Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
271. Jangan Pergi


__ADS_3

Kenapa harus dirahasiakan dari Gavin? Sudah pasti anak itu akan sangat terpukul dengan kabar ini. Dari kecil Gavin sangat dekat dengan Aska walaupun Mereka bagai kucing dan tikus yang selalu bertengkar jika bertemu. Namun, itulah cara merek menyampaikan kasih sayang.


.


Masih pagi tidak biasanya Gavin Agha Wiguna menginjakkan kaki di kediaman sang Mimo. Dia akan ke sana ketika siang menjelang sore.


"Mail ... oh Mail!" Nama itu yang akan dia panggil. Bagaimana Ahlam tidak akan menjadi bayangan dari Gavin jika begini.


Suara Gavin membuat empat anak itu segera berlari menuju langkah bocah berusia lima tahun. Biasanya Jingga senang, tapi hari ini wajahnya nampak sendu melihat Gavin yang begitu bahagia. Ada hati sedih di dada. Ada rasa tak rela yang tersirat.


Keempat anaknya terlihat sangat bahagia bermain bersama Gavin. Begitu juga dengan Gavin yang sama sekali tidak pernah menarik urat. Padahal jika sudab bersama empat sepupunya, dia akan menjadi pemarah. Bukan tanpa sebab karena si quartet yang selalu jahil kepada dirinya. Kal ini, berbeda. Si quartet seakan jadi anak baik dan anak manis. Mereka berlima sangat akur sekali. Terlihat seorang kakak yang tengah mengemong adik-adiknya.


Jingga mengabadikan momen itu dan mengirimnya kepada sang suami. Hari ini hati Jingga sangat melow sekali. Dia terus menatap wajah tampan Gavin yang pastinya akan sangat dia rindukan.


"Anteu," panggil Gavin. Jingga pun menoleh dan dia tersenyum ke arah Gavin.


"Kok Mas merasakan hal yang beda, ya." Anak itu mulai mengutarakan. "Hari ini rasanya ingin bermain bersama si kuamplet." Anak itu malah tersenyum.


"Perasaan Mas aja kali." Gavin pun menganggukkan kepalanya pelan.


Jingga pasti merindukan momen ini. Begitu juga dengan empat buah hatinya. Gavin adalah teman pertama anak-anaknya. Rasa sedih semakin menjalar ketika melihat keempat anaknya terbahak bersama-sama.


"Lusa, kalian bermain bersama Bunda dulu ya, Nak."


.


Di lain tempat pun Aska asyik memandangi video keponakannya tengah bermain dengan empat putranya. Dia tersenyum, tapi di dalam hati dia menangis. Ini kali pertama dia berpisah jauh dengan sang keponakan. Apalagi dari dalam kandungan Gavin selalu bersama dengannya. Sudah pasti ada rasa kehilangan yang cukup mendalam. Ada rasa rindu yang besar selama empat tahun tak bertemu.


Meninggalkan tanah kelahiran membuat Aska merasa berat. Dulu, dia akan pergi ke mana saja tanpa ada rasa berat sama sekali. Beda halnya dengan sekarang. Ketika dia sudah memiliki seorang istri dan anak, merekalah yang menjadi prioritas. Aska takut jikalau anak juga istrinya susah beradaptasi. Itu akan menimbulkan trauma baru.


Sebelum pergi ke Singapura, Jingga mengajaknya untuk mendatangi makam dokter Eki juga Jenni. Jingga ingin pamit kepada kedua orang tuanya. Meminta restu agar rumah tangganya bahagia selalu di manapun mereka berada.

__ADS_1


Firasat Aleesa tak pernah meleset. Semalam anak itu bermimpi ada yang dibawa terbang oleh pesawat pribadi sang pipo. Namun, dia tidak melihat siapa orangnya. Hanya lambaian tangan Gavin yang dia lihat. Air mata Gavin yang menetes dan anak itu terus memanggil-manggil nama seseorang tanpa bersuara.


"Sa, apa kamu melihat apa yang aku lihat?" Yansen sudah menghampiri Aleesa yang tengah melamun di dalam kelas ketika jam istirahat.


"Ya, tapi akau gak tahu siapa yang akan pergi." Aleesa merebahkan kepalanya di atas meja. Yansen mengusap kepala sahabatnya itu dengam begitu lembut.


"Pergi buat kerja doang itu." Aleesa mengangguk. Jika, pergi untuk selamanya bukan pesawat yang membawa pergi anggota keluarganya itu. Penglihatan.mata batin Yansen lebih tajam.dibandingkan Yansen. Apa yang akan terjadi di keluarga Aleesa akan bisa dia lihat juga. Aleesa dan Yansen seperti memiliki keterkaitan luar biasa..


Keberangkatan Aska dan keluarga kecilnya esok hari belum sampai ke telinga Echa. Masih menjadi perbincangan antara Gio, Aska dan Aksa. Istri dari Aksa pun belum tahu. Gio akan mengadakan makan malam nanti bersama keluarga besarnya untuk membicarakan perihal kepergian Aska ke Singapura.


Keputusan yang sulit, tapi tak bisa dibantah. Bukan tanpa alasan, di dalam surat wasiat sang kakek ada nama Askara yang tertulis di sana, bahwasannya Wiguna Grup Singapore akan dipegang penuh oleh Askara. Gio tidak akan bisa membantah surat wasiat itu. Toh sang ayah itu sangat adil. Masing-masing Wiguna Grup cabang dipegang oleh ketiga cucunya. Ada yang di Aussie, Indonesia juga Singapura.


.


Echa dan Radit nampak bingung ketika sang ayah meminta mereka untuk datang ke rumah besar. Begitu juga dengan besan Giondra dan sepuounya yang diminta juga untuk datang. Merek kebingungan, tidak biasanya Giondra seperti ini.


Tepat jam tujuh tiga puluh malam, mereka semua sudah tiba di rumahumah Gio. rumah yang sudah ramai karena kehadiran si quartet kini akan semakin ramai karena kehadiran semua anggota keluarganya.


Gio hanya tersenyum, dia menyuruh Beeya makan terlebih dahulu. Dari segi makanan yang disajikan ini akan ada kabar besar. Begitulah batin para mereka yang diundang.


Echa dan Radit saling tatap, mereka berdua bingung. Begitu juga dengan Riana. Aksara pun sedari tadi hanya terdiam.


Aleesa, dia sudah menatap ke arah empat sepupunya. Keempat anak itu sangat asyik bermain bersama Gavin dan Ghea.


"Apa kalian yang akan pergi? Apa Gavin yang menangisi kalian?" batinnya.


Mereka semua sudah mengambil makanan dan berkumpul di satu ruangan khusus. Duduk lesehan dan terasa sangat kekeluargaan mereka kali ini. Aska semakin berat. Dia pasti akan merindukan kekocakan duda dan sahabatnya yang selalu beradu mulut. Merindukan ketiga keponakannya yang selalu memalak telur gulung, juga yang akan sangat dia rindukan adalah palakan dari bocah kecil.


"Selibu dollal, Uncle."


"Gua akan merindukan itu." Hanya dapat berbicara di dalam hati tanpa bisa diutarakan secara langsung.

__ADS_1


Di tengah keheningan, Gio mulai berdehem. Akhirnya, tatapan mereka tertuju pada Gio.


"Gua minta kalian datang karena ada satu hal penting yang harus gua sampaikan." Kalimat yang amat serius yang Gio ucapkan.


"Tuh 'kan benar dugaanku," bisik Radit ke arah Echa. Wajah anak pertama Ayanda itupun menegang.


"Besok hingga empat tahun ke depan Askara dan keluarga kecilnya akan tinggal di Singapura." Terkejut sudah pasti. Kini, pandangan mereka semua tertuju pada Aska dan Jingga.


"Wiguna Grup Singpore butuh Askara," lanjuta Gio.


Gavin, dia menatap ke arah sang paman. Dia yabg tengah menikmati bakso pun tak jadi menyuapkan makanan bulat itu ke dalam mulutnya.


"Kenapa begitu mendadak, Pah?" Echa mencoba untuk bertanya disela rasa tak rela jauh dari adik dan para keponakannya.


"Wiguna Grup Singapore sedang sedikit goyang. Hanya Aska yang mampu menstabilkannya." Ada harapan besar yang tengah Sang ayah gantungkan kepada Askara.


Semua orang pun terdiam. Hingga seorang anak laki-laki tampan beranjak dari duduknya dan menghampiri sang kakek.


"Pipo bohong 'kan. Uncle, Anteu dan si kuamplet masih di sini 'kan. Gak ke Singapur 'kan." Mata anak itu sudah menahan air mata.


"Enggak, Mas. Pipo serius. Uncle harus tinggal Singapur bersama Anteu dan anak-anaknya." Jawaban yang begitu tegas. Gio tidak ingin membohongi cucunya.


"Terus ... Mas main sama siapa? Adek main sama siapa?" Mata anak itu sudah berair. "Jangan suruh mereka pergi, Pipo. Jangan!!"


Aska segera memeluk tubuh Gavin. Ternyata anak ini merasakan hal yang sama dengan apa yang dia rasakan.


"Uncle hanya ke Singapur doang. Mas bisa ke sana kapanpun Mas mau." Aska mencoba untuk menenangkan. Namun, anak itu menggeleng.


"Uncle jangan pergi." Tangan Gavin memeluk erat tubuh Askara dengan begitu erat. "Uncle, harus tetap di sini."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


__ADS_2