Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Pelukan hangat seorang pemuda kepada sahabat nya


__ADS_3

Bu Dewi pun mengajak ibu kandung Awan untuk mengobrol empat mata tentang masalah yang di hadapi oleh Nenek Romlah.


Sementara Muhammad Awan Pratama sedang asyik bercanda ria bersama ketiga sahabatnya karna ada yang mau di obrolkan oleh mereka bertiga tentang masalah tempo dulu, pemuda itu di jadikan taruhan oleh Irma dan Mira serta Kiara.


"Amel , Pak Kohar, saya undur diri dulu mau mengobrol dengan mereka bertiga." Ucap Awan.


Silahkan Nak Awan, sahut Pak Kohar, sedangkan Amel hanya mengangguk pasrah.


"Ayo kalian bertiga ikut sama aku." Pinta pemuda itu.


Awan pun beranjak dari ruangan keluarga berjalan kearah dapur dan membuka pintu dapur yang terdapat sebuah ruangan terbuka yang mengarah kepada hamparan sawah yang cukup luas di ikuti oleh ketiga sahabatnya.


Setelah mereka bertiga duduk di salah satu gazebo yang ada di situ, Awan pun mulai berkata kepada mereka bertiga.


"Kiara, Mira dan Irma coba jelaskan kepadaku tentang rencana yang dulu kalian buat kepadaku tentang, gue di jadikan taruhan oleh kalian bertiga.? Tanya Awan penuh dengan penekanan.


Mereka bertiga bergeming diam tidak menjawab semua wajah tertunduk. Menyesali perbuatan nya, tapi nasi sudah menjadi bubur.


"Maap...........! Lirih mereka bertiga.


"Gue akan memaapkan kalian bertiga asal kalian jujur tentang hati kalian kepada ku menganggap sahabat atau apa? Tanya Awan penuh penekanan.


"Baiklah Awan bila loe ingin mendengar jawaban yang jujur dari kami bertiga maka kami bertiga akan menjawab dari hati." Kata Mira dengan suara tertahan.


"Silahkan gue mendengarkan jawaban dari kalian bertiga.! Ucapnya.


"Gue suka sama loe, dan Irma serta Kiara juga mempunyai perasaan yang sama terhadap loe Sarwan.! Apakah kau puas dengan jawaban dari kami bertiga? Tanya Mira.


Pemuda itu tidak merasa kaget atau pun syok karna sudah mengetahuinya dari Irma penjelasan waktu jalan jalan menuju alun alun kota.


"Baiklah aku terima jawaban dari kalian.! Dan aku memaapkan kalian bertiga, asal jangan sekali lagi di ulangi,! Kata Awan


"Terima Kasih banyak.! Ucap mereka bertiga.


"Ingat Irma, Kiara dan Mira, tidak semua nya orang bisa di beli oleh uang. Tidak semua nya segala sesuatu harus memakai uang.........! Walaupun kita hidup di dunia ini butuh yang nama nya uang.......! Tapi jangan lah karna kita punya uang dengan seenaknya memandang rendah dan bisa membeli dengan uang." Awan memberi nasehat.

__ADS_1


"Siap Pak Kiayi Awan." Ledek Irma mencairkan suasana tegang nya itu.


"Huh........! Irma mulai Oleg......!


"Biarin Oleg juga karna dirimu.! Goda Irma......!


"Hahahaha." Ayo ahk kita keluar tak enak sama orang lain' yang menunggu kita bersama......!


"Ok." Siap Sarwan sedeng." Kata mereka serentak lalu berdiri bersama sama.!


"Sarwan tunggu.'' Tegur Mira......!


"Yoi...... ada apa Mira? tanya Awan seraya membalikkan badan nya.


"Pengen di peluk sama loe." Rengek Mira........! Hah.....! Kaget Kiara dan Irma......!


"Hmmmmmm." Sini......! Titah Awan seraya meregang kan kedua tangannya.


Mira pun langsung menghampiri nya dan memeluk seorang pemuda yang usia nya terpaut dua tahun itu.


"Santai aja Mira, gue tidak bisa membenci kalian bertiga, karna kalian adalah paling berharga bagi diriku.! Jawab Awan hingga Mira dan kedua sahabat nya terharu.


Irma pun menarik paksa Mira.......!


"Mira.........! Giliran gue dong........! Gue juga mau di peluk ma Awan.......!


"Rese ihk.......,! Loe Irma.......! Gue belum puas......! di peluk sama Awan.......!


"Miraaaaaaaa.........! Giliran gue dong.! Kata Kiara dengan sedikit nada tinggi......!


"Sudah...............! Sudah............! Sini aku peluk semua nya." Kata Awan melepaskan pelukan dari Mira lalu memeluk mereka bertiga.........!


"Terima Kasih Sarwan. " Ucap mereka bertiga dalam pelukan seorang pemuda tengil berusia 15 tahun itu.


"Sama Sama kalian sahabat terbaik ku. Yang tidak akan pernah aku lupakan." Jawab pemuda itu.

__ADS_1


****


Disalah satu kamar rumah milik pemuda itu dua sosok wanita yang sedang mengobrol dengan nada serius antara Bu Lisnawati dan Bu Dewi. Dua wanita yang menjadi sosok penting bagi Muhammad Awan Pratama.


Bu Lisnawati seandai nya hutang di bayar kepada rentenir itu, Apakah Bu Hajah Markonah tidak berulah lagi dengan mengambil paksa sertifikat sawah milik Nenek Romlah, ibu kandung Bu Lisnawati.? Tanya Bu Dewi.


"Saya belum tahu Bu Dewi. Kalau masalah itu harus di ajak diskusi dulu antara Nenek Markonah beserta anak anaknya." Kata Lisnawati


"Setelah mendengar cerita dari Bu Lisnawati tentang sipat Hajah Markonah, mempunyai sipat tamak dan serakah. Seandainya nanti hutang di bayar kepada rentenir oleh Nak Awan, takutnya dia merongrong lagi." Ucap Bu Dewi.


"Jadi saya harus bagaimana Bu Dewi.? Tanya Bu Lisnawati.


"Begini saja Bu Lisnawati. Diskusikan terlebih dahulu bersama Nenek Romlah, setelah itu ajak Hajah Markonah beserta anak anaknya, terus tanyakan perihal masalah sertifikat sawah yang di jadikan jaminan kepada saudara Pak Engkos itu. Seandainya anak anak nya mau bertanggungjawab jawab dan mau melunasi hutang orang tuanya kita tidak usah ikut campur, ikhlaskan saja, tetapi bila anak anak nya tidak bisa mau bertanggung jawab, baru lah Bu Lisnawati yang akan mengambil alih dengan bikin surat pernyataan di atas materai, bila ke depannya jangan sampai menggugat, seandainya Hajah Markonah dan anak anak nya menggugat dengan terpaksa akan di pidanakan sesuai surat pernyataan yang telah di buat." Ucap Bu Dewi memberi saran.


"Baiklah Bu, saya akan diskusikan terlebih dahulu dengan ibu kandung nanti malam setelah pulang dari sini." Jawab Lisnawati.


"Itu lebih baik Bu Lisnawati...........! Kalau begitu kita keluar kita makan bersama." Ajak Bu Dewi.


"Sebentar Bu ada yang mau di tanyakan.?" Tanya Bu Lisnawati menahan Bu Dewi jangan dulu keluar dari kamar nya.


"Bu Lisnawati mau menanyakan tentang Muhammad Awan Pratama, putra Ibu." Jawab Bu Dewi


Lisnawati mengangguk.........!


"Biar nanti putra ibu saja yang menjelaskan tentang semua ini, aku tidak punya hak masalah itu. Perlu Bu Lisnawati saya, bersama suami dan anak-anak, berkat bantuan dari Muhammad Awan Pratama, ekonomi keluarga bisa teratasi. Jawab Bu Dewi.


"Yaa....... sudah nanti saya sendiri yang bertanya langsung kepada anakku sendiri." Jawab Lisnawati pasrah menerima jawaban dari Bu Dewi.


"Secara pelan pelan saja Bu Lisnawati.....! Ucap Bu Dewi langsung mengajak untuk keluar dari kamarnya.


"Ok." Balas nya, lalu mereka berdua pun keluar dari kamarnya dan menuju ruangan keluarga.


Tidak lama setelah itu, dua wanita setengah tua itu langsung berkumpul lagi bersama mereka, dan langsung mengajak ke ruang makan yang sudah di sediakan oleh Bu Ida pembantu yang baru hari ini dia bekerja.


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2