Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Rindu Ibu kandung kepada Anak nya


__ADS_3

"Kriiiiing''...............!!


"Kriiiiing''...............!!


"Kriiiiing''...............!!


"Hmmmmmm. Siapa yang menelepon. Ganggu makan aja." Gumam pemuda itu yang sedang menyantap makan siang itu.


"Angkat saja Kak. Takutnya telepon nya penting." Saran Nabil.


"Iya...... Bil ini juga mau." Jawab Awan seraya merogoh saku celana nya.


"Teh Dena........!!


"Pemuda itu lalu menggeser layar panggilan dari bawah keatas.


"Assalamualaikum.!! Teh Dena. Ada apa.?" Tanya Pemuda itu menjawab panggilan telepon.


"Awan. Kamu lagi dimana. Bunda mau ngomong.!! Kata suara wanita dari sebrang telepon.


"Awan lagi menuju kota Jakarta. Kasih aja ponselnya ke Bunda. Teh." Pinta Awan.


"Iya....... Sebentar.!!


"Bundaku. Nelepon. Bil. Kata Awan dengan nada pelan. Nabil tersenyum mengangguk.


"Assalamualaikum. Anakku Muhammad Awan Pratama.


"WaallAikum Salam. Bunda. Bagaimana. Apakah Bunda sehat. Adik adik Awan dan Nenek kabarnya gimana.?" Tanya Awan dengan pertanyaan beruntun.


"Alhamdulillah Nak. Mereka semua sehat wal Afiat. Bunda juga Alhamdulillah sehat. Anakku sendiri kabarnya bagaimana.?" Tanya balik wanita setengah tua di sebrang telepon.


"Alhamdulillah kabar Awan sehat Bun. Bunda ada apa menelepon.?" Tanya pemuda yang bernama Awan dalam sambungan telepon.


"Bunda........ dan kedua adikmu rindu ingin bertemu dengan mu Nak. Sudah hampir sepuluh hari kau tak kunjung pulang. Alhamdulillah keadaan di kampung sudah tak seramai lagi tentang pitnah yang beredar kepada dirimu. Kapan kau pulang Nak. Bapak juga nanyain kamu. Dia sudah sembuh total." Kata Wanita itu dengan suara yang berat. Awan tahu Bunda sedang menahan Isak tangis nya.

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah Bunda. Kalau Bapak sudah sehat sembuh dari sakit nya. Insyaallah nanti Awan pulang Bun. Sekalian ada yang mau kita diskusikan bersama Bunda. Bapak dan kedua kakak Awan." Kata Awan bersyukur sudah normal keaadaan di kampung nya.


"Kapan Nak.............. Pulang nya.?" Mau diskusi apa.?" Tanya Bunda.


"Nanti aja Bunda. Kalau Awan sudah pulang. Ngobrol nya di darat.


"Emang anakku sekarang sedang dimana.?" Tanya Lisnawati walaupun sudah tahu jawabannya. Ketika tadi menantunya bertanya.


"Awan sedang berada di rest Area tol Cipularang mau menuju arah Jakarta Bunda. Ada undangan dari Tuan Besar Tedi Ferdiansyah. Bos Awan yang waktu itu dibawa ke rumah Bunda saat ayah sedang sakit." Jawab Awan.


"Ohk........ Yaa...... Udah hati hati Nak. Jangan lupa selalu mengingat sang maha tunggal dimana pun juga, agar segala aktivitas dan perjalanan mu selalu dalam lindungan nya." Pesan Lisnawati dalam obrolan telepon nya.


"Iya...... Bunda Terima Kasih telah mengingatkan Awan. Baiklah kalau begitu Awan sudahi dulu obrolan telepon ini. Bunda sibuk lah dengan aktivitas di sana." Kata Awan meminta ijin.


"Iya Nak. Tut. Tut. Tut. Panggilan pun berakhir.


"Kak....... Teruskan makan nya." Titah Nabil karna baru beberapa sendok teleponnya berdering.


"Iya........... Bidadari ku. Goda Awan.


*******


Di kampung Situ Babakan. Wanita setengah tua yang terlihat di wajahnya sudah berkeriput kulit nya, akibat lelah dan capeknya menjalani kehidupan mengurus empat orang anak dan satu orang Ibu yang sudah tua. Akibat di tinggal oleh suaminya selama tiga tahun.


Lisnawati yang sedang duduk bersama menantu nya dan Ibu kandung nya Siti Romlah di teras rumah panggung yang berhadapan dengan Masjid Jami.


"Lisnawati kapan anakmu pulang ke rumah.?" Tanya Romlah. Tadi tak sempat mendengar kan obrolan lewat telepon karna sedang berada di dapur.


"Belum tahu Bu. Dia menjawab insyaallah nanti akan pulang." Jawab Lisnawati dengan wajah sayu.


"Dia saat ini sedang menuju kota Jakarta menemui bos nya." Kata Lisnawati.


"Huh....... Anak itu....... Apakah tidak rindu sama nenek dan kedua adiknya maupun kamu Lisna.?" Tanya Romlah. Kesal dengan Cucu nya itu.


"Entahlah Bu. Aku tak bisa menyelami alur hidup dan perjalanan anak nomor tiga itu. Dia sedang pokus dengan dunia nya. Tugas ku seorang Ibu hanya bisa berdoa dimana pun dia berada. Apa yang dia kerjakan semoga berada dalam lindungan sang maha tunggal." Ucap Lisnawati dengan tangan menadah keatas hati berucap amiin yaa robball allamiin.

__ADS_1


Romlah dan Dena hanya mengangguk dan dalam hati mereka berdua berkata amiin yaa robball allamiin, mudah-mudahan keselamatan dan kesehatan untuk Muhammad Awan Pratama.


"Ehk........ Bu tadi kata Awan mau berdiskusi bersama suamiku kakak kakak nya dan Ibu serta aku. Ibu tahu nggak Awan mau mendiskusikan apa.?" Tanya Lisnawati masih penasaran dengan ucapan dengan anaknya dalam sambungan telepon.


"Romlah tersentak kaget. Apakah kau sudah tanya mau diskusi tentang apa.?" Tanya Romlah.


"Hmmmmmm. Maka nya aku tanya Ibu. Awan tidak mengasih tahu." Jawab Lisnawati.


"Mungkin saran dan masukan yang aku berikan waktu itu." Tebak Romlah.


"Emang saran apa Bu. Coba ibu jelaskan saat ini juga pada Lisna." Pinta Anak satu satunya itu.


Begini cerita nya dulu kalau tidak salah pas waktu subuh di saat Awan sudah beres dengan sembahyang subuh. Ibu langsung menghampiri nya dan bertanya.


#Flasbacon#


Emang kamu sedang memikirkan apa.! Sehingga kaget dengan teguran dari Nenek.?" Tanya Romlah seraya ikut duduk di kursi berhadapan dengan Cucu nya.


"Awan sedang memikirkan rumah ini dan rumah yang baru di beli dari Mang Baban, ingin di bangun dalam dekat ini, tetapi takut gunjingan dari para tetangga." Jawab Awan memberi tahukan ketakutan nya.


"Hal wajar bila kamu punya pemikiran kesana. Bukan kamu sendiri yang punya pemikiran sampai kesana tapi Bunda mu juga sama yang di pikirkan oleh mu." Kata Romlah dengan wajah sayu.


"Hmmmmmm." Itu lah yang sedang Awan pikirkan saat ini Nek.....!!


"Cucuku Nenek ngasih saran untuk di pikirkan dan di timbang oleh mu sebelum membangun rumah ini." Kata Romlah di pagi buta itu.


"Awan mendengar kan saran dari Nenek. Silahkan kemukakan Nek." Pinta Awan.


Cucuku sebelum kau mau membangun rumah Bunda, sebaiknya kau bersama ayahmu dan kedua kakak mu di musyawarah kan terlebih dahulu. Kenapa Nenek bilang begitu, karna yang di takutkan kedepan nya antara pihak anak anak bunda yang lainnya, setelah bunda tiada kakak kakak mu dan adik adik mu meminta hak warisan sedangkan, rumah ini kan milik Bunda. Cuma di perbaiki oleh mu sebagai anak." Kata Romlah.


"Jadi begini Awan, sebaiknya rumah Bunda kamu beli, sebelum di bangun dan di atas namakan sertifikat nya Nana kamu. Mengapa Nenek menyuruh untuk membeli rumah bunda saat ini, agar bunda bisa membagikan harta warisan miliknya saat ini juga. Nanti di saat Bunda mu sudah tiada, anak anak tidak ada yang merebutkan harta warisan karna rumah serta sawah sudah menjadi milikmu dengan di saksikan oleh notaris atau kuasa hukum." Saran nenek kepada cucu nya.


#Flasbacoff#


Mungkin itu yang akan di diskusikan oleh anakmu." Ucap Romlah panjang lebar menjelaskan tebakan nya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2