Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Kemarahan Anak dari Agus Ferdiansyah


__ADS_3

Irma.............. Tunggu.............. Teriak Mira lalu beranjak dari duduknya seraya menarik tangan Kiara untuk mengejar sahabatnya yang kemungkinan kecewa dengan obrolan mereka bertiga.


Irma mengacuhkan teriakan dari Mira Ia terus berjalan cepat menuju kearah rumah nya.


"Mira. Biarkan saja. Apa yang aku katakan kepada Irma itu sebuah kenyataan. Dan demi kebaikan nya. Dengan kita berdua memberitahu kan bahwa posisi Awan adalah orang yang sangat berbahaya dan tak pantas untuk bergaul dengan dirinya." Ucap Kiara mencegah nya agar tidak mengejar sahabatnya.


"Loe.......... Aishhh..........." Jawab Mira menghentakkan tangannya dari Kiara.


"Kenapa Mira. Apa aku salah dengan perkataan ku." Ucap Kiara menatap tajam sahabat nya.


"Sudah lah aku tak mau berdebat dengan mu. Sebaiknya aku pulang." Jawab Mira. Lalu dia meninggal kan nya. Sedangkan Kiara hanya tersenyum licik.


"Aku bener bener kecewa kepada kalian berdua." Batin Irma bergejolak di sela pulang menuju rumahnya.


"Kiara kenapa dia sangat membenci Awan." Ucap Mira dalam hati.


"Pikiran ku sepenuhnya tidak percaya bahwa Awan melakukan semua itu kepada ayahnya. Aku tahu sosok Awan sangat merindukan Ayah nya. Tapi tidak mungkin dia melakukan hal sekeji itu dengan mengirim guna guna kepada Hilman. Ayahnya sendiri. Padahal malam itu dia menugaskan kita bertiga untuk memata matai Ayah nya. Tujuan nya dia kembali." Mira bertanya bertanya dalam hatinya sambil jalan di belakang Irma.


"Pak Lukman. Iya Pak Lukman yang bisa memberikan jawaban nya." Ucap Mira. Lalu dia mengejar sahabatnya untuk pergi menuju rumah Pak Lukman.


"Irma tunggu............. Tegur Mira dengan menahan tangannya. Aku butuh loe untuk menemui Pak Lukman." Ucap Mira.


Irma berhenti. Mau ngapain.?" Tanya Irma berhenti karna di tahan oleh Mira.


"Pokoknya ikut aja.


Irma menggeleng tidak mengerti dia butuh jawaban.


"Ayo Kita berdua ke rumah Pak Lukman. Aku butuh jawaban dari nya. Tentang semua yang ada di dalam diri Muhammad Awan Pratama. Pikiran ku tidak sepenuhnya percaya bahwa semua insiden tentang Hilman ayah nya Awan telah di santet oleh nya." Mira menarik paksa Irma untuk mengikuti nya. Sedangkan Irma hanya pasrah dia juga ingin menanyakan langsung kepada Wa Lukman karna rasa penasaran nya.


Hanya butuh sepuluh menit mereka berdua kini telah tiba di rumahnya Pak Lukman. Sesepuh di kampung Situhiang. Tanpa permisi atau pun mengucapkan salam Irma pun langsung masuk karna masih saudara nya.


"Wa Didah lagi apa.?" Tegur Irma yang baru masuk kedalam rumah bersama Mira.


Wanita Paruh Baya membalikkan badannya. Ia tersenyum lalu berkata.

__ADS_1


"Biasa Uwa mah lagi masak untuk sarapan WA Lukman. Kamu sendiri ada apa.?" Tumben gak biasa nya kesini.?" Tanya balik Wa Didah sambil mengikis bawang daun.


"Mau ada perlu ke Wa Lukman. Besok kan sudah masuk sekolah sekalian ada yang mau di tanyakan." Ucap Irma sedangkan Mira hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Yaa.........!! Sudah temui sana. Uwa Lukman sedang berada di halaman belakang. Sambil memberi makan Anak ayam." Titah Wa Didah. Menyuruh mereka berdua pergi.


"Siap. Wa. Kalau begitu Irma dan Mira ke belakang dulu." Pamit Dua gadis cantik itu.


"Iyaaaa." Balas Didah sambil menuangkan sisikan bawang daun nya ke wajan yang sudah siap di goreng.


Sesampainya di halaman belakang rumah Wa Lukman. Irma dan Mira pun langsung menegur Pria Paruh Baya yang sedang mengaurkan ( benyer ) Beras bubuk kepada anak anak ayam bersama induk nya.


"Wa Lukman........... Banyak amat ayam nya.? Tegur Irma dengan senyuman.


"Ehk. Irma dan Mira tumben pagi pagi sudah kesini. Ada apa.?" Tanya Wa Lukman tanpa basa basi.


"Wa........ Kurang bergaul huh....... Langsung pada intinya. Kan Irma bertanya banyak amat ayam nya." Keluh Gadis itu dengan memasang wajah jutek.


"Tak usah lah........ Basa basi. Uwa sudah tahu maksud kedatangan kalian berdua. Mau bertanya tentang anaknya Pak Hilman kan." Tebak Wa Lukman. Membuat mereka berdua tertunduk malu.


"Sudah........ Tak usah memuji....... Kalian berdua tunggu di ruangan tamu. Sekalian bikin kan Uwa kopi." Titah Wa Lukman.


"Siap..............!! Ucap mereka serentak langsung berbalik badan berjalan menuju ruangan tamu.


"Ehk........ Wa kopi nya apa.?" Ucap Irma berbalik badan lagi.!!


"Kapal api mix. Tanpa di kucek." Jawab Wa Lukman.


Irma mengangguk lalu berjalan kearah dapur.


*****


Sementara waktu yang sama dan hari pun sama. Tapi tempat yang sangat berbeda dan jauh dari kota dimana mereka berdua Irma dan Mira sedang berada di rumah sesepuh kampung Situhiang.


Seorang pemuda berusia 24 tahun sedang meluapkan amarahnya setelah mendapatkan kabar yang tak sedap.

__ADS_1


Bajingan................!


"Bangsat................!


"Excel akan ku bunuh dengan tanganku sendiri." Geram Firmansyah setelah melihat berita di salah satu stasiun televisi swasta tentang penyergapan pihak pihak kepolisian yang di komandoi oleh anak Tedi Ferdiansyah sehingga Ayah nya terluka parah dan di larikan ke rumah sakit dan kabar dari anak buahnya yang berhasil melarikan diri dalam pertempuran malam itu.


Firmansyah anak tunggal pasangan Agus Ferdiansyah dan Zaskia. Kini sedang berada di kota Jogja menyambut kedatangan beberapa orang dari Negara Mesir.


"Tunggu.......... Tunggu.......... Akan ku bunuh kalian semua. Dan akan ku buat menderita." Kata Firmansyah kepada diri nya sendiri. Ia pun langsung ke luar kamar dan memanggil beberapa anak buahnya.


"Pengawal siapkan mobil. Kita berangkat sekarang." Teriak Firmansyah dalam mode amarahnya.


Para pengawal yang mendengar teriakan dari majikannya langsung segera berhamburan menghampiri nya. Salah satu kepala pengawal lalu membungkuk dan berkata.


"Tuan Muda. Mobil sudah di persiapkan.


"Ayo kita berangkat...............!! Titah Firmansyah.


"Siap Tuan Muda.


Iring iringan mobil mewah bergerak keluar dari rumah tingkat tiga yang ada di pinggiran kota Jogja membelah jalanan di pagi hari itu menuju bandara internasional Kulonprogo Yogyakarta.


Satu jam lama nya iring iringan mobil mewah pun berhenti tepat di halaman bandara tersebut. Empat mobil secara bersamaan langsung turun beberapa pengawal berdasi untuk membuka kan mobil Lamborghini Aventador yang di kemudikan oleh anak Agus Ferdiansyah.


"Tuan Muda silahkan kita sudah sampai." Ucap kepala pengawal itu ketika pintu mobil nya telah di buka.


"Terima Kasih Jaja. Atur pengawal lainnya dari kejauhan. Kau nanti menyusul masuk kedalam bandara." Titah Firmansyah kepada kepala pengawal yang di panggil namanya Jaja.


"Siap Tuan Muda. Akan saya atur segera mungkin." Jawab Jaja membungkuk. Firmansyah pun langsung berjalan kearah pintu masuk bandara itu.


Lelaki muda yang di panggil Tuan Muda oleh beberapa pria berdasi yang baru turun dari iring iringan mobil mewah tersebut. Langsung berjalan masuk kearah pintu bandara internasional Kulonprogo Yogyakarta.


Tak lama kemudian Firmansyah pun sudah sampai di ruang tunggu. Dia melihat jam tangan yang ada di pergelangan nya. "Hmmmmmmm Lima belas menit lagi pesawat nya akan segera mendarat." Gumam nya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2