Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
266. Periksa (Dua Dokter)


__ADS_3

"Assalamualaikum ... kelurga gorengan datang. Ada gehu, cireng, cimol, dan Bala-bala, digorengnya dadakan. Lima ratusan."


Keharuan pun buyar seketika karena kedatangan anak tampan, yakni Gavin. Anak itu mendorong stroller yang berisi Abdalla dan Ahlam. Sedangkan sang mommy mendorong stroller berisi Arfan dan juga Balqis.


"Kenapa pada pelukan begitu?" Anak itu mulai merasakan keanehan.


"Mas, kalau Mas punya adik lagi, Mas mau?" Dia menatap bingung ke arah sang kakek. Kemudian, menatap ke arah sang mommy.


"Mommy 'kan belum mainin terigu. Kenapa Mas udah punya adik lagi aja." Heran, itulah yang tengah dirasakan oleh Gavin. Sedangkan empat pria dewasa di sana tergelak.


"Emang kalau Mommy Mas mainin terigu itu tandanya proses pembuatan adik?" Aska bertanya kepada sang keponakan, dan dijawab dengan anggukan.


"Kata siapa?" tanyanya lagi.


"Daddy." Semua orang pun tertawa mendengarnya. Termasuk ibunya.


Gavin adalah anak yang ingin tahu semuanya. Aksa yang cerdas pun seingkali dibuat kewalahan oleh sang putra. Pertanyaan yang sudah dijawab akan menimbulkan pertanyaan lagi dan lagi.


"Kata Daddy, adik itu dibuat dari terigu. Dikasih gula, garam, air, terus ... apa lagi, ya?" Anak itu mencoba berfikir. "Oh iya, mecin."


Lagi-lagi mereka tergelak. Mau membuat adonan apa itu? Sepintar-pintarnya Aksara, ternyata dia bisa kalah oleh putranya sendiri.


"Memangnya siapa yang hamil, Mom?" tanya Riana. Dia pun nampak kebingungan.


"Kamu hamil?" tebak Riana kepada Jingga. Ibu dari si quartet pun terdiam.


"Uncle mah gak kasihan ih sama Anteu. Capek tahu jagain si kuampret. Apalagi si cimol, udah kaya bola ke sana ke sini. Tadi aja kucing kakak lenjeh hampir dia cekek. Mana mahal lagi. Uang Mas 'kan yang diambil sama Kakak lenjeh," keluhnya.


"Emang berapa uang yang diambilnya?" tanya Giondra.

__ADS_1


"Seribu dollar."


"Kemahalan!" seru Askara. "Harusnya kamu tawar."


Anak itu sudah berkacak pinggang. Menatap sang paman dengan tatapan seram.


"Emang beli cabe bisa ditawar?" sungut Gavin. "Makin hari Uncle makin ngeselin, sama kayak si Mail yang selalu ngikutin Mas terus."


Rasa takut di hati Jingga menguar seketika. Sama halnya dengan Aska dan juga kedua orang tuanya yang tertawa lebar.


"Lama-lama si Mail Mas gadein di pegadaian. Setiap hari Mas lewat kalau mau sekolah." Aska berdecak kesal. Memangnya anaknya itu barang.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku, Jingga." Sedari tadi Riana merasa diabaikan.


"Belum tahu, Ri. Ini baru mau diperiksa sama dokter," jawab sang ayah mertua.


"Mas mah gak mau punya adik lagi. Pusing." Anak itu menyerah. Punya satu adik saja sudah membuat Gavin pusing karena Ghea tidak mau lepas dari dirinya. Ditambah Ahlam atau biasa dia panggil Mail. Bayi itu seakan tidak mau jauh darinya juga.


"Berisik!" Gavin memarahi Aleesa ketika sudah masuk ke kamar Aska. Anak itu sudah membawa toples makanan yang berisi makanan kesukaannya.


"Ada apa ini?" Mulut Aleesa masih mengunyah keripik pisang manis.


"Sasa, coba lihat di perut Anteu ada bayinya gak?" Aleesa mengerutkan dahinya. Dia menatap ke arah Jingga yang berada di atas tempat tidur.


Kemudian, dia menatap ke arah dua stroller yang berada di sampingnya.


"Om apa-apaan? Ini aja masih pada tuyul, mana empat lagi. Sekarang udah ngebuntingin Kak Jing-jing lagi. Parah." Aleesa malah menceramahi Aska. Untuk kesekian kalinya Aska berdecak kesal.


"Sukurin kalian, entar gak disayang sama emak bapak kalian," ucap Aleesa ke arah si quartet yang sedang tertidur.

__ADS_1


"Jawab pertanyaan Mas, Sa," pinta Gavin.


"Mana aku tahu, Mas. Aku bukan dukun."


Tak lama berselang, dua dokter datang sekaligus. Ayanda menyuruh dokter Gwen terlebih dahulu untuk memeriksa kondisi Jingga. Dia benar-benar penasaran dengan dugaannya.


"Baiklah." Gwen menggelengkan kepala ke arah Jingga. "Minimal dua sampai tiga tahun ya untuk memiliki momongan lagi untuk ibu yang pernah menjalankan operasi Caesar."


Ucapan dokter Gwen seperti tamparan keras untuk Jingga. Namun, dia harus menerima perkataan dari semuanya. Ini memang salahnya.


Dokter Gwen sudah memeriksa kondisi Jingga dengan teliti. Menanyakan apa yang harusnya dia tanyakan. Walaupun dia harus menggunakan ponsel untuk menanyakannya. Ada anak di bawah umur di kamar Jingga.


"Gimana?" tanya Ayanda. Dokter Gwen tersenyum.


"Prank doang itu," ujar Aleesa. Ketika semua orang menatap ke arahnya, anak itu malah pergi.


"Mimo, keripik pisang sama toplesnya Kakak Sa bawa pulang," teriak Aleesa.


"Jangan dihilangin Baperwer Mimo."


Sekaya apapun Ayanda, tetap Baperwer tidak boleh dihilangkan. Benda keramat yang setiap ibu di negeri ini miliki. Namun, ketika sang anak menghilangkan Sudah pasti akan diceramahi atau disuruh mencari hingga ketemu. Benda kecil, tapi memiliki magis yang besar.


"Biarkan dokter Lasya yang memeriksa Jingga sekarang," titah dokter Gwen. Dahi Ayanda mengkerut.


"Saya hanya ingin tahu apa dugaan saya sama seperti dugaan dokter Lasya." Ayanda pun menghela napas kasar. Dia benar-benar penasaran. Sama halnya dengan Aska dan juga Riana.


"Ibu dokter, bilang aja Anteu gak hamil. Adik Mas udah kebanyakan. Mas gak mau nambah adik lagi. Mau Mas buang itu anak manusia bukan anak kucing."


...***To Be Continue**"...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2