Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Daun Kelor dan Bambu Runcing


__ADS_3

Di kampung Situhiang semua warga ikut membantu apa yang di minta oleh Nenek Romlah. Kabar penyakit yang di derita oleh suami Hilman sampai ke telinga pasangan suami istri Engkos Kosasih dan Titin Kharisma.


Mereka berdua yang melakukan kejahatan dengan cara mengirim guna guna tidak lantas bahagia, karna kiriman nya tepat pada suami Lisnawati.


"Ayah kenapa hanya suami Lisnawati yang terkena Santet. Sedangkan yang lainnya tampak baik baik saja.?" Tanya Titin Kharisma.


"Itulah yang sedang ayah pikirkan saat ini. Ada kejanggalan padahal semalam sebelum santet itu di kirim. Para mahluk Ghaib itu sudah di perintahkan untuk semuanya ke rumah Nenek peyot karna di rumah Lisnawati hanya ada Suami nya seorang.


"Apakah di rumah nenek peyot itu punya penangkal kiriman ilmu santet.?" Tanya Titin Kharisma penasaran.


"Tidak mungkin Istriku............!! Contohnya suami Nenek peyot itu mati karna terkena guna-guna dari kita." Jawab Engkos Kosasih dengan wajah yang berkerut.


"Sebaiknya Esok aku berangkat menuju pesisir pantai selatan untuk menemui Mbah Wongso dan bertanya kenapa bisa gagal begini." Saran Engkos Kosasih.


"Yaa......... Sudah....... Aku tidak mau tahu yang penting si Lisnawati dan nenek peyot itu menderita." Geram Titin.


"Kamu tenang saja........... " Ucap Kosasih.


*********


Nek ini daun kelor dan bambu kuning yang Nenek minta sudah ada.? Kata Dena menyerahkan kedua barang yang di minta.


"Ambilkan Air sumur sekarang juga." Titah Romlah...... Dan kau Lisnawati daun ini kau pukul kan kedalam perut suami mu.


Lisnawati yang sedang mengaji pun langsung menerima daun kelor itu dan segera di pukul kan kepada perut suaminya yang sedang meraung raung kesakitan cukup keras.


"Bismillahirrahmanirrahim........... Pukulan tiga kali di lakukan oleh Lisnawati....... kepada perut suaminya itu.


Para warga yang melihat langsung menganga mulut nya dan ada pula yang membekap mulutnya. ketika perut Pak Hilman mendadak kempes seperti sedia kala.


Pak Hilman pun seketika pingsan tak sadarkan diri setelah perut nya kempes. Ustadz hilal dan beberapa warga lainnya lalu mengangkat nya untuk di pindahkan kedalam kamar nya.


Sementara Nenek Hilman menyuruh Ujang suaminya Dena untuk segera menancapkan bambu kuning itu di ujung sudut pintu utama.


Setengah jam berlalu suasana sudah dalam kondisi yang sedia kala........ Di dalam kamarnya terlihat Lisnawati dan kedua anaknya yang masih belia duduk di samping suaminya.


Tiba tiba kini bukan perutnya yang membesar di tubuh suaminya. Tapi kedua kakinya kini membesar seperti terkena penyakit kaki gajah.

__ADS_1


Sontak Hilman pun kembali tersadar dan merintih kesakitan kembali.


Lagi dan lagi para warga berdatangan menghampiri rumah milik Lisnawati hingga dia melupakan waktu nya adzan duhur berkumandang di masjid Al ikhlas.


"Ibu bagaimana ini. Kenapa suami ku kembali merintih kesakitan dan sekarang kedua kakinya bertambah besar.?" Tanya Lisnawati panik.


"Entah lah Lisna........ Segala cara yang di ajarkan oleh Kakek mu bila terkena serangan santet Sudah di lakukan." Pasrah Romlah.


Setelah cara yang pertama di lakukan dengan memukul kedua kakinya dengan daun kelor tak berhasil. Romlah hanya mendengus pasrah saat itu.


"Yaa Allah Yaa Robbi..... Aku harus bagaimana." Ucap Lisnawati dalam kepasrahan kepada sang pencipta alam.


Pak Ustadz dan beberapa warga lainnya sedang mengaji ayat ayat suci Al-Quran. Tapi kondisi Pak Hilman semakin memburuk. Bukan kedua kakinya yang membesar sekarang perutnya membesar kembali.


"Pak....... Istighfar....... Pak....... Nyebut....... Pak.......!! Lirih Lisnawati dalam tangis nya melihat keaadaan suaminya.


Sementara di luar orang orang sedang membicarakan sakit yang di alami oleh Pak Hilman merasa iba dan kasihan. Berbeda dengan tetangga nya yang rumah nya berhadapan dengan Lisnawati.


Didalam rumah orang tua Nabil Nur Fadillah. Mereka bertiga sedang tertawa puas dengan seringai yang mengerikan di wajahnya.


Kemudian pasangan suami istri dan anak perempuan pertama nya yang bernama Ani itu keluar dari rumah nya. Menatap rumah Bu Lisnawati dari depan terasnya. Mereka bertiga menyeringai dengan penuh dendam.


Tak lama kemudian satu unit mobil mewah Pajero sports berwarna hitam melaju dari arah barat menuju dan melewati rumah Lisnawati yang sedang berkerumun para warga.


"Tin........! Tin........! Suara klakson mobil terdengar agar para warga memberi jalan biar mobil mewah itu lewat.


"Setelah mobil itu melaju melewati rumah Lisnawati dan berhenti tepat di samping pohon pisang yang hanya bergerak beberapa meter dari rumah yang berhadapan dengan rumah Lisnawati. Mobil pun berhenti, tak lama kemudian dua sosok pria berbeda usia turun dari mobil mewah itu.


"Kak.......... Awan panggil Rina adiknya.....!! Hingga orang yang berkerumun pun membalikkan badan nya.


"Iyaa...... Itu Awan sama siapa ya.?" tanya salah satu warga.


"Mantap Tuh si Awan turun dari mobil mewah." Kata warga lainnya.


"Alah....... Paling juga dia hanya supir." Timpal Ani dari teras rumahnya.


"Sok sok an dia bawa mobil orang lain mungkin mau pamer." Sahut ibu nya Ani.

__ADS_1


Tuan Tedi Ferdiansyah yang mendengar ocehan para warga hanya geleng geleng kepala. Unik bener unik masih ada aja orang orang yang begitu di kampung pemuda itu.


"Rina........ Bunda mana.?" Tanya Awan.


"Bunda ada di kamar dia sedang mengaji. Bapak sakit perutnya besar dan kedua kakinya." Jawab Rina adik pemuda itu.


"Ayo kita masuk kedalam rumah kita lihat bapak." Ajak Awan.


"Ayo Kak...........!!


"Tuan Ayo kita masuk........! Ajak Awan.


"Silahkan Nak........!! Balas Tedi Ferdiansyah.


Pemuda itu langsung berjalan menuju rumah nya, sesekali dia menatap kearah para warga dengan senyuman dan mengangguk kan kepalanya tanda hormat kepada orang orang yang lebih Tua.


Setelah masuk kedalam rumah. Pemuda itu langsung mencium tangan Pak Lukman dan ustadz Hilal beserta sesepuh lainnya.


"Teh Dena." Tegur Awan........!


Wanita beranak satu yang di tegur oleh pemuda itu langsung membalikkan badannya.


"Awan........... Ayah........ Awan......! Ucap serak Dena seraya memeluk adik ipar nya.


"Sudah....... Sudah....... Jangan nangis..... Biar aku melihat kondisinya dulu." Pinta Awan lalu melepaskan pelukan nya itu.


"Nenek....... Bunda...........! Sapa Awan.


Wanita setengah tua berusia 43 tahun langsung berdiri dan memeluknya.... Diikuti oleh wanita paruh baya seraya menangis.


"Aw..... Awa...... Awan.........!! Bapak minta maap selama ini." Ucap Hilman tergagap menahan rasa sakit yang amat dalam.


Awan langsung melepaskan pelukannya kedua wanita bergelar anak dan ibu itu, dan duduk di samping ayahnya yang telah pergi selama tiga tahun meninggal kan keluarganya. Kini lelaki itu terbaring di hadapan nya dengan menahan rasa sakit yang teramat dahsyat. Atas kiriman orang yang tidak suka kepada keluarganya.


Tetes air mata mengalir di pelupuk mata indah pemuda tampan itu. Bergejolak hatinya selama ini yang di rasakan oleh Muhammad Awan Pratama, melihat kondisi ayah nya yang kesakitan dan memprihatinkan itu.


Tak lama setelah itu dia berbisik kearah bunda nya untuk segera di bawa ke kamar mandi untuk di mandikan. mudah-mudahan sarea't dan jalan yang di berikan oleh guru nya bisa menolong penyakit Ayah nya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2