
Firmansyah terus bagaimana nasib Ayah mu. Bila dia terbukti dengan kejahatan nanti di persidangan.?" Tanya Ibu kandung nya dengan wajahnya yang berkaca kaca.
"Ibu tenang saja, aku sudah menyiapkan beberapa pengacara yang sangat hebat guna membebaskan Ayah dari tuntutan hukum." Ucap Firmansyah walaupun berat kemungkinan ayahnya akan terbebas dari jerat hukum.
"Baiklah ibu percaya kan sama mu Nak." Ucap wanita paruh baya itu.
Obrolan antara anak dan ibu di pagi hari seraya menyantap sarapan di pagi hari cukup lama. Setelah selesai dengan aktivitas mengisi perutnya. Firmansyah lalu beranjak ke kamar untuk mengambil ponsel dan menelepon beberapa anak buahnya yang di tempatkan di samping Mansion Tedi Ferdiansyah.
Sesampai nya di dalam kamar Firmansyah pun langsung menghidupkan ponselnya dan tak lama panggilan telepon pun tersambung dengan anak buah yang telah di susupkan di Mansion musuhnya itu.
"Halo.
"Bos Firmansyah. Saya siap menerima perintah." Ucap seorang yang menjawab telepon masuk itu.
"Jamil bagaimana situasi di Mansion Tedi Ferdiansyah apakah ada yang datang secara berombongan.?" Tanya Firmansyah.
"Situasi saat ini masih terlihat sepi bos, belum ada tanda tanda ada yang datang di kediaman Tedi Ferdiansyah. Dan terlihat mobil mobil di halaman Mansion pun hanya ada tiga unit mobil mewah milik Tedi dan anak anaknya." Kata Jamil anak buahnya yang di tugaskan untuk memantau Tedi Ferdiansyah.
"Baiklah........ Kau terus pantau pergerakan yang ada di Mansion. Bila ada yang datang secara beriringan segera laporkan kepada saya secepat mungkin." Kata Firmansyah mengingat kan.
"Siap Bos.......!! Segera akan saya informasikan bila ada mobil yang beriringan." Kata Jamil.
"Bagus........ Aku tunggu kabar terbaru." Ucap Firmansyah lalu mematikan telepon nya tanpa menunggu jawaban dari Jamil.
Firmansyah keluar dari kamarnya melangkah menemui Ibu dan adiknya untuk pamit akan keluar rumah. Apakah aku pokus terlebih dahulu mencari Istri dari almarhum Moch Ismail, tinggalkan sementara waktu dendam kepada Paman Tedi Ferdiansyah." Ucap nya dalam hati sambil berjalan keluar dari kamarnya.
__ADS_1
***
Pagi pun telah berlalu kini berganti dengan siang matahari tampak menampilkan kekuatan nya di siang hari itu. Seorang lelaki berusia tiga puluh tahun mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya akibat terserang panas nya sinar matahari tepat di atas kepalanya.
Jamil bersama ke lima anak buahnya di bawa oleh Firmansyah dari kota Jogja untuk memantau dan memata matai kediaman Tedi Ferdiansyah, sekedar menggali informasi kedatangan tamu undangan yang kemungkinan tidak di kenal oleh bos nya. Yaitu Firmansyah. Perbedaan tamu undangan yang tidak di kenal sebelumnya sudah di beritahu kan oleh Jamal Kakak nya Jamil yang di masukan dalam kantor Future Nugraha Company Group menjadi kaki tangan nya Firmansyah.
Tak lama setelah itu, dari pintu gerbang Mansion mewah keluar satu mobil Lamborghini Sian bergerak di ikuti oleh dua unit mobil mewah Pajero sports dan Toyota Alphard.
Jamil yang melihat pergerakan tiga mobil mewah itu segera mengirim informasi kepada majikannya dengan pesan singkat wasttap.
"Bos dari Mansion Tedi Ferdiansyah keluar tiga mobil mewah bergerak meninggalkan Mansion tersebut saya bersama ke lima anak buah sedang membuntuti dari kejauhan. Laporan dari saya cukup sekian. Pesan singkat di kirim kepada Firmansyah.
"Bagus terus buntuti ketiga mobil itu melaju dan bergerak." Balas Firmansyah.
"Bos posisi berada di bandara internasional Soekarno-Hatta. Kelihatannya mereka sedang menunggu seseorang." Pesan singkat Jamil terkirim lagi kepada majikannya.
"Jangan lengah terus pantau usahakan salah satu dari kalian untuk mendekati Tedi Ferdiansyah dengan berpura pura masuk kedalam ruangan tunggu di bandara itu. Balas Firmansyah.
"Siap Bos segera akan saya laksanakan.
Di ujung sana Firmansyah bertanya tanya dalam hatinya. Kenapa Paman Tedi Ferdiansyah berada di bandara. Apakah orang orang yang telah membantu keluarga nya adalah bukan dari wilayah kota kecil. Atau jangan jangan orang orang luar negri." Gejolak hati Firmansyah saat ini.
Dalam kekalutan hati nya yang lumayan cukup lama di luar halaman tepatnya di Gazebo dengan di temani oleh segelas kopi hitam dan satu bungkus rokok. Tiba tiba ponsel nya Berdering keras hingga membuyarkan lamunan nya.
Firmansyah pun langsung mengambil ponsel yang ia simpan tepat di samping rokoknya nya, terlihat jelas dalam layar ponsel siapa yang menelepon nya.
__ADS_1
"Jamil. Katakan informasi terbaru apa saat ini yang kau dapat.?" Tanya Firmansyah setelah menggeser tanda jawab telepon masuk.
"Bos mereka sudah bergerak kembali dan tujuannya saat ini adalah hotel berbintang lima di kawasan Jakarta pusat. Menurut anak buah saya yang mendekati mereka berpura pura menunggu keberangkatan di bandara itu. Tedi Ferdiansyah dan Tuan Muda Excel sudah bertemu dengan dua orang warga negara asing dan sekarang membawanya ke kawasan Jakarta Pusat untuk menunggu acara malam ini juga." Ucap Jamil menjelaskan hasil pemantauan nya.
"Jamil apakah anak buah mu mengetahui dua orang yang di jemput oleh Tedi Ferdiansyah maupun Excel.?" Tanya Firmansyah.
"Mohon maap bos. Ketika terlihat dari kejauhan, dua orang itu hanya menerima kode dari Tedi Ferdiansyah untuk diam dan tidak bersuara, setelah mereka bersalaman. Tedi Ferdiansyah lalu mengajaknya untuk menuju hotel berbintang yang ada di kawasan Jakarta Pusat." Ucap Jamil dari sebrang telepon.
"Hmmmmmmmm. Begitu kemungkinan dua orang itu sangat penting bagi Tedi Ferdiansyah. Jamil jangan kau buntuti mereka. Segera kembali putar arah menuju Mansion ku saat ini juga." Titah Firmansyah.
"Ta.... Tap..... Tapi....... Bos.!!
"Sudah tidak ada tapi tapian...... Aku punya rencana bagus untuk malam ini." Titah Firmansyah.
"Siap Komandan tertinggi. Jamil langsung meluncur menuju Mansion bos besar. Lalu dia menutup panggilan telepon nya dan mobil nya langsung berbelok arah meninggalkan ketiga mobil mewah yang baru keluar dari bandara internasional Soekarno-Hatta.
"Huhh.......... Kena kau.......... Ucap Robi dari mobil belakang melihat mobil penguntit itu berbelok kearah jalan yang tidak searah dengan mobil Tuan Besar dan Tuan muda.
Asisten Tuan Besar sebenarnya sudah mengetahui ada beberapa orang yang sedang memantau serta mengintai pergerakan di kediaman Mansion Tuan Besar. Tapi olehnya dia biarkan saja. Karna ingin mengetahui sejauh mana ia akan memantau majikannya.
Dugaan dan prasangka Robi pun terbukti dengan mobil itu mengikuti ketiga mobil majikannya melaju kearah bandara. Lalu Asisten Tuan Besar itu pun segera mengirim pesan singkat. Bahwa mobil nya sedang di buntuti oleh satu unit mobil dari belakang, usahakan jangan sampai orang yang di jemput untuk mengeluarkan suara sekata pun.
Sesuai keiinginan dari Asisten Tuan Besar. Dalam bandara pun dua warga negara asing yang sangat penting di jemput langsung oleh Tuan Besar dan Tuan muda serta beberapa para pengawal. Mereka tidak berkata satu kata pun, dan langsung menuju hotel berbintang lima yang ada di kawasan Jakarta Pusat.
Bersambung.
__ADS_1