
GavIn Agha Wiguna adalah definisi makhluk pengganggu sesungguhnya. Bagaimana tidak, anak itu selalu menjadi pengganggu si quartet jika hendak istirahat. Ingin rasanya Jingga marah, tapi dia tidak tega. Keponakannya terlalu tampan untuk dimarahi.
"M-ma-mas."
Ucapan keempat anak Jingga seperti anak ayam. Jingga mengurut keningnya yang teramat pusing. Ditambah keempat anaknya malah sudah berdiri di pinggiran tempat tidur mereka.
"Hai!" Wajah tak berdosa Gavin tunjukkan. Jika, itu bukan keponakannya yang penuh kharisma, sudah pasti Jingga sudah memarahi Gavin dengan nada falsetto. Sayangnya, anak itu memiliki aura berbeda. Tak ada yang mampu memarahinya. Sekalipun anak itu nakal, tapi dalam batas yang sewajarnya.
Melihat anak-anaknya bahagia bertemu dengan Gavin membuat Jingga ikut tersenyum. Dia memang selalu berdoa agar ketika dewasa nanti keempat anak-anaknya ini dekat dengan Gavin juga sepupu mereka yang lain.
Gavin mampu mengasuh keempat anaknya. Mengajarkan hal kecil yang membuat anak-anaknya menjadi pintar. Contohnya tebak gambar. Mas Gehu, Bang Cireng dan Kak Cimol selalu benar. Sedangkan bala-bala tidak pernah menebak dengan benar membuat Gavin geram sendiri.
"Kenapa mirip Adeknya Mas?" tanyanya pada Bala-bala. "Oon."
Bukannya marah Jingga malah tertawa mendengar ucapan Gavin. Ghea hampir sama seperti bala-bala atau Balqis nama aslinya. Lamban dalam menangkap hal. Namun, pandai dalam berbicara.
Jingga sudah menguap untuk kesekian kali. Dia benar-benar lelah. Matanya sudah lima Watt. Namun, keempat putranya malah asyik bermain bersama Gavin. Gelak tawa tercipta di antara lima balita tersebut. Jiwa iseng Jingga pun hadir. Dia mengambil video empat anaknya yang tengah bermain bersama Gavin. Jingga pun ikut tertawa. Mereka seperti anak buah Gavin.
"Biang kerok datang. Niat hati mau merem malah Gatot."
Aska pun tertawa membaca caption dari foto yang dikirimkan oleh Jingga. Dia memandangi wajah keempat anaknya yang terlihat amat bahagia jika bermain bersama Gavin.
"Jadikan Mas Gavin panutan untuk kalian." Sebuah wejangan yang hanya bisa diucapkan pada sebuah video.
Jingga sudah tidak tahan. Rasa kantuk tidak bisa diajak kompromi. Pada akhirnya, dia meminta Gavin untuk menjaga si quartet. Untungnya anak itu mau. Tak lupa Jingga kunci kamar tersebut agat Gavin tak mengajak keempat anaknya keluar.
Jingga pun sudah menyalakan film kartun Ninja Hatori kesukaan mereka berlima. Gavin masih mengajak keempat sepupunya bermain. Hingga pada akhirnya si quartet kompak menggisik mata.
"Sepeltina meleka ngantuk." Gavin bergumam.
Ketika dia melihat ke arah sang tante, dia tidak tega membangunkan Jingga. Ibu dari si quartet itu nampak kelelahan sekali. Dia teringat akan sang mommy tercinta. Jikalau, malamnya Ghea rewel pasti mommynya akan tepar di waktu siang.
"Enggak, Mas bisa boboin meleka belempat."
Mendengar mereka berempat hendak menangis. Gavin segera berada di depan mereka. Meletakkan jari telunjuknya di bibir.
"Ssstt! Jangan nangis. Bunda lagi tidul," ucap Gavin dengan begitu pelan. Sontak keempat bayi yang berusia delapan bulan itu terdiam. Gavin pun tersenyum senang. Mengangkat kedua jempolnya ke arah si quartet.
Gavin mencari-cari sesuatu untuk pengganti susu. Dia teringat akan pesan ibunya bahwa dia tidak boleh menyentuh air panas. Jadi, dia memilih opsi lain. Dia mencari empeng untuk empat sepupunya.
__ADS_1
"Ketemu!"
Dia segera meraihnya. Untungnya empeng itu ada tutupnya. Jadi, bersih. Dia memberikannya kepasa Abdalla, Ahlam, Arfan dan juga Balqis. Sedikit membesarkan volume suara backsound Ninja Hatori. Biarlah dia menhulang-ulang soundtrack lagu tersebut. Asalkan keempat bayi itu tertidur. Tidak berselang lama mereka terlelap dengan damainya. Gavin pun ikut menguap. Namun, dia memilih untuk pulang. Sebelumnya, dia mencari secarik kertas dan meniliskan sesuatu. Walaupun baru belajar menulis dan hurufnya berantakan yang penting dia ijin kepada sang tente. Tidak membuat tantenya khawatir.
Selang dua jam, Jingga mulai membuka mata. Tidurnya teramat nyenyak. Dia pun merentangkan kedua tangannya. Tak lama kemudian dia teringat sesuatu.
"Anak-anak Bunda." Wajah cemas dan khawatir jadi satu. Dia turun dari kursi malas dan matanya melebar serta mulutnya menganga ketika melihat keempat anaknya terlelap dengan empeng di mulut mereka masing-masing.
"Ya ampun, Nak." Dia juga melihat ke arah televisi besar yang ada di kamar keempat anaknya. Sudah mati. Kini, dia mencari sang keponakan. Anak itu sudah tidak ada di kamar.
"Ke mana Empin?" gumam Jingga. Gumamannya tidak terlalu keras takut membangunkan keempat anaknya.
Ketika hendak menuju ke arah pintu, ada sebuah kertas yang tergeletak di meja.
"Ante Mas pulang ya. Mas janjinya ga pulang sore sama Mommy. Maapkan Mas karena ga pamit ke Ante antenya tidur nyenyak mas ga mau bangunin."
Terharu sekali Jingga membaca surat dari sang keponakan. Anak ini memiliki attitude yang sangat bagus. Juga sikap kekeluargaannya sangat tinggi.
Jingga mengambil ponselnya. Dia mulai mencari nomor sang kakak ipar nomor dua. Dia segera menghubungi Riana. Tak lama Riana pun menjawab.
"Mbak, Empin udah di rumah?" Jingga sedikit khawatir.
"Gak ada."
"Ke mana?"
"Lagi les."
Jantung Jingga hampir saja terlepas dari tempatnya. Dia kira Gavin memang belum pulang. Ternyata sudah pergi les.
Jingga menceritakan kelakuan Gavin kepada Aska ketika sang suami baru naik ke atas tempat tidur. Sang suami hanya tersenyum bangga. Dia sangat tahu bagaimana keponakannya itu.
"Gavin itu kayaknya mirip Kakek semasa kecil."
"Benarkah?" Jingga penasaran.
"Abang Aksa itu plek ketiplek Daddy. Gavin itu beda banget, gak kaya bapaknya." Itu hanya terkaan Aska saja.
"Semoga anak-anak kita kelak bisa mencontoh sifat baik Empin, ya." Aska menganggukkan kepala. Ternyata harapan mereka berdua sama.
__ADS_1
"Bunda, pegal gak?" Tidak seperti biasanya sang suami bertanya seperti itu.
Jingga tak memiliki pikiran buruk kepada suaminya. Dia pun mengangguk dan senyum penuh arti terukir di wajah Aska.
"Ya udah, Bunda buka bajunya."
Seketika mata Jingga melebar. Aska malah menaik turunkan kedua alisnya menandakan hal yang mengerikan akan terjadi.
"Tapi, Ayah-"
"Ayah juga ingin Mimi cucu, Bunda. Udah dua Minggu ini lahar panas Ayah tidak disemburkan. Nyut-nyutan ke kepala." Memasang wajah melas adalah jalan ninja untuk Aska. Akhirnya sang istri pun mau. Aska pun berteriak gembira di dalam hati.
Satu per satu pakaian yang Jingga kenakan sudah dilucuti. Begitu juga dengan Aska yang hanya memakai bokser. Sudah ada yang menegang di bawah sana.
Jielatan juga hiesapan lembut mampu membuat Jingga tak berdaya. Hanya suara erotis yang keluar dari mulutnya. Aska masih bersemangat. Ditambah jarinya sudah memainkan poeting yang sudah menegang. Sedangkan liedahnya bermain-main di lubang.
Kacang almond pun sudah mengeras. Pelumas yang keluar semakin banyak. Hingga akhirnya Jingga seperti tukang parkir.
"Terus ... terus ... terus."
Aliran air yang menyegarkan masuk ke dalam tenggorokan Aska. Dahaganya kini sudah hilang. Betapa segarnya cairan istrinya yang sudah lama tak dia teguk.
Jeda sesaat, akhirnya Aska sudah membuka bokser yang seakan mengkerangkeng belut listrik besar yang bersarang di sana. Menegang dan mengkilap. Jingga merindukan so-dokan benda tersebut.
"Mulai, ya." Izin Aska. Sang istri mengangguk. Dia sudah membuka gawang itu dengan begitu lebar.
Bless.
"Ahh!" Mereka berdua kompak mengatakan itu.
So dokan pertama membuat Jingga men-de-sahh manja. Sodokan kedua membuat Jingga merem melek. So-dokan ketiga ....
"Huwa!"
"Bu-bun!"
"Ya-yah."
Aska dan Jingga saling pandang. Tongkat biliar berkepala jamur di dalam sana tiba-tiba layu. Juga ladang basah tiba-tiba kering.
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komennya atuh ...