
Iring iringan mobil berbagai merek di malam itu pun bergerak dari tempat kejadian perkara menuju sebuah pusat kota, tepat di salah satu parapatan yang menuju ke jalan Leles, iringan mobil pun langsung berbelok dan tak lama masuk ke sebuah pagar besi perumahan Leles Residance.
Setelah menempuh perjalan hampir satu jam lama nya iring iringan mobil yang di sertai dua motor cross pun tiba di salah satu rumah yang paling megah di antara mobil lainnya.
Tampak terlihat di halaman teras masuk rumah tersebut telah berdiri tiga wanita hebat menyambut kedatangan iring iringan mobil di malam itu... Tampak tersenyum bahagia di antara ketiga wanita tersebut setelah sepasang muda mudi turun dari mobil paling tengah.
"Bunda..... Mbak Pipit........ Bu Ida... Lagi ngapain berdiri malam malam bukan nya beristirahat dan tidur hehehehehe.?" Tanya pemuda dengan gaya tengil nya kumat seraya terkekeh.
Jelas jelas ketiga wanita itu menghawatirkan dirinya dan mereka yang sedang terkepung oleh orang orang Bob Hidayat dengan menargetkan Awan dan Nabil Nur Fadillah.. Bisa bisa nya pemuda tersebut bisa bercanda begitu.
"Hmmmmmmmm.! Anak ini.." Gumam Azzahra Masika Fatharani sedangkan Mbak Pipit dan Bu Ida hanya geleng-geleng kepala.
"Bunda! Nabil takut! Nabil takut Kak Awan kenapa napa" Lirih nya pelan dalam pelukan hangat seorang Ibu kandungnya.. Azzahra Masika Fatharani hanya mengelus ngelus punggung nya.!
Melihat gadis itu dalam pelukan Azzahra Masika Fatharani.. Awan pun tidak mau mengganggu nya.. Ia pun langsung menyuruh Asep Sunandar, Sutiana dan Syarif untuk masuk ke ruangan khusus ada sesuatu yang harus di bahas malam itu juga.
"Kalian bertiga saya tunggu di ruangan khusus." Pinta Awan langsung melangkah masuk kedalam rumah.
"Siap Tuan Muda." Jawab mereka bertiga walaupun Awan sudah berjalan masuk.
Tiba di ruangan khusus. Awan pun langsung mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Opan anak Abah Aden Haruman seandainya Aden Haruman belum tidur ia ingin berbicara lewat telepon.
Kiriman pesan lewat wasttap pun sudah terkirim dan belum di baca oleh Opan. Tak lama setelah itu lelaki yang tadi di suruh datang oleh Awan sudah berada di depan pintu dan mengetuk pintu ruangan.
"Masuk! Tidak di kunci." Kata satu suara dari dalam memerintahkan untuk masuk.
"Silahkan kalian bertiga duduk... Sebentar saya akan menerima panggilan telepon masuk dulu." Pinta Awan.
"Kriiiiing''..............
"Kriiiiing''.............
"Kriiiiing''.............
"Halo!!
__ADS_1
"Halo juga Awan ada apa malam malam menelepon ganggu aja." Kata satu suara dari sebrang telepon.
Awan pun langsung menjelaskan semuanya apa yang barusan terjadi waktu pulang menjemput Teh Lara dan Ibu nya serta anak nya dalam sambung telepon.
"Awan sekarang posisi Bob Hidayat di bawa kemana oleh orang orang mu.?" Tanya Aden Haruman.
"Menjawab Anda Abah.! Sementara Bob Hidayat di amankan di markas besar Anugrah Awan Sentosa!
"Hmmmmmmm.! Sebaiknya Bob Hidayat dan para anak buahnya biar menjadi urusan pihak kepolisian.. Kamu tidak usah mengurusi nya. Esok juga Bob Hidayat dan para konco konco nya langsung serahkan kepada kepolisian." Pesan Aden Haruman.
"Tapi...... Abah tadinya Awan mempunyai rencana untuk menjebak Firmansyah dan orang orang Holding Company Group dengan menyandera mereka." Protes Awan.
"Silaing anak Jin Kuya sudah jangan ngebantah ikuti ucapan Abah.. Bila tidak ingin ke depannya semakin ribet." Kata Abah Aden Haruman dengan sedikit mengancam.
"Baiklah Abah.... Awan ikut apa kata Abah saja." Jawab Awan pasrah.
"Itu lebih baik anak Jin Kuya." Kata Abah Aden Haruman lalu menyudahi obrolan lewat telepon seluler itu.
Awan langsung termenung ketika obrolan dengan guru nya berakhir. Pemikiran nya saat ini bertolak belakang dengan apa yang di ucapkan dan di titahkan oleh Aden Haruman.
"Tuan Muda.. Sebaiknya kita menuruti dan tidak membantah apa yang di ucapkan oleh Abah Guru Aden Haruman..'' Saran Asep Sunandar..
"Betul Tuan Muda.. Kami mengakui dan percaya apa yang di katakan oleh Abah Guru Besar Aden Haruman demi kebaikan anda." Timpal Kang Syarif.
"Baiklah... Aku ikut apa kata Abah... Dia berpesan seperti itu pasti ada sesuatu rahasia kedepannya tentang nasib Bob Hidayat dan para konco konco nya." Ujar Awan..
"Kang Sutisna dan Kang Syarif... Apakah ada informasi dari ke tujuh murid Mama sepuh pergerakan para preman Kang Dayat yang secara khusus menargetkan Mbak Pipit." Sambung lagi Muhammad Awan Pratama.
"Menjawab Anda Tuan Muda!! Saat ini pergerakan mereka santai santai saja... Tetapi kabar terakhir dari orang yang di bawa Nyonya Sulastri yang satu di antaranya kembali ke kampung halamannya." Kata Syarif.
"Apakah Kang Syarif tahu tujuan nya kembali lagi ke kampung halamannya.?" Tanya Awan berkerut kening nya.
"Mohon maaf Tuan Muda... Ke tujuh sahabat saya belum memberikan informasi yang kongkrit.. Secepatnya akan langsung menelepon kalau informasi itu sudah di dapat.. Karna dua dari tujuh sahabat saya mengikuti pengawal Sulastri ke kampung halaman nya." Jawab Syarif.
"Baik Kang Syarif saya tunggu kabar selanjutnya." Kata Awan..
__ADS_1
Sutisna dan Kang Syarif... Saya hari Jumat akan pergi ke kota Jakarta untuk menjenguk Tuan Tang Tang Dor yang sedang di rumah sakit.. Keselamatan Nona Nabil Nur Fadillah dan Nyonya Azzahra Masika Fatharani ada di tangan kalian." Kata lagi Awan memberi perintah.
"Siap Tuan Muda.. Anda tidak usah khawatir dan tenang saja dalam perjalanan menuju kota Jakarta." Jawab Syarif.
Awan pun mengangguk dan tersenyum.! Ketua dari sepuluh murid Mama Sepuh memang bisa di andalkan.
########
Sementara di tempat lain masih hari yang sama dan jam yang sama, tepat nya di sebuah kampung yang terletak jauh dari hiruk pikuk perkotaan seorang lelaki yang baru tiba perjalanan jauh nya melangkah menuju sebuah rumah di malam itu.
"Tok......................!
"Tok.....................!
"Tok.....................!
"Punten! Punten! Abah......!
Ketukan pintu tiga kali dan ucapan bertamu dengan nada sopan terdengar oleh orang yang berada di dalam rumah tersebut.
"Tunggu sebentar." Jawab Suara lelaki dari dalam rumah.
"Ceklek..................
"Kreak..................
Tulak pintu pun terdengar oleh lelaki yang bertamu dan sedetik kemudian pintu pun terbuka, tampak sosok lelaki paruh baya yang tampak masih gagah dengan memakai ciri khas blangko di kepalanya.
"Bedul... Ayo masuk... Sama siapa kamu kesini sendiri.?" Tanya lelaki paruh baya ketika pintu itu terbuka tampak seorang lelaki yang bertamu malam itu adalah murid nya.
"Terima Kasih Abah.. Iya Abah Bedul seorang diri." Jawab Bedul seraya melangkah masuk kedalam rumah.
Setelah bedul masuk dan duduk bersila beralaskan Samak yang telah tampak terlihat usang di ruangan rumah panggung berukuran 8x8 meter persegi.. Lelaki paruh baya itu mulai berkata.
Bersambung.
__ADS_1