
Hingga sore menjelang, Aska belum juga datang. Sedangkan kedua kakak iparnya sudah datang ke rumah sakit.
"Si Aska ke mana?" tanya Aksara.
"Lagi beli laksa," jawab Jingga.
"Kamu ngidam?" tanya Riana terkejut.
"Mungkin, tiba-tiba pengen makan itu."
Riana pun tersenyum. Selama lebih dari satu bulan lebih ini dia melihat bahwa Askalah yang terlihat kewalahan karena dia yang mual. Akhirnya, Jingga merasakan ngidam juga.
"Kamu mau gak, Sayang?" tawar Aksa. "Kalau mau Abang hubungi Aska." Riana pun menggeleng.
"Nakal gak?" tanya sang ayah kepada sang putra yang baru saja digantikan pakaian oleh ibunya.
"Anat bait."
Jingga mencebikkan bibirnya dan Gavin mengkode kepada sang Tante agar tak membocorkan tingkah lakunya.
"Benarkah anteu? Empin menjadi anak baik," ucap Riana.
"Benel My. Atu dadi anat yan bait."
Riana bertanya kepada siapa dan yang menjawab siapa.
"Anteng kok, baik kok. Gavinnya."
__ADS_1
Cucu dari Giondra itu sudah sangat merasa percaya diri. Dia merasa sudah ada yang melindunginya.
"Saking antengnya, darah dua kali naik di selang infusan."
Wajah ceria Gavin berubah sendu ketika sang Tante malah melaporkan kenakalannya. Kini, kedua orang tua Gavin sudah menatap tajam ke arah sang putra.
"Maaf."
Hanya satu kata yang keluar dari mulut Gavin. Dia juga sudah menunduk dalam.
"Mas, emang gak mau cepat pulang?" tanya baik-baik sang ayah. Anak itu hanya diam.
"Mas, gak kasihan sama Daddy dan Mommy? Apalagi Mommy yang sedang bawa Adek di perut." Anak itu hanya terdiam membisu.
Suasana mendadak hening. Jingga sedikit merasa bersalah mengatakan hal itu. Apalagi melihat raut wajah Gavin yang mendadak sendu.
"Maafin, Mas."
Kalimat itu penuh dengan sebuah penyesalan. Jingga benar-benar tidak enak hati melihatnya. Andai, dia tidak mengatakan hal itu kepada kedua orang tuanya. Pasti wajah keponakan tampannya masih ceria.
Hati Jingga berdebar. Dia takut Aksa dan Riana akan menghukum Gavin. Dia tahu bagiamana cara mendidik versi Aksa dan Riana. Walaupun hanya diberi gambaran oleh sang suami, tetapi dia tetap mengerti. Ketakutan Jingga akhirnya melebur.
Aksa memeluk tubuh Gavin. Begitu juga dengan Riana.
"Daddy maafin Mas, tapi apa Mas bisa janji untuk tidak melakukan hal seperti tadi lagi?" Aksa sudah menangkup wajah putranya agar menatap ke arahnya. Gavin pun mengangguk.
"Mas, Dandi."
__ADS_1
Aksa dan Riana pun melengkungkan senyum. Mereka memeluk tubuh Gavin kembali. Hati Jingga sangat merasa lega melihatnya. Dia bangga karena kedua kakak iparnya benar-benar mendidik Gavin dengan sangat luar biasa.
Tak berselang lama, Aska datang dengan membawa jinjingan berisi laksa. Wajah lelahnya nampak terlihat jelas.
"Lesu amat lu," sergah Aksara.
"Gua abis mencari Laksa hingga negeri seberang."
"Lebai!" omel Jingga. Dia segera mengambil laksa yang ada di tangan Aska.
"Kok lama?" tanya Jingga ketika menuangkan satu bungkus laksa.
"Banyak yang minta foto," jawab Aska.
Aksa melempar buah jeruk ke arah tubuh Aska dan Jingga mencebikkan bibirnya. Candaan Aska sungguh sangat garing sekali.
"Seriusan!" Aska sudah membentuk jarinya seperti huruf V.
"Gua dipanggil Kang Tae Mo."
Semua orang menukikkan kedua alis mereka. Mereka tidak tahu siapa Kang Tae Mo. Ratu drama Korea pun ternyata tidak tahu.
"Siapa itu?" tanya Riana bingung.
"Katanya ... salah satu karakter yang ada di drama Korea yang judulnya ...." Aska berpikir sejenak. "Proposal proposal begitulah."
Jingga dan Riana saling pandang. Mereka belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aska.
__ADS_1
"Lu mah bukan Kang Tae Mo, tapi KANG TAHI KEBO!"