Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Ancaman Bob Hidayat kepada istrinya


__ADS_3

"Abah dingin teriak pemuda itu setelah menceburkan dirinya ke air yang turun dari bukit tinggi itu tepatnya Curug Cihea.


Tiga puluh menit berselang Abah Kusuma datang menghampiri pemuda itu yang sedang berendam di dalam air itu.


Ayo Nak Awan naik sudah berendam nya." Titah Abah Kusuma.


"Aduh Abah dari tadi atuh, di suruh naik nya badan udah menjadi Es baru di suruh naik." Gerutu pemuda itu kedinginan.


"Baru saja di sini dulu Abah di suruh Eyang Haruman berendam di air terjun Coban Lanang di daerah Jawa Timur dinginnya sampai 19 derajat Celcius." Ucap Kusuma menyindir.


"Yaa beda lah Abah Kusuma kan khusus mempelajari ilmu kebatinan dan ilmu sarea't sedangkan aku hanya pokus menjalani ilmu Haliya Dunya." Timpal Awan tak mau kalah seraya naik dari Air terjun tersebut.


"Hemmmmm." Ini anak bisa aja menyela." Ucap Kusuma pelan.


"Hahahaha." Eyang Guru Aden Haruman juga soal Abah kalau berdebat dengan ku." Ucap Awan jumawa.


"Ayo cepetan pakai baju mu dan kita segera turun karna sebentar lagi waktu subuh akan tiba." Kata Kusuma tidak mau berdebat dengan pemuda itu.


"Siap Abah Godeg." Kekeh Awan cekikikan.


"Hmmmm." Kusuma Kuya." Protes Abah.


"Hehehehe......... Itu kan di dagu Abah ada Godeg yang tumbuh." Timpal Awan tak mau kalah.


"Terserah Anak jin Kuya saja lah." Pasrah Kusuma tak mau pusing.


"Siap Abah...........!! Ayo Awan sudah selesai." Ajak nya.


"Kemon........." Ucap Abah gaul........ "Les Go' balas Awan seraya berjalan di belakang lelaki tua itu untuk pergi menuju rumah Abah Kusuma.


Tak lama kemudian mereka berdua kini tiba di salah satu rumah panggung milik Abah Kusuma dan langsung masuk kedalam.


"Nak Awan jangan dulu tidur karna waktu subuh lima menit lagi berkumandang. Mau solat di rumah atau di mushola yang tidak jauh dari sini.?" Tanya Kusuma.

__ADS_1


"Aku solat di mushola saja kalau di sini takut di ganggu sama Abah." Canda Awan cekikikan.


"Huh........ Emang Abah syetan, dasar Anak Jin Kuya." Sergah Kusuma.


"Abah mah bukan syetan tapi raja syetan." Ledek Awan.


"Dasar anak Jin Kuya, seraya sarung melayang kearah wajahnya yang sedang cekikikan.


Adzan subuh pun terdengar dengan jelas melalui toa masjid dan pemuda itu pun langsung beranjak pergi keluar menuju musholla bersama dengan anak lelaki berusia 19 tahun bernama Asep Kusuma putra bungsu dari Abah Kusuma.


"Aa Awan ada pekerjaan nggak di kota untuk pemuda seumuran ku.?" Tanya Asep di sela perjalanan menuju musholla di waktu subuh itu.


"Untuk siapa Kak Asep, kalau kerjaan sih banyak." Jawab Awan penasaran.


"Untuk Aku sendiri, malu di rumah Mulu dan kasihan kepada Abah dan Umi membebani mereka berdua." Kata Asep lalu masuk ke teras Masjid karna tidak terasa mereka sudah sampai.


"Ok nanti sesudah solat subuh kita ngobrol nya." Kata Awan, dan Asep Sunandar pun mengangguk.


Pagi pun telah tiba di hari itu matahari tampak keluar dari tidur panjang nya menyinari di Bumi Pertiwi itu.


Di sela kepergian dan kepulangan Muhammad Awan Pratama, Abah Kusuma banyak memberikan petuah dan petunjuk perjalanan kedepannya akan banyak badai besar menghadang di internal keluarga maupun para sahabatnya.


"Nak Awan pesan Abah bijak lah dalam menghadapi permasalahan jangan terburu buru memvonis seseorang salah bila tidak di sertai dengan bukti dan saksi di setiap permasalahan." Pesan Abah Kusuma.


"Insyaallah baik Abah nasehat dan petuah Abah akan saya laksanakan dan selalu di ingat." Jawab Awan seraya menunduk.


"Satu lagi Abah titip anak Abah Asep Sunandar, bila salah tegur lah dan beritahu kan kepada Abah." Ucapnya.


"Siap Abah..........!


"Obrolan di pagi hari pun berlangsung dengan topik pekerjaan yang akan di berikan oleh Awan kepada anak Abah Kusuma murid pertamanya Aden Haruman yang ada di daerah puncak Bogor.


***********************************************

__ADS_1


"Apakah kau merasakan kehilangan atas kematian Zaenudin.? Tanya Bob kepada istrinya ketika wanita berusia 30 tahun masuk ke dalam rumah nya.


Wanita bernama Pipit Damayanti itu tersenyum sinis kearah suaminya yang sedang duduk di kursi ruangan keluarga, dia tidak menjawab pertanyaan yang tak masuk akal itu langsung masuk kedalam kamarnya.


"Dasar wanita ******." Umpat Bob dalam hati.


"Pipit keluar kau saya harus bicara denganmu." Teriak Bob dengan wajah memerah padam.


Tak lama setelah itu dia keluar dengan tas yang besar berisi pakaian, lalu berkata dengan wajah dingin.


"Aku tunggu di pengadilan agama masalah hak asuh anak tergantung dirimu mau di bawa sama kau atau saya. Seraya pergi meninggalkan lelaki berusia 36 tahun seorang diri.


"Berhenti kalau kau tidak mau berhenti saya pastikan esok hari polisi datang menjemput mu kerumah Orang Tua mu." Ancam Bob.


Seketika Pipit pun berhenti dan langsung berbalik badan seraya tersenyum sinis kearah suaminya.


"Atas dasar apa polisi menjemput ku hah." Bentak Pipit yang sudah najis melihat suaminya.


"Hahahaha." Coba kau dengar kan rekaman ini kau melakukan perencanaan untuk membunuh ku bersama lelaki penjahat kelamin dan perusak rumah tangga orang." Kata Bob seraya ponsel yang telah bersuara rekaman di taro di telinga wanita itu.


Mata melotot wajah berkeringat saat ini yang di rasakan oleh Pipit Damayanti ketika mendengar rekaman percakapan dirinya dengan Zaenudin ketika beres bercinta di kamarnya.


"Kau pasti bertanya tanya kenapa aku mengetahui sipat busuk kau dan selingkuhan mu itu, tadinya aku percaya bahwa kau benar benar istri yang Solehah dan taat kepada suami, tetapi aku salah besar dan kau sengaja yang membocorkan rahasia ku kepada Zaenudin sialan itu yang sekarang sudah menjadi bangkai." Geram Bob dengan mata melotot.


"Terus mau loe apa hah." Bentak Pipit Damayanti dengan tatapan membunuh.


"Kau tetap tinggal di sini dan ikuti apa yang saya suruh.! Ingat bila kau pergi meninggalkan rumah ini, jangan salahkan aku kejam. Aku tidak akan memenjarakan mu tapi aku akan membongkar seluruh bukti perselingkuhan mu dengan Zaenudin di depan semua orang bahkan di depan Orang Tua dan istri dari Zaenudin." Ancam Bob Hidayat tersenyum penuh kemenangan.


Seketika badan wanita beranak dua itu lemas dia bersimpuh di lantai, tapi air mata nya tidak keluar menahan sesak napas yang tertahan, mau melawan apa daya, mau membalas balik kejahatan yang di perbuat oleh suaminya tapi dia tidak mempunyai bukti yang akurat.


"Baiklah aku saat ini kalah dan kau menang untuk sementara waktu, tapi kau jangan berbangga hati suatu saat aku akan membalas kekalahan ini." Ucap Pipit mengancam.


"Hahahaha....... Hahahaha...... Saya tunggu.! Saya tunggu." Ucap Bob jumawa.

__ADS_1


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.


Bersambung.


__ADS_2