
"Kriiiiing''............... " Kriiiiing"..................! " Kriiiiing"......
"Assalamualaikum." Anakku. Ada apa menelepon.? Tanya satu suara menjawab telepon masuk.
"Bu Dewi sedang berada dimana sekarang.?" Tanya seorang lelaki di sebrang telepon.
"Ibu sedang di rumah Nenek mu, bersama Pak Arianto baru selesai dari mengurus permasalahan sertifikat yang gadaikan oleh Hajah Markonah. Emang ada apa Nak?" Tanya wanita bernama Bu Dewi itu.
"Awan perlu bertemu sekalian ingin menitipkan teman untuk bekerja di kios." Kata pemuda di sambungan telepon.
"Baiklah bagaimana kalau kita bertemu di restoran ikan bakar Abah Anom yang tidak jauh dari rumah Bu Romlah." Saran Bu Dewi.
"Boleh juga Bu......... Kalau begitu Awan meluncur paling sekitaran satu jam sudah sampai di restoran tersebut." Kata pemuda yang bernama Awan.
"Siap Ibu tunggu." Kata Bu Dewi seraya mengakhiri panggilan telepon nya itu.
"Bu Lisnawati dan Bu Romlah, saya bersama Pak Arianto mohon pamit." Ucap Bu Dewi karna permasalahan sudah selesai.
"Apakah tidak sebaiknya kita makan terlebih dahulu, menantu ku sedang bikin nasi liwet." Kata Lisnawati menahan.
"Terima Kasih banyak Bu Lisnawati atas tawaran nya, lain kali saja. Anakmu mengajak makan di restoran yang ada di parapatan." Kata Bu Dewi menolak nasi liwet tersebut.
"Bu Dewi.............. Lisnawati terhenti ucapan nya sesaat membuat guru pembimbing anaknya itu penasaran.
"Ada apa sebenarnya Bu Lisnawati.?" Tanya Dewi penasaran.
"Lisnawati bergeming diam tidak menjawab, harus dari mana dia katakan kepada wanita yang lebih muda darinya, tentang anaknya pergi karna hadir nya seorang ayah yang sudah tiga tahun dengan sengaja meninggalkan memilih wanita yang lebih muda itu.
"Cucuku itu pergi dari rumah untuk menenangkan dirinya, karna ayahnya tiba tiba datang setelah tiga tahun pergi meninggalkan dirinya dan keluarga." Kata Bu Romlah yang menjelaskan.
Bu Dewi dan Pak Arianto saat itu juga terkejut mendengar penjelasan dari Nenek kandung Muhammad Awan Pratama. Setahu dirinya dia akan menerima Ayahnya bila dia kembali, tetapi setelah mendengar penjelasan dari Bu Romlah, berbalik dengan apa yang di katakan pemuda berstatus bos tersebut.
__ADS_1
"Bu Lisnawati tidak usah cemas dan risau, nanti saya secara pelan pelan akan bertanya kepada Nak Awan. Setahuku dulu Nak Awan berharap Ayahnya kembali lagi bersatu bersama ibu nya." Kata Bu Dewi. Membuat hati Lisnawati tenang.
"Terima Kasih banyak Bu Dewi atas bantuan nya." Ucap Lisnawati berkaca kaca.
Tak lama setelah itu mereka berdua pun pamit dari kediaman rumah Bu Romlah, setelah berpamitan kepada Lisnawati dan menantunya.
"Pak Arianto, sebaiknya anda ikut terlebih dahulu menemui Nak Awan." Ajak Bu Dewi.
"Apakah tidak akan mengganggu obrolan kalian berdua?" Tanya lelaki itu di sela jalan kaki nya menuju mobil yang di parkir.
"Tidak sama sekali tidak menggangu obrolan dari kami berdua." Ucap Bu Dewi.
"Baiklah Bu sebenarnya saya juga ingin bertemu langsung dengan Muhammad Awan Pratama, pemuda hebat seperti dewa yang sudah sukses di usia muda itu." Puji Arianto kepada Bos nya wanita itu.
"Anda akan tercengang dan kaget setelah mengetahui sosok seorang pemuda bernama Awan itu, dan dengan sipat kedewasaan serta kerendahan hatinya itu. Membuat orang orang yang membenci keluarga nya kini bertekuk lutut di hadapan seorang pemuda berusia 15 tahun itu.
"Sungguh Aku penasaran di buatnya." Ucap Arianto lalu masuk kedalam mobil sedan tua milik nya.
Tak lama kemudian mobil Honda Brio RS dan sedan tua itu melaju meninggalkan jalan desa menuju jalan utama yang tidak jauh, setelah sampai di salah satu restoran Abah. Mobil Honda Brio RS pun membelokkan kemudinya ke kiri dan melaju sangat pelan tepat berhenti di dekat motor Jupiter MX milik pemuda yang mungkin sudah datang terlebih dahulu.
"Lambaian tangan dari meja pojok mengarah kepada dua orang yang bersatatus laki laki dan perempuan itu terlihat oleh mereka dan mulai melangkah seraya tersenyum.
"Anakku mohon maap Ibu datang terlambat." Kata Bu Dewi setelah berdiri di hadapan dua pemuda itu.
"Awan juga baru sampai belum memesan makanan silahkan duduk." Jawab salah satu pemuda yang sedang duduk itu.
"Terima Kasih Nak Awan.!! Ehk anakku ini Perkenalkan Pak Arianto. Pengacara sekaligus Advokad yang nanti di pegang di perusahaan milikmu." Ucap Bu Dewi seraya memperkenalkan lelaki di samping nya.
"Muhammad Awan Pratama." Ucap nya seraya menjulurkan tangannya.
"Arianto." Jawab nya seraya menyambut uluran tangan milik pemuda itu.
__ADS_1
Mereka berdua pun langsung duduk di meja makan restoran itu, dan Awan pun membuka obrolan nya.
"Bu Dewi titip Kak Asep dia butuh pekerjaan." Kata Awan setelah mereka berdua duduk dan memperkenalkan diri pemuda itu kepada mereka berdua.
"Nak Asep apakah mau bekerja di bagian gudang.?" Tanya Bu Dewi.
"Pemuda itu mengangguk. Dimana saja Bu yang penting saya bisa kerja." Jawab Asep Sunandar.
****************************
Sementara di perumahan elit di kediaman Bob Hidayat, Pipit yang merasakan peluang untuk pergi meninggalkan rumah, dengan pikiran yang masa bodo. Resiko yang akan di dapatkan bila dia meninggalkan rumahnya. Aib perselingkuhan akan di posting di dunia Maya malahan akan sampai kepada kedua Orang Tua nya mau pun kepada saudara serta kerabatnya.
Tapi rasa sakit yang ia terima dari ucapan dan perbuatan melakukan hubungan suami istri dengan mempunyai kelainan dari diri suaminya itu, ia nekad untuk pergi dari rumah itu meninggalkan anak anaknya.
Setelah ikatan tali yang ada di tangan dan kaki nya terlepas. Pipit langsung segera mengambil pakaian dari tas yang sengaja tadi siang sudah di persiapkan untuk kabur. Sial bagi dirinya karna dompet dan uangnya sudah tidak ada mungkin di ambil oleh suaminya agar ia tidak bisa kemana mana.
"Masa bodoh tanpa membawa uang pun aku akan pergi dari rumah terkutuk ini." Ucap nya dalam hati.
Kini dia berjalan kearah keluar pintu nya, lagi dan lagi sial menerpa dalam diri wanita beranak dua itu. Pintu rumah keluar terkunci dan semua jendela tidak bisa di buka.
Kini hanya ada jalan satu satu nya lewat pintu belakang walaupun harus melompat kedalam sawah, biarlah yang penting aku bisa keluar dari sini.
"Bugh........ Gedebug............! Besszzzzz.
Wanita itu melompat kedalam sawah yang basah di malam hari, berjalan tertatih tatih menahan rasa sakit akibat cambukan ikat pinggang oleh suaminya.
Sesekali meringis kesakitan dengan keringat basah mengalir di seluruh badannya.
"Aku harus kuat........ Aku harus kuat......... Ucapnya dalam hati.
Bagaikan orang gila yang sedang berjalan tanpa arah tujuan setelah naik dari sawah yang sangat basah, hingga kaki dan baju kotor oleh tanah yang becek, menyusuri jalan setapak di pesawahan tersebut.
__ADS_1
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung.