
"Tut................ Tut.................... Tut.....................
"Halo... Ketua.!! Kata lelaki yang menelepon setelah berhasil mendapatkan informasi dari target intaian nya.
"Yaa... Komar.... Informasi apa yang kau dapatkan.. Aku harap tidak akan mengecewakan." Jawab penerima telepon yang di panggil Ketua itu.
"Target malam ini akan keluar dan menuju restoran mewah di kota Cipanas, atas undangan dari sahabatnya." Terang Komar si pemberi informasi.
"Apakah Muhammad Awan Pratama yang mengundang mereka.?" Tanya Ketua.
"Betul sekali Ketua." Jawab Komar...
"Bagus.......... Atur sedemikian rupa, malam ini kita akan bergerak dan berolahraga... Setiap titik di restoran itu harus orang orang kita, saya tidak mau tahu bagaimana caranya." Titah Ketua memberi perintah.
"Dengan senang hati Ketua, itu hal yang kecil dan mudah bagi Komar dan kawan kawan mengaturnya." Jawab nya, tampak terlihat seringai licik di bibirnya.
"Jangan anggap remeh Komar, bila kau tidak mau bernasib seperti Bob Hidayat dan yang lainnya... Baiklah kau atur segera aku akan berdiskusi dulu bersama Pak Odeng dan Pak Gundul Pacul Cul Cul di markas, untuk malam nya berolahraga." Kata Ketua mengakhiri panggilan teleponnya bersama bawahan nya itu.
"Silahkan Ketua.... Tut... Tut... Tut.... Tut...!
#########
Matahari pun telah terbenam di hari itu, di kampung Situhiang adzan Maghrib berkumandang merdu sekali, para warga pun langsung melakukan aktivitas kewajiban nya itu, sebagai seorang muslim yang taat atas perintahnya.
Malam itu pukul 19:00 Wib. Tampak mobil Xenia warna silver bergerak dari kampung Situhiang menuju ke sebuah jalan perapatan Pramuka dan berhenti tepat di depan kios milik Azzahra Masika Fatharani.
Tampak terlihat mobil Honda Brio RS dan mobil mewah Lamborghini Sian yang parkir di samping kiri dan kanan kios itu serta satu motor Satria Fu tepat di depan dua mobil tersebut.
Sepasang suami isteri setengah tua tampak turun dari mobil tersebut dan sepasang kekasih sedang duduk di bangku panjang yang di sediakan oleh pemilik warung itu.
Tidak seberapa lama setelah itu, dan ketika sepasang suami istri yang turun dari mobil Brio RS itu memberi kode kepada seorang pemuda berusia 25 tahun, mobil mewah Lamborghini Sian melaju menuju kearah perumahan elit di kota kecil dan tak berapa lama kemudian berhenti di depan salah satu rumah yang terbilang paling mewah di komplek ini.
__ADS_1
Kini pemuda berusia dua puluh lima tahunan itu keluar dari mobil tersebut sambil mengeluarkan ponsel nya untuk mengirim pesan.
Tak lama setelah itu seorang gadis yang sangat cantik keluar dari dalam rumahnya berjalan mengarah ke pagar.
Tampak seorang petugas satpam rumah mewah itu membukakan pintu pagar untuk sang gadis itu lalu dengan hormat mempersilahkan gadis itu untuk keluar.
"Kak.... Sudah lama ya?" Tanya gadis itu begitu dia sampai di hadapan lelaki yang berdiri di samping mobil itu.
"Belum juga. Aku baru saja tiba. " Kata lelaki itu sambil menatap tak berkedip ke arah gadis itu lalu buru buru menundukkan pandangan nya.
"Ada apa Kak.? Apakah ada yang salah dari penampilan ku.?" Tanya gadis itu.
"Tid...., Tidak. Kau terlihat sangat cantik.. Hanya itu.. Sa.. Saja.. Ka.. Kau Sangat cantik.." Kata lelaki itu tergagap.
"Hahahaha.. Kak Excel ini seperti tidak pernah melihat wanita cantik saja, apalah arti aku ini hanya seorang gadis yang tinggal di kota kecil.." Kata Gadis itu tertawa, lalu merendah kata katanya.
"Amel... Hanya ada dua wanita dalam hidupku.. Yang pertama adalah Ibu ku, yang kedua adalah seorang gadis yang telah pergi dari dunia ini, meninggalkan sejuta kenangan dan memori indah lima tahun yang lalu.. Dan yang ketiga mungkin dirimu." Kata Excel dengan jujur dan polos nya, membuat Amel sejenak berada di awang-awang.
"Apakah kita akan berangkat sekarang.?" Tanya Amel lagi.
"Oh..., ya.. Silahkan!" Kata Excel buru buru membukakan pintu mobil nya dan mempersilahkan Amel masuk dengan penuh kelembutan.
Amel hanya tersenyum saja sambil sedikit melirik ke arah Excel. Dalam hatinya dia memuji sikap sopan dan kedewasaan yang di miliki oleh anak dari pemilik perusahaan terbesar di negara nya. Gaya nya, tutur bahasa nya dan cara dirinya memperlakukan wanita membuat Amel terpesona. Bener bener membuat gadis itu merasa bak seorang putri raja.
"Duduk lah dengan tenang. Kita akan pergi menuju warung depan rumah Nyonya Azzahra. Kedua Orang Tua mu dan yang lainnya menunggu kita di sana." Kata Excel dengan lembut sambil membantu Amel untuk memakai tali sabuk pengaman.
"He,em. Terima Kasih Kak. " Kata Amel yang mulai sedikit berani untuk manja.
Tak lama setelah itu mobil Lamborghini Sian pun melaju dengan tenang menuju jalan parapatan jalan Pramuka dan berhenti tepat di bahu samping mobil Xenia silver.
Setelah mobil Excel Ferdiansyah dengan membawa Amel tiba di depan warung Azzahra Masika Fatharani. Kedua Orang Tua bergegas menghampiri mobil Excel dan serentak membukakan pintu untuk mereka.
__ADS_1
"Anakku... Kau sangat cantik sekali malam ini, dan orang yang menjemput mu juga sangat tampan sekali." Bisik Dewi ibu nya ke telinga Amel.
"Bunda.... ihk.. Pipinya merona merah ketika bisikan dari seorang ibu tentang pemuda yang menjemput nya.
"Hehehehehe anak Bunda jelek kalau sedang merajuk." Ejek Bu Dewi terkekeh..
"Tuan Muda, mohon maapkan anak hamba bila sipat nya kekanak kanakan dan tidak ramah terhadap anda." Kata Kohar.
"Pak Kohar, terlalu mencemaskan putri anda, Nona Amel sangat ramah dan menurut pandangan ku serta karakter putri anda sangat dewasa." Jawab Excel..
Excel menyadari perkataan dari Ayah nya gadis yang tadi di jemput olehnya mengarah kepada hatinya yang telah bertepuk sebelah tangan kepada Muhammad Awan Pratama.. Ia mengetahuinya isi hati anak dari orang kepercayaan pemilik perusahaan Anugrah Awan Sentosa dari sang adik angkatnya waktu itu, menceritakan tentang Amel yang suka terhadap adik angkatnya, tetapi perasaan Awan sendiri kepada Amel hanya sebatas adik kepada kakak nya.
#Back to back#
"Kriiiiing''...................!
"Kriiiiing''....................!
"Kriiiiing''....................!
"Halo.... Adikku....... Ada apa kamu menelepon malam malam begini.?" Kata si penelepon yang menjawab telepon masuk itu.
"Kak... Excel maapkan adikmu yang menelepon malam ini, mengganggu waktu istrahat kakak." Kata Awan panggilan malam itu.
"Ahk...... Santai aja adikku, tak usah meminta maap segala. Emang ada apa? Tampaknya kau sedang banyak pikiran.?" Tanya Excel menebak.
"Hehehehehe..... Kalau masalah pikiran jangan di tanya lagi Kak. Tetapi ada beberapa yang sedang Awan pikirkan dan tidak bisa di pecahkan dengan kekuatan atau pun uang." Jawab Awan.. Membuat Excel kebingungan.
"Hmmmmmmmmmmmm.! Adikku.... Bisakah jelaskan pada intinya saja." Pinta Excel. Ia bener bener tidak mengerti dan kebingungan tentang beban pikiran adik angkatnya itu.
Bersambung.
__ADS_1