Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Syarat Dari Dukun


__ADS_3

Tak lama setelah itu Bob Hidayat pun masuk kembali dengan membawa satu kantong plastik yang di dalam nya sebuah tanah halaman rumah orang yang mau dia santet karna rasa sakit hatinya itu.


"Mbah ini tanah yang Mbah minta." Ucap Bob Hidayat menyerahkan bungkusan plastik hitam yang berisi tanah di halaman rumah Ustadz Jaenudin.


"Baiklah Nak, aku akan mengerjakan nya nanti malam, besok pagi kau kembali lah kesini untuk membawa syarat yang akan kau gunakan untuk mengirimkan santet pada orang yang kau mau, dan mengambil air yang akan kau taburkan pada wanita yang kau sukai." Ucap Mbah Sardjito dengan seringai kecil di wajahnya.


Setelah Bob keluar dan selesai dengan tujuan dan maksud nya, kini giliran Holik Simatupang yang masuk seorang diri dan sama halnya dia seperti Bob Hidayat yang awalnya gemetaran.


"Ini Nak syaratnya harus di baca mantra nya setelah itu, kamu harus puasa mutih 7 hari 7 malam di mulai dengan malam dimana kamu di lahirkan kedalam dunia ini." Tanya Mbah Sardjito, yang tidak menanyakan maksud Holik Simatupang tujuannya datang kesini karna sudah mengetahuinya.


"Setelah saya puasa mutih lalu saya membaca mantra nya dimana Mbah Sardjito.?" Tanya Holik Simatupang.


"Kamu harus baca mantra nya di kuburan yang baru satu hari meninggal, dan saat kau berada di kuburan itu, tanah lalu ambil dan langsung kamu campurkan dengan bunga tujuh rupa setelah itu lalu mandikan harus tujuh gayung guyuran tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih." Tegas Mbah Sardjito.


"Baiklah Mbah saya mengerti, kalau begitu saya undur diri, dan mungkin besok kembali lagi mengantar teman saya yang belum beres.! Ucap Holik Simatupang.


"Silahkan Nak." Jawab Mbah Sardjito.


Holik pun kini keluar dari gubug reot tua itu dan menghampiri mereka berempat, lalu bertanya kepada Dika dan Betmen.


"Dika, Betmen apakah kau punya maksud atau tidak.? Tanya Holik.


"Saya, tidak punya maksud tujuan apa apa.! Ucap Dika dan di teruskan oleh Betmen, iya saya juga tidak punya maksud tujuan." Ucap Betmen.


"Yaa.........! Sudah kita pulang besok kita kembali lagi." Ajak Bob.


"Lest' Go', kemon." Ucap mereka berempat dan pulang mengikuti arah mas Jono yang mengantar nya.


Di sepanjang perjalanan di hutan itu, banyak sekali burung gagak yang beterbangan mengiringi perjalanan mereka keluar dari hutan angker di kaki bukit gunung.


"Men, kenapa perasaan ku tidak enak begini ya." Ucap Dika yang nampak khawatir dan cemas.

__ADS_1


"Sudah lah Dika, tidak usah berprasangka buruk, semua akan baik baik saja." Jawab Betmen dengan wajah nya juga ketakutan dan Kekawatiran saat itu.


Satu jam mereka pun tiba di rumah nya mas Jono dan waktu pun semakin sore, akhir nya malam ini mereka berempat pun menginap di rumah anaknya Mbah Sardjito.


"Pak Bob, lebih baik kalian menginap saja di sini agar esok bisa pagi pagi mengambil pesanan dari si Mbah." Saran mas Jono.


"Baiklah, apakah tidak merepotkan mas Jono.?" Tanya Bob walaupun tujuannya memang mau menginap di rumah mas Jono.


"Ahk ....... Tidak sama sekali Pak Bob, justru saya ikut senang." Ucap Jono dengan senyuman.


"Terima Kasih banyak, sudah merepotkan mas Jono." Kata Bob Hidayat dengan ramah.


"Sama sama Pak Bob, kalau begitu mari masuk ke gubug reot saya." Ajak Jono.


"Mari mas Jono......! Mempersilahkan untuk masuk kedalam terlebih dahulu.


Bob Hidayat, Holik Simatupang dan Betmen serta Dika kini sudah masuk ke gubug reot milik anak Mbah Sardjito yaitu mas Jono.


*********************************************


"Mobil pun melesat pergi meninggalkan restoran menuju perumahan Elit di kota kecil itu, membelah jalan raya menuju jln pasar beras Cikidang.


Tak lama kemudian mobil pun memasuki gerbang perumahan itu dan langsung menuju blok H nomor 21 di mana mobil itu akan di simpan.


"Tin.........! " Tin.........! " Tin............!


Klakson mobil pun di pencet agar Bu Ida keluar dari rumah nya untuk membuka kan garasi pager rumah nya.


Hanya dua menit dari suara klakson itu pintu pagar garasi mobil pun di buka oleh wanita berusia 35 tahun beranak tiga tersebut.


Setelah mobil di masukan kedalam garasi Awan pun segera masuk kedalam Rumah nya dan langsung duduk di ruangan keluarga lalu menghidupkan laptop yang ada di meja itu.

__ADS_1


Aden, Muda mau di bikinin kopi?" Tegur Bu Ida pembantu di rumah nya.


"Boleh, Bu, kopi Hitam jangan di kucek ya." Ucap Awan mata dan tangannya pokus pada laptop yang sudah menyala.


"Siap Aden,......! Bu Ida pun langsung ke dapur untuk membuatkan kopi buat majikannya.


Tidak lama kemudian ART itu datang membawakan nampan dengan gelas di atas nya dan di suguhkan kepada majikannya itu.


"Aden ini kopi nya." Kata Bu Ida menyuguhkan.


"Terima Kasih Bu Ida,.... Bu Ida duduk dulu sebentar ada yang mau saya tanyakan." Titah Awan.


Bu Ida pun langsung duduk di kursi dan berhadapan dengan pemuda yang ia tahu majikan nya.


"Bu Ida, apakah Pak Salim sudah kesini, mengurus anak anak Bu Ida untuk bersekolah.?" Tanya Awan.


"Alhamdulillah." Tadi siang pukul 10 sudah Aden........! katanya mudah mudahan Senin depan sudah bisa sekolah, kalau yang bungsu dua Minggu lagi masuk TK." Ucap Bu Ida.


"Bagus....... Kalau begitu mah, biar Pak Salim aja yang ngurus anak anak Bu Ida masuk sekolah." Ucap Awan.


"Iyaaa..... Aden, saya mah nurut saja, Alhamdulillah segini juga punya majikan yang super baik, semoga Aden sehat selalu banyak rejeki nya." Ucap Bu Ida dengan mata berkaca-kaca.


"Amiin yaa robball allamiin. Makasih Bu, Doa nya, silahkan Bu Ida sibuk kembali pekerjaan yang lain' aku mau melanjutkan pekerjaan yang tertunda." Titah Awan agar segera menghindari pujian dari pembantu nya itu.


"Baik' Aden." Ucapnya seraya beranjak pergi meninggalkan ruangan keluarga dan anak anaknya agar tidak bermain ke ruangan keluarga.


Satu jam kini berlalu Muhammad Awan Pratama bergelut dalam layar laptop nya, dan pekerjaan pun sudah selesai, lalu mengklik tombol send nya agar masuk melalui aplikasi wasttap dan tersimpan melalui pdf di penyimpanan galeri ponsel.


Alhamdulillah kini sudah selesai tinggal mengirim kepada, Excel Ferdiansyah, mudah mudahan dia suka dan mau dengan proposal pembikinan Mall di kota ku." Gumam Awan dengan sendiri nya.


"Setelah mengirim pesan dokumen melalui pdf kepada kakak' angkat nya yang sekarang untuk sementara memegang kendali perusahaan Future Nugraha Company, karna ayahnya Tedi Ferdiansyah sedang menyembunyikan identitas diri sementara waktu.

__ADS_1


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.


Bersambung.


__ADS_2