dengan mata yang sudah merah.
Jingga tidak menjawab. Bibirnya sudah dia manyunkan beberapa senti dengan mengusap lembut perutnya yang sudah membukit.
"Ya udah, maafin aku."
Awalnya ingin memberikan pelajaran kepada Jingga, tetapi dia tidak tega. Aska segera memeluk tubuh Jingga dengan begitu erat. Tak lupa mengecup ujung kepala istrinya. Jingga akan tertidur dalam pelukan hangat Aska. Itulah kebiasaan Jingga setiap malam semenjak dia hamil.
"Gua juga bilang apa? Kita gak akan pernah bisa marah sama ibu hamil." Begitulah pesan yang dikirimkan oleh Aksara.
Selepas Jingga terlelap di dalam pelukannya, dia segera menghubungi sang Kakak. Curhat perihal dirinya dan istrinya.Ternyata dia tidak sendiri menghadapi tingkah laku ibu hamil. Sang Abang pun malah lebih parah dari apa yang menimpa dirinya. Aksara hanya bilang, "sabar, ya. Nikmati proses menjadi seorang ayah."
Aska menatap wajah damai sang istri tercinta. Proses menjadi ayah saja sudah sangat berat. Apalagi menjadi ayah sungguhan.
"Apakah aku bisa menjadi ayah yang hebat untuk anak-anak kita?" gumamnya sambil mengusap lembut rambut sang istri tercinta yang tengah terpejam.
Pagi harinya rumah besar itu sudah ramai kembali. Jingga dan Aska sudah saling pandang. Aska hanya menggedikkan bahunya.
Lima langkah lagi menuju ruang makan, mereka berdua dihadang oleh Aleesa. Dahi Aska mengkerut dan menatap penuh tanya ke arah Aleesa.
Sebuah hadiah yang sepertinya sama dengan apa yang Aleesa berikan kepada ketiga kakeknya. Jingga menatap haru ke arah Aleesa dan kini dua keponakannya yang lain sudah mendekat.
"Itu Kakak Sa buat Sampai jam tiga pagi loh," ujar Aleeya.
"Spesial untuk Kak Jing-jing," tambah Aleena.
Ibu hamil sangatlah sensitif. Matanya sudah berkaca-kaca dan tak terasa bulir bening menetes begitu saja di ujung mata.
"Jangan nangis, Kak." Si triplets refleks menggenggam tangan Jingga dan air matanya semakin mengalir deras.
"Makasih." Jingga sudah mensejajarkan tubuhnya dan memeluk tubuh ketiga keponakannya yang cantik.
"Jangan sedih, Kak," ucap Aleena.
"Ketika Kakak masuk ke dalam keluarga ini, itu tandanya Kakak memiliki banyak ayah dan banyak ibu," tambah Aleesa.
"Juga keponakan-keponakan yang unyu-unyu." Ucapan Aleeya mampu meleburkan keharuan yang ada.
Aska membantu Jingga untuk bangun dan menuntun istrinya menuju ruang makan. Tidak baik ibu hamil berdiri terlalu lama. Sang suami pun menarik kursi untuk Jingga duduki.
"Bukalah hadiahnya, Kak," titah Aleesa.
__ADS_1
Aska menatap ke arah Jingga dan anggukan kecil Jingga berikan. Jingga membuka hadiah dari ketiga keponakannya dan lengkungan senyum terukir indah di wajahnya. Foto itu terlihat seperti nyata.
"Kakak Sa-"
Aska sudah menatap Aleesa karena di dalam lukisan itu bukan hanya ada dirinya dan juga Jingga. Melainkan ada dua anak mereka yang Aleesa lukis.
"Itu adalah lukisan yang paling mudah yang Kakak Sa buat," akuinya.
Di dalam lukisan itu ada Dea yang berada di samping Jingga dengan tangan yang Jingga genggam. Ayna yang tengah Aska gendong juga Jingga yang tengah tersenyum gembira dengan perut yang membukit.
"Meskipun mereka telah tiada, kasih sayang Om dan Kak Jing-jing pasti tetap tersimpan di dalam dada."
Aska memeluk tubuh Jingga yang terlihat membeku. Apa yang dikatakan oleh Aleesa memang benar adanya.
Semua orang yang berada di meja makan pun ikut menyeka ujung mata mereka. Gio dan Radit melihat dari dekat lukisan Aleesa. Sungguh seperti nyata.
"Cucuku sangat berbakat," ucap Gio kepada Radit. Ayah dari Aleesa hanya tersenyum.
Namun, dahi Radit mengkerut ketika dia melihat masih ada satu buah lukisan yang berada di ujung ruang makan.
"Kakak Sa, itu lukisan siapa lagi?" tanya Radit.
"Oh itu punya-"
"Kembal tiga!"
Suara bocah lelaki terdengar dan dia berlari ke arah ruang makan diikuti oleh ayahnya dari belakang.
"Mana lukisan punya Mas?"
Ternyata lukisan yang ada di sudut ruang makan adalah lukisan milik Gavin. Bukannya memberikan lukisan itu, Aleesa malah menengadahkan tangan ke arah sepupu tampannya itu.
Gavin merogoh sakunya dan memberikan satu lembar mata uang asing yang bernominal seribu dollar Singapura. Wajah Aleesa pun terlihat sangat bahagia. Beda halnya dengan Askara dan lainnya yang menggelengkan kepala. Lukisan apa yang Gavin inginkan himgha membuat dia tanpa ragu memberikan uang yang tidak sedikit kepada kakak sepupunya. Begitulah pertanyaan yang ada di dalam kepala mereka semua.
Aleeya mengambilkan lukisan itu dan memberikannya kepada Gavin. Wajah senang Gavin sangat terlihat jelas. Aksara hanya menggelengkan kepala. Pantas saja sang anak bersikukuh ingin ke tempat sang nenek. Ternyata inilah tujuannya.
"Bang, Empin bilang kalau dia mau beli lukisan?" Aksa pun menggeleng menjawab pertanyaan sang Abang ipar. "Itu anak lu ngeluarin uang yang gak sedikit loh," tambah Radit lagi.
"Biarin ajalah. Itu juga duit pribadi Empin, gak minta sama gua," balas Aksara. "Gua selalu ngajarin kepada Empin kalau ingin sesuatu harus nabung dari uang jajan." Radit tersenyum mendengarnya.
"Daddy! Lukisannya udah jadi." Sang putra berteriak gembira. Aksa ikut bahagia ketika Gavin senang seperti ini.
"Buka dong," pinta Aska. Kedatangan Gavin meleburkan segala kesedihan yang ada di antara Aska dan Jingga.
"Sabal dong."
Anak itu membalas ucapan sang paman. Tangannya sudah membuka bungkus lukisan yang Aleeya berikan.
"Wow!" Mata Gavin terlihat berbinar. Beda halnya dengan semua orang yang berada di sana. Mereka malah memicingkan mata mereka.
"Ninja Hatori."
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa komen ...