
"Orang baik akan selalu di berkati oleh Tuhan." Kata Bu Dewi berbisik kepada Suaminya.
"Aku bahagia bersama dengan mu malam ini, namun sepertinya kebahagiaan itu milik adik angkat ku Muhammad Awan Pratama dan Nabil Nur Fadillah." Kata Excel sambil menggenggam erat tangan Amel.
"Wajar dia mendapatkan kebahagiaan ini. Kami bertiga adalah saksi hidup segala penderitaan dan perjuangan yang selama ini dia rasakan.." Kata Mira menahan perasaan haru.
"Orang yang tidak pernah melupakan sahabatnya ketika susah maupun senang hanya sekali aku temukan seumur hidup ku. Dia adalah sahabat ku Muhammad Awan Pratama, malam ini aku sangat bahagia, untuk kebahagiaan nya." Kata Irma.
"Aku sempat termakan oleh para warga di kampung ku dan kampung lain nya tentang sebuah pitnah tentang sahabat ku yang kini sedang bahagia, tetapi dia sama sekali tidak menaruh dendam kepadaku malahan membuktikan dengan tindakan nya bahwa itu hanya sebuah pitnah yang tidak suka terhadap dirinya.." Kini Kiara yang berkata tentang pemuda yang sedang memeluk Nabil Nur Fadillah.
"Orang yang bisa mengesampingkan masalah pribadi dengan masalah yang lainnya adalah Awan ini. Aku mengatakan bahwa dia memiliki dua hati yang besar. Aku adalah anak dari orang yang akan membunuh diri nya dan keluarganya. Namun dia memperlakukan aku seperti saudara kandung dan membantu menolong kesulitan yang sekarang ku alami. Walaupun yang menolong ku adalah Bu Guru Dewi, tetapi setahu ku... Bu Guru Dewi bekerja di kantor perusahaan PT Anugrah Awan Sentosa yang tak lain pemilik nya adalah Muhammad Awan Pratama." Kata Lisa.
Tak ketinggalan Siti Lara dan Friska pun ikut berbicara." Aku anak dari seorang dukun yang sangat di benci oleh masyarakat dan hidupku telah hancur oleh para bajingan bajingan yang sekarang sudah masuk kedalam jeruji besi atas bantuan dari Tuan Muda Awan... Keluarga di kucilkan dan tidak ada yang mau berteman dengan ku.. Tetapi dia tidak takut dan merasa terhina, menjemput ku bersama ibu dan anakku untuk tinggal di kota dan mengangkat derajat keluarga seorang dukun sesat.. Dia adalah Muhammad Awan Pratama." Kata Lara memuji majikan nya.
"Begitulah orang baik. Akan selalu ada doa doa dari orang orang yang telah menerima kebaikan dari orang tersebut. Jika salah satu doa itu terangkat dan di kabulkan oleh tuhan yang maha kuasa, maka sudah pasti kehidupan nya akan merasa terberkati dan ketenangan hati selalu menyelimuti Muhammad Awan Pratama." Kata Friska.
####
"Hahahahaha.................... Dasar bocah sinting... Gebleg.... Gila..... Tak waras........ Situasi lagi genting ehk bisa bisa nya dia mengatakan rasa cinta dan suka di depan banyak orang kepada Nabil Nur Fadillah." Kata sosok lelaki paruh baya yang sudah merogoh Sukma nya dan kini berkumpul di salah satu area luas seperti lapangan hijau di alam Ghaib.
__ADS_1
"Hehehehe.... Itu Cucu mu.... Murid mu........ Kebanggaan mu...... Tak jauh berbeda dengan sipat dan karakter waktu muda mu.." Jawab lelaki yang duduk di hadapannya dengan memakai kopiah haji dan sorban putih serta tangannya meniti biji satu persatu.
Yaa. Malam ini tepat pukul 22:00 Wib.. Para sesepuh Pemuda Hebat Seperti Dewa itu sudah berjanji berkumpul di salah satu Gunung dan akan menyelesaikan segala permasalahan yang berhubungan dengan alam ghaib.. Di antara nya.. Aden Haruman, Kiayi Mangku Bumi, Abah Juned dan Abah Kusuma. Selain menyelesaikan penyakit yang di alami oleh keluarga Tang Tang Dor yang kemungkinan Dukun yang menyantetnya ada kaitannya dengan orang orang Duo Holding Company Group.
"Beda lah....." Kilah Aden Haruman. Yang tidak mau di samakan dengan Muhammad Awan Pratama..
"Nya da Embe dan Kuda mah beda...... Tiba tiba satu suara datang dan ikut nimbrung dalam obrolan empat orang yang berwujud Sukma nya saja...
"Purnama Siddiq....... Kau datang..... Mana anakmu.... Mama Haji Jalaludin...?" Tandas Aden Haruman.
"Aku datang memenuhi undangan mu Eyang Prabu. Menjawab.. Anakku Jalaluddin Mungkin sebentar lagi akan tiba....
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.." Jawab lelaki yang tiba tiba muncul dengan pakaian kebanggaan nya, ikat kepala warna putih, persis seperti pembela diri di salah satu padepokan pencak silat.
"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh.." Jawab mereka berlima serentak...
"Jalaluddin.... Ayo duduk... Kita akan segera mengatur rencana untuk memberantas keji nahi Munkar.." Titah Aden Haruman.
"Siap Eyang Prabu.." Kata nya... Lalu duduk di sebelah Purnama Siddiq ayahnya.
__ADS_1
"Baiklah......... Kita akan memulai saja rencana dan lawan yang akan kita hadapi malam ini.." Kata Aden Haruman memulai percakapan seriusnya. Mereka pun yang duduk bersila langsung mengangguk.
"Menurut informasi dari alam manusia yang telah di intai oleh Murid ku, Usep dan Sule bahwa Jabar anak kedua dari Moch Ismail telah mendatangkan empat paranormal tingkat Dewa dari belahan bumi ini untuk menghadapi Muhammad Awan Pratama yang di ketahui oleh mereka bahwa mempunyai pendamping bangsa lelembut.
"Bukan dari luar negri saja Orang dari Duo Holding Company Group mendatangkan paranormal itu, tetapi dalam negri juga Ia sudah berkerjasama dengan salah satu dukun yang sangat sakti mandraguna, tetapi dukun itu belum sepenuhnya mengerti mana yang baik dan mana yang jahat, sang Dukun itu masih berusia 12 tahun dan dia anak dari Enji Sutardi dukun sesat yang telah di musnahkan ilmu dan nyawanya sekarang melayang di antara langit dan Bumi, oleh Eyang Atas Angin." Terang Aden Haruman.
"Berapa dukun dari dalam negeri yang di datangkan oleh perusahaan Duo Holding Company Group.?" Tanya Purnama Siddiq..
"Hanya dua orang saja.. Tetapi satu di antara dukun itu sudah bisa di ajak damai oleh Murid Kiayi Mangku Bumi... Dia adalah Suryana yang mempunyai saling sengketa dengan ayah dari dukun yang akan kita hadapi.." Terang Aden Haruman.
"Berarti untuk makhluk ghaib yang di dalam negri hanya satu orang.." Terka Jalaludin..
"Yaa Jalal... Tapi dia mempunyai kekuatan yang sulit di artikan oleh kita kita. Walaupun dia hanya seorang bocah berusia 12 tahun tapi dia kekuatan ghaib yang mendampingi dirinya.." Kata Aden Haruman tidak menganggap enteng musuh kali ini.
"Siapakah gerangan anak kecil itu Eyang Guru.?" Tanya Abah Kusuma.
"Nina Zatulini.... Bocah berusia dua belas tahun yang baru lulus dari sekolah dasar di desa atas.." Jawab Aden... Tiba tiba kilatan cahaya petir menggelegar di Gunung itu yang menjadi pusat pertemuan mereka berenam setelah nama Nina Zatulini di sebut oleh Aden Haruman.
Bersambung.
__ADS_1