Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
240. Marah


__ADS_3

Semakin hari perkembangan kesehatan dokter Eki semakin membaik. Itu membuat Jingga tersenyum bahagia. Apalagi cara bicara dokter Eki sudah mulai normal.


"Besok Ayah boleh pulang," ucap Aska yang baru saja masuk ke kamar perawatan. Wajah Jingga terlihat sangat senang. Beda halnya dengan Aska yang terlihat gamang.


"Kenapa Ayah terlihat sendu?" Jingga menghampiri suaminya yang tidak akan bisa berbohong kepada dirinya.


"Ayah Eki belum bisa dibawa ke Jakarta."


"Gak apa-apa. Bunda akan stay di sini." Aska menggeleng. Itu membuat Jingga bingung.


"Ayah gak akan ijinin Bunda di sini sendirian."


"Sendirian?" ulang Jingga dengan penuh tanya.


"Ayah harus kembali ke Jakarta besok pagi. Siang ada rapat sangat penting." Raut wajah Jingga pun tidak bisa berdusta. Dia tidak ingin ditinggalkan suaminya. Bagaimanapun masih ada rasa takut di hati jika hanya berdua dengan sang ayah. Masih ada trauma masa lalu.


Melihat anak dan menantunya hanya saling pandang karena tak ingin saling lepas membuat dokter Eki membuka suara.


"Ayah gak apa-apa sendiri di kontrakan. Banyak tetangga di sana kok."


Jingga menoleh, dia menatap sang ayah dengan wajah sendu. Betapa sedihnya Jingga mendengar ucapan ayahnya barusan. Masih ada anaknya yang berkewajiban menjaga ayahnya.


"Aku akan yang jaga Ayah," tutur Jingga. "Ayah gak boleh sendirian."


Aska terkejut dengan ucapan sang istri yang begitu tegas. Dia menatap Jingga dengan penuh tanya. Namun, sang istri sangat serius dengan perkataannya. Aska menggeleng pelan.


"Jangan, Nak. Suami kamu pasti akan sangat khawatir jauh dari kamu," ucap sang ayah. "Apalagi kondisi kandungan kamu sudah besar."


Aska harap sang istri mau mendengarkan ucapan ayahnya. Dia benar-benar berat jika harus meninggalkan Jingga sendirian di Bandung. Pasalnya dia juga belum percaya penuh kepada ayah mertuanya. Aska takut dokter Eki tipe manusia edan-eling.


Namun, Jingga tetap bersikukuh. Walaupun hati kecilnya merasa takut. Aska ingin melarangnya, tapi tidak enak kepada ayah mertuanya. Dia tidak ingin dicap menantu durhaka. Juga tidak ingin menyinggung perasaan dokter Eki. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aska.


Hampir seharian ini Aska tak banyak bicara. Dia


fokus pada pekerjaannya dengan rasa kesal di dada. Namun, dia mampu menutupi semuanya dengan baik.


"Ayah mau kopi?" Hanya sebuah gelengan yang menjadi jawaban dari Aska. Tak ada satu buah katapun yang keluar dari mulutnya. Kalau sudah begini suaminya pasti tengah marah.


Dia menatap ke arah ranjang pesakitan sang ayah. Dokter Eki sudah tertidur. Dia mendekat dan duduk di samping suaminya.


"Yah," panggil Jingga.


Aska tidak menjawab. Ponselnya berdering dan segera dia sambar di atas sofa.

__ADS_1


"Iya."


Jingga terus memperhatikan suaminya. Terlihat gurat kelelahan yang wajahnya tunjukkan.


"Ya udah, sore nanti saya bersiap. Saya akan langsung ke Bandara."


Mata Jingga melebar mendengar ucapan dari suaminya. Dia menatap Aska dengan tatapan yang berbeda. Bukankah besok pagi. Kenapa sore ini juga harus bersiap?


"Baiklah, saya tunggu di helipad rumah sakit ini."


Tak lama berselang Aska mengakhiri sambungan teleponnya. Dia segera memasukan ponselnya ke dalam saku.


"Ayah," panggil Jingga lagi.


"Aku harus bersiap sekarang." Aska beranjak dari duduknya. Langkahnya mulai menjauhi sang istri tercinta. Apa yang ditakutkan Jingga terjadi juga. Suaminya marah.


Aska sudah menutup pintu kamar perawatan dan membuat Jingga segera berlari. Meskipun sangat hati-hati. Dia tidak mempedulikan kakinya yang bertelanjaang. Dia mengejar suaminya dengan napas yang terengah. Padahal dia tidak berlari, hanya berjalan cepat menurutnya. Akan tetapi, napasnya sudah tidak beraturan.


"Ayah!" teriak Jingga.


Semua orang yang berada di sana menoleh ke arah Jingga yang tengah mengatur napas sambil memegang perutnya yang membesar. Memakai dress selutut dengan tidak memakai alas kaki.


"Ayah!" teriaknya lagi. Dia sungguh tidak sanggup untuk mengejar Askara.


"Bunda!"


Wajah panik Aska tunjukkan. Terlihat istrinya menahan sakit juga keringat membasahi dahi.


"Istri lagi hamil besar jangan ditinggalin Mas." Salah seorang ibu paruh baya menasihatinya. "Kalau ada apa-apa gak lihat nyesel loh."


"Kita ke dokter obgyn sekarang." Aska tak mempedulikan ucapan ibu-ibu tersebut. Namun, dia berharap Jingga mendengarnya.


Aska sudah meggendong tubuh Jingga dan hendak dibawa ke ruang dokter kandungan. Namun, Jingga tidak mau.


"Bunda ingin ke taman."


Dahi Aska mengkerut, tapi dia tidak bisa menolak keinginan istrinya. Dia juga dapat melihat jikalau rasa sakit yang istrinya alami sudah tidak seperti tadi.


Aska meletakkan tubuh Jingga dengan sangat hati-hati di atas kursi besi yang ada di sana. Dia bersimpuh di depan sang istri dan mengusap lembut perut istrinya yang sangat besar.


"Maafkan Ayah ya, Nak."


Bulir bening menetes begitu saja membasahi pipi Jingga. Ucapan tulus yang keluar dari mulut suaminya membuat hatinya tersentuh.

__ADS_1


"Ayah harus ke Jakarta. Ada yang genting di sana, Nak. Tolong mengerti ya, Nak."


"Bunda ikut!"


Aska mendongak ke arah sang istri. Kedua alisnya menukik tajam ketika melihat wajah istrinya yang sudah basah.


"Bunda kenapa?" Jingga berhambur memeluk tubuh Askara.


"Maafkan Bunda." Kalimat penuh penyesalan keluar dari mulut Jingga. "Bunda harusnya ikut ke mana Ayah pergi." Helaan napas kasar keluar dari mulut Aska.


"Gara-gara Bunda, anak-anak kita marah."


Aska mengurai pelukannya perlahan. Menghapus lembut air mata di kedua pipi istrinya.


"Ayah hanya ingin kita terus sama-sama. Ayah juga tidak ingin Bunda merasakan kesakitan apapun tanpa Ayah di samping Bunda. Apalagi jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi. Ayah bisa gila dibuatnya."


Aska benar-benar protektif juga posesif kepada istrinya. Dia ingin istrinya mengikuti ke mana langkahnya pergi.


"Bagaimana dengan Ayah Eki?" Sebuah kalimat yang penuh keraguan Jingga tanyakan.


"Ayah akan menyewa perawat untuk mengurus Ayah Eki. Semua biaya akan Ayah bayar sebelum kita pergi."


Akhirnya mereka kembali ke ruang rawat. Namun, Aska terkejut ketika melihat istrinya tidak memakai alas kaki.


"Tadi Bunda buru-buru nyusul Ayah. Gak sempat pakai sandal." Aska segara meraih kaki Jingga. Mengecek kaki istrinya yang putih itu.


"Jangan lebay, Ayah," cegahnya. "Bunda gak apa-apa."


.


Sebelum berangkat ke Jakarta, Aska dan Jingga berpamitan kepada dokter Eki. Sang ayah tidak masalah ditinggalkan oleh anak dan menantunya. Dia juga tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan Aska dan Jingga.


"Hati-hati di jalan, ya. Salam untuk keluarga kamu." Aska tersnyum dan mengangguk pasti..


"Ayah jaga diri baik-baik, ya. Kalau urusan Bang As udah selesai, aku dan Bang As ke sini lagi. Juga akan berusaha membawa Ayah ke Jakarta. Menjalani serangkaian perawatan di sana."


Masih saja Jingga berbaik hati kepada pria yang dulunya tak punya hati. Itulah namanya bakti. Bagaimanapun ada darah dokter Eki yang mengalir di dalam tubuh Jingga. Dia tidak bisa memungkiri.


Menuju helipad rumah sakit, Jingga bertanya perihal pekerjaan apa yang harus Aska selesaikan malam-malam. Suaminya hanya tersenyum, tanpa mau dijawab. Ponsel Aska berdering, dahinya mengkerut ketika melihat nama Riana yang memanggilnya


"Uncle, cepat pulang. Daddy, Uncle! Daddy!"


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen atuh


__ADS_2