Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
168. Ayna


__ADS_3

Usut punya usut ternyata ibu dari dokter Eki memang yang memiliki gen difabel. Hampir semua keluarga dari ibu dokter Eki hanya memiliki satu kaki. Memang tidak menurun kepada dokter Eki, tetapi itu tidak terjadi pada cucu-cucu dokter Eki.


Keluarga dari dokter Eki adalah keluarga berada dan terbilang kaya. Apapun bisa mereka tutupi termasuk kecacatan yang mereka derita. Kaki palsu yang mereka gunakan sangat menyerupai kaki sungguhan.


.


Jingga sudah keluar dari ruang operasi. Dia sudah disambut hangat oleh keluarga Aska. Namun, dia dapat melihat ada gurat kecewa di wajah mereka semua. Aska terus berada di samping Jingga.


Setelah tiba di ruang perawatan, Jingga menanyakan perihal putrinya. Aska terdiam begitu juga dengan keluarga Aska yang lain.


"Anak kita mirip siapa, Bang?" tanya Jingga.


Hati Aska perih mendengar itu semua. Ingin rasanya dia tidak menjawab ucapan dari Jingga. Namun, dia tidak boleh membuat Jingga stress. Dia juga harus berterus terang.


"Dia cantik seperti kamu."


Ada rasa sakit di hati Aska ketika mengatakan itu semua. Namun, dia harus berbesar hati. Dia harus menerima takdir Tuhan ini.


"Besok bawa aku ketemu Putri kita ya, Bang." Aska pun mengangguk.


Siluet kesedihan terlihat jelas di wajah keluarga Askara. Namun, mereka tetap mempersiapkan keperluan si kecil. Sebagai orang tua Gio tidak boleh membedakan cucu-cucunya. Perihal cacat yang diderita cucunya dia sudah tahu apa penyebabnya.


Echa dan Aksa pun memberikan hadiah yang spesial untuk keponakannya. Mereka semua sudah melihat anak dari Aska. Anak yang begitu cantik, tatapi memiliki kecacatan fisik yang tidak mereka inginkan. Namun, mereka tidak mempermasalahkan.


Ayanda terus mendampingi Jingga.


Dia tidak ingin melihat menantunya ini bersedih. Namun, mereka juga tidak membuka suara perihal bayi yang dilahirkan oleh Jingga.


.


Keesokan paginya, Ayanda sudah membantu Jingga untuk membersihkan tubuh. Dia juga sudah bisa berjalan karena Gio meminta menjalankan operasi Caesar dengan metode baru. Aska menatap ke arah ibunya. Seakan sorot mata itu meminta pertolongan. Namun, Ayanda tidak mengindahkan. Dia membantu Jingga untuk duduk di kursi roda. Dia mengusap lembut punggung tangan Aska seakan memberikan ketenangan.


Belum juga Aska mendorong kursi roda, dia sudah bersimpuh di hadapan Jingga. Dia menggenggam erat tangan Jingga dan mampu membuat Jingga bingung dibuatnya.


"Kenapa?"


Mata Aska berkaca-kaca. Sungguh dia tidak sanggup menahan beban ini sendirian. Sungguh hatinya hancur berkeping-keping.


"Bang As, kenapa?" tanya Jingga lagi.


Akhirnya, Aska mendongak. Mata suaminya sudah berair. Jingga semakin tidak mengerti.

__ADS_1


"Sayang, anak kita-" Aska tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Jingga masih mengerutkan dahinya.


"Kenapa dengan anak kita, Bang?" tanya Jingga.


Aska menatap ke arah sang ibu. Anggukan pelan Ayanda berikan kepada sang putra.


"Anak kita seperti Dea."


Tidak ada reaksi dari Jingga. Dia hanya terdiam membisu. Aska semakin erat menggenggam tangan Jingga.


Beberapa saat kemudian, Jingga tersenyum dengan air mata yang sudah ingin terjatuh.


"Aku sudah tahu," lirihnya.


Aska dan Ayanda terkejut mendengar. Mereka bingung siapa yang memberitahukannya. Keluarga Aska tidak pernah membuka suara perihal anak yang dilahirkan Jingga.


"Dari siapa?" tanya Aska.


#flashback on.


Ketika Jingga hanya ditinggal sendirian di ruang operasi. Dia melihat Dea ada di sampingnya. Putrinya itu sempurna, sudah tidak cacat lagi. Namun, air mata membasahi wajah Dea.


"Maafkan aku, Bunda," ucapnya. "Aku tidak ingin sempurna. Aku ingin mengembalikan kakiku ini kepada adikku."


"Nak, jaga anakmu ini. Kalau kamu mampu menjaganya dengan baik, akan ada sebuah hadiah indah yang akan Tuhan berikan untuk kamu." Air mata Jingga sudah menganak.


"Anak kamu sama seperti Dea dulu."


Akhirnya air mata itu menetes dengan begitu derasnya. Jessi mencoba menghapus air mata itu. Dia mengecup kening Jingga dengan sangat dalam.


"Ini adalah pondasi kamu menuju sebuah kebahagiaan. Ketidaksempurnaan dia adalah jalan menuju kebahagiaan kamu. Jangan sesali keadaan anakmu itu, dia hanya ingin dipeluk kamu. Dipeluk ayahnya. Setelah dia merasakan semuanya ... dia akan kembali. Luka, sedih, air mata akan terganti semua. Hanya ada bahagia yang akan kamu dapat. Percaya sama Bunda."


Hati ibu mana yang tidak sakit dan kecewa ketika melahirkan anak yang tidak sempurna.


#off.


"Aku harus menerima ini. Aku harus ikhlas, Bang." Walaupun suara Jingga bergetar, tetapi Aska merasakan ketulusan yang mendalam. "Dia tetap anak kita. Darah daging kita."


"Iya, Sayang." Aska memeluk tubuh Jingga.


Aska pikir Jingga akan sulit menerima ini semua. Namun, dia malah yang paling legowo dalam menerima kenyataan yang ada.

__ADS_1


Dia menatap ke arah ini mertuanya. Bibirnya melengkung dengan sempurna.


"Maafkan aku ya, Mom. Aku belum bisa memberikan cucu yang sempurna untuk Mommy."


Ayanda berhambur memeluk tubuh menantunya ini. Dia menggelengkan kepala.


"Tidak perlu meminta maaf, Sayang. Ini adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan untuk kelurga kita."


Air mata Jingga semakin mengalir deras. Dia kira sang mertua akan mengusirnya atau bersikap jahat seperti di sinetron-sinetron. Pada nyatanya mertuanya ini malah baik sekali. Ikut menerima hadiah spesial yang Tuhan berikan.


Hati Aska benar-benar lega karena Jingga sudah bisa menerima semuanya. Merek bertiga menuju ruang inkubator. Jingga tersenyum ketika melihat seorang bayi mungil yang tengah terpejam.


"Mirip Dea sewaktu bayi," ucapnya.


Aska hanya tersenyum. Dia tidak akan mempermasalahkannya. Dia juga sudah menganggap Dea seperti anaknya.


"Dia cantik seperti kamu," ujar Ayanda. Jingga hanya tersenyum.


"Kak Jing-jing!"


Anak-anak remaja datang dengan memeluk tubuh Jingga. Mereka membawakan Jingga kado untuk sang sepupu mereka.


"Kalian gak sekolah?" tanya Ayanda.


"Libur, Mimo," jawab Aleeya.


"Gurunya rapat," tambah Aleesa.


Mata Aleesa tertuju pada sosok bayi mungil yang cantik. Dia tersenyum ke arah bayi itu.


"Om, anak Om itu seperti pembuka kebahagiaan Om. Jangan sia-siakan dia, Om. Selagi Tuhan memberikan kesempatan, gunakan kesempatan itu dengan baik. Amal baik, tidak akan langsung dibalas dengan amal baik. Pasti ada lika-likunya terlebih dahulu."


Ayanda tercengang mendengar ucapan dari Aleesa, cucu keduanya. Itu bukan seperti Aleesa yang berbicara.


"Dua anak difabel yang Om dan Kak Jing-jing urus dengan tulus akan membawa sebuah keberkahan yang tak terkira. Akan membuat Om dan Kak Jing-jing berterima kasih tiada henti. Apa yang tidak terbayangkan oleh Om dan Kak Jing-jing malah akan terjadi."


Aska dan Jingga saling tatap. Ucapan Aleesa ini mengandung clue yang belum terpecahkan.


"Ayna, berilah nama Ayna pada putri Om dan Kak Jing-jing. Dia seperti mata untuk kalian. Kehadirannya mampu membuat kalian melihat lebih jauh lagi karunia Tuhan yang tidak kalian ketahui sebelumnya."


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa komen ...


__ADS_2