
"Begini Kak Excel... Bundaku pernah menasehati ku waktu itu.. Seorang manusia yang hidupnya sukses bisa tergelincir dan langsung hancur kesuksesan nya itu dengan tiga hal.
1 Harta.
2 Tahta.
3 Wanita.
"Untuk saat ini tentang harta dan tahta sementara aku bisa mengatasi dan menjalaninya, sesuai aturan yang di haruskan oleh agama ku. Tetapi yang terakhir yang menjadi beban pikiran ku saat ini tentang seseorang yang di ciptakan dari tulang rusuk." Keluh Awan malam itu mengobrol dengan Excel dalam sambungan telepon.
Sang pendengar telepon belum mengerti dan hanya bisa mendengarkan penuturan dari adik yang berada di kota kecil itu, belum bisa menangkap arah pembicaraan yang di tuturkan padanya.
"Kak... Bolehkan aku berbagi rasa beban pikiran ku dengan dirimu." Pinta Awan..
"Kalau kakak mampu siap menerima beban pikiran mu.. Tetapi tentang apa yang akan kakak bantu untuk mengurangi pikiran yang melanda dalam dirimu.. Coba lah terus terangkan kepada ku." Kata Excel meminta penjelasan.
"Begini Kak... Waktu itu, anak dari Bu Dewi meminta bertemu dengan ku... Ada sesuatu yang ingin di bicarakan secara empat mata..
"Iya terus Kakak masih mendengarkan" Sahut Excel..
"Awan pun menyetujui dan bertemu sore itu di Kafe yang tak jauh dari kediaman rumah nya." Kata Awan sejenak terdiam sebelum melanjutkan perkataan nya lagi.
"Setelah bertemu dengan anak Bu Dewi, yang bernama Amel dan sedikit obrolan basa basi di pertemuan sore itu... Awan tiba tiba terkejut dengan ungkapan hati anak dari sang Direktur perusahaan Anugrah Awan Sentosa itu..
"Kak... Dia mengutarakan isi hati nya kepada ku.. Hal itu aku tak bisa berkata apa apa... Mau nolak rasa itu, takut membuat hubungan ku dengan Bu Dewi dan suaminya renggang. Mau menerima sedikit pun aku tak mempunyai rasa cinta kepadanya. Hatiku sepenuhnya kepada Amel hanya sebatas rasa sayang layaknya adik kepada sang kakak. Hingga waktu itu aku tak bisa memberi jawaban tentang ungkapan rasa cinta Amel kepada ku." Kata Awan menjelaskan pikiran yang kini membebaninya.
"Lalu. Apakah kamu sudah memberi jawaban sampai saat ini kepada anak bungsu Bu Dewi.?" Tanya Excel.
"Belum sampai saat ini Kak... Aku hanya bisa menghindar dan kakak juga tahu sendiri, aku pun tumbang hingga masuk rumah sakit dan di nyatakan mati suri.!
__ADS_1
"Jadi apa yang harus kakak lakukan untuk bisa mengurangi rasa beban yang ada dalam dirimu.?" Tanya Excel.
"Sebelum aku berbicara dan meminta beban yang ada di pikiran ku saat ini, sebelum nya aku Muhammad Awan Pratama memohon maap bila permintaan ku ini menyinggung hati Kakak..
"Adikku terlalu sungkan.. Silahkan katakan permintaan mu Awan." Pinta Excel.
"Kak.... Excel kan statusnya jomblo akut hehehehe... Awan minta nggak untuk membuka hati Kakak kepada Amel...... Secara pisik dan finansial status Amel bisa bersanding dengan mu Kak.." Terang Awan.. Hal itu membuat hati Excel Ferdiansyah tersentak kaget dan tak menyangka sang adik akan meminta permintaan ke jalur asmara.
"Kak mohon maafkan aku ya, bila permintaan ku ini di luar nalar dan membuka luka hati kakak yang lama." Sambung Awan dalam telepon.
Dalam panggilan telepon malam itu antara anak dari perusahaan Future Nugraha Company Group dan pemilik perusahaan Anugrah Awan Sentosa, tampak seorang lelaki yang di sebrang telepon terdiam dengan permintaan dari sang adik angkatnya.. Ia masih terkejut dan tak menyangka bahwa apa yang di pinta oleh adiknya berurusan dengan wanita, yang jelas jelas dirinya sendiri tak mempunyai rasa kepada anak dari pasangan Kohar dan Dewi Ayunda.
Akan tetapi sudah begitu lama dan hampir lima tahunan lebih hati nya menutup kepada seorang mahluk yang bernama wanita itu.. Secara tiba tiba Muhammad Awan Pratama orang yang pernah menyelamatkan beberapa kali keluarganya meminta bantuan kepada dirinya yang mungkin sulit bagi seorang Excel untuk menerima permintaan itu..
"Kak....... Kak..... Excel... Apakah masih di sana.?" Tanya Awan tak menerima jawaban dari permintaan nya itu.
"Kak...... Apakah ucapan ku telah menyinggung hati Kakak..?" Tanya Awan... Ketika mendengar nada bicara Excel tampak serius dan menahan amarahnya.
"Tidak adikku... Sama sekali tidak.... Kakak hanya tidak menyangka dan duga bahwa permintaan itu menyangkut masalah perasaan... Sebelum kakak menjawab dan menerima permintaan dari mu.. Kakak ingin bertanya dan harap adikku menjawab dengan jujur." Kata Excel..
"Silahkan Kak..... Awan akan menjawab dengan jujur!
"Baiklah..... Apakah adikku permintaan ini di suruh oleh Kedua Orang Tua ku?! Atau kah di minta oleh Kedua Orang Tua Amel.?" Tanya Excel.
"Menjawab anda Kak Excel.! Dua dua nya tidak ada kaitannya dengan Tuan Besar dan Nyonya Besar.. Dan Bu Dewi serta suaminya juga tidak mengetahui semua ini.
"Terima Kasih adikku Muhammad Awan Pratama.. Kalau begitu Kakak akan menerima permintaan darimu.. Seandainya hatiku ini bertolak belakang tidak ada perasaan sama sekali terhadap anak dari Bu Dewi.. Adikku mohon maklum dan memaafkan Kakak." Kata Excel berterus terang.
"Sama sama Kak... Tidak usah meminta maaf bila harapan tidak sesuai dengan kenyataan... Tapi aku berharap Kakak bisa berjodoh dengan Amel." Kata Awan penuh harapan dan bila mungkin mereka di takdir kan berjodoh beban dalam hati ku berkurang satu dan tujuan melindungi Nabil sepenuh hati akan terlaksana.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu Kakak.. Meminta nomor kontak Amel.." Ujar Excel..
"Siap Kak Excel... Awan langsung kirimkan melalui pesan Wasttap, kalau begitu obrolan malam ini sudahi dulu kak.. Silahkan kakak beristirahat." Ucap Awan.
"Ok.. Adikku yang paling ganteng..........!! Lalu malam itu panggilan telepon pun berakhir.!!
#Back to the beginning#
Kiara dan Irma serta Mira.. Tidak menyangka bahwa yang keluar dari mobil mewah Lamborghini Sian itu, seorang wanita cantik Putri dari Bu guru Dewi.
"Sangat cocok dan serasi Amel bersanding dengan Tuan Muda pemilik perusahaan Future Nugraha Company Group." Gumam Kiara..
"Iyaa... Kir...." Timpal Irma yang mendengar gumam nya sahabatnya itu.
"Sebaiknya kita menyapa nya." Usul Mira kepada kedua sahabatnya itu.
"Ayo... Kata Kiara dan di angguki oleh Irma.. Sementara pacar Kiara hanya menunggu nya di samping mobil yang Ia bawa.
"Amel......." Sapa Mira dan senyuman manis dari Kiara serta Irma.
"Kalian... Kiara dan Irma serta Mira... Mohon maapkan Amel yang tak melihat kalian bertiga." Ucap nya.. Lalu memeluk satu persatu sahabat majikannya itu.
"Ahk.... Tidak apa apa kok Amel.." Kata Mira setelah pelukan hangat nya itu terlepas.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang." Ajak Bu Dewi.
"Ayo..... Lest' Go...... " Kata mereka serentak.!
Bersambung.
__ADS_1