
Di dalam hatinya berkata,
"Dasar mata duitan, kalau saja toko Tante Anita memberikan budget lebih besar dari Retro Aku yakin, Dia tak akan melepaskan proyek itu, sekarang saja Dia beralasan hanya karena Anita adalah Ibunya Asri"
Chandra memberikan senyuman kecut kepada Pak Faris, setelah itu.. Ia melewati Pak Faris begitu saja.
Pak Faris tak ingin mengambil pusing dengan sikap Chandra yang terpenting baginya adalah Proyeknya dengan Retro berjalan lancar, Pak Faris pun pergi dan kembali ke kantornya.
Setelah melihat apartemen yang di tempati Andi, Andi kini mengantar Kasih kembali ke rumah Makmun melanjutkan pekerjaannya
"Terimakasih ya Kamu sudah mengajak Aku ke apartemen Kamu"
"Ya.. Aku kembali pulang ya, Aku masih harus mencari pekerjaan"
"Ya Andi.. Kamu hati-hati ya di jalan"
Andi pun berlalu pergi, kasih masuk ke dalam rumah.
Bu Heni masih tak menyangka jika Andi sudah pergi dari rumah ini, Ia pun mengajak bicara Heri dari hati ke hati supaya mau memaafkan Andi dan merestui hubungannya dengan Kasih, namun Karena sifat keras kepala dan ego yang kuat, Heri tetap pada pendiriannya.
"Tidak Mbak.. Aku tetap tidak akan merestui Mereka sampai kapanpun, Mbak tidak usah khawatir, Andi pasti akan kembali, Dia tak akan betah hidup susah"
"Tapi kalau pemikiran Kamu itu salah bagaimana Heri?"
"Maksud Mbak?"
"Kalau Andi lebih nyaman hidup sederhana bersama wanita yang Ia cintai, Dia tidak akan kembali pada Kamu Heri, jangan sampai Kamu menyesal kehilangan Andi seperti Kamu kehilangan Istri Kamu"
Heri langsung menatap Heni dengan rasa kaget, Ia pun mencerna ucapan yang baru saja Heni katakan
"Biarlah Anak Kamu bahagia bersama pilihannya"
dengan pelan dan lembut Bu Heni berbicara membujuk Adik iparnya
"Mbak hanya ingin bicara hal ini saja, tolong Kamu pikirkan lagi ucapan Mbak tadi"
Bu Heni pergi begitu saja meninggalkan Heri yang masih terdiam mungkin memikirkan perkataan Bu Heni.
Acara Seminar telah selesai, Teman Dokter Farhan mengajaknya untuk makan siang
"Dok.. ayo Kita makan bersama"
"Oh silahkan duluan saja, Saya masih ada urusan"
lalu Ia mendapat telepon dari Papahnya
"Halo Pah.."
"Farhan bagaimana apa Kamu sudah dapat informasi tentang anak Papah yang berada di Jakarta"
"Maaf Pah.. Aku belum sempat mencari, Aku masih sibuk seminar, sabar ya Pah.. Aku pasti mencari Adik Aku, putri Papah"
tak lama berbincang panggilan pun di akhiri
"Aku harus mencari informasi kemana, Aku hanya tahu nama Ibunya saja, sebaiknya Aku kembali ke rumah sakit dulu mengambil bekal yang sudah Mamah siapkan tadi pagi untuk Aku"
Dokter Farhan kembali ke Rumah Sakit, ketika sampai di rumah sakit, Ia berpapasan dengan Arif adik Sam yang sedang koas di Rumah Sakit ini, karena Arif adalah pria yang ramah Ia pun menyapa Dokter Farhan
"Siang Dokter Farhan"
"Siang.. Kamu anak koas disini"
"Iya Dok.. kok tahu Dok"
"Tadi kan di seminar Kamu maju ke depan untuk mempraktikkan bagaimana cara menangani pasien yang histeris"
Arif merasa malu saat di ingatkan kejadian waktu seminar
"Kamu Dokter muda yang hebat, cekatan berani, dan apresiasi"
"Terimakasih Dok"
sungguh berbunga-bunga hati Arif saat di puji Dokter senior
"Arif.. Saya duluan ya, mau makan siang, Kamu bareng makan siang dengan Saya"
__ADS_1
"Tidak Dok, terimakasih lain kali"
Dokter Farhan pun tersenyum lalu berjalan meninggalkan Arif, di dalam hati Arif Ia ingin sekali menjadi sosok seperti Dokter Farhan, Dokter yang baik hati, ramah terhadap pasien, dan selalu punya prestasi.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat hari mulai sore, semua Karyawan waktunya untuk pulang dan berhenti beraktivitas dalam bekerja.
Chandra mengirim pesan kepada Juvi mengajak untuk bersama-sama menjenguk Lia bersama Asri. Chandra langsung naik mobil pergi ke rumah Asri, sedangkan Juvi pulang sebentar untuk mandi dan membawakan sesuatu kesukaan Lia, supaya memancing Lia agar cepat sadarkan diri.
Sesampainya di rumah Asri, seperti biasanya Chandra mengetuk pintu rumah, dan Asri membukakan mempersilahkan masuk.
"Hay sedang apa?"
"Tidak sedang apa-apa"
"Kita jenguk Lia yuk?" Asri menoleh dan tersenyum
"Serius sekarang?"
"Iya.. Sekarang, Kamu siap-siap sambil menunggu Juvi"
Asri bergegas berganti baju dengan wajah yang bahagia.
Chandra mendapatkan pesan dari Rahma Dia ingin membawakan bekal setelah Maghrib untuk makan malam Chandra
"Aduh.. bagaimana ini, kalau Aku tolak Rahma pasti banyak bertanya, tapi kalau Aku terima belum tentu Aku ada di kantor"
lalu Asri datang dan bertanya
"Kenapa Chan, pesan dari siapa?"
"Rahma"
"Chan.. gak usah berbohong, Kamu bilang saja hari ini tidak jadi lembur, mau menjenguk Lia bersama Aku dan Juvi"
"Tapi.."
"Aku mohon, Aku tidak ingin Rahma berprasangka buruk terhadap Kamu"
"Oke..."
Akhirnya Chandra mengiakan usulan dari Asri, Ia pun membalas pesan Rahma dan mengatakan seperti apa yang di katakan Asri, tapi pikiran negatif Rahma kini muncul
karena penasaran Rahma jadi ingin ikut bersama Mereka
"Apa... ikut.."
"kenapa lagi Chan..?" tanya Asri sedikit kebingungan
"Rahma ingin ikut"
"Ya sudah ajak saja, biar Aku bersama Juvi, Kamu jemput Rahma"
Chandra sebenarnya tidak ingin seperti ini, dalam hatinya kenapa jadi seperti ini, tapi mau tak mau Ia mengikuti apa kata Asri
"Ya sudah kalau begitu Aku pulang ya, jemput Rahma"
karena di luar dugaan akhirnya Chandra menyuruh Juvi untuk menjemput Asri dan pergi ke rumah sakit bersama Asri
"Kita bertemu di Rumah Sakit saja" pesan singkat Chandra untuk Juvi
Juvi terheran mengapa merubah rencana, tak mau ambil pusing, Juvi segera menjemput Asri.
Ternyata Rahma sudah menunggu Chandra di depan rumah, Chandra pun meninggirkan mobilnya, lalu Rahma masuk ke dalam mobil dan langsung berbicara
"Jadi lemburnya tidak jadi?"
"Iya.. karena tadi habis rapat membahas perkejaan Lia, jadi Kita ingin menjenguk Lia sebentar"
"Tapi kenapa Kamu ingin mengajak Asri"
"Ya Asri kan sahabatnya Lia, Rahma ayolah, Aku tahu Kamu pasti berpikiran yang tidak-tidak kan"
"Aku.. tidak kok.. kan Aku hanya bertanya Chan"
"Aku tahu betul siapa Kamu, Kamu ingin ikut juga pasti karena Kamu curiga sama Aku, kalau Aku.." belum selesai Chandra bicara Rahma langsung menjawab
__ADS_1
"Tidak Chan.. Aku tidak berprasangka buruk dengan Kamu sungguh"
Chandra terus fokus menyetir Ia hanya melirik sedikit ke arah Rahma sesekali, dalam hati Rahma ingin sekali menanyakan soal aroma parfum wanita yang selalu menempel di baju kerja Chandra, tapi percuma saja Chandra pasti mengelak dan memberikan alasan supaya dirinya tidak curiga, Rahma harus mencari tahu sendiri aroma parfum siapa sebenarnya yang selalu mengusik pikiran Rahma selama ini.
sesampainya di Rumah sakit, Mereka bertemu Asri dan Juvi yang baru saja sampai
"Loh.. Juv.. kok baru sampai" tanya Chandra
"Iya, tadi Asri sedikit ada maslah saat naik motor, kaki Asri belum kuat menahan, motor Gue kan tinggi"
merasa khawatir Chandra langsung bertanya keadaan Asri kepada Asri
"Kaki Kamu gak apa-apa, masih terasa sakit" Asri hanya diam melihat ekspresi wajah Chandra yang begitu khawatir dan melihat wajah Rahma dengan rasa tak enak dihatinya
"Aku gak apa-apa Chan, sudah Aku bisa berjalan kok"
"Aku bilang apa, lebih baik naik mobil, ini kan yang ditakutkan Kamu itu masih masa pemulihan, jangan memaksakan diri"
Rahma sepertinya mulai cemburu melihat perlakuan Chandra yang begitu khawatir dengan Asri, lalu Ia berkata,
"Ya sudah.. Asri tidak apa-apa ini Chan"
"Ya Chan.. sudah yuk Kita masuk" ajak Juvi terhadap semuanya.
Saat ingin melangkah Asri merasakan ngilu di kakinya
"Auu..."
mendegar suara Asri yang kesakitan, Chandra dengan spontan membalikan arah, dan langsung mendekati Asri
"Kamu kenapa, kaki Kamu sakit, Aku bantu ya"
melihat wajah Rahma yang mulai muram, Asri kini menolak bantuan Chandra
"Juvi, bantu Aku"
Chandra kaget mengapa Asri menolaknya, Ia baru sadar bahwa saat ini ada Rahma di sampingnya, kini Chandra mengerti dengan penolakan itu, dalam hati Asri meminta maaf karena tak menghiraukan bantuan Chandra.
Juvi yang sudah mengerti situasi itu, hanya menepuk pergelangan tangan Asri sambil tersenyum.
Akhirnya Mereka sampai di ruang rawat Lia, Mereka langsung masuk ke ruangan ternyata di dalam sudah ada Bu Irma dan juga Makmun di samping Lia
"Tante.. apa kabar..?" tanya Asri
"Baik Alhmdlilah, Asri Kamu sudah bisa berjalan?"
"Iya Tante sedikit-sedikit, Makmun.. Kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah Aku baik, tapi tidak dengan Lia"
Makmun pun menunjukkan wajah murungnya
"Kamu yang sabar ya, Kita selalu berdoa semoga Lia cepat sadarkan diri"
saat Asri mengucapkan kata itu, Lia sepertinya merespon Ia menggerakkan bola matanya seperti ingin membuka mata namun sulit sekali, tetapi momen itu tak ada yang melihat, tak lama Juvi mendekati Lia lalu Ia menunjukkan sebuah boneka Tasmania boneka kesukaan Lia sewaktu sekolah dulu.
"Lia.. apa kabar, lihat.. Aku bawa apa, tara... boneka Tasmania, boneka kesukaan Kamu, ayo dong bangun...Kita semua rindu Kamu, Kita semua ingin kamu sembuh, Aku sedih sekali saat perusahaan harus memberhentikan Kamu dengan terpaksa"
Juvi berbicara sendiri layaknya orang gila, namun seluruh orang yang menyaksikan ikut bersedih dengan kata-kata Juvi, termasuk Makmun yang biasanya Ia marah-marah karena Juvi mendekati istrinya, kini Ia ikut bersedih ketika Juvi berkata seperti itu di dekat telinga Lia.
"Terimakasih ya Kalian mau menyempatkan waktu menjenguk Lia, Juv.. terimakasih Lo sudah berusaha untuk menyemangati Lia"
Juvi tersenyum mendengar ucapan Makmun
"Iya.. bagi Gue Lia itu utama, apapun akan Gue lakukan bila perlu, Gue akan bawa semua kenangan jaman sekolah kenangan yang membuat Lia bahagia supaya Lia cepat sadar"
tanpa disadari tiba-tiba Makmun menangis dalam pundak Juvi dan berkata,
"Gue takut Lia semakin jauh Juv, Dia hampir seminggu koma sampai saat ini Gue gak tahu bagaimana kondisi Lia"
Semua ikut bersedih melihat Makmun yang terlihat depresi, Chandra ikut bicara menyemangati Makmun
"Mun... Lo yang sabar, kalau Lo terus berdoa dan berusaha Gue yakin Lia juga akan bersemangat untuk hidup"
Bu Alya langsung mengelus-elus pundak Makmun sambil berkata,
__ADS_1
"Tolong Kamu yang kuat Makmun, Lia akan bertahan jika Kamu kuat, Lia akan sembuh jika Kamu yakin"
Suasana pun menjadi haru, semua ikut bersedih bahkan Asri pun meneteskan air matanya.