
Herman pun segera mendatangi Tini ke kantor polisi untuk menceritakan soal rencana jahatnya itu.
Sementara Andi menemui Kasih yang sedang mengobrol dengan Lia
"Apa Aku boleh bicara berdua dengan Mu Kasih" Kasih juga Lia menatap Andi, Lia mengerti dan Ia pergi membiarkan Mereka berdua untuk berbicara dari hati ke hati.
Lia merasa tenang jika Kasih bisa menemukan Suaminya kembali, itu artinya sedikit mengurangi rasa cemburunya karena Mamah Alya tidak akan lagi perhatian berlebihan dengan Kasih, lalu Lia membuka ponselnya dan Ia mendapatkan pesan dari Bu Anita untuk datang ke Rumah Sakit menemani Asri yang sedang di rawat.
"Apa.. Asri di rawat, apa Chandra tahu soal ini" Lia pun bergegas pergi menemui Chandra
"Chandra.. Aku dapat pesan dari Tante Anita, Dia bilang Asri sedang di rawat, dan Aku di suruh menemani Asri siang ini, Kamu tahu soal ini..?"
"Iya Aku sudah tahu soal ini, Asri kondisinya sangat memprihatikan Lia, Dia terluka lagi di bagian lutut tangan dan sekujur tubuhnya" Lia terdiam tak mengerti dengan ucapan Chandra
"Tunggu.. ini kenapa sih.. kondisi memprihatikan, memang Asri kenapa..?" Lalu Chandra menceritakan semua yang terjadi semalam, Lia sungguh terkejut mendengar cerita tragis itu, Dia pun bersedih seakan tak percaya Asri hampir Mati dan di perkosa orang.
Lalu Juvi datang dan berbicara pada Chandra jika dirinya ingin pulang duluan untuk menemani Asri di Rumah Sakit.
"Kamu juga tahu soal ini Juv..?" tanya Lia terhadap Juvi, membuat Juvi bingung dengan maksud pertanyaan Lia
"Tahu... tahu apa..?"
"Kamu tahu kan soal Asri yang hampir mati di perkosa" Juvi menganggukkan kepalanya lalu menjawab,
"Iya.. Aku sudah tahu" Lia pun marah mengapa tak ada yang memberitahunya masalah sepenting ini.
"Bukan Kita gak ingin kasih tahu ke Lo, tapi kan Gue rasa ini bukan urusan pribadi Lo Lia, Kita juga gak ingin nanti Suami Lo salah paham" jawab Juvi dengan suara tegas.
Makmun pun datang menemui Lia untuk mengajaknya pulang
"Lia.. Kita pulang yuk .. acaranya sudah selesai, lagi pula Kasih sudah bertemu degan Suaminya, Kita kasih waktu Mereka untuk bicara" namun Lia menolak untu pulang, Dia menjelaskan mengenai keadaan Asri dan permintaan Tante Anita kepadanya.
Raut wajah Makmun terlihat kesal, Dia mengatakan,
"Asri sudah banyak yang menjaga, Kita gak perlu lagi repot untuk menemani Asri, Juvi ada, Sam juga ada kekasihnya yang bisa menemaninya, Kita pulang Lia, Kamu harus banyak istirahat Kamu juga harus pikirkan keadaan kehamilan Kamu" semua hanya menyimak ucapan Makmun, lalu Bu Alya ikut bicara.
"Lia.. kenapa sih Kamu selalu bantah ucapan Suami Kamu, Kamu harus pulang turuti perintah Suami" Juvi merasa ini sudah tidak beres, Juvi pun menasihati Lia
"Lia.. sudah.. lebih baik Kamu pulang, jangan bertengkar dengan Suami Kamu hanya karena memikirkan Asri, Asri biar Aku yang jaga, Aku janji...Aku akan beritahu Kamu setiap perkembangan Asri" Lia pun luluh dengan kata-kata Juvi.
__ADS_1
Sepertinya Juvi lebih memahami perasaan Lia di banding Makmun yang hanya ingin menang sendiri, tentu saja hal ini membuat Makmun semakin tidak suka dengan Juvi.
"Sebaiknya Kita pulang sekarang" Makmun berkata, lalu menarik tangan Lia dengan kasar.
Juvi merasa tak terima dengan perlakuan Makmun kepada Lia, Juvi ingin memperingati Makmun, namun dihalau oleh Chandra
"Juv.. Jagan, sudah biarkan, masalah itu bukan lagi urusan Kamu, kasihan Lia nnti malah di salah-salahkan terus oleh Ibu Mertuanya" Juvi pun mengerti dengan apa yang di maksud Chandra
"Chan.. Gue duluan ya, kasihan Asri sendirian dan Sam juga sendiri, Lo mau ikut Gue?" Chandra terdiam lalu memandang Rahma di sampingnya
"Kenapa...? Kamu mau kesana, ayo Kita kesana jenguk Asri" Chandra pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada Rahma, mau berbesar hati untuk menjenguk Asri, walau tahu Asri adalah mantan kekasih Chandra, namun Rahma tak mempersoalkan masalah itu.
Sepanjang di perjalanan Lia cemberut tak karuan, karena sikap Makmun tadi yang tak membolehkannya menemani Asri.
"Kamu kenapa.. marah dengan Aku" Lia tak menjawab Dia diam membisu, Bu Alya pun langsung mengultimatum Lia
"Lia.. Kamu itu harus jaga sikap dong sama Suami, Kamu harus nurut perintah Suami, Kamu gak bisa pergi keluar tanpa izin suami"
Lia sebenarnya emosi dengan perkataan Ibu mertuanya, yang sedari tadi hanya bisa menyalahkan dirinya saja, namun Ia masih tahan karena Lia berpikir masalah ini adalah masalahnya dengan Makmun, jadi Dia hanya diam tak menjawab ucapan siapapun, Makmun hanya menggelengkan kepalanya melihat Lia seperti ini.
Kasih dan Andi pun kini duduk di taman kantor, Andi menjelaskan mengapa Ia tak memberi kabar jika harus pulang ke Singapura bersama Orang Tuanya.
Sekarang Kasih mengerti mengapa waktu itu Dia berusaha mencari Andi tapi tidak ketemu juga, rupanya Andi sudah berada di Singapura.
"Andi.. Kamu tahu betapa rindunya hati Aku ingin bertemu Kamu, terkadang Aku berpikir Aku adalah seorang istri yang sangat malang, di malam pengantin yang seharusnya menjadi momen terindah, tapi Aku malah berduka, di tinggal suami entah kemana" Kasih pun menangis hingga terisak-isak membuat hati Andi menjadi terenyuh.
Andi pun langsung memeluk Kasih Dia meminta maaf untuk kesekian kalinya
"Aku minta maaf Kasih.. Aku mencintai Kamu, tidak pernah terlintas dalam pikiran Aku untuk meninggalkan Kamu" Kasih terdiam dan masih terisak-isak dengan suara tangisnya
"Lalu mengapa Kamu tidak berusaha untuk mencari Aku setelah Kamu berada di Jakarta"
"Aku tidak bisa Kasih.. Papah sudah menitipkan pesan pada om Herman jika Aku berusaha mencari Kam lagi, Aku akan di bawa lagi untuk tinggal di Singapura" Kasih pun melepaskan pelukannya Dia marah dengan alasan Andi
"Jadi karena hanya Kamu takut tinggal di Singapura, hal itu Kamu jadikan alasan, harusnya Kamu punya sikap Andi, harusnya Kamu bisa melawan semua itu, kalau memang Kamu cinta sama Aku"
"Tidak semudah itu Kasih.. demi Allah sampai saat ini Aku masih jaga kesucian pernikahan Kita" Kasih pun melemah Ia duduk perlahan lalu Kasih mengatakan suatu hal yang membuat Andi diam tak bisa menjawab
"Kalau Aku ingin kembali pada Mu lagi, dan Aku ingin Kita melanjutkan pernikahan ini lagi, apa Kamu bisa memperjuangkan Aku" tanya Kasih dengan wajah yang begitu penuh harapan terhadap Andi.
__ADS_1
Andi terdiam membisu tak mampu menjawab, rasa cinta untuk Kasih di hatinya masih ada, namun sebagian hatinya sudah teralihkan dengan hadirnya Asri, Andi masih ragu apakah bisa pernikahannya dulu di selamatkan kembali saat ini.
"Kenapa Kamu diam..Kamu gak bisa jawab..apa ada wanita lain di hati Kamu, hingga Kamu merasa tidak yakin dengan cinta Kamu terhadap Aku" Kasih seperti tahu saja jika hati Andi mulai berlabuh ke wanita lain.
"Aku... Akan pikirkan semua ini, Aku masih sangat mencintai Kamu, tapi Aku butuh waktu memberanikan diri seperti Sam yang berani mengambil keputusan untuk menggugat Tini" Kasih terkejut mendengar bahwa Sam dan Tini akan bercerai
"Sam.. Tini.. Mereka akan bercerai, tapi kenapa Andi..?" Andi menjawab ceritanya sangat panjang, Dia tak bisa menjelaskan detail tentang persoalan rumah tangga Tini, Andi hanya mengatakan jika Dirinya ingin fokus dengan persoalan pernikahan dirinya saja.
"Aku tunggu keputusan Kamu Andi.. jika Kamu siap ingin kembali dengan diri Ku, Aku akan membuka hati ku selebar-lebarnya untuk Kamu, tapi jika Kamu memutuskan untuk berpisah, Aku ingin Kita berpisah secara hukum" hanya itu permintaan Kasih saat ini kepada Andi.
Setelah itu Kasih pamit untuk pulang ke rumah Makmun, Andi pun menanyakan mengapa harus di rumah Makmun.
"Aku Asisten rumah tangga Mereka sekarang, jika Aku tidak bekerja bagaimana Aku bisa makan di kota Jakarta seluas ini" Andi terdiam mendengar kata-kata Kasih, Dia merasa sangat bersalah membuat Kasih kembali menjadi Asisten rumah tangga untuk kedua kalinya.
Padahal dulu Dia pernah berjanji akan mengangkat derajat keluarganya di kampung, namun cita-cita itu terhenti ketika Andi di berikan pilihan antara Istri atau Ibunya.
Kasih pun pergi meninggalkan Andi yang masih diam berdiri yang entah apa isi dalam pikirannya.
Tini pun bertemu dengan Pak Herman
"Papah...Tolong bebaskan Aku Pah, Aku gak ingin di penjara" Tini merengek minta di bebaskan oleh Pak Herman
"Papah tidak bisa membebaskan Kamu Tini, harus orang yang menuntut Kamu yang membebaskan Kamu"
"Apa Pah...berarti Sam yang harus membebaskan Aku.." Pak Herman menganggukkan kepalanya, Pak Herman pun mengatakan semua rencana yang sudah Ia siapkan untuk membebaskan Tini dari penjara.
"Begitu Pah.. ide Papah bagus.. tapi Aku ingin dua syarat di ajukan Pah untuk Sam"
"Apa... Kamu ingin syarat apa Tini"
"Aku ingin Sam mencabut gugatan cerainya terhadap Aku, dan Dia harus katakan pada Hakim kalau Dia ingin rujuk dengan Aku" Pak Herman tentu menolak karena artinya Sam akan kembali dalam kehidupan Tini.
Namun Tini memohon pada Papahnya supaya menuruti permintaannya
"Pah.. hanya itu yang Aku ingin, Aku ingin kembali menjalin rumah tangga dengan Sam, Papah sayang Aku bukan, kalau Aku tidak bersama Sam lagi, lebih baik tidak usah membebaskan Aku Pah" Tini kini mulai dengan dramanya, Dia sangat tahu Papahnya sangat mencintainya, Dia tidak mungkin membiarkan Anaknya menderita di dalam sel.
Lagi pula Pak Herman pasti akan menjaga nama baik Retro, jika kasus Tini sampai pada pengadilan, Namanya akan terbawa jelek di mata orang, begitu pun nama perusahaannya pasti akan terseret karena kasus Tini.
"Baiklah.. Papah akan menyetujui permintaan Kamu ini, sudah Tini Kamu jangan marah dengan Papah, Kamu Anak kesayangan Papah, Anak satu-satunya Papah, kalau Kamu mendekam di penjara Mamah mu pasti akan bersedih, mungkin bisa jadi Mamah Mu hilang kewarasannya" Tini pun tersenyum senang, Dia yakin rencana Papahnya pasti akan berhasil.
__ADS_1