
Di ruangan Direktur.... Tampak lima orang sedang serius dengan obrolan nya..
"Bu Dewi... Mungkin saya sekitar dua hari atau tiga hari di kota Jakarta... Seandainya nanti sore Tarmin datang bersama orang orang yang mau kerja.. Tolong Bu Dewi atur saja dan tempat kan di bidang nya masing masing." Kata Awan memberi perintah.
"Siap Nak... Emang Tarmin berapa orang yang akan di bawa.?" Tanya Bu Dewi.
"Emang harus sampai tiga hari ya Nak di kota Jakarta untuk sekedar menjenguk Tuan Tang Tang Dor.?" Tanya lagi Bu Dewi.
"Entahlah Bu..... Tapi Awan usahakan seandainya urusan selesai akan segera pulang." Kata Awan.
"Baiklah... Nak! Kamu hati hati di sana. Asep Sunandar dan Lara... Jaga keselamatan Muhammad Awan Pratama dan Nabil Nur Fadillah." Pinta Bu Dewi memberi perintah dengan nada tegas.
"Siap Nyonya Besar.. Keselamatan Tuan Muda dan Nona Nabil menjadi tanggung jawab kita berdua." Kata Asep Sunandar.
"Anakku... Entah kenapa hati ini terasa berat untuk melepaskan dirimu dan Nabil berangkat ke kota Jakarta untuk menjenguk rekan bisnis kita... Tapi Bunda juga tidak bisa apa apa, karna Bunda tahu dengan karakter dan sipat mu yang pantang untuk mengingkari janji yang sudah di terucap." Kata Bu Dewi dengan raut muka yang penuh dengan ke khawatiran.
"Bunda..... Jangan khawatir dan cemas Awan hanya pergi menjenguk saja...Lagian kemarin Awan sudah berbicara panjang lebar dengan Ayah nya Tarmin.. Bila ada masalah di internal keluarga Tuan Tang Tang Dor.. Para senior yang akan menyelesaikan nya." Terang Awan menjelaskan. Agar Ibu beranak dua itu tidak mempunyai perasaan yang bisa saja membuat pikiran dan hati pemuda itu gundah gulana.
"Bunda! Bukan dari Abah Juned saja yang akan turun tangan bila terjadi sesuatu yang perlu di tolong oleh Tuan Tang Tang Dor.. Tapi Ayah Asep Sunandar dan Kiayi Sepuh Mangku Bumi pun akan ikut andil secara tak kasat mata." Sambung Awan lagi meyakinkan Guru pembimbing nya itu.
"Begini aja ya Nak... Agar hati Bunda tenang.!! Sutisna, Syarif dan Cecep serta Bahar di ikut sertakan dalam pengawalan.. Bukan kah Bob Hidayat sudah di serahkan kepada pihak kepolisian jadi kemungkinan terbesar Pipit saat ini aman." Kata Bu Dewi memberi masukan.
"Itu lebih baik Kak.. Apa yang di katakan oleh Bunda Dewi. Kita belum tahu bahaya akan datang dari mana arahnya.. Apa salah nya sedia payung sebelum hujan." Kata Nabil ikut berkomentar.
Sesaat Awan termenung, membenarkan setiap ucapan yang di lontarkan oleh Bu Dewi dan di setujui oleh Nabil maupun Asep Sunandar dan Siti Lara.. Sesaat kemudian Ia pun berkata.
"Baiklah.. Awan nurut setiap perkataan dari Bunda." Jawab Awan dengan senyuman manis nya.
"Sudah saat nya kita berangkat... Lagian kita harus singgah dulu ke rumah nya Abah Aden Haruman." Kata Awan.
__ADS_1
"Siap....." Kata Asep dan Lara bersamaan sementara Nabil dan Bu Dewi mengangguk.
Mereka berlima pun langsung bangkit dari duduknya dan beranjak berjalan menuju keluar ruangan Direktur. Di sela mengantarkan mereka berempat menuju mobilnya.. Bu Dewi pun mengirimkan pesan kepada Syarif ketua dari Sepuluh murid Mama Sepuh untuk mengikuti perjalanan Muhammad Awan Pratama ke kota Jakarta dari kejauhan.
Kebimbangan dan kecemasan yang di rasakan oleh Bu Dewi, menandakan akan terjadi sesuatu yang sangat membahayakan Awan atau pun Nabil... Bu Dewi bukan cemas atas internal rekan bisnis nya yaitu Tang Tang Group tapi menjurus kepada perusahaan Holding Company Group yang secara informasi yang di dapat menargetkan Muhammad Awan Pratama, agar rencana nya berhasil.
"Bunda aku berangkat ya.. Assalamu'alaikum." Kata Awan seraya mencium tangan wanita setengah tua itu.
"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh.. Hati hati ya Nak." Jawab Bu Dewi seraya mengelus ngelus rambut nya.
Hal yang sama di lakukan oleh Nabil dan Lara serta Asep Sunandar.. Lalu setelah usai dengan meminta doa nya kepada Bu Dewi.. Mereka pun langsung masuk kedalam mobil dan dalam sekejap mereka pun sudah tak terlihat lagi mobilnya.
####################
"Kriiiiing ...............
"Kriiiiing................
Tampak seorang lelaki sedang tertidur pulas hingga suara panggilan masuk di ponsel yang tepat di samping meja ranjang nya tak terdengar oleh nya.
"Kriiiiing................
"Kriiiiing................
Ponsel pun kembali terdengar, tetapi lelaki itu dengan mata masih terpejam, meraba raba ponsel yang terus menerus berdering. Ketika telapak tangannya telah berhasil menemukan ponsel yang Ia cari, lelaki itu pun menyipitkan salah satu mata nya untuk melihat siapa yang menelepon di pagi hari ini.
"Hmmmmmmm. Bedil..... Ganggu tidur saja, tak tahu kah ini masih pagi." Gumam lelaki itu sambil merutuk orang yang menelepon.
"Halo.... Dil.... Ada apakah pagi sekali kau telepon.?" Tanya lelaki seraya memijit mijit keningnya karna rasa pusing di kepalanya.
__ADS_1
"Sialan kau Dul...... Pagi gimana coba kau tengok keluar dan lihat jam yang ada di ponsel mu... Ini sudah pukul 10 siang." Sewot Bedil dari sebrang telepon.
Bedul pun langsung melihat ponselnya dan tampak Ia menepuk jidatnya setelah terlihat angka 10:15 di samping kiri sinyal operator, karna tak puas dengan penglihatan dari ponsel nya bisa saja eror waktu yang tertera di ponselnya itu. Ia pun melangkah melihat jendela rumah dan tampak sang mentari terlihat terang.
"Hehehehehe." Sory Dil semalam gue bergadang dan ngobrol panjang lebar dengan Ayah nya Sulastri." Kata Bedul seraya terkekeh.
"Sialan loe malah nyengir kaya kuda Nil.." Sewot Bedil.
"Sory Dil..... Emang ada apa sih sampai loe bela belain nelepon dengan operator yang berbeda bisa bisa pulsa loe jebol.?" Tanya Bedul.
"Dul... Loe sekarang posisi lagi di rumah siapa.?" Tanya Bedil berhati hati.
"Emang kenapa loe tanya begitu." Jawab Bedul.
"Pokoknya loe jawab aja ribet amat sih." Kata Bedil.
"Uhk..... Gue lagi di rumah ayahnya Sulastri.!!
"Sekarang loe keluar dulu dari rumah Orang Tua Sulastri. Ada sesuatu yang sangat penting untuk di bicarakan kepada mu, ini tentang Sulastri." Terang Bedil.
"Baiklah....... Sekarang gue matiin dulu setelah gue menjauh dari rumah langsung gue telepon." Kata Bedul.
"Ok... Saya tunggu jangan lama lama karna ini penting banget." Pinta Bedil.
Panggilan telepon pun terputus... Bedul segera keluar dari kamarnya.. Untungnya keaadaan rumah sedang sepi mungkin kedua Orang Tua Sulastri sedang pergi ke hutan. Tapi untuk jaga jaga Bedul pun meninggalkan rumah untuk menelepon balik kepada Bedil yang ada di kota kecil.
Setelah berjalan cukup jauh..... serta posisi sudah terasa aman dan tak akan sampai ada yang mengetahui serta mendengarkan obrolan antara Bedul dan Bedil. Lelaki itu pun langsung menelepon adik seperguruannya.
Bersambung.
__ADS_1