
Di bawah kaki Gunung lembah pasagi, Empat puluh dua Karuhun tiga di antara nya menyesatkan umat manusia dari kemusyrikan dengan syarat syarat yang di minta oleh ketiga makhluk tak kasat mata itu.
Sementara di bawah kaki bukit Gunung lembah pasagi yang tak berjauhan dari tempat nya Eyang Jaga Lawang, sebuah rumah panggung berdinding bilik dengan ukuran yang sederhana, dia adalah Kuncen lembah pasagi.
Dalam hamparan sajadah di ruangan khusus, lelaki sekitaran 50 tahun sedang duduk bersila memusatkan Sukma nya setelah menerima kabar dari gurunya Aden Haruman untuk segera memburu sosok mahluk pengirim santet dari sang Dukun.
"Wuzzzzzzzzzzz........ Sang Sukma pun keluar dari raga Abah Kusuma dan langsung meleset terbang ke atas langit menembus langit langit rumah miliknya..
##
Di lain tempat di kaki bukit Gunung Halu, lelaki paruh baya pun yang tadinya berprofesi sebagai dukun santet sama hal dengan Abah Kusuma, melepaskan Sukma nya dan langsung melesat dengan kecepatan penuh menuju arah ujung kulon Gunung Kanyang..
Sepuluh kilo sebelum sampai ke Gunung Kanyang, dua lelaki berusia yang tak jauh berbeda sudah menunggu kedatangan Abah Kusuma dan Abah Juned yang datang belakangan.
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz...!
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz..!
"Eyang Guru Aden Haruman.. " Mama Kiayi Mangku Bumi.! Ucap mereka berdua setelah tiba di hadapan Aden Haruman dan Kiayi Mangku Bumi.
"Kusuma...... Dan Kau Juned.......!! Kalian berdua yang menghadang para makhluk ghaib itu, sementara saya dan Mangku Bumi yang akan mengajak dukun santet itu untuk bermusyawarah.." Kata Aden Haruman memberi perintah.
"Siap menerima perintah, Eyang Prabu." Kata mereka berdua bersamaan.!
"Bagus.... Sekarang juga kau berangkat.....! Titah Aden Haruman.. Mereka berdua pun langsung mengangguk dan...............
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzz!! Terbang bagaikan kilatan cahaya petir menuju sosok makhluk ghaib yang telah menyelesaikan tugas dari sang empunya dan kembali menuju gunung Kanyang, untuk mengabarkan tugasnya bahwa selesai.
Sedangkan dua sesepuh dari Pemuda Hebat Seperti Dewa langsung menuju puncak Gunung Kanyang dimana Abah Suryana yang masih terbawa terbahak bahak di dalam sahung tempat ritual pengiriman santet kepada korban nya itu.
__ADS_1
"Suryana..................... Na..... Naaa........ Keluar kau.." Teriak Sukma Aden Haruman dari atas sahung tempat ritual itu..
Sang empu Dukun santet yang mendengar teriakkan dari atas sahung pun langsung menghentikan tawa nya dan dengan kemampuan ilmu yang tinggi dengan sekilas langsung keluar dari raga nya dan terbang menembus sahung menuju suara teriakan tersebut.
"Hahahahhahaha....... Hanya dua lelaki tua bangka yang datang mengantarkan nyawa nya ke sini." Ucap Sukma Suryana berdiri di hadapan Aden Haruman dan Kiayi Mangku Bumi.
"Anjir laga mu kaya power ranger hah.... Kau belum tahu siapa kita berdua hah." Bentak Aden Haruman..!
"Aku tak perlu tahu dengan kalian berdua yang sebentar lagi akan ku kirim ke neraka jahanam... Dan tak pantas diriku tahu orang yang sebentar lagi akan mati." Kata Suryana sombong di sertai seringai licik di bibirnya..
"Terkutuk kau manusia iblis, manusia musyrik... Aden Haruman segera menjulurkan tangan nya, mulut nya komat kamit membaca mantra mantra.
"Duarrrrrrrr....................!!
"Duarrrrrrrr.....................!!
"Duarrrrrrrr.....................!!
Dalam tangan Aden Haruman yang di julurkan ke depan, dengan di iringi dentuman dentuman suara gledek dan kilatan cahaya putih, tampak sebuah pusaka Pecut Amalasuri sudah berada dalam genggaman tangannya.
"Kau manusia pertama yang telah berani sombong di hadapan ku... Tak pantas kau hidup di alam manusia dan di alam ghaib, tempat mu itu berada di neraka yang paling dalam hah." Bentak Aden Haruman seraya memecutkan senjata pamungkasnya itu.
Tak ada rasa takut sedikitpun di dalam hati Abah Suryana, melihat salah satu dari dua lelaki tua bangka itu mengeluarkan senjata pamungkasnya.. Dengan kemampuan dan merasa ilmu nya paling tinggi, Suryana pun langsung membaca mantra mantra yang selama ini dia punya hasil bertapa.
Alhasil... Mantra yang di panggil oleh Abah Suryana pun langsung, membuahkan sebuah hasil dengan tiba tiba gelombang Awan Hitam pekat datang menghampiri Abah Suryana, lalu perlahan lahan sang Awan hitam itu berubah wujud menjadi beberapa sosok mahluk bertaring tajam dan berbulu lebat serta mahluk yang bermacam macam rupa rupa.
"Halo..... Siluman ular... Siluman monyet..... Siluman babi.... Dan siluman siluman yang tak perlu ku sebutkan karna tak pantas, kita bertemu lagi.." Kata Aden Haruman tersenyum geli, karna para makhluk yang di datangkan oleh Abah Suryana, bangsa siluman yang pernah di kalahkan waktu itu saat melawan Abah Enji Sutardi yang dulu menjadi Kuncen Gunung Kanyang.
"Gerhkkkkkk.............. Para siluman itu berkata bersamaan....!
__ADS_1
"Mangku Bumi... Malas aku melawan siluman lemah anak buah si Suryana.. Ini gunakan pusaka gue pecut Amalasuri untuk kau hancurkan." Titah Aden Haruman..
"Dengan senang sahati sahabatku.. He hehehehe.." Jawab Mangku Bumi seraya terkekeh...!!
Sang Dukun santet itu, kini mulai merasakan ketakutan dalam dirinya. Setelah para pendamping nya itu tampak terlihat ketakutan dengan sosok lelaki paruh baya yang memegang sebuah Pusaka pemecut bangsa Siluman itu.
Kesombongan nya seketika menciut dan hanya memohon meminta maaf, mungkin nyawanya akan terselamatkan........
Kiayi Mangku Bumi bersiap siap, memusatkan ilmu tenaga dalam, untuk semaksimal mungkin pusaka Pecut Amalasuri itu di arahkan kepada para bangsa siluman.. Persis seperti kejadian tahun 1998 dimana para bangsa manusia yang sedang bergejolak meminta paksa sang presiden untuk turun tahta, di saat itu di alam siluman pun bergejolak terjadi keributan antar siluman dan Aden Haruman beserta para sahabat sahabat nya menumpas tuntas siluman siluman itu......
"AMPUN.......... BERIBU AMPUN......... EYANG...........!!
Seketika Abah Suryana tertunduk dan sujud di hadapan Aden Haruman dan Kiayi Mangku Bumi di ikuti oleh para makhluk piaraan nya...!
"Ahk...... Tak asik..... Tak asik......" Canda Kiayi Mangku Bumi, melihat dukun santet itu dan para makhluk memohon ampun...
"Bukan kah tujuan kita emang ending nya harus begini Mangku Bumi sahabat ku." Kata Aden Haruman.
"Tapi aku belum pernah merasakan pecut Amalasuri yang konon katanya, penunggu Gunung Merapi yang terkenal dengan nama Mak Lampir pun takut dengan pusaka ini." Terang Kiayi Mangku Bumi. Aden Haruman hanya tersenyum sumbing saja.
"Suryana bangun kau...... Dan para piaraan mu pergi ke tempat asalnya.. Nanti suatu saat akan ku panggil bila sesuatu yang di butuhkan." Titah Aden Haruman.
"Gerhkkkkkk........... Sendiko pangeran." Kata para makhluk piaraan dukun santet itu lalu pergi meninggalkan mereka ketiga Sukma itu...
Tak lama setelah kepergian para bangsa siluman, dua Sukma Abah Kusuma dan Abah Juned pun datang dengan menawan sang genderuwo yang telah mengoyak ngoyak perut Bob Hidayat.
"Jun.... June.... Juned....... Kau..........." Kata Suryana yang masih satu ilmu dengan dirinya, seraya kata katanya terbata bata.
Bersambung.
__ADS_1