
Pagi kini telah datang di kawasan puncak Bogor. Kabut yang menutupi kawasan kebun teh tersebut membuat suasana di pagi hari itu terasa dingin hingga menusuk kedalam pori pori seluruh badan.
Sementara Aden Haruman dan pemuda itu sedang berbincang bincang hangat di pagi itu dengan di temani dua gelas berisi kopi dan satu piring goreng pisang yang masih panas membuat hidup terasa nikmat.
"Awan kenikmatan itu tidak di atur oleh banyak nya harta dan tinggi nya kedudukan serta jabatan. Kenikmatan itu kita dapat di pagi hari ini dengan di temani dua gelas kopi dan gorengan pisang yang masih panas, terasa lidah ini terasa nikmat mengunyah nya." Ucap Aden Haruman.
"Hehehehe benar pisan Abah. Sungguh nikmat mana yang kau dusta kan." Jawab Awan.
Sementara Tedi Ferdiansyah yang masih terlelap dalam tidur nya, seketika terbangun dengan suara ponsel yang memekakkan telinga nya.
Dalam keadaan yang belum sepenuhnya seratus persen Tedi Ferdiansyah pun mengambil ponsel dengan menyipitkan matanya sebelah kiri.
"Hmmmmmmmm." Robi asisten saya." Gumamnya.
Tedi Ferdiansyah pun buru buru terbangun dan mengusap layar ponsel dari atas ke bawah dan langsung berkata.
"Robi............ Kamu dimana.
"Tuan Besar saya masih berada di Vila perusahaan Future Nugraha Company. Mungkin satu jam lagi saya sudah berada di lokasi yang Tuan Besar perintah kan." Jawab seorang lelaki di sebrang telepon.
"Baiklah Robi saya juga baru bangun dan akan pergi menuju kamar mandi untuk itu bersiap siap." Kata Tedi.
"Silahkan Tuan Besar kalau begitu saya akan akhiri panggilan telepon di pagi hari ini. Silahkan Tuan Besar dengan aktivitas nya di sana.!!
"Ok." Seraya mengakhiri panggilan telepon dari asisten nya itu.
Tak lama setelah itu Tedi Ferdiansyah pun langsung keluar dari rumah menuju ruangan tengah rumah Aden Haruman dan ikut bergabung bersama dua lelaki yang berbeda usia itu.
"Tuan Besar sudah bangun.!! Sapa Awan.
"Hehehehe...... Iya Nak. Hangat tidur di kamar milik Abah Aden Haruman terasa ada bidadari yang memeluk." Kekeh Tedi cekikikan berjalan dan duduk di kursi.
"Tak usah heran Tuan Besar. Biasa kerjaan Abah." Kata Awan mata nya menatap kearah Aden Haruman.
"Huh........ Anak ini main buka rahasia aja." Keluh Aden Haruman.
"Tuan Tedi. Kopi atau Teh.?" Tanya Aden Haruman.
"Kopi Abah kalau ada mah." Jawab Tedi Ferdiansyah.
"Ada...... Tuan'.........! Awan' bikin kan kopi di dapur." Titah Aden Haruman.
"Siap........... Komandan." Seraya berjalan kearah dapur.
*********************************
__ADS_1
Pagi pagi sekali seorang warga Situhiang yang mempunyai posisi jabatan ketua pemuda di kampung itu dengan jalan tergesa-gesa melewati luasnya hamparan sawah di pagi itu.
Tepat setelah tiba di kampung Situ Babakan tepatnya di rumah panggung milik Siti Romlah, ketua pemuda itu langsung mengetuk pintu dengan tidak sabaran.
"Tok.. Tok... Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum." Ucap pemuda itu dengan napas ngos ngosan.
"WaallAikum Salam." Jawab seorang wanita dalam rumah panggung itu.
"Nak Ilyas Ada apa pagi pagi sekali datang ke rumah Nenek Romlah.?" Tanya wanita setengah tua setelah membukukan pintu rumahnya.
"Anu...... Itu Bu...... Aduh..... Itu Bu Lisnawati suami Ibu meraung raung kesakitan. Hingga suasana di rumah Bu Lisnawati penuh dengan warga untuk menengok Pak Hilman yang sedang berteriak kesakitan.
"Aduh......... Kenapa dengan suamiku. Nak Ilyas.? Tanya Lisnawati panik.
"Sebaiknya Bu Lisnawati melihat nya sendiri.! Ucap ketua pemuda bernama Ilyas.
Baiklah. Ibu sekarang juga akan melihatnya.!!
Ilyas pun langsung bergegas pergi meninggalkan Lisnawati kembali lagi menuju kampung Situhiang. Sementara Lisnawati bersiap siap dengan menantu nya untuk melihat suaminya yang kesakitan.
"Lisnawati ada apa.?" Tanya Siti Romlah.
"Hilman katanya kesakitan barusan Nak Ilyas memberi tahukan Bu." Ucap Lisnawati panik sedang memakai baju gantinya.
"Iya........ Nek lalu mengeluarkan ponselnya.
Sementara Lisnawati segera keluar dari rumah Ibu kandung nya seraya berkata.
"Bu aku duluan pergi melihat suami ku. Ibu sama anak anak nyusul ya." Titah Lisnawati.
"Iyaa......... Lisna...... Balas singkat Romlah.
"Tut............. Aku titipkan dia..... Lanjutkan perjuangan untuknya bahagia dia sayangi dirinya. Nada dering terdengar di ponsel milik Dena Istri dari Kakak Awan itu.
"Halo."
"Kak Dena ada apa pagi pagi menelepon.?" Tanya seorang lelaki di sebrang telepon.
"Awan ini sama Nenek........!! Jawab Romlah.
"Ayahmu....... Di Rumah di kampung Situhiang sedang kesakitan dia meraung-raung hingga seluruh warga dan para tetangga berdatangan." Ucapnya Romlah dalam panggilan telepon pagi hari itu.
"Yaa.......... Sudah Nanti Awan pulang Nek......! Jawab nya.
__ADS_1
"Emang kamu saat ini sedang ada dimana sekarang.! Nenek Romlah bertanya.
"Awan sedang berada di kawasan puncak Bogor. Sedang ada kerjaan yang tidak bisa di tinggal." Ucapnya.
"Tapi hari Ini pulang kan.?" Tanya Nenek bawel untuk mengingat Cucu nya itu.
"Insyaallah pulang Nek...........!! Mungkin sesudah duhur sudah ada di rumah." Jawab Awan.
"Baiklah kalau begitu. Nenek sudahi dulu telepon nya." Ucapnya.
"Ok." Nenek ku yang cantik........ Tut..... Tut.... Tut....
"Huh........." Ini anak masih aja suka menggoda, keaadaan begitu panik juga." Keluh Romlah setelah panggilan telepon itu berakhir.
"Dena ayo kita.......... Ke kampung Situhiang. Kita melihat mertua mu kenapa." Ajak Romlah.
************
Sementara di kediaman rumah Lisnawati terlihat para warga sedang berkerumun di halaman rumah kumuh yang begitu reot dan terlihat paling kecil di kampung Situhiang.
Bu Lisnawati segera berjalan menuju pintu rumah utama untuk melihat keaadaan suaminya yang terdengar kesakitan dari luar rumah.
Bisik bisik para warga berbicara bahwa sakit yang di alami oleh suami Lisnawati sama persis dengan penyakit yang di alami oleh Pak Indra Lesmana istri dari Nur Handayani.
Setelah sampai di dalam rumah. Terlihat ustadz hilal sedang membaca kan ayat ayat suci Al-Quran dengan di bantu Pak Lukman dan beberapa warga lainnya.
"Bapak.......... Kenapa. Nyebut nyebut Pak." Ucap Lisnawati panik.
"Adawwwwwwwww........... Sakit..............! Pekik Hilman meringis menahan kesakitan.
Tiba tiba perut nya semakin membesar persis seperti orang hamil yang sudah sembilan bulan.........! Semua warga langsung panik melihat Pak Hilman yang perut nya langsung membesar.
"Astaghfirullah alladzim....... Lirih Lisnawati........!!
"Ustadz hilal bersama Pak Lukman dengan khusyu terus mengaji dia mengacuhkan kondisi dari Pak Hilman yang semakin berteriak teriak kesakitan.
Tak lama kemudian Nenek' Romlah beserta Dena dengan kedua adik iparnya serta anaknya datang dan langsung masuk kedalam rumah anaknya.
"Astaghfirullah alladzim.......... Hilman.......... Kau kenapa." Kaget Nenek Romlah melihat keaadaan menantu nya itu.
"Lisnawati segera kau bacakan surat Yasin Fadilah tiga saat ini juga." Titah Romlah.
"Iya Bu......... langsung berjalan ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.
"Dena kau suruh suami mu untuk mencari daun kelor bersama bambu kuning saat ini juga." Titah Romlah.
__ADS_1
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung.