Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Mereka Berdua Tiba di puncak Gunung Kanyang


__ADS_3

Malam itu di sebuah kamar Vila di daerah kota kecil, malam ini tampak seorang pria sedang menikmati malam nya dengan seorang wanita bayaran yang sudah biasa melayani pria hidung belang.


Pria matang berusia 35 tahun itu tampak sedang terbaring sambil menikmati permainan yang di berikan oleh wanita bayarannya.


Meski pria itu sedang bercinta dengan wanita bayaran, namun dia selalu membayangkan wajah wanita pujaan hati nya, yang baru satu hari dia temui di rumah duka Andri Setiawan. Bahkan di puncak kenikmatan nya, dia memanggil nama wanita dengan merdu.


Sedangkan si wanita bayaran hanya diam saja dan terus melayani pelanggan nya. Tak peduli siapa yang di panggil pria itu. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan diri nya, asal dia dapat uang untuk menyambung hidup nya.


"Ohh........." Ernaaaaaaa.!! Aku mencintaimu! Erang nya saat gunung gede meletus menyemburkan lava kenikmatan sudah keluar.


Seketika itu Bob mendorong wanita yang sejak tadi berada di atas tubuh nya. Setelah itu melepas sesuatu yang sejak tadi membungkus pusaka milik warisan leluhur nya itu. Cairan yang ada dalam pembungkus itu lalu dia buang begitu saja di lantai.


"Cepat paka bajumu dan segera keluar dari kamar ini,' Kata Bob dengan nada dingin.


Tak lupa dia mengambil beberapa uang lembar ratusan ribu dia berikan kepada wanita itu sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.


"Cepat kamu keluar dulu dari kamar ini." Usir Bob.


"Terima Kasih Om, kalau Om masih ingin memakai jasa ku dan puas dengan pelayanan ku malam ini, tinggal datang lagi ke Vila ini dan bilang saja sama cungkring." Ucap wanita itu setelah menerima uang dari Bob Hidayat itu.


"Cepat keluar.!! Bob tidak memperdulikan ucapan dari wanita bayaran itu.


Setelah wanita bayarannya keluar, Bob kembali merebahkan kembali tubuh nya yang masih polos, dia mengambil ponsel dan membuka galeri Poto nya.


"Cup.!


"Aku mencintaimu Erna.!! Ucap nya setelah mengecup Poto seorang wanita yang baru satu hari dia temui di rumah duka mendiang suami nya.


Sementara di kamar sebelah ruangan Vila itu, permainan Holik Simatupang begitu sangat alot dan lama, mungkin lelaki berusia 29 tahun dengan status duda itu terlebih dahulu meminum obat yang bernama URAT MADU dengan khasiat tiga jam lama nya.


Sesekali wanita bayaran itu merintih rintih kepedasan akibat gempuran dari lelaki yang belum mengeluarkan lava nya itu.

__ADS_1


"Aa Holik Simatupang bayarannya gak mau tahu harus dobel ya di saat, lelaki itu terus menerus memberikan tubrukan tubrukan kepada wanita bayaran itu." Kata wanita itu dengan napas nya terengah engah.


"Siap itu tidak masalah asal aa puas." Jawab Holik Simatupang di saat semburan Lavanya keluar bersama meletus nya gunung dari wanita bayaran itu, dan mereka berdua pun terkapar secara bersama dengan napas ngos ngosan terasa di kejar hantu sundel bolong.


Setelah mereka berdua selesai dengan olahraga malam nya itu dan dengan pakaian yang sudah rapi kembali mereka pun langsung keluar menuju ruangan, dan melihat Bob Hidayat bersama Betmen sedang duduk di kursi di temani masing masing wanita bayaran itu.


"Busyet loe lama amat mad Holik.? Tanya Bob kesal karna menunggu.


"Urat Madu. Gtu loh.'' Kekeh Holik Simatupang merangkul wanita itu.


Drama percintaan yang cukup singkat ternyata membuat perut Bob Hidayat kelaparan. Lalu mengajak Holik dan Betmen untuk makan bersama tiga gadis bayaran.


"Gue lapar kita cari makanan yu." Ajak Bob.


"Ok, Lest' Go' ." Sahut Holik menerima ajakan dari Bob Hidayat itu.


Lalu mereka berenam pun beranjak dan langsung keluar dari Vila tersebut berjalan menghampiri mobil milik Bob Hidayat itu.


********************************************


Sementara di bawah kaki gunung Kanyang seorang lelaki bersama seorang wanita pada malam hari sedang mengobrol dengan seorang anak kecil yang malam malam menangis di kaki gunung itu.


"Kenalkan nama saya Anjelina." Panggil saja Lina.


"Lalu apa yang kamu lakukan di sini?


"Saya di kurung di tempat ini oleh orang sakti yang ada di saung atas itu, saya tidak bisa pergi kemana kemana, dan harus tetap tinggal disini.! Jawab Gadis kecil itu.


"Terus sekarang kenapa kau menampakkan kepada kami berdua, bukan kah alam mu dan alam kami berbeda? Rasa penasaran ku mulai meninggi.


"Karna belum ada yang berani datang malam malam begini ke puncak gunung Kanyang itu." Tunjuk gadis kecil itu keatas.

__ADS_1


"Kami berdua ada keperluan sama orang yang sedang berada di saung gunung itu." Jawab Sulastri.


"Ayo aku antar kalian berdua naik ke atas dan pegang kedua tangan ku ini dan mata kalian berdua harus tertutup." Ajak gadis yang memperkenalkan diri nya Anjelina.


Sulastri dan Haikal bagaikan terkena sihir oleh gadis kecil itu lalu memegang kedua tangan nya dan mata tertutup.


"Wuuzzz..........!


"Wuuzzz..........!


Seketika Anjelina membawa mereka berdua kini terbang dan hanya hitungan menit kini mereka berdua bersama satu gadis yang ia temui di bawah gunung Kanyang ini sudah berada dalam puncak gunung tersebut.


"Buka mata kalian berdua kita sudah sampai di saung puncak gunung Kanyang." Titah Anjelina.


Setelah mata mereka berdua benar benar terkejut dan tak percaya apa yang di rasakan oleh mereka saat ini, tapi ini bener nyata karna mereka mengalami nya, andai saya bicarakan kepada orang orang tentang kejadian ini, mungkin akan menganggap kami berdua orang gila.


"Hebat....... Benar benar Hebat........! Hanya hitungan menit kita sudah sampai di puncak gunung Kanyang. " Puji lelaki bernama Haikal kepada gadis itu.


Anjelina, terima kasih banyak.! Sulastri tersenyum kearah gadis yang baru dia kenal beberapa menit itu.


"Cepat selesaikan niat dan tujuanmu sebelum Enji Sutardji kembali sadar dari kesadaran merogoh Sukma batiniah nya itu." Titah Anjelina beberapa saat sebelum menghilang entah kemana.


Disaat yang bersamaan, kedipan kedua mata Haikal dan Sulastri, membuat kesadaran kami berdua sudah kembali lagi seperti semula.


Napas kami terasa ngos ngosan, seperti habis lari mengililingi lapangan bola. Kami berdua mencari keberadaan Anjelina gadis yang baru di temui ketika di bawah kaki bukit gunung Kanyang itu. Tapi sepertinya dia sudah tidak ada di tempat ini. Seketika satu dari kami berdua berkata.


"Pak Haikal sebaiknya kita segera selesaikan niat dan rencana kita datang ke puncak gunung itu.? Tanya Sulastri, setelah napas nya mulai teratur.


"Baiklah, lebih baik sekarang aku membunuh dan meminum darah dukun laknat itu, sebelum apa yang di katakan gadis itu sadar lelaki yang sedang berada di dalam saung tersebut." Jawab Haikal, sambil melangkah berjalan menuju saung itu.


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2