
Jerit pekik kini terdengar dimana mana karena mereka yang datang ahli dalam seni beladiri, hingga para preman dan anak buah Kobra dan Cungkring tidak berdaya menghadapi nya.
Awalnya mereka mengira tugas yang di berikan kepada mereka akan terselesaikan dengan mulus dan tampa hambatan yang berarti.
Tapi siapa sangka bukan hanya mereka mencabut nyawa pemuda yang menjadi target nya. Malah mereka di jebak oleh para pengawal Mama Sepuh yang kemungkinan sudah di persiapkan dari keberangkatan nya di restoran mewah itu.
"Apakah kau masih ingat kepada ku. Kobra dan Cungkring." Kata satu suara seorang wanita keluar dari kerumunan dengan memakai jilbab hitam dan pakaian serba hitam.
"Kau...... Kau........ Kau...... Bukan kah kau sudah mati...?" Aku dan yang lainnya telah membuang mu Lara.
"Mengapa...... Apakah kau terkejut melihat ku. Kobra.! Tanya orang yang di kenal dengan nama Lara itu.
"Huh. Kau jangan bangga, mempunyai beberapa dekengan yang lumayan jago dalam berkelahi. Walaupun anak buah sudah di habisi oleh mereka, tapi aku sanggup melawan kalian semua. Ayo maju. Aku menantang kalian semua mau satu persatu atau maju semuanya." Kobra melayangkan tantangannya.
"Hahahaha. Kau Kobra. Benar benar arogan. Nyawa sudah di ujung kerongkongan tapi masih berlagak seperti super Hero......... Baik'lah. Aku yang akan melawan mu. Silahkan kau pilih senjata yang ingin di gunakan dan kita bertarung di sini secara kesatria." Kata Lara menerima tantangan dari Kobra.
Saat ini Kobra sudah tidak ada pilihan lain. Jika Ia kembali dengan selamat mengabarkan kepada Rantai Bumi sedangkan Cungkring dan anak buahnya tertangkap. Maka dia akan di kuliti hidup hidup oleh Rantai Bumi atas perintah Engkos Kosasih dan mereka pun tidak akan melepaskan keluarganya.
Lebih baik dia mati sebagai seorang lelaki jantan dan meninggalkan nama yang baik bagi Engkos Kosasih dari pada harus lari, karena jika dia melakukan itu sudah pasti anak istrinya tidak akan di lepaskan begitu saja.
Masalah benar atau salah dirinya dalam menempuh perjalan yang sudah di ambil oleh Kobra. Itu adalah pilihan nya sendiri. Baginya yang terpenting kini harus menjaga pendirian yang tetap adalah hal yang harus di lakukan oleh setiap lelaki yang berani bertanggung jawab. Maka dari itu ia segera mengeluarkan pisau belati dari arah punggung nya. Dan mulai bersiap siap untuk memulai pertarungan.
"Sikap mu sungguh kesatria dan berani bertanggung jawab. Aku berjanji jika kau menang dalam pertarungan ini. Aku akan meminta kepada Tuan Muda Awan untuk melepaskan mu. Tetapi bila kamu kalah dalam adu duel ini. Kau harus membunuh diri mu sendiri, untuk mempertanggung jawabkan kematian suami ku." Kata Lara kini mulai emosi nya meledak ledak.
"Terima Kasih. Namun aku tidak akan berbasa basi lagi keluarkan senjata mu dan kita bertarung sampai titik darah penghabisan." Kata Kobra.
"Baik. Baiklah." Kata Lara lalu membuka ikatan kain yang dia ikat dalam pinggang nya untuk dijadikan senjata oleh nya.
__ADS_1
"Hahahaha. Kau meremehkan ku. Cewek cantik." Kata Kobra. Sedangkan Lara yang di remehkan Ia sedang terpokus dan hatinya sedang membaca mantra mantra yang di ajarkan oleh ayah nya Tarmin.
Tangan wanita itu mulai bergerak dengan sendirinya. Awan memperhatikan bersama beberapa Murid Mama Sepuh. Ilmu pemanggil Sukma dari perguruan silat Cimande." Gumam Akang satu.
Melihat wanita itu sudah mulai siap dan memasang jurus perguruan silat, Kobra pun langsung melakukan serangan dengan perasaan prustasi.
Pertarungan satu lawan satu itu cukup alot dan menarik untuk di tonton, dimana mereka berdua saling jual beli pukulan dan tendangan, yang paling menarik gaya bertarung nya wanita itu, Ia mata nya tertutup tanpa melihat lawannya menyerang tetapi ia mampu mematahkan serangan serangan yang di lancarkan oleh Kobra.
"Tuan Muda. Tubuhnya milik Teteh Lara. Tapi Sukma dan arwahnya sudah di kuasai oleh Nyi Dewi Sekar Arum seniman yang jago dalam beladiri di masa nya." Kata Akang satu memberitahu kan.!!
"Hmmmmmmm. Pantas aura nya terasa mistik malam ini Akang satu." Jawab Awan.
"Apakah kita perlu bertindak Akang satu.?" Tanya Awan.
"Sebaiknya kita lihat dan perhatikan terlebih dahulu pertarungan mereka berdua. Tujuan Teh Lara hanya satu membalas dendam kematian suaminya dan kehormatan yang telah di cabik cabik oleh anak buah Engkos Kosasih.
Sampai satu saat ketika gerakan Lara salah mengambil langkah. Kobra yang memanfaatkan keadaan segera segera mengirimkan tusukan kearah dada wanita beranak satu itu.
Beruntung bagi Lara bisa membanting diri ke tanah dan berguling guling menghindari cercaran serangan lawan.
Kobra yang kian bersemangat menyerang kini tidak memikirkan pertahanan kaki nya.
Tepat ketika dia akan mengirim tendangan ke arah tubuh Lara yang masih dalam keadaan terbaring. Lara yang sudah menyangka serangan itu langsung mengibaskan kain nya tepat ke arah mata Kobra. Hingga lawan pun sedikit terpental dan memegang kedua mata nya.
"Bajingan........!!
"Ahk........... Perih............" Pekik Kobra.!!
__ADS_1
Dia yang terlalu bersemangat menyerang tak menduga akan mendapatkan serangan balik yang membuat matanya perih akibat terkena kibasan kain yang sudah di penuhi pasir aspal jalan itu.
Sambil merayap rayap akibat matanya terkena kibasan kain. Kobra pun mulai mundur mencari air untuk membasuh muka nya. Tapi kesempatan itu tidak di sia sia kan oleh Lara. Ia bagaikan seorang kucing yang sedang mengejar mangsa nya.
"Hiaat................!!
"Heeph..................!!
"Suamiku................ Lihatlah......... Lelaki yang telah membunuhmu. Kini dalam genggaman tanganku." Teriak Lara dengan tangan mengikat leher kobra yang sangat kuat.
Akibat tarikan Kain yang mengikat leher Kobra. Lidah pun keluar dari mulut lelaki berbadan tegap dan muka sangar itu. Kelembutan yang awalnya di perlihatkan oleh Lara, sungguh jauh berbeda saat ini, ketika amarah dan dendam nya datang dan sudah mencapai ubun ubun kepala wanita itu.
"Neng Siti Lara. Sudah hentikan, jangan kau bunuh lelaki laknat itu." Teriak Tarmin. Ia berlari kearah wanita yang sedang mengikat leher kobra dengan kain selendang.
"Lara seketika menatap kearah Tarmin dengan mata yang menyala nyala. Hatinya berontak ingin menyudahi tapi api dendam menyelimuti seluruh tubuh wanita yang telah menghadirkan sosok Nyi Dewi Sekar Arum, hingga sulit untuk di kendalikan.
Ketika Tarmin mulai menjangkau wanita yang bernama Siti Lara itu. Tiba tiba Ia terpental, ada magnet yang mendorongnya dari arah yang tak di sangka sangka.
"Wuzzzzzzzzzzz.........!!
"Bugh.!!
"Ahkh....................!! Tarmin kesakitan.!! Bahar Akang Enam langsung memapah nya untuk bangkit. Lara semakin menjadi, Kobra tercekik lidah nya menjulur keluar Air mata nya mengalir, Tanda tanda ia Akan mati hampir tiba.
"Akang Satu tidak ada cara lagi. Mari kita baca bersama sama. Sholawat nabi 7x, lalu tepukan tangan kanan pada dahi Teh Lara sebanyak 3x. Tiup kan ke telinga nya sebanyak 3x, insya Allah setan yang merasuki akan segera keluar." Titah Awan.
"Baik Tuan muda.!!
__ADS_1
Bersambung.