
Pendeta Haka sebaiknya kau kembali lah ke alam mu dan untuk orang yang sedang kau tolong tidak akan lama lagi ajal nya pun akan tiba. Itu sudah ketentuan yang tidak bisa di cegah, Akibat ulah dirinya sendiri, kesombongan dan ketamakan akan mendapatkan balasan dari dirinya sendiri. Dan kau tidak boleh melanggar nya. " Kata Eyang Atas Angin memberi tahukan kepada Cenayang dari tanah Piramida itu.
"Baik' Eyang saya Mohon undur diri kembali ke alam manusia. " Jawab kultur sambil terbang dan keluar dari lorong gaib tersebut.
"Sementara kau Tardi sebagai balasannya kau kembali ke alam manusia tapi tidak akan seperti manusia kau akan bergentayangan sampai hari akhir pun tiba. Itu sudah menjadi takdir mu dan jangan kau ikut campur lagi urusan manusia. " Eyang Atas Angin berbicara kepada Dukun sakti dengan suara menggelegar bagaikan petir di siang bolong.
Sedangkan........! Enji Sutardji pun kembali ke alam manusia pada pagi hari dan langsung ke sahung di puncak gunung Kanyang. Tapi Na'as bagi dirinya karna raga nya sudah tidak berada di Saung itu, Lalu melayang menuju rumah panggung dan hanya melihat istri pertama nya sedang mengobrol bersama ke empat istrinya lagi sedang bercanda gurau di ruangan tengah.
Di saat istri pertama nya sedang meng intimidasi ke empat istrinya seketika Meni anak pertamanya datang dengan sorot mata yang tajam menatap kearah empat istrinya yang bersitegang. Seketika ke empat istrinya tertunduk ketakutan.
Enji Sutardji yang tidak terlihat oleh kasat mata oleh ke lima istrinya seketika tersenyum melihat anak kandung nya itu mempunyai kemampuan untuk menjadi Dukun sakti di tanah Jawa tersebut.
Arwah Enji Sutardji pun langsung kembali melayang mencari jasad nya yang entah dimana keberadaan saat itu, tujuan nya adalah Curug Sindur yang berada di bagian timur bukit gunung Kanyang.
******************************************************
Malam itu di saat Dukun sakti itu sedang berjibaku melawan pendeta Haka di atas Gunung Slamet.
Haikal bersama Rudi sore hari telah tiba di salah satu kampung yang menjadi penghubung jalan menuju hutan dimana Tardi nama dukun sakti itu sedang bertapa di Saung puncak gunung Kanyang.
Rudi pun membawa bos preman itu kepada salah satu rumah yang Ia segani selain Dukun sakti itu dan mempunyai saling sengketa dengan dukun itu.
"Tok..........! Tok..........! Tok..........!
Ketukan pintu terdengar dari luar, lelaki setengah tua pun berjalan untuk membuka dan melihat siapa yang datang di sore hari itu.
Ehk....... Pak Rudi mari silahkan masuk dan ajak temannya untuk masuk." Titah lelaki tua yang membukakan pintu rumahnya itu.
"Terima Kasih, Pak Suryana, ayo Pak Haikal kita menginap di rumah ini agar esok pagi kita tidak terlalu jauh menuju Curug Sindur itu." Ajak Rudi kepada lelaki di samping nya.
__ADS_1
Haikal dan Rudi kini telah berada di dalam rumah milik Suryana lelaki tua berusia 40 tahun beda tiga tahun dari bos preman yang bernama Haikal itu.
Tidak lama kemudian seorang wanita cantik keluar dari dapur dengan seorang wanita paruh baya sembari membawa minuman dan menyuguhkan kepada dua orang yang baru datang di sore hari itu.
"Pak Rudi silahkan diminum air nya." Kata wanita berusia 25 tahun tersebut, membuat Haikal menaruh hati kepada wanita yang datang menyuguhkan air minum.
Terima kasih, Lastri." Jawab Pak Rudi lalu meminum air bersama sama yang di suguhkan dan membasuh tenggorokan kering hingga habis seketika.
Lastri bersama ibu nya terkekeh cekikikan melihat dua lelaki yang sedang meneguk air yang ada di gelas nya hingga habis dan tak bersisa.
"Anakku....." Bawa sekalian teko nya. Kasian dua tamu Ayah kehausan. Bisik ibu nya ke telinga Anak nya.
Lastri mengangguk seraya beranjak pergi menuju dapur sebelah ujung ruangan rumah itu.
Pak Rudi habis dari mana dan siapa lelaki yang bersama dengan anda?" Tanya Suryana.
Apakah bertemu dengan Enji Sutardji?" Tanya Suryana.
"Sudah........! Besok di suruh datang ke Curug Sindur untuk memulai syarat yang di beri oleh Dukun itu. " Jawab Pak Rudi.
Lelaki bernama Suryana manggut manggut mengerti tentang obrolan dari Pak Rudi.
Pak Rudi dan Pak Haikal sebaiknya kalian berdua menginap di rumah ini." Pinta Surya
"Apakah. Tidak merepotkan'' sahut Haikal.
"Tidak.....! Sama sekali.....! Lelaki itu menjawab.
Baiklah....! karna senja pun semakin larut dan kalau pun aku harus melanjutkan perjalanan kerumah Pak Rudi yang lumayan satu jam lagi Ia tempuh dan tubuh pun sudah tidak kuat dan letih" Kata Haikal dengan senyuman lembut.
__ADS_1
"Apakah mau langsung istrahat pak Haikal dan Pak Rudi?" Tanya seorang wanita yang berada di samping lelaki itu . Yaitu istrinya.
"Maap Bu Suryana. Aku belum mengantuk kalau boleh saya ingin pergi ke warung untuk membeli kopi dan rokok" Pinta Haikal meminta ijin.
Pak Haikal sebaiknya istrahat saja biarlah ibu sama Lastri yang pergi ke warung. " Kata Wanita setengah tua itu.
"Terima kasih banyak sekali lagi saya merepotkan kalian." Ucap nya seraya memberikan uang berwarna merah satu lembar.
*********
Malam pun semakin larut waktu itu pukul 21:00 Pak Rudi telah tertidur pulas di kamar yang sudah di sediakan oleh pemilik rumah itu. Sedangkan Haikal sedang menatap di teras rumah ke arah hutan yang tadi dia lalui.
Sosok wanita muda menghampiri nya dan berkata di sela malam itu.
"Pak Haikal boleh saya duduk." tegur wanita dari arah belakang, membuat Haikal tergugup.
"Sil..... Silahkan, Lastri......" Haikal terbata bata.
"Terima Kasih Pak, " Ucap nya seraya duduk di samping lelaki berusia 40 tahun itu.
"Pak Haikal apakah sudah yakin dengan permintaan kepada Abah Enji dukun di puncak gunung Kanyang itu? Tanya Sulastri mata nya sayu menatap kearah hutan rimbun itu.
"Kenapa anda bertanya begitu? Tanya Haikal penasaran.
"Pak Haikal anda mau percaya atau pun tidak itu urusan anda, tetapi sebaiknya anda dengarkan cerita dari saya terlebih dahulu, untuk mengetahui sosok dukun itu sebelum anda melanjutkan niat nya. " Kata Sulastri kini dia menatap kearah lelaki di samping nya itu, Hingga hati Haikal Sulaiman berdebar kencang dadanya saat itu.
"Silahkan saya mendengar kan. " Pinta Haikal
"Pak Haikal mungkin orang yang ke 100 lebih untuk bertapa di Curug Sindur, setiap orang yang bertapa di lokasi tersebut tidak pernah ada yang kembali kerumahnya dalam keaadaan hidup, mereka kembali dengan seluruh anggota tubuh nya terkena gigitan ular berbisa dan seluruh tubuh berwarna biru akibat racun ular tersebut. " Kata Sulastri diam sejenak lalu mulai melanjutkan lagi pembicaraan nya.
__ADS_1