
"Ohk...... Malam ini kemungkinan Awan langsung bergerak Bah, kalau rencana nya pas mengenai sasaran yang di inginkan, Awan bisa mengetahui kekuatan lawan kedepannya." Terang nya.
"Bagus.... Hati hati jangan gegabah... Kamu harus bisa meninjau seberapa besar lawan yang akan di hadapinya.. Ingat Awan jangan terkecoh." Pesan Aden Haruman.
"Siap Abah.. Doa nya aja.. Mudah mudahan malam ini rencana ku berhasil.." Ucap Awan, mata nya menatap kearah Nabil... Yang di tatap pun tersenyum manis.
"Doa Abah dan para Karuhun selalu menyertai mu..! Yaa sudah kalau begitu Abah sudahi obrolan di telepon ini.. Kau segera atur lah rencana yang sudah di buat." Kata Aden Haruman mengingatkan.
"Siap!!
Obrolan pun berakhir... Awan pun mulai menjelaskan tentang rencana malam ini, dengan mengundang ketiga sahabatnya dan berangkat nya anak dari Friska Ferdiansyah ke restoran yang baru beroperasi beberapa hari itu.
"Kak..... Excel........!!
Awan berkata dan pandangan mata nya kini menatap kearah lelaki berusia 25 tahun pewaris perusahaan Future Nugraha Company Group..!
"Iyaa. Adikku.. Muhammad Awan Pratama, ada hal apa yang harus kakak lakukan..
"Kakak.... Bersama beberapa anak buah berangkat sekarang.. Ke kota ku.. Dan ikut bergabung bersama dengan sepuluh murid Mama Sepuh untuk stambay... Malam ini kita akan berolahraga..." Terang Awan.
"Hehehehehe Ok... Itu yang kakak tunggu." Jawab Excel seraya terkekeh, lalu bangkit dan keluar dari ruangan sebelumnya berpamitan terlebih dahulu.
Awan tersenyum!! Lalu mulai berkata lagi.. Untuk Kak Friska sebaiknya berangkat sekarang... Dan Teh Siti Lara ikut menemani nya...." Kata Awan memberi perintah kepada anak Wongso dukun santet itu.
Lara bangkit dan langsung membungkuk hormat." Siap menerima perintah dari anda Tuan muda.. Keselamatan Nona Muda Friska menjadi tanggung jawab saya." Kata Lara.
"Bagus.... Teh Lara..... !! Ingat.... Kak Friska... Untuk memposting di dunia Maya dengan drama yang sangat apik sekali, hingga membuat orang orang dari Jamil meyakini bahwa kakak sedang bermasalah dengan Kak Excel dan berusaha untuk menenangkan diri pergi dari rumah hingga para preman anak buah Jamil memburu nya ke kota kecil ku." Kata Awan mengingatkan.
__ADS_1
"Siap... Adikku.... Untuk urusan sosial media serahkan pada kakak.." Jawab Friska bersemangat..
"Teh Lara ayo kita berangkat.." Sambung Friska.
"Malam ini mungkin akan terjadi banjir darah bila kita berperang dengan secara terbuka... Aku sudah menelepon kepada Kanit Subadra dan beberapa anggota organisasi Macan Tutul... Untuk mengeksekusi setiap orang yang memburu kak Friska dan ketiga sahabat ku.. Jadi untuk Nyonya Agista dan Tuan Besar tidak usah cemas tentang keselamatan Kak Friska.. Di tambah lagi keberangkatan nya bersama Teh Siti Lara.." Kata Awan menjelaskan kepada Kedua Orang Tua Friska.
"Kami berdua percaya sepenuhnya kepada dirimu Nak... Sudah terlalu Tua untuk ikut andil dalam perang yang kemungkinan lawan kita kali ini bukan kaleng kaleng." Kata Tedi Ferdiansyah dengan kecemasan nya.
"Terima Kasih Tuan Besar dan Nyonya Besar atas kepercayaan nya kepada saya." Ucap Awan dengan senyuman manis. Mereka berdua hanya membalas dengan anggukan kepala.
"Asep sudah saat kamu berangkat dan langsung ke lokasi bersama empat orang yang sudah tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta dan langsung ke lokasi." Titah Awan.
"Siap Tuan Muda." Asep Sunandar langsung bangkit dari duduknya.. "Tuan Besar Nyonya Besar.. Mari." Ucap Asep.
"Ayo.. Nak. Asep.... Ujar Tedi Ferdiansyah.. Lalu mereka semua keluar dari ruangan khusus, yang sebelumnya Excel terlebih dahulu sudah berangkat di susul dengan Friska dan Siti Lara..
Sementara di kota kecil, di hari yang sama... Di salah satu kampung Situhiang Desa Kertayasa. Siang menjelang sore hari, Tampak di salah satu rumah yang cukup megah tepatnya di teras rumah itu, terlihat tiga gadis yang mempunyai kecantikan di atas rata rata sedang bercanda ria dengan obrolan seputar lelaki..
"Kiara..... Kau jadi malam ini membawa si Fikri cowok loe yang baru seminggu jadian ke restoran mewah atas undangan dari si Sarwan.?" Tanya Mira..
"Jadi atuh.... Ir...." Balas Kiara... Terus loe sendiri, bukan kah punya gebetan.. Siapa sih orang nya dan kok gue belum tahu tentang gebetan loe." Sambung Kiara jiwa kepo nya merana..
"Hahahahaha..... Ada deh... Nanti juga loe pasti tahu.. Pokoknya orang nya spesial di hati aku." Kata Irma masih memberikan misteri kepada Kiara yang bertanya..!
"Uhk...... Loe gak setia kawan ahk... Iya gak Mir....." Kata Kiara meminta dukungan kepada Mira..
"Mira hanya mengangguk..." Ehk... Kiara dan Irma... Apakah Rahma adiknya Bu Ani di undang nggak ya sama si Sarwan.?" Tanya Mira.
__ADS_1
"Kaya nya nggak deh.." Jawab Kiara...."
"Iyaa kayanya nggak di undang Mir.." Timpal juga Irma.
"Apakah kita ajak saja ya...!! Usul dari Mira....
"Kan semua kesalahan Orang Tua nya sudah di maafkan oleh keluarga Bu Lisnawati.. Piling aku si Sarwan gak akan keberatan." Usul lagi Mira.
"Tapi............ Mir........!!
"Tapi kenapa Kiara.." Kata Mira...
"Bukan kah Rahma sama seperti kita kita yang terpincut oleh Muhammad Awan Pratama.. Tetapi kita bertiga bisa membedakan pilihan antara perasaan dan persahabatan.. Apakah Rahma bisa seperti kita." Kata Kiara menjelaskan kekhawatiran perasaan dari Rahma adiknya mbak Ani yang sekarang dalam proses hukum.
Mira sesaat terdiam.. Membenarkan ucapan dari sahabatnya memberikan jawaban atas saran dari Mira untuk mengajak gadis cantik berkerudung tetangganya Awan.
"Begini aja.. Mira kamu coba kirim pesan kepada si Sarwan, apakah boleh mengajak Rahma.. Aku sendiri yang akan menelepon Rahma.. Mau tidak nya bila malam ini kita ajak makan malam di restoran atas undangan dari Muhammad Awan Pratama." Titah Irma.
"Ok.. Ir...... Gue coba kirim pesan kepada si Sarwan...." Ucap Mira....... ! Irma pun langsung mengangguk dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Rahma yang rumahnya saling berhadapan dengan Bu Lisnawati.
##
Tanpa di sadari oleh Mereke bertiga yang sedang asyik dengan obrolan di siang menuju sore, membahas tentang undangan yang di berikan oleh sahabat nya, acara makan malam di restoran mewah di kota kelahirannya itu.
Lalu lalang motor dan para pemuda di atas usia dua puluh tahun itu, tidak di sadari oleh mereka bertiga.. Seandainya mereka bertiga mempunyai daya ingat dan menyelisik bahwa motor motor dan para pemuda yang melintas di rumahnya Mira bukan warga Situhiang, melainkan para preman suruhan dari Kang Dayat, guna menangkap mereka bertiga.
Para preman yang sudah mendapatkan informasi tentang mereka bertiga dan dalam obrolan mereka bertiga bahwa akan bermalam mingguan di kota Cipanas dengan undangan dari sahabatnya.. Para preman itu pun langsung melaporkan kepada Ketua nya yang sedang berada di Markas Besar Holding Company Group yang ada di kota Muhammad Awan Pratama.
__ADS_1
Bersambung.