Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Obrolan Keluarga Lisnawati


__ADS_3

Sinar mentari tampak sudah mengarungi di pagi hari menyinari Bumi Pertiwi tepatnya di salah satu kota kecil yang ada di provinsi Jawa Barat. Seorang pemuda sedang duduk bersama dengan wanita paruh baya dan setengah tua di ruangan tengah dengan di temani secangkir kopi dan beberapa gorengan panas di pagi menjelang siang.


Tak lama kemudian seorang lelaki paruh baya keluar dari kamarnya dengan senyuman yang sangat manis mengarah kepada pemuda yang sedang asyik mengobrol dengan dua wanita hebat yang hanya berselisih 20 tahun usianya.


Hilman. Ayo sini duduk kita mengobrol bareng sama istri dan anak mu." Ajak Romlah mertua nya itu.


"Iya. Bu terima kasih banyak." Jawab nya lalu melangkah dan duduk di samping Lisnawati istrinya.


Masih ada rasa canggung di antara Hilman dan pemuda itu, tak bisa di pungkiri rasa takut dan masih tidak di terima oleh Awan anak nomor tiga itu pasangan Hilman Lisnawati, dalam hatinya.


Lisnawati dan Romlah pun menyadari kecanggungan di antara mereka berdua, tapi mereka berdua enggan untuk di bahas dalam obrolan bersama seorang pemuda yang mampu mengubah jalan kehidupan keluarganya.


"Bapak. Tumben tidak minum kopi. Atau kah sudah tidak ngopi akhir akhir ini.?" Tanya Awan mencairkan suasana dan sekedar bertanya.


"Ehk....... Anu..... Itu..... Masih kok. Awan." Jawab Nya terbata bata.


"Ohk....... Awan sangka Bapak sudah berhenti meminum kopi. Bunda. Bikin kan kopi buat Bapak." Pinta Anaknya yaitu Awan.


"Kopi nya sedang beli Nak. Sama Teh Dena sekalian beli barang barang berupa bahan pokok lainnya yang sudah habis di warung grosir." Kata Lisnawati memberikan alasan.


"Hehehehe. Sabar aja Pak. Kopi nya sedang beli dulu sama menantu." Kekeh Awan.


Hilman tersenyum dan mengangguk. Tidak pernah berubah dari dulu sipat dan karakter nya. Seperti bedug masjid bila di pukul bicara, tak di pukul hanya diam saja.

__ADS_1


"Bunda, Nenek, dan Bapak. Apakah punya kenalan Tukang bangunan. Untuk di rekomendasikan bekerja di salah satu rumah yang akan di renovasi.?" Tanya Awan kepada mereka bertiga dengan kapasitas jabatan nya senior.


"Mang Salim dan Mang Rohman. Dari pekerjaan lumayan apik dan bagus Awan." Jawab Hilman.


"Apakah Mang Salim teman Ujang anak kita." Timpal Lisnawati.


"Iya. Angguk Hilman suaminya.!


"Ohk..... Iya Salim orangnya apik dalam bekerja.! Romlah ikut memberi pendapat. Emang rumah siapa yang mau di renovasi dan dimana tempatnya. Nanti biar Nenek yang akan menemui Salim" Kata Romlah.


"Yaa......... Rumah Bunda. Yang mau di renovasi dan di satukan dengan rumah Mang Baban yang sebulan kebelakang sudah di beli oleh aku.!


"Hah............ Kamu serius.!! Romlah dan Lisnawati kaget dan terkejut.! Sementara Hilman tersenyum kecut dan berkata.


"Iya...... Nak. Sebaiknya bila ada uang. Mending diskusikan terlebih dahulu bersama. Bunda dan Nenek beserta Bapak, serta kedua kakak' mu. Bunda takut di kemudian hari mereka meminta hak dan warisan, sementara semuanya di bangun oleh uang darimu." Kata Lisnawati memberi saran, dan di anggukan oleh Romlah Nenek nya.


"Hmmmm. Tadinya aku, tidak mempermasalahkan tentang kedepannya bagaimana, mau kedua kakak' atau adik adikku menggugat tentang warisan rumah ini seandainya bunda sudah tiada, tapi ketakutan yang di rasakan oleh Bunda dan nenek, mungkin jalan nya harus seperti itu." Ucap Dalam hati Muhammad Awan Pratama.


"Bunda. Nenek. Awan mengerti tentang semua ketakutan kedepannya bila, Bunda dan Nenek sudah tiada. Tapi tadinya Awan juga mempunyai pemikiran yang sama dengan kalian berdua. Bila itu jalan yang terbaik. Baiklah Nenek dan Bunda serta Bapak segera diskusikan bersama dengan Kang Ujang dan kang Mulyana." Kata Awan berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi perkataan nya.


"Untuk masalah dana tidak harus di pikirkan. Semua sudah Awan siapkan. Bagaimana pun kehidupan Bunda dan keluarga sudah saat nya keluar dari lumpur kemiskinan." Awan menjelaskan panjang lebar tentang rencana untuk membangun rumah Bunda nya.


"Serius............!! Anakku. Hilman masih tidak percaya dengan semua ini. Jelas lah tak akan percaya, orang hidupnya selama tiga tahun dia habiskan dengan istri mudanya, tanpa mau mencari dan menemui atau pun sekedar bertanya kabar.

__ADS_1


"Awan tersenyum. Tampa harus menjawab keterkejutan dari seorang Hilman. Bapak kandungnya. Lebih baik membuktikan dengan perbuatan dari pada membual dengan ucapan.!


"Bunda dan Nenek tinggal buka harga. Berapa yang harus Awan siapkan uangnya untuk membayar dua rumah yang ada di sini dan di kampung Situ Babakan dan segera bagikan kepada anak anak Bunda." Kata Awan yang mengikuti arus keiinginan mereka.


Setelah semua selesai dengan urusan di sini membangun rumah buat Bunda dan adik adiknya, aku akan pergi dan mungkin akan jarang untuk pulang ke rumah ini. Kecewa dengan keputusan mereka." Batin Awan bergejolak saat itu.


"Awa.... Awan........" Lisnawati tergugup. Begitu juga dengan Nenek Romlah. Apakah pemuda itu tersinggung dengan ucapan dan obrolan dari kita bertiga." Kata Lisnawati dalam hati melihat tatapan mata yang begitu tajam.


"Bunda dan Nenek serta yang lainnya. Nanti setelah diskusi bersama anak anak Bunda. Segera kabarkan kepada Awan. Biar Bu Dewi bersama Pak Arianto yang akan mengurusnya.


Untuk masalah renovasi rumah biarlah Bu Dewi yang akan mengaturnya. Semua Tukang dan kendek nya Bunda beserta Nenek dan Bapak tidak usah memikirkan nya.


Lisnawati dan Romlah menyadari bahwa Awan sedang berada di tingkat kekecewaan karna sebuah keputusan dan rasa tidak percaya yang di berikan oleh Hilman Bapak nya sendiri, memandang rendah perkataan yang baru di lontarkan dalam obrolan pagi hari ini.


"Awan. Apakah kau marah kepada kita bertiga.?" Tanya Lisnawati.


"Hah........ Kenapa Aku harus marah Bun.! Bukan kah itu keputusan yang baik oleh Bunda dan Nenek serta Bapak." Jawab Awan.


"Aku ini Ibu mu, yang melahirkan mu. Tau mana kau sedang marah sedang bahagia dan bila sedang mempunyai permasalahan." Kata Lisnawati dengan penuh penekanan, Hingga Awan tidak bisa mengelak.


Awan menghirup napasnya dalam dalam dan membuangnya seketika.!! Perbedaan pendapat sering kali bila berhadapan dengan Hilman dari dulu.


"Aku tidak marah Bun. Aku juga sedang tidak ada masalah. Cuma aku kecewa dengan keputusan kalian bertiga. Tadi nya aku tidak mau mempermasalahkan semua ini, dengan apa yang telah Nenek dan Bunda bicarakan masalah merenovasi rumah Bunda. Tapi sudahlah. Aku ikuti aja alur air yang mungkin kalian bertiga itu lebih baik." Kata Awan dengan raut muka kekecewaan.!!

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2