
Rangga datang lebih awal ke sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Namun, memiliki tanaman hias yang cukup banyak juga halaman yang cukup luas. Itulah pekerjaannya di sana, merawat tanaman hias juga membersihkan halaman.
"Tumben lu, Tong, udah datang jam segini?" tanya seorang pihak keamanan rumah tersebut ketika Rangga sudah meminta dibukakan pintu pagar.
"Iya, Pak," jawab Kalfa.
Bukannya masuk ke dalam rumah, dia malah duduk di lantai pos keamanan. Dahi pihak keamanan itupun mengernyit melihat anak itu.
"Aku numpang makan di sini ya, Pak."
"Emang lu belum makan siang?" tanya security lagi. Rangga hanya menggelengkan kepala sambil membuka bekal yang ibu panti berikan.
"Bapak mau?" tawar Rangga. Pihak keamanan itu menggeleng. Dia malah sangat kasihan melihat Rangga seperti ini. Di usianya yang harusnya bermain dan belajar malah sudah harus bekerja keras.
Security itu menyeka ujung matanya ketika melihat anak itu makan dengan begitu lahapnya. Apalagi makanan itu dari restoran cepat saji terkenal.
Rangga membersihkan bekas makannya dan mulai bekerja. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada pak satpam karena sudah mengijinkannya makan di sana.
Tak pernah sedikit pun Rangga mengeluh tentang keadaannya sekarang. Dia harus tetap rajin bekerja demi membantu ibu panti dan juga adik-adiknya. Padahal Ibu panti sudah menjelaskan bahwa dia bukanlah anak orang biasa melainkan anak orang kaya. Siapa keluarganya pun ibu panti sudah memberi tahu. Namun, dia memilih untuk tidak ingintahu dan lebih memilih tinggal di panti asuhan.
Rangga menyeka keringatnya dengan punggung tangannya. Nampak sekali Rangga kelelahan. Akan tetapi, anak itu tetap melanjutkan pekerjaannya. Sejenak dia duduk untuk menghilangkan lelahnya. Kemudian, melanjutkannya lagi. Jam tiga sore terdengar suara klakson mobil. Rangga mengintip dari samping rumah dan ternyata si pemilik rumah datang.
Dia terus melanjutkan pekerjaannya. Sudah biasa juga sang pemilik rumah datang. Dia juga bukan anak yang senang mencari muka di depan majikan. Tak Rangga duga si pemilik rumah menghampirinya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah.
"Iya, Pak." Rangga tidak berani mengangkat kepala ketika sang majikan berbicara. Dia harus bersikap sopan kepada majikannya.
"IKut saya ke ruang kerja."
Anak laki-laki itu sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh sang majikan. Ada apa? Apa dia akan dipecat? Begitulah isi di kepalanya. Namun, dia tidak bisa membantah. Dia mengikuti pria itu dari belakang.
Setelah masuk ke ruang kerja, Rangga disuruh duduk oleh majikannya. Kedua alis Rangga menukik ketika pria itu memberikannya buku yang cukup tebal.
"Apa ini, Pak?" Anak itu benar-benar tidak mengerti.
"Itu adalah dream book." Tidak ada reaksi apapun dari Rangga. Nampaknya, dia masih bingung dengan apa yang dimaksud oleh majikannya.
Pria itu malah tersenyum dan menjelaskan kepada Rangga. "Dream book ini gunanya untuk mencatat apa saja yang ingin kamu capai. Tulislah apa yang kamu inginkan. Tutup buku itu, lalu lihatlah lima tahun ke depan. Apakah yang kamu tulis itu akan bisa kamu raih."
__ADS_1
Rangga pun akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh majikannya tersebut. Lengkungan senyum pun terukir di bibirnya.
"Tulislah apa yang kamu impikan. Jangan takut mimpi itu ketinggian," papar sang majikan.
"Iya, Pak," sahut Rangga.
"Apa bisa aku menulis keinginanku untuk dekat dengan Aleena?"
Begitulah batinnya berkata. Namun, dia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Perbedaan membentang luas di antara mereka berdua. Bagai langit dan bumi
"Saya yakin suatu hari nanti kamu akan jadi orang sukses." Ucapan dari sang majikan membangunkan Rangga dari lamunannya.
"Amiin."
Sebuah doa yang harus diamini oleh Rangga. Itulah cita-citanya menjadi orang sukses agar tidak selalu dipandang rendah oleh semua orang.
"Tidak ada tawar-menawar perihal kesuksesan. Aku harus jadi orang sukses." Rangga terus berkata dalam hati.
"Ketika kamu jatuh dalam menggapai mimpi kamu, jangan pernah menyerah." Nasihat sang majikan kepada Rangga. "Semakin kamu banyak terjatuh, semakin kamu terlatih untuk menerima semua tantangan yang ada hingga menuju titik kesuksesan."
.
Selama di panti Aleena terus terdiam. Jingga sedikit curiga kepada Aleena, sepertinya ada yang tengah disembunyikan oleh keponakannya ini.
"Kamu kenapa, Kakak Na?" tanya Jingga. "Ceritalah sama Kakak," tambahnya lagi.
Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Aleena. Dia malah menyandarkan tubuhnya ke jok mobil. Rangga terlihat sangat marah padanya.
"Kakak Na," panggil Jingga lagi.
"Kakak Na, tidak apa-apa," jawabnya.
Anak itu bukanlah anak yang mudah untuk bercerita kepada orang lain. Dia cukup memendamnya sendiri. Dikorek dengan paksa pun dia tidak akan membuka suara.
.
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh majikannya, Rangga membuka buku pemberian dari pria yang masih muda dan menjadi majikannya itu. Dia mulai menulis apa yang di inginkan untuk sekarang dan di masa depan.
__ADS_1
Banyak hal yang dia tulis. Dia menulis dengan sangat serius juga senyum yang terus mengembang. Di akhir tulisannya dia menulis dua buah nama.
...Rangga ❤️ Aleena...
"Kata Bapak majikan 'kan jangan takut mimpi itu ketinggian," gumamnya dengan lengkungan senyum yang indah.
.
Aleeya pulang bersama Kalfa ke rumah sang engkong. Kalfa mencari keberadaan Aleena. Namun, dengan lantangnya Aleesa menjawab.
"Gak ada!"
Seakan Aleesa tahu isi kepala Kalfa. Anak laki-laki itupun terdiam dan memilih pamit untuk pulang. Bukannya pulang Kalfa malah ke rumah besar Giondra. Dia sangat yakin Aleena ada di sana. Ketika dia tiba di sana bertepatan dengan kepulangan dari Askara.
"Udah maghrib, ngapain ke sini?" sergah Askara.
Nyali Kalfa menciut begitu saja mendengar sergahan dari Askara. Dari tiga paman yang Aleena miliki, Askalah yang Kalfa takuti.
"Mending pulang gih Sanah!" usir Aska kepada Kalfa.
Baru saja dia mengusir anak laki-laki yang dari antah berantah, sang istri dan keponakannya keluar dari rumah.
"Aleena," panggil Kalfa.
Aska dan Jingga saling tatap, mereka juga menatap Aleena dengan rasa penasaran.
"Om, Kakak Na mau pulang," ucap Aleena. Aska mengangguk dan dia tahu keponakannya ingin diantar oleh dirinya.
"Ya udah, Om antar."
Aleena melewati Kalfa begitu saja tanpa menyapa Kalfa. Anak laki-laki itu hanya bisa menatap punggung Aleena yang semakin menjauh. Dia rindu senyuman Aleena yang sangat manis.
"Kalau Aleena sudah seperti itu, harusnya kamu interospeksi diri," tutur Jingga. "Coba kamu pikir dan renungi apa kesalahan kamu hingga Aleena seperti itu," tambahnya lagi.
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1