Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
Episode. 22


__ADS_3

***Ia ibarat kaca yang berdebu


Jangan terlalu keras membersihkannya


Nanti ia mudah retak dan pecah


Nanti ia mudah keruh dan ternoda


Ia ibarat kaca yang berdebu


Jangan terlalu lembut membersihkannya


Ia bagai permata keindahan


Sentuhlah hatinya dengan kelembutan


Ia sehalus sutera di awan


Jagalah hatinya dengan kesabaran***


***Lemah-lembutlah kepadanya


Namun jangan terlalu memanjakannya


Tegurlah bila ia tersalah


Namun janganlah lukai hatinya


Bersabarlah bila menghadapinya


Terimalah ia dengan keikhlasan


Karena ia kaca yang berdebu

__ADS_1


Semoga kau temukan dirinya


Bercahayakan iman***


**


Arumi terduduk di samping ranjang dengan memeluk kedua kakinya. Wajahnya ditelungsupkan diantara dua tangannya. Tubuhnya bergetar karena isak tangisnya.


Hatinya terasa sakit. Ia tak pernah membayangkan jika suami yang selama ini menikahinya akan mampu membentak dirinya. Sekata penjelasan tak terdengarkan, jadi ia harus bagaimana.


Suara derit pintu terbuka, membuatnya mau tak mau mengangkat wajahnya. Mata sembab dan airmata di pelupuk matanya, membuat ia samar-samar melihat sosok yang ia cintai baru saja masuk ke dalam kamar mereka.


Kemudian Arumi berdiri, ia menghampiri suaminya dan langsung memeluknya. Tapi, seperti ada sesuatu yang berbeda. Pelukannya kali ini tak mendapat balasan dari kedua tangan kekar penuh kehangatan itu. Meski begitu Arumi tak peduli.


"Mas.. A-aku bisa jelasin semua. B-bukan aku yang melukai mama. Aku nggak mungkin melakukan itu."


Ia berusaha untuk menjelaskan bahwa ia tak bersalah. Tapi hatinya seperti teriris, ketika ia tak mendapat jawaban apapun dari suaminya. Mungkinkah suaminya tak percaya? Tidak mungkin itu, pasti ia mempercayainya.


"Mas, aku harap mas percaya sama aku kalau bukan aku yang melakukannya. Aku nggak mungkin menyakiti mama."


"Sulit bagiku untuk mempercayainya."


Deg. Hatinya teremas sakit, saat mendengar kalimat itu. Rasa sesak mendekap setiap rongga pada paru-parunya. Arumi seketika melepas pelukannya pada Akhtar. Ia terpundur selangkah kebelakang, airmatanya lagi-lagi terjun begitu saja. Ia tak mampu mengangkat kepalanya untuk menatap sang suami.


Ah, pasti ia salah dengar. Tidak mungkin, tidak mungkin lelaki yang juga mencintainya dan telah berjanji untuk saling percaya akan mengatakan itu. Iya, dia pasti salah dengar. Arumi menyakinkan dirinya sendiri dari kenyataan yang ada, bahwa ia salah mendengar.


Arumi memaksakan diri menarik bibirnya untuk tersenyum. "Mas nggak mungkinkan, nggak percaya sama aku? Tadi aku salah dengar kan? Jawab iya mas, kalau aku memang salah dengar." sayang sekali, jawaban yang diinginkannya tak kunjung ia dapatkan. Akhtar diam seribu bahasa.


Tiba-tiba Arumi merasakan tubuhnya melemas. Ia akhirnya jatuh terduduk di hadapan suaminya. "B-bukan aku y-yang melakukannya. Bu-bukan aku." gumam Arumi terbata-bata karena isak tangisnya.


Hati Akhtar juga merasakan sakit ketika melihat wanita yang ia cintai lemah dihadapannya. Ingin sekali ia menghapus airmatanya yang sedari tadi mengalir membasahi wajah cantiknya. Tapi tubuhnya tak mampu bergerak dan ia hanya bisa berdiam di tempat.


Sangat sulit bagi Akhtar untuk mempercayai semuanya. Tania adalah mamanya yang membesarkannya dari kecil. Sedangkan disisi lain, Arumi adalah istrinya yang ia cintai. Arumi lemah lembut dan tak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Tapi sulit untuknya mengelak lagi karena ia melihat sendiri ditangan istrinya terdapat bukti dari perbuatannya.

__ADS_1


"Aku yakin kamu tidak mungkin melakukannya."


Mendengar itu, Arumi langsung mengangkat kepalanya. Matanya berbinar cerah, ia tersenyum. Arumi tahu suaminya akan percaya kepadanya. Detik berikutnya, senyum itu menghilang seketika saat ia mendengar pernyataan suaminya lagi.


"Mama masih sangat terguncang. Pulanglah dulu kerumah ibu sampai mama benar-benar sudah tenang. Besok pagi aku antar kamu kesana."


Setelah mengatakan itu, Akhtar langsung pergi meninggalkan Arumi begitu saja. Berat rasanya untuk mengatakan hal itu, tapi demi kebaikan mamanya ia harus melakukannya. Jika Arumi masih dirumah, mamanya akan selalu merasa ketakutan. Maka dari itu Akhtar meminta Arumi pulang kerumah ibunya dulu agar mamanya tenang dan setelah itu ia akan menjemput Arumi kembali.


Seperti tersayat pisau, sakit tapi tidak ada luka. Terluka tapi tidak berdarah. Itulah yang dirasakan Arumi. Terbang keatas awan dan langsung di jatuhkan.


Arumi *** dadanya, ia tak mampu menahan gejolak hatinya yang terluka. Ia sungguh tak percaya suaminya akan mengatakan hal itu. Bukankah itu sama saja ia tak mempercayainya. Lalu mengapa ia mengatakan percaya padanya jika memang tak percaya.


Setelah kepergian Akhtar, Arumi menangis sejadi-jadinya. Sesak sangat sesak didadanya. Karen ia lama menangis, akhirnya Arumi tertidur karena rasa lelahnya.


Disisi lain, tawa yang menggelegar mengisi kamar. Sebuah kemenangan akhirnya berada di tangannya. Ia sangat bahagia atas apa yang terjadi. "Akhirnya wanita jalang itu pergi dari rumah. Hahaha. Jika tahu begitu, dari awal harusnya aku melakukannya. Hah."


***


Hari masih gelap, mata sembab milik Arumi perlahan terbuka. Kepalanya terasa sakit akibat menangis semalaman. Ia mengambil ponselnya di nakas sampin ranjang dan melihat jam digitalnya.


03.45 yang tertera pada layar ponselnya. Kemudian ia bangun dan melihat kearah sampingnya. Tidak ada siapa-siapa. Ternyata suaminya semalam tidak pulang atau tak kembali ke kamarnya.


Arumi tersenyum kecut mendapati kenyataannya yang begitu menyakitkan. Dengan segera ia beranjak dari tidurnya dan langsung membersihkan diri. Tak lama setelah itu, ia kedapur dan menyiapkan makanan untuk sarapan nanti. Ya, sarapan yang terakhir untuk suaminya.


Karena masih sangat pagi, jadi Ririn juga belum bangun. Arumi pun mengerjakannya seorang diri. Beberapa saat kemudian, hidangan telah siap diatas meja. Lalu Arumi membereskan sisa-sisa dari aktivitasnya.


Arumi kembali ke kamarnya dan membereskan baju-bajunya kedalam koper. Karena Akhtar sudah tidak mempercayainya jadi percuma ia bertahan dan terus menjelaskan kesalahan yang tak pernah ia perbuat. Arumi sudah memutuskan untuk pergi seperti permintaan suaminya.


Sebelum pergi Arumi menyempatkan untuk menggunakan alat dari Ririn, yang sebelumnya ia minta untuk belikan. Setelah melakukan intruksi yang tertera pada kemasan, akhirnya Arumi mendapatkan hasilnya.


Ia tersenyum sambil mengelus perutnya, tapi juga menangis karena sebuah kenyataan yang pahit. Setelah itu Arumi pun keluar dari rumah sambil menyeret kopernya. Tapi sebelum benar-benar pergi, Arumi menatap rumah yang dulunya hangat dan penuh kenangan manis bersama sang suami.


"Maafkan aku, Mas. Maaf aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu. Terimakasih juga kamu sudah mencintaiku, menerima segala kekuranganku. Awal kita bertemu memang tak sengaja dan awal kita menikah juga karena terpaksa. Tapi cintaku pada mu itu tulus dan nyata. Aku akan pergi, jaga kesehatan dan baik-baiklah."

__ADS_1


Arumi mengusap pipinya karena airmatanya terjatuh kembali. Tanpa berlama-lama lagi, Arumi menarik kopernya dan pergi meninggalkan rumah itu. Rumah yang menjadi saksi bisu cinta mereka.


***


__ADS_2