
Assalamualaikum. Abah Awan datang berkunjung." Ucap nya ketika pemuda itu berdiri di depan pintu masuk pasangan suami istri itu.
"Wasallam Salam. Anak Jin Kuya. Masuk titah lelaki paruh baya dari dalam.
"Terima Kasih Abah ompong." Jawab nya tersenyum cekikikan, lalu melangkah kan kaki nya menuju ruangan tamu dan duduk di kursi yang telah tersedia.
Tak lama kemudian muncul sepasang suami istri paruh baya menghampirinya pemuda yang sedang duduk di kursi tersebut dengan salah satu dari mereka berdua tersenyum manis kearah nya.
"Hei. Jin Kuya ngapain kau senyam senyum ke Abah. Ihk galila." Ucap nya bergidik ngeri.
"Huhk, Dasar aki aki peot, siapa yang tersenyum kepada Abah. Awan tuh tersenyum kepada Umi Lilis istri Abah. Dasar aki aki Ompong ke ge'eran." Timpal Pemuda itu lalu bangkit untuk mencium telapak tangan pasangan suami istri paruh baya tersebut.
Setelah selesai mencium tangan Abah Aden Haruman, seraya di balas ciuman pada ubun ubun kepala pemuda itu oleh lelaki paruh baya dengan membacakan beberapa doa agar selalu dilindungi dalam perjalanan nya itu.
"Terima Kasih Abah." Lirih pemuda itu. Lalu mencium tangan Umi Lilis wanita yang ada di samping Abah Aden Haruman.
"Umi. Lilis Sehat.!! Ucap pemuda itu.
"Alhamdulillah. Nak Awan. Umi mah biasa we di sehat sehatkan saja." Jawab Nya seraya mengelus rambut Awan.
"Nak Awan. Mau kopi? Tanya wanita paruh baya itu.
"Boleh Umi biasa. Luwak white kopi." Jawab pemuda itu, Umi Lilis mengangguk dan beranjak pergi ke dapur.
Kepergian Umi Lilis ke dapur untuk membuat kopi yang di suguhkan kepada anak angkatnya. Pemuda itu tersenyum kearah lelaki paruh baya, hingga Aden Haruman geleng geleng kepala nya.
"Abah tau, Kamu datang kesini pasti mau curhat. Iya kan?" Tebak Aden Haruman.
__ADS_1
"Hehehehe. Abah tahu aja. Pusing atuh masalah dimana mana. Belum beres satu timbul satu lagi, sekarang yang bikin Awan stres adalah ketiga sahabat menjadi target nya tetangga yang tak suka sama keluargaku." Kata Awan mengeluh dengan semua permasalahan yang sedang di hadapi nya.
"Kamu cukup cerdas Awan. Orang lain hanya melihat mu dari sisi lahiriah nya saja, terlihat kamu tegar dan mampu menghadapi semua permasalahan yang akan menimpa orang orang terdekat mu. Tapi hati dan mata batin Abah tidak bisa di bohongi kamu terlihat rapuh, dan malah retak hatimu, ketika semua permasalahan di hadapi oleh mu sendiri.
Kenapa hari itu Abah menyuruh mu pergi ke Pondok Pesantren Darul Hikmah, meminta bantuan dan pertolongan dari adik seperguruan ku yaitu Kiayi Mangku Bumi.
"Awan menggeleng kan kepala nya. Tidak tahu Abah.!!
"Karna yang di hadapi oleh mu saat ini. Bukan manusia tapi manusia yang telah bersekutu dengan iblis, menghalalkan segala cara agar niat dan tujuannya tercapai.
Dia manusia yang telah berani membunuh gurunya dan memperkosa anak guru nya, apakah pantas di sebut dengan kata manusia.
"Tidak Abah.!!
"Dia itu manusia berwujud iblis. Harus musnah di muka bumi ini." Kata Aden Haruman dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Untuk Urusan masalah ketiga sahabat mu dan seorang keluarga yang berniat jahat kepada mu. Kau tak usah ikut campur dalam menyelesaikan nya. Biarkan itu menjadi tugas nya murid murid dari Kiayi Mangku Bumi. Kamu pokuslah terhadap permasalahan yang akan di hadapi oleh dua wanita anak dan ibu itu." Kata lelaki paruh baya memberi arahan dan saran serta masukannya.
"Abah walaupun di suruh tidak ikut campur dalam urusan Engkos Kosasih, tapi tetap berkaitan satu sama lain. Sementara dari anak buah para preman Engkos Kosasih menargetkan diriku." Protes pemuda itu tidak di ikut sertakan dalam menyelesaikan permasalahan ketiga sahabatnya.
"Huh. Anak Jin Kuya bisa nya membantah dan protes setiap ucapan ku." Kesal Aden Haruman. Awan terkekeh mendengar nya.
Awan. Bukan kah anaknya si Wongso dan anak si Juned sudah bergabung dengan mu. Mereka berdua di tugaskan untuk menjaga serta melindungi keamanan dirimu. Biarkan mereka berdua dan murid murid dari Mama Sepuh yang menyelesaikan nya.
"Iya. Abah. Malahan akang Tarmin sudah bergabung dengan Sutisna dan akang akang murid dari Mama Sepuh. Sementara Teteh Siti Lara di suruh sembunyi terlebih dahulu.
"Mantap.", Ucap Aden Haruman tersenyum jari jempol nya ia arahkan ke pemuda di hadapannya.
__ADS_1
"Mantap dari mana nya. Yang ada kepala ini pusing." Jawab Awan garuk garuk kepala nya.
"Hahahahaha. Anak Jin Kuya stres juga." Ledek Abah Aden Haruman. Kopi pun datang di suguhkan oleh Umi Lilis.
"Nak Awan ini kopi nya. Abah udah jangan di kerjain mulu. Kasian Nak Awan sedang banyak masalah sebaiknya langsung di bantu." Bela Umi Lilis melihat pemuda itu dalam keadaan prustasi.!
"Hehehehe. Biarkan saja istriku. Biar dia berpikir dan merasakan segala sesuatu yang ada dalam perjalanan hidup dirinya tidak mudah membalikkan telapak tangan.
"Umi. Tuh Abah.! Tidak mau menolong kesusahan dan kesulitan Awan." Rengek Pemuda itu kepada istri Aden Haruman.
"Umi tersenyum. Sementara Aden Haruman berdelik kearah Istrinya. "Huh dasar tukang ngadu anak Jin Kuya.
"Sudah........ Sudah....... Sudah........ Tak usah meminta pembelaan dari istriku. Anak Jin Kuya. Nanti kamu pulang ke rumah mu yang ada di kampung Situhiang. Lalu mandi dan campurkan Air dari sini yang sudah Abah masukan minyak malaikat subuh dan minyak kasturi yang khusus untuk menjaga mu dari segala marabahaya.
Untuk urusan orang orang dari negara Mesir yang akan membahas sesuatu untuk menargetkan dirimu bersama kedua wanita yang sedang kamu jaga. Itu menjadi urusan Abah." Kata Lelaki paruh baya pasrah ketika pemuda itu mengadu kepada istrinya.
"Siap Abah Terima kasih. Bocoran kalau Awan boleh tahu. Cara nya." Hahahaha. Tawa lepas pemuda itu.
"Nanti dalam pertemuan Akbar para petinggi perusahaan Duo Holding Company Group, Abah akan menyuruh Eyang Atas Angin dan Dewi Lanjar. Untuk mengotak atik pikiran dan otaknya untuk tidak memburu kamu dan kedua wanita yang sedang kamu jaga. Biar mereka menargetkan Tedi Ferdiansyah dan keluarganya, agar kamu bisa menyusun rencana untuk melawannya." Kata Lelaki paruh baya turunan dari penguasa Gunung Haruman.
"Hehehehe. Abah memang sakti." Puji Awan.
"Anakku. Muhammad Awan Pratama. Kamu tahu sendiri kan yang susah nya itu, memasukan Aura Airod dalam mengotak atik pikiran manusia, agar orang itu sesaat mau mengikuti arahan dan pikiran seseorang yang meminta pertolongan kepada Abah.
"Iya. Abah. Awan tahu. Pokok nya. Atur aja sama Abah yang penting beres dan untuk sesaat tidak menargetkan Awan beserta Nabil dan Azzahra." Pinta pemuda itu.
"Huh. Dasar. Anak Jin Kuya. Pengennya instan, tanpa mau berusaha sendiri." Keluh Lelaki paruh baya itu. Lalu menyeruput kopi yang sedari tadi di biarkan karna pokus pada obrolan di waktu itu.
__ADS_1
Bersambung.