Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
151. Wanita Matre


__ADS_3

Jingga menghembuskan napas kasar ketika Filia keluar dari ruangan suaminya. Mencoba bersikap tenang di tengah hati yang bergemuruh itu sangat sulit. Dia segera meraih ponselnya dan satu nama yang terlintas di kepalanya, yakni Riana. Suhu dari segala suhu.


Jawaban Riana sungguh membuat Jingga kesal. Bagaimana tidak, Riana hanya membalas dengan emoticon tertawa.


"Nyebelin!"


Image sekretaris tercoreng karena banyak yang menyalahgunakan jabatan tersebut untuk memikat atasannya sendiri. Padahal banyak di luaran sana sekretaris yang baik dan tidak menjelma menjadi wanita penggoda.


Ponselnya berdering dan William memberikan beberapa berkas melalui e-mail. Rasa kesal itu hilang seketika dan dia memilih untuk fokus mengecek berkas yang William kirimkan. Tak terasa waktu terus bergulir dan ternyata Wiliam sudah berada di lantai bawah perusahaan Wiguna Grup untuk mengantarkan makanan yang JIngga inginkan.


"Makasih ya, Wil."


Senyum manis Wiliam berikan kepada Jingga dan itu tak luput dari pantauan seorang wanita yang sudah mengambil gambar Wiliam dan Jingga yang sama-sama tersenyum manis.


"Kita lihat nanti." Seringainya sudah terlihat jelas.


Jingga melenggang begitu saja ketika Wiliam sudah pergi. Dia menunggu lift terbuka menuju lantai di mana ruangan sang suami berada. Di lorong menuju ruangan sang suami, dia dicegat oleh beberapa orang karyawan perempuan.


"Kamu siapanya Pak Askara?" sergah mereka. Namun, Jingga tidak menjawabnya. Dia berlalu begitu saja. Pertanyaan itu sungguh tidak penting baginya.


Jingga sama sekali tidak melihat Filia di meja kerjanya. Jingga membiarkannya saja. Dia tidak peduli dan lebih baik menyantap makanan yang dia inginkan. Untungnya ada Wiliam yang akan menjadi kurir untuknya. Itupun atas persetujuan dari Askara.


Di lain tempat sudah ramai perihal gisip ter-update Wiguna Grup. Semua para karyawan di sana ramai bergosip. Apalagi mereka baru saja melihat orang yang berada di kabar terpanas itu. Ada seorang wanita yang tersenyum sangat puas. Dia berharap akan ada perang dunia ketiga.


Jingga masih asyik menyantap salad buah dan salad sayur sambil menonton drama Korea. Dia teracuni oleh Riana yang sering merekomendasikan drama yang bagus. Kini, dia malah kecanduan. Berharap, dia juga akan memiliki anak-anak secantik juga setampan eounni dan oppa Korea.


-


Di ruangan rapat, petinggi perusahaan Wiguna Grup seluruh Indonesia tengah berembuk. Rapat itu dipimpin oleh Aksara. Aksa akan menyusun ulang kepemimpinan di Wiguna Grup pusat. Namun, dia juga tidak boleh gegabah. Dia akan menemui kedua orang tuanya yang berada di Bali meminta saran. Atau juga dia akan mengadakan rapat besar ketika sang ayah sudah kembali.


Ketika mereka masuk ke dalam perusahaan. Mereka menanggalkan yang namanya saudara, juga sahabat. Mereka semua akan bersikap profesional. Mereka pun fokus pada rapat tanpa ada yang membuka ponsel. Itulah peraturannya.


"Saya sangat setuju karena saya yang menjadi saksi bisu bagaimana Pak Giondra mengelola perusahaan. Saya juga tahu bagaimana perjuangannya hingga membuat perusahaan ini merambah luas ke lain sektor." Remon, dialah sahabat juga asisten Gio yang selalu setia kepada Gio. Menjadi bayangan untuk Gio ke manapun Gio melangkah.

__ADS_1


"Sudah waktunya Pak Giondra beristirahat," ucap Christo yang sengaja Aksa libatkan.


"Saya tidak ingin nasib Gio seperti almarhum Genta," papar Christo lagi.


"Sudah waktunya Pak Gio menikmati hasil kerja kerasnya selama ini. Biarkan beliau berada di belakang layar dan menjadi penasihat untuk kita semua."


Aksara merasa bahagia mendengar


respon dari petinggi-petinggi yang berada di sana. Ternyata banyak orang yang memperhatikan ayahnya.


"Saya berterima kasih banyak kepada kalian semua yang sudah berkerja keras bersama Ayah saya. Dari ayah saya muda hingga saat ini. Saya melakukan ini bukan saya haus akan harta dan tahta. Saya melakukan ini hanya ingin membahagiakan ayah saya di usia yang sudah tidak muda lagi," jelas Aksara.


"Sebelum saya mengadakan rapat ini pun saya membicarakan terlebih dahulu dengan keluarga saya. Termasuk dengan kakak dan adik saya. Saya tidak berhak mengambil keputusan secara sepihak."


Inilah yang menjadi kelebihan dari Aksara. Selalu gesit dalam bertindak. Dia juga tidak gegabah dalam hal mangambil sebuah keputusan.


"Anda patut bangga Pak Askara," ucap salah seorang petinggi yang tengah mengikuti rapat. "Memiliki saudara kembar yang luar biasa seperti Pak Aksara."


Aska pun mengangguk dan dia tersenyum ke arah sang Abang. Tanpa dia berbicara sorot matanya menunjukkan bahwa dia sangat bangga kepada abangnya itu. Tidak ada rasa iri di hatinya sama sekali karena dia tahu manusia diciptakan dengan kemampuan juga kekurangan.


.


Di setiap tempat kerja, pasti ada saja tukang gosip yang bagai cctv berjalan. Termasuk di perusahaan Wiguna Grup. Aska tergolong atasan yang santai. Tak pernah ambil pusing jika ada omongan atau berita yang memang tidak benar perihal dirinya. Beda halnya dengan Aksara. Sedikit saja ada kabar burung perihal dia dan keluarga kecilnya sudah dipastikan karyawan itu akan dipecat secara tidak hormat.


"Beneran itu?" tanya salah satu karyawan perempuan kepada Filia. Sekretaris itupun mengangguk.


"Bisa-bisanya ya tuh perempuan. Udah dapat suami tajir masih saja selingkuh." Mode bibir nyinyir sudah on.


"Padahal masih gantengan Pak Askara di mana-mana," timpal yang lain.


"Mungkin servis yang Pak Askara berikan kurang kali. Secara Pak Askara pulang malam terus. Pagi-pagi udah ada di kantor."


"Bener juga tuh," sahut yang lain.

__ADS_1


Gunjingan juga cemoohan mulai mereka lontarkan. Depan ruangan Askara sudah dipenuhi banyak wanita yang mengeluarkan kata-kata sadis.


"Anteu Upil!"


Seruan cadel terdengar. Semua wanita yang berada di depan ruangan Askara menoleh. Tatapan tajam dari seorang anak kecil membuat nyali semua wanita yang berada di sana menciut. Anak itupun sudah berkacak pinggang.


"Telja!"


Satu kata yang anak itu lontarkan mampu membuat beberapa wanita di sana tunggang langgang. Mereka tahu siapa anak itu. Kini, hanya menyisakan Filia dan juga anak itu di depan ruangan Askara.


Ibu dari anak itu hanya menontonnya saja. Tanpa mau melerai ataupun mencegahnya. Tubuh Filia semakin bergetar. Dia tahu wanita itu siapa.


"Halus belapa tali atu bilanin tih," omel anak itu.


"Danan dandu antel!" bentaknya.


Gavin Agha Wiguna anak yang datang ke kantor Wiguna Grup karena sang ayah sudah menjanjikan akan makan siang bersama anak itu juga sang ibu. Riana hanya tersenyum mengejek ke arah Filia. Riana tahu siapa Filia. Wanita matre yang ingin menggaet para petinggi di perusahaan Wiguna Grup. Aksa pernah menjadi salah satu incaran dari Filia. Namun, sikap ketus dan garang Aksa membuat Filia mundur dengan sendirinya.


"Untungnya kamu mempunyai kemampuan yang mempuni," sindir Riana. "Kalau kamu bodoh, sudah pasti kamu akan ditendang dari perusahaan ini," lanjutnya dengan penuh penekanan.


Suara pintu ruangan terbuka dan sudah ada Jingga yang tersenyum ke arah Filia.


"Anteu!"


Gavin menghampiri sang tante dan meminta digendong. Namun, sang ibu dengan tegas melarangnya.


"Anteu lagi hamil, gak boleh gendong Mas." Akhirnya anak itupun mengangguk.


Filia bagai orang yang terciduk sekarang. Apalagi Jingga sudah menatapnya dengan tajam. Dia sudah mengangkat ponselnya. Seringai pun terlihat jelas di wajah Jingga. Jarinya menekan benda pipih yang dia angkat. Mata Filia melebar ketika mendengar rekaman suara dirinya dan juga beberapa karyawan yang tadi ada di sana.


"Suara siapa itu, Sayang?"


Suara Barito terdengar dan terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah tiga perempuan dan juga sati bocah laki-laki di depan ruangan Askara.

__ADS_1


...****************...


Komen atuh ...


__ADS_2