
Sore pukul 16:00 sebelum malam tiba, sebelum para preman anak buah Kang Dayat yang memburu ke-tiga sahabat nya dan rencana yang di jalankan oleh Awan dengan mengumpankan anak dari pasangan suami istri Tedi Ferdiansyah dan Agista Ferdiansyah, agar di buru oleh para anak buah yang di siapkan oleh Firmansyah
Tepat nya di jalan pintas menuju taman wisata Citamiang satu kilo meter akan sampai ke lokasi tujuan, tiba tiba suara ponsel berdering di ponsel pemuda yang sedang memegang setir mobil mewah tersebut.
"Kriiiiing............... " Kriiiiing........... " Kriiiiing..........!
"Halo...... Nona Muda........!
"Halo juga Tuan Muda Awan. Semua sudah bergerak membawa para pasukan terkuat nya memburu Nona Muda Friska menuju sebuah restoran di kawasan Cipanas Cianjur.
"Bagus........ Terima Kasih informasinya.. Apakah permintaan yang di minta oleh ku sudah di jalankan oleh anda Nona Muda Tiara.?" Tanya lelaki yang di panggil Tuan Muda Awan.
"Menjawab anda Tuan Muda... Satu dari target rayuan ku sudah masuk dalam lingkaran asmara ku... Dan perlu anda tahu sore hari ini saya bersama Safir sang Asisten kepercayaan dari Tuan Muda Rojak mengajak ku ke kota Cianjur dengan alasan untuk menyaksikan kematian anda Tuan Muda Awan." Terang Tiara di sebrang telepon.
"Hehehehehe..... Saya harap Tuan Safir berteman dengan malaikat pencabut nyawa... Jadi apakah anda menyetujui permintaan dari Safir pergi ke kota kecil.?" Tanya Awan sambil terkekeh.
"Yaa..... Saya menyetujui nya. Agar dia semakin percaya kepadaku." Jawab Tiara.
"Baiklah..... Nona Tiara... Kalau begitu kita bertemu di kota kecil ku... Saya Muhammad Awan Pratama, mempercayakan kepada diri anda Nona Muda." Kata Awan simpel tapi menekan sampai ke ulu hati.
"Siap anda Tuan Muda tak usah cemas dan khawatir.. Aku orang yang setia dan tak akan mengkhianati kepercayaan dari orang lain." Jawab Tiara.
"Terima Kasih Banyak Nona Muda Tiara.. Kalau begitu saya akhiri panggilan telepon ini.. Silahkan anda sibuk di sana." Ucap Awan..
"Ok.. Tuan Muda.!
Panggilan pun berakhir Awan langsung menyimpan ponselnya, pandangan nya pokus ke depan hanya beberapa menit saja sampai ke rumah tujuannya. Di samping nya, gadis cantik berusia lima belas tahun lebih tertidur pulas dengan rambut terurai..
Sesampainya di salah satu rumah yang menghadap ke jalan desa mobil mewah yang di bawa oleh seorang pemuda itu pun lalu membelokkan kemudi nya dan berhenti tepat di depan warung.
"Pok.... Pok..... Pok....... Bil bangun.... Bil.... Kita udah sampai di rumah Abah.." Ucap Awan seraya menepuk nepuk pipi mulus gadis bernama Nabil itu.
__ADS_1
"Hoam............... Gadis itu menguap seraya meregangkan kedua tangannya.. Awan pun langsung keluar dari mobilnya dan berjalan kearah dua wanita yang sedang duduk menikmati ke indahan di sore itu.
"Umi Lilis...... Ibu Sri....." Sapa Awan.!
"Anakku.... Sama siapa... Abah sudah nunggu kamu.." Jawab Istri dari Aden Haruman.
"Tuh.... Umi.... Kesayangan ku baru turun dari mobil sambil menenteng plastik. Tunjuk Awan setelah mencium tangan Umi Lilis dan pedagang warung itu.
Nabil... Yang di tunjuk oleh Awan dan terdengar kata kata dari pemuda itu, sebuah kata yang meluluhkan hatinya, membuat muka nya memerah..!
Umi Lilis dan Bu Sri hanya tersenyum kearah gadis yang di tunjuk oleh anak angkatnya dan Nabil pun langsung mencium tangan nya setelah sampai di hadapan dua wanita yang berselisih beberapa tahun saja.
"Anakku....... Nabil Nur Fadillah... " Ucap istri dari Aden Haruman..
"Umi ini oleh oleh dari Jakarta... Sekalian membawa kopi dan beberapa rokok kesukaan Abah.." Kata Nabil menyodorkan plastik yang di tenteng oleh nya.
"Makasih anakku.. Ayo kita ke rumah. Abah dah nunggu kalian berdua." Ajak Umi Lilis.
Tak lama kemudian, setelah tiba di rumahnya Abah Aden Haruman dan sedikit basa basi sesaat.. Awan pun langsung berkata pada intinya datang terlebih dahulu kesini sebelum malam ini akan terjadi sesuatu yang sangat besar.
"Abah mungkin, Awan tidak perlu membicarakan apa yang akan terjadi malam ini, karna Abah lebih tahu dari Awan... Tetapi datang dan maksud tujuan Awan singgah dulu ke sini hanya meminta janji yang di ucapkan oleh para Karuhun waktu Awan terpental ke alam ghaib dan duduk bersila bersama para orang sakti di Gunung Jabal Musa.." Terang Awan menjelaskan.
"Iya.... Aden Haruman hanya berkata singkat.! Lalu menyodorkan satu gelas berisi air putih..
"Anak Jin Kuya... Minumlah... Ingat ketika posisi mendesak dan ke jepit baca amalan pemanggil Sukma.. Dan kamu jangan cemas dan takut.. Semua punggawa Eyang Prabu akan mendampingi semua permasalahan yang akan kau hadapi malam ini dan ke depannya." Kata Aden Haruman dengan tatapan mata yang menyala nyala.
"Terima Kasih banyak Abah.... Kalau begitu Awan akan berangkat sekarang." Pinta Awan meminta ijin.
"Sok gera mangkat.." Aden Haruman pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar bersama Muhammad Awan Pratama..
"Anak Jin Kuya..... Untuk urusan keluarga mu dan Ibu nya Nabil Nur Fadillah... Kau jangan cemas mereka semua aman tak ada yang akan menyentuh nya, dari luar lahiriah maupun batiniah... Dan nanti pukul sepuluh malam para anggota Macan Tutul pun akan datang dan membantu mu.." Kata Aden Haruman di sela obrolan berjalan.
__ADS_1
"Siap Abah....... Awan semakin yakin malam ini bisa membereskan masalah yang memburu ke-tiga sahabat ku dan anak dari Tuan Besar Tedi Ferdiansyah.." Jawab nya..
"Kak.... Awan..... Abah.... Sudah selesai kah ngobrol nya.?" Tanya Nabil yang duduk di kursi..
"Udah dong sayang.." Jawab Awan dengan senyuman manis.
"Pletakk.....................!!
"Wadaw..................." Abah ompong sakit ey......." Ringis Awan..
"Sayang Sayang......... Bereskan dulu tugas mu... Baru kau bisa sayang sayangan.." Sewot Aden Haruman..
"Hehehehehe...." Rasain..... Puas.." Timpal Nabil jempol tangan nya Ia arahkan kepada Aden Haruman.
"Tega kamu sayang bekerjasama dengan Abah menindas aku yang lemah dan tak berdaya ini.." Lirih Awan dengan exfresi di buatnya.
"Ahk........ Bulysit Abah..... Kak Awan.... Hati Nabil di permainkan melulu.." Sergah Nabil memasang wajah jutek...
"Hmmmmmmmmmm... Awan... Anak Jin Kuya... Mau Abah hukum.." Ancam Aden Haruman..
"Bohong..... Abah..... Nabil berbohong...... Siapa yang mempermainkan hati nya.." Kilah Awan.. Mata nya memandang dengan mata yang memelas kearah Nabil.
Yang di pandang hanya cekikikan saja, begitu juga dengan gurunya pemuda itu.....!
"Anakku Muhammad Awan Pratama... Ingatlah jangan membuat hati manusia itu sakit.. Karna obat nya sangat susah..... Pepatah Orang Tua jaman dahulu pernah berkata begini.
"Sajero Jero na laut masih bisa di teleman.. Tetapi Hate manusia anu sakitu deet na hese di teleman.
( Sedalam dalamnya lautan masih bisa di Selami.. Tetapi Hati manusia walaupun dangkal susah untuk di Selami. )
"Ingat....... Kalau kamu suka dengan hati yang tulus.. Ucapkan... Tapi bila kau tidak menyukai dan hanya sebatas menganggap nya adik yang patut di lindungi.. Mungkin lebih baik berterus-terang dari sekarang." Pesan Aden Haruman berbisik pelan.. Awan pun mengangguk.
__ADS_1
Bersambung.