Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Supit dan Iwan kembali ke rumah Mbah Sarto


__ADS_3

Setelah mendapatkan apa yang di inginkan dari bertapa di Goa Lawa puncak Gunung Nyongkokot. Iwan dan Supit segera turun dari tempat tersebut dan kembali ke rumah kuncen tersebut.


"Supit.........! Nanti setelah kita di rumah Mbah Sarto permintaan yang kedua kita jangan di bicarakan kepada juru kunci itu." Kata Iwan di sela perjalanan malam menuju rumah lelaki tua tersebut.


"Memangnya kenapa? Tanya Supit berhenti sejenak penasaran.


"Ikuti saja apa kataku.! Jawab Iwan.


"Yaaa.........! Sudah terserah loe saja, tak mau ambil pusing buat diriku.! Pasrah Supit melanjutkan lagi perjalanan nya.


Singkat waktu mereka berdua sampai di rumah Mbah Sarto penunjuk atau sekaligus juru kunci Gunung Nyongkokot pada pukul 04 : 00 dini hari.


"Tok........! "Tok.........! " Tok..........!


Ketukan pintu oleh mereka berdua dan ucapan kata terlontar dari salah satu mereka berdua.


"Mbah.........! Mbah.........! Mbah Sarto.........! Ini kami berdua.!


Kreat........! Pintu rumah kayu pun terbuka dan muncul lelaki berusia 21 tahun yang mereka tahu adalah anak bungsu Mbah Sarto..........!


"Pak, Iwan dan Pak Supit silahkan masuk.! Kata Darno mempersilakan.


Terima Kasih banyak Darno.! Jawab mereka berdua seraya melangkahkan kaki nya untuk segera masuk dan beristirahat.


Setelah mereka berdua masuk dan duduk di ruangan tengah rumah berukuran kecil dan hanya mempunyai tiga kamar, Mbah Sarto pun keluar dari kamar tengah yang tidak tertutup kain pintu kamar itu.


''Kalian berdua kenapa bisa secepat nya turun dari pertapaan di Goa Lawa itu." Tegur Mbah Sarto.


"Ehk......! Anu Mbah sudah di suruh pulang sama penunggu Gunung Nyongkokot itu." Jawab Iwan terbata karna kaget.


"Benar benar kalian di sambut baik oleh mahluk ghaib bernama Genderuwo itu.? Apakah sudah mendapatkan apa yang di inginkan oleh kalian berdua? Tanya Mbah Sarto di sela waktu dini hari mereka mengobrol.

__ADS_1


"Sudah.............! Itu urusan yang sangat mudah......! Hanya itu Jawaban dari makhluk yang tinggi besar rambut gimbal dan dua mata yang menyala." Tutur Iwan menjelaskan pembicaraan dengan makhluk yang ada di Goa Lawa tersebut.


Kuncen Gunung Nyongkokot itu hanya manggut manggut sesekali mengelus ngelus jenggot ya ada di dagu wajahnya, mata nya melirik kearah jari mereka berdua melihat sebuah cincin yang sangat Indah di jari manis Iwan dan Supit....... Dan bergumam.


"Hmmmm'' Kalian meminta permintaan yang lain.!


Sontak mereka berdua kaget dan Syok. Mbah Sarto mengetahui apa yang di sembunyikan oleh Iwan dan Supit. Tentang permintaan yang tadinya mereka berdua tidak akan di beritahu kan kepada juru kunci Gunung Nyongkokot itu.


Mereka berdua hanya tersenyum mendengar gumam nya seorang lelaki berusia 55 tahun itu tanpa mau berbicara atau pun menjawab nya.


Obrolan mereka bertiga pun berakhir karna melihat Iwan dan Supit kelelahan dan di sela obrolan sesekali menguap karna rasa kantuk menyerang kepada mereka.


Tidur panjang pun di lalui mereka berdua dari pukul 05:00 pagi sampai menjelang pukul 04 sore hari, tanpa di bangunkan oleh pemilik rumah di biarkan saja.


************************************************


Sore itu.


Tak lupa di salah satu kursi sebelah Bu Lisnawati hadir sosok ibu berusia 35 tahun bersama ketiga anaknya yang masih kecil.


Tidak lama setelah itu pintu rumah mewah itu pun di ketuk dari luar seraya terdengar suara orang mengucapkan salam.


Seketika Bu Ida yang akan menjadi ART di rumah tersebut langsung beranjak untuk membuka kan pintu rumah dan mempersilahkan masuk menuju ruangan keluarga yang sudah di tunggu oleh pemuda bernama Muhammad Awan Pratama.


" Bu Lisnawati Nak Awan.? Tegur salah satu suara setelah kedua tamu itu datang dan berdiri di dekat kursi sopa.


"Bu Dewi dan Pak Kohar silahkan duduk." Jawab pemuda itu mempersilahkan.


"Terima Kasih banyak Anak ku." Ucap Bu Dewi seraya duduk di samping Amel sedangkan Pak Kohar duduk di samping pemuda itu.


Setelah mereka berdua duduk di kursi ruangan keluarga, Bu Dewi pun segera memerintahkan Bu Ida dan Amelia untuk membawa makanan yang ada di dalam mobil untuk di hidangkan di ruangan makan, kemungkinan mereka belum pada makan.

__ADS_1


"Amelia dan Ida..........! Kalian bawa di dalam mobil makanan dan hidangkan di ruangan makan, kita akan makan bersama sama dengan Bu Lisnawati dan Awan serta ketiga sahabatnya." Titah Bu Dewi.


"Siap Bunda.............! Bu Ida hanya mengangguk dan mengikuti Amel dari arah belakang menuju mobil yang terparkir di depan rumah mewah itu.


"Pak Kohar bagaimana situasi kios dan Ruko yang di renovasi. Apakah sudah beres dan kios nya ramai? Tanya pemuda yang duduk di sampingnya itu.


"Alhamdulillah untuk kios yang baru lumayan ramai di saat pembukaan sampai sekarang berjalan, Untuk renovasi Ruko mungkin seminggu lagi sudah selesai, Nak Awan bisa melihat nya." Jawab Pak Kohar suami Bu Dewi.


Ibu kandungnya pemuda itu dan ketiga sahabatnya hanya diam mendengarkan saja tanpa mau ikut campur dalam obrolan mereka bertiga, ke kagetan dan rasa syok masih hinggap dalam dirinya.


"Pak Kohar apakah kekurangan pegawai untuk saat ini.! Tanya Awan.


"Kalau saat ini masih cukup Nak Awan, tetapi kalau kita sudah selesai dengan Ruko yang di renovasi dan di jadikan sebagai mini market sekaligus, kemungkinan kita memerlukan sepuluh orang pegawai tambahan." Jawab lelaki setengah tua tersebut.


"Baiklah Pak Kohar saya mengerti, atur saja nanti sama anda.......! Ucap nya.


"Bu Dewi bolehkan saya meminta pertolongan untuk mendampingi Bunda Esok sore hari." Pinta Awan.


"Pertolongan bagaimana yang di minta Nak Awan kepada ibu? Tanya Bu Dewi yang tadi hanya sibuk mendengar kan obrolan antara bos dan suaminya.


"Begini Bu Dewi......... Awan menarik napas sesaat sebelum melanjutkan pembicaraan nya, mata nya menatap kearah wanita yang telah melahirkan nya dan merawat dengan penuh kasih sayang.


Awan minta agar Bu Dewi mendampingi Bunda ku untuk membereskan permasalahan Nenek Romlah kepada keluarga Pak Engkos, perihal masalah sawah yang di gadaikan oleh adik nya Nenek Romlah yaitu Nenek Markonah, biar lebih jelasnya alur ceritanya Bu Dewi sama Bunda Awan langsung ke rumah Nenek ku." Kata Awan. Hingga Lisnawati menganga mulut nya dan bertanya dalam hati.


Anakku tahu dari mana permasalahan sawah yang di gadaikan itu, setahuku tidak ada yang memberi tahukan mungkin kah kakak kakak atau Dena yang telah ngomong kepada awan.


"Ok." Siap Bos kecil masalah itu mah." Kekeh Bu Dewi.


"Huh...........! Bu Dewi kebiasaan.......! Kalau tingkat jahil sudah hadir seenaknya saja kalau ngomong, bas bos bas bos.......! Rutuk pemuda itu.


Bersambung.

__ADS_1


Maap author bila tidak suka sama karya receh aku, tidak apa apa. Tak usah lah mencibir......!


__ADS_2