Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Kiriman Guna Guna Kepada Ibu Dan Anak


__ADS_3

Teriakkan seorang wanita di ruangan kedap suara milik pasangan suami istri setengah tua yang sedang mengarungi ombak kenikmatan di malam hari yang begitu sunyi terdengar jelas di telinga suaminya Engkos Kosasih.


"Ayo........ Sayang........ Putar terus terus terus.........!! Ucapan dari suaminya nya menambah putaran pinggul istrinya tersebut agar melaju dengan sangat lincah.....


"Pok......... "Pok......... Pok......... Suara perpaduan antara dua benda yang sedang bergesekan di antara mereka berdua.


Satu jam lama nya mereka mengarungi samudra kenikmatan di malam itu belum ada tanda tanda suami nya memuntahkan lava panas nya itu menuju Goa sigotaka yang tertimbun rumput rumput hitam yang sangat memekat.


Di saat Engkos Kosasih mulai membanting kan tubuh Titin hingga terlentang. Otak yang sudah mencapai puncak ubun ubun dengan satu sentakan dan dorongan yang sangat kuat, hingga Engkos Kosasih berteriak sangat kencang................!


''Ahhhhhhhhhhhhhhh....... Titin Kharisma kau sungguh sangat buas. Aku mencintaimu sayaaaaaaaaang." Teriak Engkos menggelegar dan ambruk di badan wanita berusia 40 tahun itu dengan keringat yang menempel di seluruh tubuh mereka berdua.


Setelah beristirahat cukup lama mereka berdua langsung menuju kamar mandi guna membersihkan seluruh badannya.


"Sayang malam ini aku akan keluar untuk menaburkan tanah di depan rumah Nenek peyot itu dan rumah Anaknya yang ada di kampung Situhiang." Kata Engkos setelah keluar dari kamar mandi.


"Kamu hati hati jangan sampai ketahuan orang lain, bisa bisa kita celaka." Pesan Titin Kharisma.


"Siap sayang kamu tenang saja.! Tidak usah khawatir. Aku sudah beberapa kali melakukan ini." Kata Engkos jumawa.


"Iya.......... Sayang aku percaya dengan kemampuan mu. Apalagi kemampuan mu di atas ranjang." Goda istrinya.


"Hmmmmmm." Kamu genit deh....... Nanti setelah aku beres melaksanakan ini kita main lagi yu." Ajak suami nya Engkos Kosasih.

__ADS_1


"Ok." Siapa takut.............. Tantang Istri nya seraya mengelus ngelus tongkat milik suaminya.


"Sudah ahk sayang....... Nanti di lanjut nya. Aku mau langsung pergi menuju rumah Nenek peyot itu." Tolak Engkos yang terus di gerayangi oleh istri nya, lalu pergi melangkah keluar dari rumahnya.


Selangkah demi selangkah Engkos Kosasih berjalan perlahan menuju rumah Siti Romlah dan kebetulan malam itu suasana di kampung Situ Babakan tidak ada yang berjaga ronda sehingga situasi sangat mendukung untuk menaburkan tanah di sekeliling dan setiap sudut rumah Bu Siti Romlah.


Tapi tiba tiba seorang lelaki berbaju putih menegur Engkos yang sedang menaburkan tanahnya di sudut rumah Siti Romlah.


"Pak Engkos lagi ngapain malam malam begini di sudut rumah Bu Siti Romlah.?" Tegur suara lelaki memakai baju putih ikat kepala putih dan jenggot yang sangat panjang.


"Oalahhh...... Pak anda mengagetkan ku saja.! Seru Engkos dengan memegangi dada yang berdegup kencang dan kening berkerut.


"Bapak siapa ya? Perasaan selama 15 tahun saya tinggal di sini tidak pernah melihat anda.?" Tanya Engkos kepada lelaki yang menegurnya karna dia bukan orang kampung Situ Babakan.


Lelaki berjubah putih hanya tersenyum ketika Engkos Kosasih bertanya tentang dirinya, tak lama lalu dia menjawab seraya memperkenalkan dirinya.!!


"Tapi saya tidak pernah melihat anda, kalau benar Pak Sidiq orang Situ Babakan, di sebelah manakah rumah anda.?" Tanya Engkos yang semakin penasaran.


Lelaki yang memperkenalkan diri nya dengan nama Sidiq Purnama tidak menjawab pertanyaan dari Engkos Kosasih, dia hanya memberikan pesan dan nasehatnya kepada Pak Engkos agar niat jahatnya di urungkan.


"Pak Engkos sebaiknya urungkan niat jahat kepada Bu Romlah dan Lisnawati. Bila anda ingin selamat serta cepat cepat lah bertobat, sebelum raga dan roh yang ada di badan mu terpisah." Pesan Sidiq Purnama. Membuat Engkos Kosasih terkejut mengetahui niat jahat dirinya.


"Pak Sidiq anda tidak usah ikut campur urusan orang lainnya. Aku tidak takut dengan yang barusan anda katakan." Kata Engkos dengan Angkuh.

__ADS_1


"Pak Engkos saya hanya mengingat kan saja.! Orang lain yang pernah kau celaka kan melalui jalan Ghaib tidak membalas atau pun tidak mengetahui perbuatan mu sehingga kau bersama Istri mu semena mena melakukan kejahatan berulang ulang kali melalui bantuan dukun sesat sehingga kau mempunyai perjanjian dengan iblis. Tapi kau telah mengusik Cucu ku Romlah dan Cicit saya Lisnawati. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menuntas kau bersama dukun itu sampai ke akar akar nya hingga kau akan menyesali perbuatan mu." Ucap Lelaki berbaju putih tersebut, langsung menghilang di hadapan Engkos Kosasih.


"Hahahaha." Hahahaha." Jadi kau hanya hantu yang menunggu rumah Nenek peyot ini. Dasar hantu tak punya otak dan tak punya tatakrama serta tidak ada sopan santunnya. Datang tak di undang pulang tidak berpamitan." Ucap Engkos meledek lelaki yang telah menghilang dari pandangan nya.


Setelah menghilang nya lelaki yang tadi menceramahi orang yang mau berbuat jahat kepada Siti Romlah dan Lisnawati secara mengirim guna guna atas bantuan dukun sakti itu. Engkos Kosasih pun lalu berjalan kearah selatan meninggalkan rumah Siti Romlah menuju rumah Lisnawati dengan melewati jalan setapak.


Tidak lama kemudian hanya menempuh perjalanan kaki kurang lebih 15 menit lelaki berusia 40 tahun itu sudah sampai di kampung Situhiang tempat Muhammad Awan Pratama di lahirkan, lalu dia berjalan kearah rumah Lisnawati sesekali celingukan ke kanan dan ke kiri takut ada seseorang yang melihat perbuatan nya itu.


Mengetahui situasi yang cukup aman dan terlihat sepi di dekat rumah Lisnawati. Engkos dengan terburu buru ia menaburkan tanah yang sudah di baca mantra mantra oleh gurunya untuk mengirimkan guna guna kepada seisi pemilik rumah Lisnawati.


"Akhirnya selesai juga tinggal pulang dan langsung membaca mantra lalu mereka berdua serta anak anak nya akan terkena penyakit yang tidak bisa di sembuhkan oleh dokter hebat sekali pun. Hahahahaha.


****************************


Malam semakin larut di Bumi Pertiwi tepat di salah satu kota Besar Jakarta, seorang wanita berusia 30 tahun sedang melamun sendiri dalam keadaan perut yang membusung tanda dia sedang hamil Tua.


Erna janda almarhum Andri Setiawan kini sedang merasakan hari hari nya Tampa seorang suami, bagaimana ia kedepan nya membesarkan dua orang anaknya yang masih kecil dan satu yang belum lahir ke alam Dunya.


Apakah perusahaan Future Nugraha Company akan menerima ku bila aku bekerja di perusahaan milik Tuan Tedi Ferdiansyah yang sampai saat ini masih misterius keberadaan nya.


"Aku harus coba berbicara dengan Tuan Muda Excel mudah mudahan dia mau membantu ku dan menerima diriku bekerja di perusahaan milik nya." Ucap Erna dalam hatinya.


Wanita itu langsung mengambil ponselnya dan memencet tombol panggilan telepon, nada dering pun terdengar sangat jelas di telinga wanita berusia 30 tahun itu.

__ADS_1


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.


Bersambung.


__ADS_2