
Senja masih terlalu lama untuk di ucapkan oleh mereka berempat yang berada di basecamp tepat nya saung di tengah tengah sawah di kampung tempat mereka lahir.
"Huh......" Dasar Sarwan.....! Pe,a masih saja bisa ketawa. Padahal gue nangis denger cerita loe. Tentang sulit nya hidup yang kau jalani bersama keluarga mu. Ehk loe malah ketawa. " Kata Mira menyeka air matanya yang jatuh dari mata bening. Sama halnya kedua mereka Kiara dan Irma menteskan air mata nya.
Kiara, Irma dan Mira. Akui hidupku sulit Hidupku susah banyak yang hina dan caci maki. Tapi Alhamdulillah Bahagia menjalani nya. Terkadang gue juga mau seperti orang kaya hidup dengan bergelimang harta mau itu, ini tinggal beli. Tetapi ya balik lagi Kediri ku sendiri.Gue yang jalani hidup gue yaa gue akan jalani seperti air yang mengalir tanpa arah dan tujuan. Tetapi air juga punya tujuannya yaitu mengalir kepada dataran yang begitu luas yaitu Air laut. Tujuan Gue hanya satu Kiara, Mira, dan Irma setiap kesulitan dalam diriku, Keluarga ku, dan sahabat sahabat ku serta orang orang terdekat ku, Selalu di berikan kemudahan. Simpel kan tujuanku." Tutur Awan kepada mereka bertiga. seketika mereka bertiga bergeming tanpa ada suara yang keluar dari bibir mereka bertiga.
"Hei................! Kok pada bengong sih Loe pada....! Pada dengerin Tidak sih cerita gue....! Gue dari tadi capek capek nyerocos. Kalian bertiga pada bengong kaya induk ayam kehilangan makanan." Kekeh Awan dengan nada tinggi seraya cekikikan.
"Sableng Sia gelo.....! Sarwan. Gue terharu sama arah bicaramu sampai air mata ini menetes Kembali." Lirih Mira. Dan di timpali oleh mereka berdua.....!
"Iya Sarwan...." Gue salut sama sahabatku ini....! Timpal Kiara dan diangguki oleh Irma.
"Awan untuk pendaptaran uang masuk ke sekolah SMA apakah kau sudah ada." Tanya Mira.
"Loe nanya begitu. Gue tahu maksud dan tujuan mu Mira dan kalian berdua." Jawab Awan.
"Alhamdulillah" Uang pendaftaran sekolah sampai alat alat sekolah lainnya sudah di persiapkan oleh Pak Lukman. Karna sesuai dengan janji dari Pak Lukman beberapa waktu yang lalu dan sama hal nya waktu masuk sekolah SMP semua sudah di persiapkan oleh Pak Lukman. Aku hanya tinggal sekolah saja. Kata Awan.
"Alhamdulillah" Jawab mereka bersamaan.
"Apakah nyokap loe sudah mengetahui tentang uang pendaftaran di bayar oleh Pak Lukman. Bukan kau sendiri yang bilang bahwa nyokap loe tidak setuju kalau ada yang mau membantu keluarga mu dari segi apa pun." Kata Irma yang mulai berbicara karna dari tadi hanya menjadi pendengar saja.
"Itulah.....! Yang selama ini menjadi beban gue." Lirih Awan tertunduk lesu.....!
"Awan sebaiknya loe terus terang saja semua nya tentang masalah ini." Saran Irma.
__ADS_1
"Iya.......! Irma. Tapi tidak sekarang aku belum siap." Kata Awan.
*
*
*
Satu mobil Honda jazz melaju dengan kecepatan sedang menuju jalan kecil di salah satu kecamatan pinggir kota Cianjur.
Tidak lama kemudian Mobil tersebut memasuki salah satu jalan desa menuju kampung dimana Bu Siti Romlah tinggal. Tidak lama berselang mobil tersebut pun berhenti tepat di depan Masjid Jami yang cukup besar.
Setelah Mobil itu pun berhenti keluar lah dari pintu mobil itu sepasang kekasih memakai pakaian seragam sekolah. Mereka berdua lalu melangkah kan kaki nya menuju rumah Bu Romlah.
"Eh.......! Nak Hamdan sama Nak Tia silahkan masuk.! Ajak Bu Lisnawati.
"Terima Kasih.. Bu Lisnawati seraya mencium tangan oleh mereka berdua secara bergiliran.
"Dena......! Ambilkan minum buat tamu berdua.'' Teriak Lisnawati kepada menantunya.
"Iya......! Bunda....! Balas Dena.
"Tidak lama kemudian Dena pun datang dengan membawa dua gelas air putih untuk di sediakan kepada dua tamu yang ia tahu anak majikannya yang pernah ia bersitegang bersama ayah dari lelaki itu.
"Nak.....! Hamdan dan Tia silahkan di minum mohon maap hanya air putih saja. " Kata Lisnawati.
__ADS_1
"Terima Kasih Bu...! Balas mereka berdua seraya meneguk air minum yang di suguhkan itu.
"Ada Keperluan apa Nak Hamdan sehingga jauh jauh datang kesini? Tanya Lisnawati dengan berhati hati kepada anak mantan majikannya itu.
"Mohon Maap Bu sebelum nya kedatangan kami berdua mengganggu waktu Ibu dan keluarga yang berada di sini? Kata Hamdan.
"Disaat mereka sedang mengobrol dari arah datang Nenek Romlah bersama kang Ujang ikut nimbrung untuk mengobrol bersama tamu tersebut karna sebelum nya sudah mengetahui inti permasalahan sebulan lalu dari istrinya kang Ujang.
"Ahk.....! Nak Hamdan tidak usah sungkan begitu." Balas Lisnawati dengan senyuman manis.
"Begini Bu Lisnawati kedatangan saya bersama Tia kesini hanya ingin menyampaikan amanat dari ibu saya. Dan sebelum nya saya terlebih dahulu ke rumah Bu Lisnawati yang ada di kampung itu. Akan tetapi rumah lagi di kunci lalu bertemu sama Awan dan memberitahu kan semua nya kepada Awan. Setelah meminta penjelasan kepada Awan dan menyuruh untuk menemui langsung kepada Bu Lisnawati. Kami berdua pun tidak di lama lagi langsung meluncur menuju rumah Bu Romlah." Kata Hamdan menjelaskan kepada mereka yang ada di rumah Nenek nya Awan.
"Emang Amanat apa yang di berikan oleh Nak Hamdan kepada Lisnawati Anakku? Tanya Bu Romlah yang ikut menanyakan karna rasa penasaran nya.
"Hamdan sejenak menarik napas dalam dalam lalu dia menghentakkan nya dengan keras sebelum mengutarakan maksud tujuan nya itu.
"Nenek' Romlah dan Bu Lisnawati serta yang ada di ruangan ini sebelumnya saya pribadi meminta maap bila ada tutur kata yang salah dalam penyampaian. Maksud tujuan kami berdua adalah. Hamdan pun menjelaskan semua nya dari tragedi malam itu sampai ucapan yang di katakan oleh Muhammad Awan Pratama sampai permintaan maap dari ayahnya menyuruh bunda untuk segera menyampaikan kepada Bu Lisnawati lalu menyerahkan uang yang di kasih Awan untuk mengganti rugi Gucci yang tidak sengaja tertabrak oleh anaknya Bu Lisnawati.
"Hamdan menjelaskan semuanya kepada Bu Lisnawati dengan genangan air mata dan tertunduk untuk meminta maap atas ulah ayahnya yang telah menghina dan mencaci maki. kepada wanita yang sudah Hamdan anggap ibu kedua oleh dirinya.
"Bu Lisnawati bergeming mata nya sayu meneteskan air mata nya seketika tapi bibir terkunci mencerna ucapan yang dilontarkan oleh anak majikan itu.
"Nak Hamdan.....! Sudah jauh jauh hari ibu memaapkan ayahmu dan dalam hati ini tidak ada rasa dendam atau pun benci kepada Pak Indra Lesmana ayahmu. Untuk uang itu bawa lah kembali. Karna keluarga Nak Hamdan lebih membutuhkan apalagi ayahmu saat ini sedang di rawat di rumah sakit.! Lirih Bu Lisnawati seraya memeluk ibu kandungnya.
Bersambung.
__ADS_1