Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Menunggu Pukul 00:00


__ADS_3

Dinginnya puncak Bogor malam itu tak terlalu menusuk di tulang. Mungkin, karna terlalu semangat menyambut malam hari ini bisa kumpul bersama murid murid Abah Aden Haruman yang biasa berkumpul tiap malam satu syuro dan malam satu Rajab.


Mobil Pajero Sport mewah berhenti tepat di halaman rumah Bu Sri yang tidak jauh dari rumah nya Abah Aden Haruman, terlihat beberapa motor yang beragam merek dan tipe telah terparkir di penataran itu.


"Tuan Besar kita sudah sampai. Ayo kita turun." Ajak Awan.


Tedi Ferdiansyah mengangguk seraya membuka pintu mobil nya untuk turun dan berjalan mengikuti pemuda yang sudah turun terlebih dahulu.


"Assalamualaikum." Ucapan salam di katakan oleh pemuda itu setelah mereka sampai di pintu utama Aden Haruman.


"WaallAikum Salam." Jawab dari orang orang yang sudah berada di ruangan tengah rumah tersebut.


"Awan masuk." Kata Kang Usep murid pertama Aden Haruman.


"Siap Kang.!!


Lelaki setengah baya dan pemuda berusia belasan tahun itu masuk kedalam rumah yang telah hadir beberapa orang dengan memakai sarung dan peci yang hanya ada dua warna hitam dan putih, seraya bersalaman kepada orang yang ada di dalam rumah itu.


"Abah. Dan yang lainnya kenalkan ini adalah Tuan Tedi Ferdiansyah. Ingin ikut Tawasul di malam ini." Kata Awan memperkenalkan lelaki yang di ajak nya.


Murid murid Aden Haruman tersenyum dan mengangguk ke arah lelaki yang baru di perkenalkan oleh Muhammad Awan Pratama.


"Abah Aden sehat.?" Tanya Awan kepada lelaki yang ada di hadapannya.


"Alhamdulillah." Terlihat sama mu Nak." Jawab Abah Aden.


Tumben sopan bahasa nya. hahahaha." Ucap Awan dalam hati nya.


"Hmmmm." Anak Jin Kuya berkata tak baik kepada Abah." Gumam Aden Haruman, terdengar oleh Awan hingga tersenyum manis kearahnya.


"Sudah saat kita naik ke gunung Masigit." Titah Aden Haruman kepada semua yang hadir di rumah nya.


"Siap Abah." Jawab mereka serentak.!!


"Jangan lupa dupa beserta minuman air asam di bawa." Kata Aden mengingat kan nya.


"Tuan Besar ayo kita menuju gunung Masigit yang ada dekat puncak pas." Ajak Awan seraya berdiri.


"Ok." Ucap singkat Tedi Ferdiansyah dan berdiri.

__ADS_1


"Abah. Ikut ke mobil bersama Tuan Tedi atau mau di bonceng sama yang lain.?" Tanya Awan.


"Ikut sama kamu aja naik mobil mewah." Kekeh Aden Haruman cekikikan.


"Kemon Abah, lest' go'." Semangat empat Lima yang di ucapkan oleh Pemuda itu.


Kurang lebih pukul 21:00 mereka semua sudah sampai di penataran halaman parkir salah satu pariwisata yang ada di kawasan puncak. Mobil dan motor yang biasa di parkir kan di tempat itu.


Kini mereka semua berjalan kearah timur bukit gunung Masigit melewati indah nya suasana malam yang begitu dingin dengan berjalan memasuki kebun teh secara beriringan.


Tak lama setelah melewati perjalanan setapak dengan berjalan kaki, akhirnya mereka pun sampai di bukit gunung Masigit yang lumayan memakan waktu empat puluh lima menit dengan berjalan kaki.


Kini mereka semua setelah duduk bersila di bawah gelapnya malam hari itu.


"Awan dan Tuan Tedi Ferdiansyah sini duduk di samping Abah." Pinta Aden Haruman.


"Siap Abah." Seraya pindah duduk nya di samping Aden Haruman bersama dengan Tedi Ferdiansyah.


"Nak Awan. Abah minta malam ini kau harus pokus semua beban yang ada dalam pikiran dan hatimu hilangkan untuk malam ini. Pokus kan hati dan pikiran mu kepada sang pencipta." Ucap Abah menasehati.


"Baik' Abah. Ucapnya seraya mengangguk.


"Siap.!! Ucapnya.


**********


Sementara di kampung Situ Babakan tepatnya di kediaman pasangan suami istri setengah tua. Engkos Kosasih dan Titin Kharisma sedang mempersiapkan diri untuk ritual mengirim guna guna kepada keluarga Lisnawati malam ini.


Ancaman yang di berikan oleh Sidiq Purnama kakek buyut Lisnawati pas ketika Engkos Kosasih menaburkan tanah di halaman rumah Siti Romlah tidak di gubris oleh nya.


Malam itu Titin dan Engkos Kosasih sedang berdua di kamarnya.


"Ayah kapan akan di mulai ritualnya.?" Tanya Titin Kharisma bersemangat.


"Tepat pukul 00:00 Ayah akan mulai melumuri beberapa boneka ini dengan darah ayam Cemani, dan kamu tusuk di salah satu anggota tubuh boneka ini." Jawab Kosasih tersenyum jahat.


"Baiklah suamiku tersayang. Aku akan menusuk tepat di kepalanya biar mereka merasakan sakit kepala yang teramat dahsyat dan tidak menyangka bahwa mereka terkena guna guna." Kata Titin tertawa terbahak bahak.


"Sayangku suamiku. Banyak amat bonekanya.?" Tanya Titin setelah mengeluarkan delapan boneka dalam isi kantong plastik.

__ADS_1


"Ketiga Boneka yang kecil ini untuk kedua anak perempuan Lisnawati dan Cucu nya anak dari Dena istri dari Ujang.


"Kalau yang yang ini dan ini dan ini." Untuk Lisnawati, Romlah dan Dena." Kata Engkos Kosasih.


." Terus tiga lagi buat siapa.?" Tanya Lisnawati penasaran.


"Kalau yang ini khusus buat anak ketiga Lisnawati Muhammad Awan Pratama. Khusus spesial akan langsung di buat mati." Ucapnya lalu berkata lagi.


"Sisa nya untuk lelaki yang kini telah datang lagi masuk dalam keluarga Lisnawati yaitu Hilman dan anak pertamanya istri dari Dena.


"Sadis benar benar sadis suamiku. Aku semakin sayang dan cinta padamu." Puji Titin tersenyum.


"Sayang sebelum kita melakukan ritualnya. Apakah tidak sebaiknya kita berdua melakukan ritual oho. oho. oho." Goda Engkos Kosasih.


"Siap sayang sebentar aku mau cebok dulu barang ku yang ada di dalam celana dengan sabun rapat wangi. Biar harum dan bergairah." Kata Titin seraya keluar dari kamar nya.


"Siap sayang.................!!


"Suamiku ayo sayang. Bunda sudah siap." Kata Titin dengan memakai baju lingerie yang sangat seksi hingga Gunung Kembar menyembul dan terlihat ada tanda tanda hitam di tengah tengah gunung tersebut.


"Woy......... Amazing sayang.!! Pusaka ku sudah menjulang keatas." Tunjuk Engkos Kosasih kepada pusaka warisan leluhur nya itu.


"Sayang kayak permen Kojek. Terasa ingin mengulum permen mu." Goda Titin Kharisma seraya berjalan kearah pusaka milik suaminya.


"Dengan senang hati sayang. Kau boleh mengulum permen Kojek yang bikin kamu melayang ke awang awang." Kekeh Engkos Kosasih menyodorkan permen Kojek itu kepada mulut istrinya.


Tampa di lama kan lagi Titin Kharisma pun lalu melahap permen Kojek milik suaminya dengan cara memaju mundurkan kepala nya hingga terlihat dari belakang satu buah Gua yang tertutup rumput rumput hitam memekat.


Guncangan gempa di dua gunung kembar membuat suasana hati Kosasih ingin segera mendaki dua gunung itu.


"Aduhhh......... Ahk........ Istriku rasanya ngilu dan sedap." Pekik Kosasih ketika permen Kojek di lahap abis oleh mulut Titin Kharisma.


"Sayang Sudah ahk segera kita pusaka warisan leluhur mu masukan kedalam Goa yang telah berair ini." Pinta Istri nya.


"Siap Istriku dengan senang hati........!!


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2