Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
PERGI DARI JAKARTA


__ADS_3

Setelah itu Bu Anita masuk dan langsung menatap Anak semata wayangnya itu


"Asri.. apa yang sudah Kamu lakukan, Kamu hamil sekarang, kenapa Bisa Kamu memberikan hal itu pada Sam, kenapa Kamu sebodoh ini Nak" ucap Bu Anita dengan suara kecil sambil bersedih


Juvi dan Chandra masih kesal dengan perlakuan Sam terhadap Asri, namun mau bagaimana lagi Sam sudah pergi dari sini, tapi Chandra tidak akan menyerah Dia akan mencari Sam sampai ketemu.


"Dimana Sam sekarang, apa Dia ada di apartemen atau pulang ke Cirebon..?" Chandra bertanya pada dirinya sendiri, Andi yang mendengar suara gerutu Chandra Dia pun memberitahu jika Sam saat ini di rumah Pak Herman


"Pak Herman, Aku harus kesana, Juv.. Gue harus pergi ke rumah Tini" saat Sam ingin melangkah kaki, Bu Anita memanggil Chandra


"Chandra... stop.. " Chandra pun menghentikan langkahnya


"Kenapa Tante... Aku akan mencari Sam, Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya"


"Gak perlu.. akan lebih baik Sam tidak tahu kondisi Asri, Tante mohon sama Kalian semua.. jangan ada yang memberitahunya jika Asri saat ini hamil anaknya, tolong Kalian mengerti perasaan Tante, Tante tidak ingin terlihat mengemis atau bahkan memohon dengan seorang Sam Tante akan hadapi ini semua berdua bersama Asri" Semuanya terdiam dan mengerti dengan apa yang di minta oleh Bu Anita.


Lalu Mereka semua berpamitan untuk pulang


"Tante Kami pamit pulang dulu ya, maafkan Juvi ya Tante, harusnya tadi Aku tidak membantu Sam, kalau Aku tahu akhirnya akan seperti ini, pasti Aku tidak akan melakukan itu"


"Sudahlah Juv.. tak apa, yang penting Tante mohon sama Kamu jangan beritahu siapapun kabar Asri hamil" lalu Chandra menyahuti


"Lalu bagaimana tindakan Tante selanjutnya?"


Bu Anita terdiam sesat Dia pun tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana memberitahu Asri jika dirinya tengah hamil


"Tante belum tahu Chan.. harus bagaimana yang pasti aib ini Tante akan tutup rapat-rapat"


Setalah selesai berbincang, kini semuanya pulang ke rumah masing-masing


Tak lama Asri tersadar Ia pun membuka mata, lalu teringat dengan Sam


"Sam.. Sam.. Sam Mamah, Dia pergi meninggalkan Aku" Bu Anita menangis melihat kondisi Asri dan langsung memeluk Asri dengan erat


"Mamah disini sayang, Mamah akan selalu menjaga Kamu" Asri menangis tanpa suara dalam pelukan Ibunya


"Mamah.. Aku yakin Sam pasti tidak sungguh-sungguh ingin meninggalkan Aku" Bu Anita geram terhadap Asri yang masih terus membela Sam, jelas-jelas Dia sudah benar-benar pergi dari kehidupan Asri dan menyakiti hatinya


"Sudah cukup Asri.. cukup Kamu membahas soal Sam, Dia bukan laki-laki yang baik, Dia sudah meninggalkan Kamu, lupakan Dia..!!" pinta Bu Anita dengan sangat terhdap Asri.


Tiba-tiba Asri merasa mual, dan merasakan pusing kepalanya


"Ueek.. Ueek.. "


"Kamu kenapa Nak?"


"Gak tahu Mah.. mual.. pusing kepala Aku" Bu Anita semakin bersedih melihat Asri tengah mabuk hamil, Asri meminta untuk di antar ke kamar mandi, Asri pun muntah uger sampai Ia merasa lemas


"Mah.. Aku kenapa..kok mual sekali rasanya, gak seperti biasanya" Bu Anita masih belum bicara tentang kebenaran, Asri pun kembali ke tempat tidurnya sambil memijat kening


"Mah.. mungkin Aku masuk angin karena tadi habis kehujanan"


"Ya sayang...nanti Mamah akan belikan obat masuk angin di apotik ya" Asri pun beristirahat Ia sejenak melupakan masalahnya.


Andi pun sampai di rumah Tini, Ia melihat Sam tengah duduk di kursi ruang tamu, lalu Sam menyapa Andi

__ADS_1


"Andi.. Kamu sudah pulang dari mana?"


Andi hanya menatap Sam dengan tajam, Ia pun tak percaya jika Ia telah membuat hamil Anak orang, apalagi perempuan itu adalah Asri wanita yang membuat Ia terkesima pertama kali saat bertemu, lalu Andi pun berlalu begitu saja tanpa membalas sapa dari Sam.


Sam terdiam bingung mengapa sikap Andi seperti acuh, padahal tadi saat bertemu di parkiran Rumah Sakit Dia menyapa malah bertanya, Sam jadi berpikir apa yang terjadi di Rumah Sakit setelah Ia pergi tadi.


"Pasti ada sesuatu yang membuat Andi seperti itu, tapi apa..?" ucap Sam dalam benaknya


Tak lama Pak Herman datang, dan langsung bertanya pada Sam


"Sam.. Tini bilang Kamu ingin bicara sesuatu dengan Saya, apa yang ingin Kamu bicarakan"


"Pak.. Saya sudah menuruti semua syarat itu, saat ini Saya ada permintaan satu saja, Saya ingin tinggal di Cirebon bersama Ibu Saya, lagi pun keadaan Ibu Saya saat ini harus benar-benar ada yang mengawasi" Pak Herman terdiam memikirkan permintaan Sam


"Maksud Kamu Tini harus tinggal di sana juga" Bu Heni yang mendengar percakapan Mereka pun menyahuti


"Itu bagus Pah.. kalau Tini disana, Dia bisa membantu menjaga Ibunya Sam, lagi pula Mereka ingin hidup bersama lagi kan.. Mamah gak masalah kok kalau Tini harus tinggal di Cirebon bersama suaminya" Sam tersenyum lalu mengucapkan terimakasih pada Bu Heni


Lalu Tini datang dan Ia bertanya prihal apa yang sedang di bahas, saat Bu Heni menjelaskan jika Ia akan Tinggal di Cirebon Tini sedikit agak bingung, apa harus Ia tinggal disana, tapi setelah di pikir-pikir ide ini ide yang bagus, jika Ia dan Sam tak ada di Jakarta kesempatan Sam untuk selingkuh lagi kemungkinan tidak ada, akhirnya Tini mengiakan untuk ikut bersama Sam.


"Aku siap.. tinggal di sana, ini demi kebaikan rumah tangga Kita dari gangguan perempuan murahan itu"


Andi pun datang ikut berkumpul dan ingin tahu apa yang sedang di bicarakan


"Baiklah.. kalau Kamu siap tinggal di Cirebon bersama Sam, Papah harus apa.. ya Papah hanya bisa mendukung, semoga setelah tinggal disana, Kalian lebih bahagian dan fokus untuk Rumah tangga Kalian"


Andi terkejut mendengar hal itu, tapi ada baiknya juga jika Sam jauh dari Asri, jadi kabar mengenai Asri hamil tidak akan sampai pada telinga Sam, lagi pula ini demi kebaikan dan keselamatan nyawa Asri, kalau Tini tahu soal Asri hamil, mungkin saja Tini akan membunuh Asri lebih keji dari sebelumnya.


Melihat Andi yang hanya diam, Sam pun berkata,


"Tidak ada Sam, Aku hanya kaget Kamu sampai meninggalkan Asri hanya untuk kembali rujuk dengan Tini" mendengar hal itu Tini langsung menyahuti


"Andi.. harusnya Kamu senang dong, sepupu Kamu ini masih bisa mempertahankan rumah tangganya" Andi langsung berdiri dan pergi dari ruang tamu.


Bu Heni melihat Andi sepertinya salah paham, dengan keadaan ini, Dia pun berjalan menghampiri Andi di kamarnya untuk menjelaskan yang sebenarnya


"Andi.." ucap Bu Heni memanggil Andi dengan suara pelan


"Ya Tante.." Andi membuka pintu kamar, lalu Bu Heni menceritakan rencana yang pernah di buat Pak Herman dan Tini


"Apa.. jadi begitu ceritanya, berarti Om Herman telah melakukan kejahatan dong Tante"


"Hus..." Bu Heni langsung memberikan isyarat untuk bicara dengan suara pelan


"Jaga suara Kamu, Tante hanya memberitahu yang sebenarnya, Tante pun gak bisa membantah semua itu, karena Tante sayang dengan Tini walaupun Tante tahu yang dilakukan Om Kamu adalah salah" Andi terdiam mendengar Bu Heni berkata seperti itu.


Dia pun teringat dengan Ibunya, Andi kini mengerti apapun yang di lakukan seorang Ibu pasti hanyalah untuk menjaga keselamatan dan perasaan Anaknya


"Lalu kapan Tini akan pergi ke rumah Sam Tante?"


"Sepertinya malam ini Mereka akan berangkat, oh ya.. Papah Kamu tadi menghubungi Tante Dia kan sampai jam 5 sore ini, Kamu jemput Papah Kamu ya jangan lupa" Andi menganggukkan kepalanya tanda Ia mengerti.


Sementara Chandra masih memikirkan keadaan Asri saat ini, Dia hanya terdiam melamun sambil menghisap rokok di teras Rumah, Rahma pun datang membawakan singkong goreng


"Chan.. ini di makan ya.. tadi tetangga Kasih singkong, Aku goreng deh.. Kamu sudah mandi belum?" Chandra tak menjawab ucapan Rahma

__ADS_1


"Chan.. " Rahma menepuk pundak Chandra, hingga membuat Chandra menjatuhkan rokoknya


"Ya ampun.. apa sih Rahma, Kau mengagetkan saja"


"Maaf.. habis Kamu di sapa tak menjawab, Kamu sudah mandi belum, tadi Aku lihat ada baju basah Kamu kehujanan?" Chandra pun Bagun lalu berkata,


"Aku belum mandi, iya tadi Aku kehujanan karena membantu Asri"


"Asri.. memang Asri kenapa?" tanya Rahma merasa penasaran


"Aku mandi dulu ya, nanti saja ceritanya" Chandra pun masuk ke rumah dan mandi membersihkan badannya.


Saat semuanya sedang makan, Andi pamit sebentar untuk menjemput Papahnya di bandara


"Om.. Tante.. Sam Aku pergi sebentar ya"


"Kamu mau kemana Andi?" tanya Sam


"Jemput Papah di bandara"


"Oh.. Om Heri mau datang kesini ya"


"Ya.." Andi pun bergegas pergi


Sam merasa keheranan dengan sikap Andi yang cuek sekali dengannya, padahal dulu jika sudah satu rumah begini, biasanya Dia yang banyak bicara dan selalu mengajaknya ngobrol, tapi mungkin karena masalah Asri, Dia jadi tak suka dengan dirinya pikir Sam


"Aku memang salah, telah meninggalkan Asri mungkin itu yang membuat Andi jadi tak respek dengan ku" ucap keluh kesah Sam dalam hatinya.


Setelah itu Bu Heni berkata, jika Ia sudah menyiapkan pakaian dan barang bawaan Tini hanya tinggal di angkut saja ke mobil


"Kalian pulangnya nanti ya, setelah Om Herman datang kesini dulu" ucap Pak Herman


"Iya Pah.. santai.. Kita gak buru-buru juga iya kan Sam" tanya Tini terhadap Sam, Sam merasa muak melihat wajah Tini, Ia menjawab hanya dengan menganggukkan kepalanya.


Sedangkan Kasih saat ini tengah senyum senyum sendiri saat melihat cincin di jari manisnya, hal itu pun di lihat oleh Bu Irma, lalu Bu Irma bertanya mengenai senyuman itu


"Kasih.. sepertinya Saya lihat Kamu sedang bahagia, kalau boleh tahu, kebahagiaan apa yang sedang Kamu rasakan?"


"Oh.. ini Tante.. Andi baru saja di melamar Aku untuk kembali menjadi Istrinya"


"Wah... Alhamdulillah.. selamat ya Kasih"


"Iya Tante makasih..tapi Aku belum tahu kapan pernikahan itu akan di laksanakan, Kami sedang menunggu kedatangan Papah Andi dari Singapura"


"Ya.. Tante doakan Kamu segera menikah dan hidup bahagia bersama orang yang Kamu cinta" Kasih tersenyum dan menjawab amiin.. atas doa yang di ucapkan Bu Irma


Setelah itu Bu Irma pun masuk lagi ke dalam untuk melihat Lia, baru sampai di pintu Bu Irma menyaksikan kesedihan Makmun menatap Lia sambil berbicara


"Sayang.. cepat bangun.. Aku rindu Kamu, Kamu kenapa gak jawab, Aku rindu Kamu sayang" Makmun pun menangis tanpa suara Ia terus menggenggam tangan Lia dan di taruh di pipinya hingga air matanya pun menetes ke tangan Lia, Bu Irma ikut sedih melihat semua itu, lalu Bu Irma menghampiri Makmun dan berkata,


"Kamu yang sabar ya Mun.. Lia pasti sembuh, Dia pasti cepat sadar apalagi Lia punya suami seperti Kamu yang selalu setia menemani Lia saat Lia sedang seperti ini" suasana pun semakin haru saat ini.


Begitulah kehidupan masalah satu terselesaikan datang lagi masalah baru, dan setiap orang memiliki masalah hidupnya masing-masing.


Yuk...ikuti terus kelanjutan ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2