Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Haikal dan Sulastri berangkat menuju gunung Kanyang


__ADS_3

Pukul sepuluh malam kurang lima menit seorang lelaki setengah tua berjalan bersama dengan wanita muda berusia 25 tahun melewati rimbun nya hutan belantara dengan persiapan senter dan lampu ponsel seadanya.


Mereka berdua tidak ada rasa takut sedikitpun di perjalanan malam itu yang terkenal angker dengan jenis mahkluk halus, di hutan yang menuju gunung Kanyang itu.


"Hmmmmm." Kenapa dia jalan sendirian? di sekitar hutan pula.! Gumam ku lirih seorang diri lelaki itu.


Perlahan lelaki itu dengan seorang wanita muda melangkah kan kaki nya dengan lengan dia memegang erat tangan wanita itu.


Lelaki itu berhenti tiba tiba setelah melihat wanita cantik memakai kebaya tersenyum kearah lelaki setengah tua dengan senyuman manis.


"Pak.......! Haikal......." Pak Haikal.....! Ada apa kenapa berhenti? Tanya Lastri.


Tepukan bahu serta Lastri bertanya mengagetkan lamunanku tentang wanita yang tak biasa. Berani berjalan seorang diri, di tengah hutan yang gelap gulita. Tapi aku coba berpikir positif mungkin Istri dukun itu. Meski aku saja yang melihat nya.


"Sulastri, Ada apa menepuk bahu ku." Tanya Haikal sudah mewakili pikirannya.


"Hmmmm." Aku yang bertanya kenapa.! Pak Haikal tiba tiba berhenti? Tanya Lastri keheranan.


"Ohk itu ada wanita yang memakai kebaya hijau." Tunjuk Pak Haikal tetapi sudah tidak terlihat lagi..........!


"Ahk.........! Mana Pak dari tadi aku tidak melihat nya? Tanya Sulastri, hatinya mulai merasakan ketakutan.


Haikal garuk garuk kepala, melihat kesana kesini tetapi tidak dia temukan wanita memakai kebaya hijau itu.


"Pak Haikal ayo....... kita lanjutkan lagi baru seperempat jalan yang kita lalui." Ajak Sulastri.


Satu jam berlalu dari terakhir kali kulihat wanita itu, tepat di salah satu saung, kami berdua beristirahat dalam suasana malam yang begitu genting dan hanya ada suara suara binatang malam yang terdengar di malam itu.


"Pak Haikal kita istrahat terlebih dahulu di sini, tinggal setengah jalan lagi kita sampai." Pinta Sulastri.


"Baiklah, dan aku juga terasa letih dan capek perlu istirahat sebentar." Jawab nya seraya duduk dalam saung yang terbuka itu dengan kaki menjuntai kebawah.


Lastri naik dalam saung dengan meluruskan kaki nya kedepan lalu punggung nya ia tempelkan dalam bilik saung dan tiba tiba mata nya terpenjam seketika.

__ADS_1


"Malah tidur ini orang." Kata ku dalam diri sendiri.


Aku pun naik dalam saung tersebut, untuk membangunkan wanita itu, tapi sekilas ada bayangan putih yang terbang tepat di belakang saung yang Haikal dan Lastri tempati untuk sekedar beristirahat sejenak.


"Seperti ada seseorang yang memperhatikan ku dari arah samping saung itu, wanita itu sudah terlelap, ku beranikan diri untuk mengintip dari bilik saung itu, Haikal melihat seperti sosok wanita berkebaya hijau yang tadi dia temui itu, tetapi kali ini berbeda wanita dengan memakai kebaya hijau dengan bercak darah yang menetes di lehernya. Sedang berdiri di samping saung dengan senyum manis.


"Haikal pun mundur teratur untuk menuju wanita itu untuk membangun kan nya. Tapi sebelum mencapainya dia, Tangan wanita berkebaya hijau itu menembus bilik saung yang tadi Haikal mengintip nya.


Kini kedua tangannya masuk dan mulai memanjang kearah ku, membuatku bergidik ngeri, dan coba berteriak untuk membangun kan wanita yang sedang terlelap. Tapi Lastri tidak mendengar ku, dan aku tak bisa bergerak lagi.


"Su....... Las...... Sulas....... Sulastri. " Teriak ku yang akhir nya wanita itu terbangun.


"Ada apa Pak Haikal.!


"Aku langsung berlari menghampiri nya dan memeluk wanita itu sambil memejamkan mata. Tapi tidak mungkin ku ceritakan kepada nya. Karna tadi juga dia tidak percaya.


"Ohk tidak apa apa? Maap ya aku memeluk mu tadi ada tikus, dan sekalian membangunkan mu untuk melanjutkan perjalanan nya lagi. " Ucapku membohongi nya.


"Hmmmm." Pak Haikal pasti melihat wanita berkebaya hijau itu lagi ya!


"Lastri juga lihat.! Tapi karena takut nya Pak Haikal tidak melanjutkan perjalanan, maka Lastri hanya diam saja.


"Hah.....! Kenapa kamu tidak memberitahu saya terlebih dahulu, kalau tau akan ketemu dengan mahluk begitu, aku minta di temani sama ayah mu.! Kesal Haikal.


Lastri hanya menunduk dengan wajah pucat karna ikut merasakan ketakutan. Lalu terdengar suara Isak tangis lirih seorang perempuan. Tangisan yang menyayat hati disertai rintihan kecil.


"Tulung.........! Tulung.........! Tulung......! Tulung.....!


"Suara rintihan di keheningan malam, yang membuat kami langsung berlari dari saung itu dalam ketakutan. Hingga suara tangisan itu tidak terdengar lagi oleh kami berdua.


Aku dan Lastri berhenti sejenak dengan napas tersengal-sengal, dengan mengatur napas dan berpikir dan bertanya dalam hatiku saat ini. Siapa wanita itu kenapa dia meminta tolong kepada saya dalam saung itu.


Setelah napas kami berdua sudah teratur baik, aku pun bersama Lastri mulai melanjutkan lagi perjalanan dengan beberapa pertanyaan kepada Lastri tentang sosok wanita yang kita temui di saung tersebut.

__ADS_1


"Lastri kau kan orang sini pasti tahu sosok wanita berkebaya hijau itu.? Tanya ku di sela jalan kaki di malam itu.


"Setahu saya kalau gak salah itu anak kepala desa yang meninggal akibat di perkosa dan langsung di bunuh di bagian leher nya di saung yang tadi kita beristirahat.' Jawab Sulastri.


"Hmmmm." Mungkin arwah nya bergentayangan, untuk menuntut dendam kepada orang yang telah membunuhnya dan memperkosa secara sadis." Kataku kepada wanita itu.


Tiba tiba Sulastri berhenti dalam jalan kaki nya itu hingga aku menubruk dari arah belakang.


"Ada apa Lastri?


"Lihat tuh Ada ular yang menghalangi jalan kita." Tunjuk wanita itu.


"Ular itu hanya diam dia menghalangi perjalanan kita." Tanya lagi Lastri.


"Jangan bergerak Lastri." Jawab ku.


Aku langsung mematahkan ranting pohon yang ada di samping ku, Lalu aku mengangkat nya dan langsung melemparkan kearah samping dengan keras hingga terlempar jauh.


"Ayo kita jalan lagi satu jam lagi kita sampai di puncak gunung Kanyang itu." Ajak kepada wanita yang tadi hanya berdiam tidak bergerak.


Ketika perjalanan kami berdua mulai menanjak kearah gunung Kanyang itu, samar samar terdengar suara tangisan itu terdengar dari arah samping jalan kami berdua.


Aku dan Sulastri ku paksakan untuk melihat kearah suara tangisan itu, ketika aku menoleh kearah samping suara itu, kami berdua melihat tubuh anak kecil berusia 9 tahun sedang menangis terisak sendirian.


Lastri pun memberanikan diri untuk menyapa gadis kecil itu.


"Hai......,! Gadis kecil yang cantik? Sapa Lastri dari kejauhan.


Aku terperanjat, karena tiba tiba anak kecil itu muncul di sebelah kanan Sulastri. Anak perempuan yang cantik, meskipun terlihat sangat pucat. Dengan kulit putih bersih dan rambut pirang seperti anak bangsawan Eropa.


"Siiii... Siapa kamu? Tanya Sulastri kembali.


"Kenalkan nama saya Anjelina." Panggil saja Lina.

__ADS_1


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.


Bersambung


__ADS_2