
"Nenek, titip Bunda ya............! Ucapnya dengan suara tertahan, seraya mengedipkan matanya kearah wanita paruh baya itu.
Lalu Awan menghampiri kakak' dan kakak iparnya.
"Teh Dena dan Kang Ujang titip Bunda ya, kalau ada apa apa segera beritahu Awan, nomor ponselku ada dalam ponsel bunda." Bisik Awan ketelinga mereka berdua.
Mereka berdua pun mengangguk.
Suasana malam itu begitu haru menyelimuti keluarga Lisnawati, mereka menangis kepergian Muhammad Awan Pratama, tetapi bahagia hadirnya seorang suami sekaligus ayah yang sudah tiga tahun dia pergi meninggalkan seorang istri dan anak anaknya lebih memilih Pelakor ketimbang istri dan anaknya.
"Mira, kamu ikut sebentar kedepan ada yang mau saya bicarakan. Kalau bisa ajak Kiara dan Irma, ini sangat penting bisik pemuda itu, dan Mira pun mengangguk tanda mengerti dan setuju.
"Assalamualaikum." Ucap pemuda itu, seraya pergi keluar berjalan menghampiri motor nya.
Tangisan dari Bunda dan kedua adiknya malam itu begitu memekakkan telinga Romlah dan Ujang serta Dena.
Tak lama kemudian pemuda itu telah sampai di depan jalan utama yang cukup jauh dari rumah ibu nya, dia menunggu kedatangan ketiga sahabatnya itu, dan duduk di warung kopi yang tak jauh dari jalan utamanya.
"Awan, tegur salah satu dari ketiga gadis sahabatnya itu.
"Kalian bertiga duduk," Ucap Awan tanpa menoleh dan membalikkan badannya.
"Mira, Kiara dan Irma, saat ini gue butuh bantuan dari kalian bertiga.! Ucapnya.
"Silahkan jelaskan kepada kami bertiga bantuan seperti apa yang bisa saya berikan kepada sahabat ku ini." Ucap Irma dan mereka berdua mengangguk.
"Begini, aku ingin kau membuntuti gerak gerik ayahku, apakah dia kembali murni dari hatinya, atau hanya suruhan dari istri muda nya." Ucap Awan dengan tatapan serius.
"Sementara kau mau kemana saat ini.?" Tanya Kiara.
"Sementara aku tinggal di perumahan Leles Residance, menenangkan diri terlebih dahulu menunggu kabar dari kalian bertiga. Jawab Awan.
__ADS_1
"Awan seandainya saya menemui bukti bahwa ayahmu kembali atas suruhan dari Istri muda nya, apa yang akan kau lakukan kepada nya.?" Tanya Mira.
"Kita lihat saja nanti Mira, mudah mudahan ayah ku kembali kepada Bunda, murni dari hatinya menyesali perbuatannya, serta menceraikan istri kedua nya." Ucap Awan berharap.
"Amiin yaa robball allamiin." Ucap mereka bertiga.
Obrolan pun semakin larut, mereka bertiga lalu kembali ke rumah nya masing masing, sedangkan Awan langsung berangkat menuju gurunya yaitu Aden Haruman yang berada di daerah kawasan puncak.
*********************************************
Pagi pagi sekali Bob Hidayat bergegas pergi ke Gubug reot Mbah Sardjito dengan Holik Simatupang mengambil syarat yang akan di berikan oleh Mbah Sardjito.
Pagi itu Bob pergi bersama Holik Simatupang karna mas Jono harus mengurus sawah di pagi hari, sedangkan Betmen dan Dika masih tertidur pulas akibat semalam bergadang di kerjai oleh mas Jono dalam permainan gaplek di malam itu bersama teman mas Jono.
Sesampainya di Gubug tua Mbah Sardjito ternyata dukun sakti itu sedang berada di luar halaman Gubug.
"Kau pagi sekali anak muda datang ke tempatku.?" Tanya Mbah Sapto sedang memberi makan kambingnya.
"Saya sudah tidak sabar Mbah untuk membalas rasa sakit ku ini kepada lelaki yang telah menyetubuhi istri saya, dan tiap malam saya tidak bisa tidur bila mengingat lelaki itu sedang tidur bersama istriku." Jawab Bob Hidayat dengan tatapan tajam.
Tidak berselang lama Mbah Sardjito pun keluar membawa bungkusan plastik dan juga kain kafan yang sudah tidak bersih lagi.
"Ini Anak ku, bawalah di dalam sana ada boneka yang harus kau beri nama calon korban mu, kemudian bungkus lah dengan menggunakan kain kafan, lalu tusuk tusuk lah boneka itu di bagian mana saja kau mau dengan membacakan mantra yang sudah kau tuliskan di kain kafan itu, kemudian kau tebarkan lah tanah yang ada di dalam plastik hitam itu di depan halaman rumah orang yang akan kau kirimkan santet itu. Dan tunggu saja santet nya akan segera berpengaruh pada calon korban mu." Kata Mbah Sardjito dengan menyerahkan bungkusan itu kepada Bob Hidayat.
"Terima Kasih banyak Mbah sudah mau menolong ku." Jawab Bob Hidayat seraya memberikan sebuah amplop warna putih berisi beberapa lembar uang berwarna merah.
Kemudian Bob Hidayat dan Holik Simatupang setelah berbincang bincang sebentar lalu segera pulang menuju Gubug mas Jono dan menunggu kedatangan pemuda itu dari sawah untuk sekedar mengucapkan terima kasih dan memberi kan beberapa uang kepada anaknya Mbah Sardjito itu.
****
Pemuda berusia 25 tahun akhir nya datang juga, dan berbincang bincang sebentar dengan Bob Hidayat dan Holik serta Dika dan Betmen.
__ADS_1
"Mas Jono saya pamit untuk kembali menuju mobil yang di parkir dan akan kembali pulang kerumahnya masing masing." Ucap Bob seraya mengulurkan tangan dan memberikan beberapa lembar uang merah.
"Terima Kasih banyak, Pak Bob, kalau ada apa apa telepon saja kepada saya." Jawab mas Jono menyambut uluran tangannya dan menerima uang yang dia peroleh dari Bob Hidayat.
Hampir dua jam lebih perjalanan nya mereka berempat sampai di tempat mobil terparkir dan berpamitan kepada orang orang yang sedang menunggu di saung itu.
Tak lama setelah itu Mobil br-v mulai melaju meninggalkan desa kaligiri menuju jalan utama yang akan melakukan perjalanan panjang pulang ke kota Cianjur.
Dika dan Betmen, langsung tepar dalam mobil akibat rasa capek atau pun rasa takut melewati hutan rimba yang di lewati nya walaupun keaadaan masih siang.
"Bob gue mau tanya sebenarnya loe sama si Zaenuddin ada masalah apa sampai sampai loe mau nyantet dia.?" Tanya Holik Simatupang yang sedang menyetir kemudi nya.
Bob Hidayat tidak menjawab pertanyaan dia hanya diam saja, karna bila dia memberi tahukan semua nya, pasti dirinya kebusukan nya lebih terbuka lebar." Ucap Bob Hidayat dalam hati.
"Bob Hidayat, kenapa loe diam.? tanya lagi Holik.
"Dia berselingkuh dengan istri gue." Jawab Bob singkat.
"Istri loe yang mulai atau karna terpaksa." Selidik Holik Simatupang, karna tahu Istri Bob Hidayat tidak mungkin selingkuh.
"Brow........! Sudah tidak usah di bahas, kalau gue ceritakan, hati ini sakit." Ucap Bob berpura-pura.
"Gue itu teman loe, sekaligus rekan kerja, sakit yang di rasakan oleh mu, sebisa mungkin gue akan bantu." Kata Holik agar Bob mau menceritakan awal mula nya.
"Makasih brow, nanti gue ceritain semuanya setelah mengantar mereka berdua." Kata Bob Hidayat.
"Janji..........! Ucap Holik.
"Gue janji asal kau mau merahasiakan segala ucapan dari gue." Jawab Bob.
"Sumpah demi ibu dan bapakku. Aku akan merahasiakan semua nya." Kata Holik bersumpah.
__ADS_1
"Makasih brow sebelum nya.! Ucap Bob tersenyum.
Bersambung.