
Aska dan Jingga jadi pergi ke Bandung untuk berbulan madu. Ada drama kecil ketika Jingga akan meninggalkan si quartet. Dia tidak tega, tapi Aska tetap memaksa.
"Cuma dua hari, Bun. Kalau anak-anak kita sampai kurus kering kita tuntut mereka berdua," tunjuknya pada Riana dan juga Aksa.
"Mana ada anak-anak lu kekurangan gizi. Yang ada mah si quartet kayak ayam boyler." Aksara bersungut-sungut.
Jingga juga heran kenapa kali ini anaknya tidak menangis ketika dia tinggalkan. Biasanya Jingga tidak bisa bergerak sedikit pun. Pasti mereka akan menjerit atau mengejar Jingga.
"Empin, Anteu titip si quartet, ya."
Sang keponakan yang sedang asyik menonton ninja Hatori pun hanya berdehem saja. Tidak menoleh kepada Jingga sama sekali.
"Kalau si kuamplet nakal akan Mas denda selibu dollal. Nanti Uncle yang bayar."
"Eh, Pak Ogah," omel Aska. "Pak Ogah aja malak orang cuma dua rebu perak, lah ini? Sepuluh juta, apa-apaan."
"Dua lebu mah cuma buat bayal paklil di minimalket." Aksa dan Riana tertawa mendengar ucapan Gavin. Anak ini memang pandai berbicara sekali.
.
Aska dan Jingga bertolak ke Bandung. Mereka hanya berdua bagai orang yang pacaran. Baju pun mereka hanya bawa seperlunya saja, yang paling dibutuhkan adalah lingerie. Baju haram kesukaan kaum Adam.
Mereka berhenti di sebuah mall untuk membeli pakaian yang mereka butuhkan. Aska terus menggandeng tangan Jingga. Mereka berdua bagai sepasang kekasih.
"Pilihlah mana yang Bunda suka." Aska sudah membawa Jingga ke sebuah toko baju ternama. Dia mengijinkan sang istri memilih apa yang Jingga inginkan.
"Ayah, pakai baju senada mau?" Aska hanya tersenyum dan dia berkata, "Ayah mah ikut aja apa yang Bunda pilihkan." Betapa manisnya suaminya ini.
Setelah selesai mereka memilih untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu. Sedang asyik makan tiba-tiba suara seseorang menyapa Aska.
"Sudah tiba rupanya, Pak Askara," sapa Fredy bersama istrinya. Aska hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Dia paling malas jika ada manusia yang hobi berbasa-basi.
Istri dari Fredy itu pun menatap sinis ke arah Jingga. Dia menganggap remeh ke arah istri dari rekan suaminya itu. Penampilan yang sangat biasa. Tidak seperti dirinya.
"Pih, Mamih boleh 'kan beli cincin berlian yang tadi." Kalimat itu sengaja istri Fredy ucapkan karena dia ingin pamer kepada Jingga juga suaminya.
"Boleh dong, Mih."
__ADS_1
Aska hanya tersenyum kecil, dia menatap ke arah Jingga yang juga tengah tersenyum.
"Biasalah, Pak," ujar Fredy. "Istri adalah prioritas."
"Walaupun bisa bikin sesak napas karena kreditan gak lunas-lunas," timpal Aska dengan sindiran mautnya.
Sebenarnya Aska malas datang ke acara orang yang sudah ada di hadapannya ini. Dia bukan orang penting, tapi memiliki gengsi yang menggunung. Gaya hidup yang mewah, tapi tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya. Fredy hanyalah seorang manager di salah satu anak perusahaan Wiguna Grup. Gajinya saja hanya seperempat dari gaji yang Aska terima. Namun, gayanya seperti orang kaya.
"Maaf, Pak. Bukannya saya lancang," ujar istri Fredy. "Suami saya selalu membelikan barang itu dengan sistem cash. Mana ada kredit-kreditan begitu," paparnya.
Aska hanya tersenyum kecil. Jingga malah sibuk memakan apa yang sudah dia pesan. Terlalu lapar perutnya jadi tidak sanggup mendengarkan ocehan tidak berfaedah dari wanita di depannya.
"Biarkan makanan ini kami yang bayar," ucap Fredy.
"Tidak perlu, saya masih sanggup membayarnya," tukas Aska.
"Tidak perlu sungkan, Pak. Saya sudah biasa membayari makan kolega-kolega saya."
"Baiklah kalau Anda memaksa."
"JA jewellery itu adalah toko perhiasan paling bagus dan paling mahal. Saya selalu beli perhiasan di sana. Hanya orang-orang berduit yang bisa membeli perhiasan di sana."
Wanita itu tidak tahu bahwa dia tengah berbicara dengan si pemilik toko perhiasan tersebut. Jingga hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Bener tuh, Pak. Kalau mau beli perhiasan di toko itu aja. Bagus-bagus dan yang penting sih mahal, sesuai dengan kita-kita." Fredy pun menambahkan.
"Istri saya mah gak cocok pakai perhiasan. Gatal-gatal." Bukannya marah, Jingga malah tertawa.
"Owalah," balas istri Fredy. "Biasakan Jeng pakai perhiasan mahal biar terlihat berkelas. Istri seorang pengusaha mah harus tampil mewah."
"Atuh maklum aja, saya mah hanya orang kampung."
Benar yang dikatakan oleh Riana. Istri para rekan bisnis suami mereka heboh-heboh semua. Tidak ada yang sederhana. Maka dari itu, Riana harus menyeimbangkan. Apalagi dia memang disuruh oleh suaminya untuk menunjukkan diri agar tidak ada yang menginjak-injak harga diri istri dari Ghassan Aksara Wiguna.
Beda halnya dengan Aska dan Jingga. Mereka lebih memilih hidup sederhana karena bagi mereka tidak perlu menjelaskan siapa diri mereka kepada orang lain. Hanya orang-orang yang tulus yang tahu bagaimana mereka.
"Makanya gabung sama istri pengusaha yang lain, biar gak kudet, kurang update," cibir istri Fredy.
__ADS_1
"Setiap hari padahal saya gabung sama istri pengusaha," sahut Jingga yang mulai kesal.
"Masa?"
"Kedua ipar saya adalah istri pengusaha. Pasti Mbaknya tahu dong siapa Riana Amara Juanda dan Elthasya Afani," balas Jingga.
Mulut istri dari Fredy pun seketika terbungkam. Begitu juga dengan Fredy yang tidak bisa berkata apapun.
"Mau membanggakan apa lagi?" tanya Aska yang kini menatap tajam dua insan manusia tersebut.
"Orang kaya sesungguhnya tidak akan pernah mengatakan dirinya kaya. Beda dengan orang yang hanya pura-pura kaya." Kalimat mematikan yang keluar dari seorang Askara.
Ponsel Jingga berdering, mata istri dari Fredy itupun melebar ketika melihat tas yang digunakan oleh Jingga. Kecil, tapi harganya sangat fantastis.
"Iya, Wil." Ternyata Willy yang menghubunginya, dan Willy pun sengaja menghubunginya melalui sambungan video.
"Bu, ada pesanan cincin kawin seharga 1,5M. Apa harus kita terima?"
Terkejut sekali istri Fredy mendengarnya. Dia mulai menelisik wanita yang ada di hadapannya ini.
"P-pak, kalau boleh tahu ... istri Anda punya toko perhiasan dengan nama apa, ya?" Istri dari Fredy mulai penasaran.
"JA Jewellery."
Bola mata wanita itu hampir terlepas mendengar ucapan dari Aska. Dia tidak menyangka bahwa dia tengah berhadapan dengan pemilik toko perhiasan di mana dia selalu membeli perhiasan yang dia gunakan di sana. Tentunya dengan sistem kredit.
.
Di lain tempat enam balita tengah asyik bermain air. Si quartet dan Ghea terus tertawa-tawa. Apalagi mereka tengah memakai pelampung yang lucu. Tugas Gavin adalah menjaga kelima adiknya..
Namun, dia merasa curiga. Ada yang janggal di penglihatannya. Ada sesuatu warna kuning yang mengambang di kolam. Matanya sudah memicing ke arah si quartet. Tiga di antara empat bayi itu sedang tertawa-tawa. Sedangkan yang satu tengah asyik mengejan dan menunjukkan wajah teramat jelek.
"Maiill!"
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1