
Perpaduan dua bibir di malam itu, menambah gelora birahi asmara dua insan yang berusia empat puluh tahun itu bergema di ruangan tengah.
Sejatinya dua insan yang mempunyai nafsu *** yang menggebu gebu, mengacuhkan film kesukaan dari wanita beranak satu itu. Titin Kharisma mulai aktif membalas serangan serangan dari suaminya. Ia mulai aktip dengan tangan nya menjambak rambut Engkos Kosasih, Melihat titik birahi istrinya mulai memanas. Engkos Kosasih pun mulai melucuti pakaian milik istrinya.
"Ahk............. ******* manja terdengar di telinga Engkos Kosasih.
"Sayang. Sudah di kunci belum pintu rumah." Bisik Titin Kharisma. Engkos Kosasih pun mengangguk.
Situasi sudah aman malam itu. Anak nya tak akan pulang dengan cepat. Titin Sudah mulai memanas birahinya sudah mencapai ubun ubun kepalanya. Goa sigotaka sudah keluar cairan licin nya. Terlihat seperti cacing kepanasan dan wajah memelas untuk segera Tongkat warisan itu di masukan dalam Goa Sigotaka milik Titin Kharisma.
"Sayang. Cepet ihk. Masukin Tongkatnya." Pinta Titin memelas.
Engkos Kosasih mengangguk. Titin Mulai menuntun Tongkat yang menjulang tinggi dan keras itu menuju Goa Miliknya yang sudah keluar air yang begitu licin.
"Bleszzzzzzzzz.!!
"Ahkhk......................" Pekik Titin Kharisma.
Tarikan Napas Engkos Kosasih sebelum mengeluarkan tenaga dalam nya untuk memecut tongkat itu secara keras dan beraturan.
"Plokk.
"Plokk.
"Plokk.
Suara pecutan tongkat komando Engkos Kosasih yang begitu bersemangat dan bercucuran keringat mengalir di seluruh tubuh nya.
"Ahkh.......... Mantap Sayang.!!
"Ahkh........... Yang Cepat Sayang.!!
"Ahkh........... Aku sampai suami ku.
"Racau wanita beranak satu itu dengan napas tak beraturan. Engkos Kosasih semakin mempercepat gerakan memecut tongkat pusaka warisan leluhurnya itu.
############
__ADS_1
Sementara di tempat yang jauh dari kediaman Engkos Kosasih yang sedang mengarungi bahtera kenikmatan di malam itu, sangat berbeda dengan dimana dua sepasang kekasih yang sedang asyik menyantap menu makanannya di restoran mewah itu dengan perasaan canggung di akibatkan oleh sosok gadis berjilbab hitam yang bernama Alicia.
Tiga puluh menit mereka diam membisu pokus dengan santapan yang ada di hadapannya. Hanya suara bunyi sendok dan piring saja terdengar di telinga nya.
"Bos. Asep Sunandar dan Nona Muda Alicia, di tambah lagi makan nya. Sayang loe mubazir kalau tidak di habiskan." Kata Awan dengan senyuman manis.
"Terima Kasih. Awan." Jawab Asep Sunandar.
"Cuih.!! Sebaiknya kau diam.!! Pikirkan bagaimana caranya kamu membayar." Ketus Alicia.
"Hehehehe. Santai Aja. Nona Alicia, seandainya uangku kurang untuk membayar makanan ini. Masih ada uang pacarku. Iya kan sayang.?" Tanya Awan mata nya lalu mengarah kearah Nabil.
"Iya. Atuh sayang.! Nona Alicia tak usah khawatir.!! Aku bawa kok uang, seandainya uang pacar ku kurang untuk membayar makanan ini." Kata Nabil tersenyum kecut. Padahal dalam hati Ia ingin tertawa terbahak bahak, bisa bisa nya Kak Awan berakting begitu.
"Sampah bener bener sampah yang tak punya harga diri. Mau memanfaatkan pacar nya." Kata Alicia.
"Awan tersenyum. Nabil hanya menatap iba kasihan kepada kak Asep, mempunyai pacar yang hanya bisa nya memandang rendah orang lain. Apa arti sebuah hujan bila sipat dan karakter nya hanya bisa menghina dan merendahkan orang yang di bawahnya.
Acara makam malam pun sudah selesai. Awan pun mengangkat tangan nya melambaikan kearah pelayan, Tak lama pelayan itu datang.
"Pak pelayan minta Bil nya." Kata pemuda yang melambaikan tangannya.
Alicia bersorak gembira karna sebentar lagi akan menyaksikan langsung wajah sampah miskin yang tak sanggup membayar makanan di restoran mewah tersebut.!!
Pelayan itu datang. Ia menyerahkan secarik kertas putih dengan tulisan menu makanan. Terlihat kaget namun Ia tersenyum. Hahahahaha. Kaya nya ada makanan yang di bungkus dan di bawa pulang." Sindir pemuda itu.
"Itu Resiko loe sampah. Loe yang berani mentraktir kekasih ku. Apa salahnya aku dan Aa Asep membungkus makanan untuk di bawa pulang." Kata Alicia dengan wajah senang.!!
"Aku bener bener tak menyangka wanita yang baru seminggu aku kenal, ramah sopan cantik dan terpelajar ternyata hanya kedok belaka. Apa yang di ucapkan oleh ayahnya Abah Kusuma, Harus berhati hati dengan perjalanan ikut bersama Muhammad Awan Pratama jangan sampai terjebak dengan manis nya bibir wanita." Ucap Asep Sunandar bergejolak dalam hati.
"Sayang. Ini bayar." Pinta Awan tersenyum kearah Nabil.!!
"Huh. Hanya bisa mengandalkan pacar nya. Dasar lelaki miskin." Gumam Alicia terdengar oleh Awan dan Nabil begitu jelas.!!
"Berapa sayang yang harus di bayar.?" Tanya Nabil. Ia melihat nota bon nya.
"Ohk hanya Tujuh juta, kecil itu buatku sayang." Puji Nabil diri nya sendiri.
__ADS_1
"Sialan Gadis itu ternyata orang kaya. Aku harus mendekati nya dan memisahkan mereka berdua." Batin Alicia tersenyum licik.
"Sebentar sayang ku Kak Awan. Nabil pergi dulu ke kasir untuk membayar makanan ini. Ehk Kak Asep dan Nona Muda Alicia, Apakah masih ada yang mau kalian berdua bungkus.?" Tanya Nabil menyindir.
"Ehk. Anu. Ini juga sudah cukup." Jawab Asep terbata bata.
"Sudah ini juga udah terlalu banyak Nona Nabil, Takut nya Uang mu nanti habis." Timpal Alicia.
"Ahk. Nona Muda Alicia. Tenang aja, Uangku masih ada kok. Bila perlu restoran ini saya beli." Ucap Nabil dengan nada sombong.
Alicia bungkam. Ia tidak bisa berkata kata. Perempuan yang menjadi kekasihnya pemuda miskin itu, bukan orang yang bisa di singgung begitu saja, karna faktor ekonomi. Sebaiknya aku mendekati nya dan berteman dengan dirinya.
Nabil pun langsung berjalan menuju kasir restoran itu untuk membayar makanan setelah tidak ada jawaban dari Alicia.
****
Di luar restoran lelaki berusia 30 tahun yang sedang menunggu temannya yang di tugaskan oleh ketua nya yaitu Rantai Bumi. Akhir nya datang juga bersama beberapa para preman yang sudah di persiapkan.
"Cungkring. Akhirnya kau datang juga.! Lelaki itu mengangguk lalu berkata.!!
"Kobra mana buruan kita.!!
"Sabar pemuda itu sedang berada di dalam restoran dengan temannya dan dua wanita yang ada di sebelah mereka." Jawab Lelaki yang di sebut Kobra itu.
Cungkring pun langsung melihat kearah restoran dan terlihat pemuda yang sedang duduk bersama sepasang kekasih itu.
"Kalian semua tunggu di sini dan bersiap siap. Aku dan Kobra akan masuk kedalam restoran. Aktipkan ponsel kalian untuk berkomunikasi." Titah Cungkring kepada para preman yang di bawa nya.
"Siap. Bos.!! Kata mereka bersamaan.
"Ayo. Kobra kita masuk ke dalam.!" Ajak Cungkring.!
Mereka berdua lalu melangkah masuk kedalam restoran dan duduk tak jauh dari pemuda yang menjadi target buruan nya.!!
Awan menyadari dua lelaki yang baru datang itu, kalau tidak salah anak buahnya Engkos Kosasih. Ia mengeluarkan ponselnya. Mengirim pesan kepada Asep Sunandar.
"Asep dua lelaki yang baru datang dan duduk di meja yang tak jauh dari kita. Itu anak buah Engkos Kosasih. Mungkin malam ini mereka berdua akan membantai ku." Pesan Awan terkirim ke ponsel Asep Sunandar.
__ADS_1
Bersambung